
Medina sudah mendapatkan ide untuk menangkap para penjahat yang berani mengusik wilayahnya. Karena ia tahu ini sangat berbahaya, Medina berencana pergi sendiri tanpa keempat sahabatnya.
" Kita jalankan rencana malam ini, jangan sampai teman - temanku tahu. Nanti kita atur rencana lewat pesan saja." bisik Medina kepada Jefri.
Pria berusia tiga puluh tahunan itu mengangguk menyetujui rencana bossnya. Setelahnya mereka dibubarkan dan Medina pulang bersama teman - temannya.
Sampai dirumah, Medina langsung merebahkan diri di kasurnya menunggu waktu ashar. Dia mengaktifkan ponselnya yang dari semalam ia matikan karena kesal.
Saat ponselnya menyala, dia kaget banyak sekali pesan dari Rifky. Tidak biasanya pria itu mengiriminya pesan apalagi di siang hari.
" Sayang, udah bangun belum?"
" Sayang, maafin kakak ya?"
" Calis, jangan marah. Kakak rindu, sayangku."
" Kenapa ponsel kamu masih nggak aktif? Baiklah, nanti malam kakak pulang."
Masih banyak pesan dari Rifky yang membuat Medina tersenyum sendiri. Baru saja ia ingin membalas pesan, Rifky sudah menghubunginya lebih dulu.
( " Assalamu'alaikum, sayang." )
" Wa'alaikumsalam."
( " Calis sayang, akhirnya ponsel kamu aktif juga. Kamu marah sama kakak?" )
" Tidak, Medina nggak marah sama kakak."
( " Sayang, kakak khawatir sama kamu. Dari semalam kamu matiin ponsel, hati kakak tidak tenang. Kalau begitu kakak pulang sekarang ya?" )
" Jangan, kak!"
( " Kenapa? Kamu tidak mau ketemu kakak?" )
" Bukan begitu, katanya kakak lagi banyak pekerjaan. Pulanglah saat libur saja, pasti lelah jika tiap hari pulang kesini."
( " Baiklah, tapi janji jangan ngambek lagi sayang." )
" Iya, Dina nggak ngambek."
( " Video call, ya?" )
" Tidak mau, Dina belum mandi."
( " Tidak apa - apa, sayang. Kakak kangen sama kamu." )
" Kakak tampan, tidak usah ya?"
( " Hmm... baiklah, kalau begitu kakak kerja lagi ya?" )
" Iya,"
( " I love you, Calis sayang." )
" Assalamu'alaikum, kak."
( " Wa'alaikumsalam, sayangku." )
Medina memejamkan matanya sejenak untuk melepas lelah. Nafsu makannya menghilang walaupun dia hanya sarapan bubur tadi pagi. Medina harus menyusun rencana dengan matang untuk menangkap para penjahat di wilayah kekuasaannya.
Medina mengirimkan sebuah pesan kepada Jefri supaya nanti malam menjemputnya di perempatan tak jauh dari rumahnya. Dia tak mungkin membawa motor sendiri karena sang ayah tidak akan mengijinkannya keluar rumah di malam hari, apalagi sendirian.
¤ ¤ ¤
Jam sepuluh malam, Medina sudah bersiap - siap untuk pergi setelah memastikan ayahnya tidur. Gadis itu keluar lewat jendela kamarnya dengan mengendap - endap.
__ADS_1
Medina menoleh ke kanan dan ke kiri berharap tak ada satu wargapun yang berpapasan dengannya. Bisa kacau jika ketahuan dia berada diluar rumah jam segini. Dengan menggunakan jaket warna hitam dan topi di kepalanya serta marker penutup wajah, Medina akhirnya sampai di perempatan jalan.
" Jefri, kita berangkat sekarang!" perintah Medina.
" Baik, boss."
Mereka berboncengan dengan sepeda motor milik Jefri. Sampai di lokasi, mereka mengawasi dari tempat yang lumayan sepi. Dari bawah pohon besar, mereka bisa mengintai para musuh dengan leluasa.
" Perintahkan anak buahmu untuk patroli sekarang!" perintah Medina.
" Siap, boss."
Jefri menghubungi anak buahnya untuk patroli di sepanjang jalan yang ramai pedagang. Saat mereka melintas, Medina melihat ada seseorang yang membuntuti mereka. Pergerakan orang itu sangat mencurigakan. Medina mulai waspada dan kembali memakai maskernya agar tidak dikenali.
" Jef, kau siap?" seringai Medina.
" Sesuai perintah, boss. Saya siap kapanpun juga." sahut Jefri.
" Bagus, tapi mulai besok kalian harus melatih ilmu bela diri kalian lebih keras lagi."
" Tapi, boss... kami harus berlatih dengan siapa?"
" Nanti saya pikirkan. Tetap waspada, kita tidak tahu berapa jumlah mereka."
" Boss, apa kita cari bantuan untuk menghadapi mereka?"
" Jangan, itu akan menimbulkan kekacauan di tempat ini dan bisa sampai ke pihak berwajib. Apa kau takut menghadapi mereka? Pulanglah jika kau takut, saya akan menghadapinya sendiri."
" Saya berani, boss. Kita hadapi mereka bersama - sama."
Selang setengah jam setelah anak buah Medina patroli, benar juga dugaan mereka bahwa para preman itu datang untuk meminta paksa uang para pedagang. Mereka berjumlah empat orang saja, jadi Medina yakin bisa mengalahkan mereka.
" Kita bergerak sekarang!" perintah Medina.
Mereka menghadang langkah keempat preman tersebut. Dengan tatapan tajamnya, Medina menelisik satu persatu lawannya. Dia memang sangat pandai membaca pergerakan lawan. Medina sengaja menghadang mereka di tempat yang sepi dan jauh dari penerangan agar dirinya tidak dikenali.
" Hei... berhenti kalian!" teriak Jefri.
Keempat preman itu menoleh kearah sumber suara dengan tersenyum mengejek.
" Ada apa? Mau cari masalah dengan kami!" seru salah satu preman dengan lantang.
" Kalian yang cari masalah disini! Beraninya kalian mengusik para pedagang disini!" hardik Jefri.
" Lalu... kalian mau apa?"
" Akan kubuat kalian menyesal telah masuk ke tempat ini...!"
" Banyak omong...! Serang mereka berdua...!" teriak salah satu penjahat.
" Hati - hati, boss." bisik Jefri.
" Kau juga, kita tidak tahu mereka bawa senjata atau tidak." sahut Medina.
Perkelahianpun dimulai. Satu lawan dua, tak membuat Medina dan Jefri mundur. Terlebih gadis itu, sedari pagi ia sudah gatal untuk melampiaskan kekesalannya entah pada siapa.
Walaupun tubuh Medina kecil dan tingginya hanya 165 cm, namun kekuatannya melebihi para pria. Ilmu bela dirinya tak diragukan lagi, tangkas dan cekatan. Gerakannya sangat cepat hingga tak terbaca oleh lawan.
Perkelahian semakin sengit, pukulan dan tendangan dilayangkan Medina kepada kedua lawannya. Sepertinya Medina sangat menikmati olahraga malamnya kali ini.
Kyaaa...!" satu pukulan keras mendarat di dada preman itu yang langsung jatuh tersungkur.
" Beraninya kalian mengacau di wilayah ini...!" geram Medina.
Begitupun dengan Jefri, pria itu juga dapat melumpuhkan dua preman di hadapannya. Mereka semua langsung diseret ke tepi jalanan dengan kasar. Medina menyuruh Jefri untuk interogasi mereka.
__ADS_1
" Siapa boss kalian...!" hardik Jefri.
" Maaf... kami tidak_..." ucap preman itu ragu.
" Kalian tidak mau mengakui? Baiklah, akan kubuat kalian menyesal seumur hidup!" kali ini Medina bertindak dengan menginjak salah satu kaki yang terluka.
" Aakkkhhh...!" teriak preman itu.
" Ampun, kami tidak akan mengganggu pedagang disini lagi." kata preman itu ketakutan.
Melihat kebrutalan seseorang di depannya yang entah pria atau wanita itu membuat nyali keempat preman itu semakin menciut. Mereka terus menundukkan wajah tanpa berani menatap Medina maupun Jefri.
" Kalian masih tidak mau bicara?" bentak Jefri.
" Iy... iya, boss kami adalah Baron. Dia yang pegang pasang di desa sebelah."
" Kalian punya wilayah sendiri, kenapa mengacau di daerah orang lain."
" Karena menurut kabar, di desa ini penguasa pasar dan jalanan sudah berpindah tangan. Jadi boss kami ingin memperluas daerah kekuasaan."
" Tamak sekali dia, katakan padanya jangan berani berulah disini lagi atau dia akan jadi gembel selamanya." sinis Jefri.
" Maafkan kami,"
" Pergi sana! Dan jangan pernah mengganggu wilayah ini jika masih sayang dengan nyawa kalian!" ancam Jefri.
" Baiklah, kami tidak akan masuk ke wilayah ini lagi."
Dengan langkah tertatih, mereka berempat meninggalkan tempat itu sambil menahan sakit di seluruh tubuhnya.
" Boss, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jefri.
" Pulang! Memangnya kau mau tidur disini." sahut Medina.
" Mari, boss."
Jefri merasa jika bossnya ini sedang banyak pikiran. Selama perjalanan pulang, mereka saling diam. Sampai di perempatan jalan menuju rumah Medina, gadis itu meminta turun disana agar warga tidak ada yang melihatnya.
" Boss, rumahnya bukankah masih jauh dari sini?" tanya Jefri.
" Memangnya kau tahu dimana rumahku?"
" Tahu, boss. Bukankah boss ini anaknya pak Hasan guru SD itu ya?"
" Darimana kau tahu?"
" Mmm... waktu itu saya pernah melihat boss di pasar dengan pak Hasan. Beliau adalah guru dari anak saya di sekolah."
" Ohh... jadi seperti itu? Jangan sampai siapapun tahu tentang saya. Jika ada yang bertanya siapa leader pasar dan jalanan, bilang saja itu kamu."
" Kenapa begitu, boss?"
" Besok saya jelaskan padamu. Ini sudah tengah malam, saya harus segera pulang."
Medina segera mempercepat jalannya meninggalkan Jefri yang masih bingung dengan sikap boss cantiknya. Dia harus segera sampai di rumah sebelum ayahnya menyadari dirinya pergi.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1