
Rifky pulang ke Indonesia dan langsung menuju ke Apartemen miliknya. Tubuhnya yang sangat lelah membuatnya dengan cepat tertidur. Nicko sudah mempersiapkan semua bukti - bukti tentang kecurangan dari keluarga Devi. Setelah semuanya siap, Nicko kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya.
Sementara itu di kediaman keluarga Mahendra, mama Kamila sudah menyiapkan makan malam karena hari ini ia mengundang Devi dan orangtuanya untuk makan malam bersama. Mama Kamila juga meminta Rifky untuk pulang.
" Boss, ini sudah maghrib... ayo bangun!" seru Nicko yang baru pulang dari kantor.
" Apaan sih, ganggu aja orang lagi tidur." ketus Rifky.
" Ini sudah berapa jam kau tidur Rifky Mahendra! Itu calon istrimu sudah menunggu di rumah." teriak Nicko.
" Memangnya Medina kesini?"
" Bukan Medina, tapi Devi!"
" Jangan sebut nama wanita itu lagi di depanku!" kesal Rifky.
" Hahahaa... ya sudah, ayo mandi setelah itu ke rumah utama. Orangtua Devi juga sudah ada disana nungguin kamu."
" Hah... apa tidak bisa kau saja yang pergi?"
" Jangan bercanda kau, Boss. Yang mau dijodohkan itu siapa? Lagian kalau aku yang dijodohkan, sudah pasti aku racun saja mereka."
" Ide yang bagus, cepat beli racun tikus di Apotek!"
" Astaghfirullah... punya boss satu aja ngrepotin, gimana kalau sepuluh."
Rifky berlalu begitu saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini adalah awal bulan ramadhan jadi Rifky bersiap untuk sholat taraweh di masjid dekat Apartemen.
" Cepat mandi sana! Malah mainan ponsel." sentak Rifky yang baru keluar dari kamar mandi.
" Baru juga sebentar, Boss. Ini lagi cari obat tikus di toko online." sahut Nicko nyengir.
" Masya Allah, sekalian aja sianida terus kau minum!"
Nicko hanya nyengir lalu pergi ke kamar mandi supaya nanti bisa sholat berjamaah bersama Rifky. Sudah menjadi kebiasaan mereka, jika sedang bersama pasti tak pernah absen untuk sholat berjamaah.
¤ ¤ ¤
Menjelang sholat isya', Rifky mengganti bajunya dengan baju koko dan juga sarung. Tak lupa songkok hitam polos dan sajadah di pundak membuatnya terlihat semakin tampan dan berkharisma.
" Eh, pak ustadz mau kemana?" ledek Nicko.
" Memangnya kau tidak mau sholat tarawih?" sahut Rifky.
" Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa. Tunggu, Rif... aku pinjam baju dan sarung ya?"
Tanpa menunggu jawaban Rifky, Nicko langsung berlari ke dalam kamar mencari baju di lemari pakaian bossnya. Untung saja mereka berkawan cukup lama, jadi Rifky diam saja melihat tingkah asistennya itu.
" Ayo, Boss... keburu adzan nanti." seru Nicko sambil tersenyum.
" Hhh... dasar nggak modal...!" cibir Rifky.
" Makanya gajinya ditambahin, boss."
" Tambahin daun? Kerja aja nggak bener!"
__ADS_1
Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki, mereka berdua sudah sampai di masjid. Sudah banyak jamaah yang hadir untuk sholat tarawih, mungkin karena ini sholat tarawih yang pertama jadi banyak yang bersemangat menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
" Rif, kita di belakang? Kita telat datang kayaknya." bisik Nicko.
" Tidak apa - apa, mau dimanapun yang penting kita beribadah dengan khusyuk." sahut Rifky.
Setelah selesai sholat tarawih, mereka berdua kembali ke Apartemen untuk mengambil berkas - berkas tentang keluarga Devi sekalian mengganti baju dengan pakaian biasa.
" Nick, sebenarnya aku tidak ingin ribut dengan mereka seandainya wanita itu tidak nekat mengejarku." ucap Rifky.
" Iya, Rif. Aku juga tidak suka keributan apalagi ini awal dari bulan suci. Mudah - mudahan setelah ini hubunganmu dengan orangtuamu menjadi lebih baik lagi." kata Nicko.
Setelah semuanya siap, Rifky dan Nicko beranjak untuk keluar dari Apartemen. Namun baru saja pintu terbuka, Rifky dan Nicko terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di pintu kamarnya.
" Devi, kenapa kau ada disini?" tanya Nicko heran.
" Saya disuruh tante Kamila untuk menjemput Rifky. Kami sudah menunggu dari jam enam tadi tapi Rifky tak kunjung datang." jawab Devi dengan penuh percaya diri.
" Saya bisa pulang sendiri, kau pulanglah duluan nanti kami ikuti dari belakang." kata Rifky datar.
" Pulanglah denganku, Rifky. Sebentar lagi kita bertunangan, jadi kita harus sering bersama biar lebih dekat." rengek Devi.
Devi berusaha untuk meraih tangan Rifky namun dengan cepat ditepis secara kasar karena Rifky tidak sudi disentuh oleh wanita tidak tahu malu seperti dia.
" Jangan bermimpi terlalu tinggi, jatuhnya akan sangat menyakitkan. Jika kau tidak bisa bertahan, bersiaplah menunggu waktumu habis." tegas Rifky dengan wajah dinginnya.
" Apa maksudmu?" teriak Devi.
" Sudah, nona. Lebih baik kita pergi sekarang." kata Nicko menyela.
¤ ¤ ¤
" Rifky, dari mana saja kamu! Kami semua sudah menunggumu dari tadi." hardik mama Kamila.
" Ya Allah, Ma. Bahkan Rifky saja belum mengucap salam tapi sudah dimarahi." ucap Rifky berusaha sabar.
" Assalamu'alaikum, tante." sapa Nicko.
" Wa'alaikumsalam." jawab mama Kamila jutek.
" Oh iya, Devi dimana?" tanya mama Kamila sambil menatap ke arah gerbang.
" Pergi sama pacarnya kali, Ma." jawab Rifky asal.
" Jaga bicaramu, Rifky!"
" Bagus sekali, mama bahkan lebih membela orang lain dibanding anak mama sendiri." Rifky tersenyum sinis.
" Cepat masuk! Orangtua Devi ingin bertemu denganmu."
Rifky segera masuk diikuti oleh Nicko, sementara mama Kamila menunggu kedatangan Devi.
" Assalamu'alaikum, Pa." ucap Rifky.
" Wa'alaikumsalam, kamu kenapa baru datang jam segini?" tanya papa Surya.
__ADS_1
" Apa papa lupa kalau ini tarawih pertama di bulan ramadhan? Om dan tante juga tidak sholat ke masjid tadi?" tanya Rifky dengan senyum yang entah mengejek atau memperingatkan.
Mereka terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke bawah. Mungkin mereka merasa ucapan Rifky seperti memperolok. Tak lama mama Kamila masuk bersama dengan Devi.
" Kenapa tegang begini, ayo kita makan dulu. Makanannya sudah dingin ini." kata mama Kamila.
" Rifky dan Nicko sudah makan tadi, Ma. Terimakasih atas tawarannya." ucap Rifky sambil tersenyum.
" Kau menolak makan bersama orangtuamu sendiri?!" hardik mama Kamila.
" Sudahlah, Ma. Kalau Rifky sudah makan ya jangan dipaksa." kata papa Surya.
" Dia itu disekolahkan jauh - jauh keluar negeri tapi kelakuannya seperti ini." kesal mama Kamila.
Rifky yang merasa disalahkan dalam masalah ini langsung berdiri dan menatap tajam mamanya.
" Mama sadar dengan yang mama ucapkan itu?"
" Sabar, boss..." bisik Nicko sambil memegang pundak Rifky.
" Jaga sopan santunmu, Rifky!" bentak papa Surya.
" Sopan santun apa maksud papa? Apa selama ini papa dan mama pernah mengajarkan yang namanya sopan santun itu padaku? Kalian pernah mengajarkan bagaimana cara menghargai orang lain tanpa memandang harta dan kedudukan? Bahkan perhatian dan kasih sayang saja tidak pernah kalian berikan padaku." tukas Rifky penuh amarah.
" Rifky, selama ini kami sibuk bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan kamu." ucap mama Kamila.
Rifky tersenyum sinis seraya menahan diri agar amarahnya tidak semakin meledak. Dia berkali - kali mengucapkan istighfar di dalam hati untuk mengontrol emosinya. Walau bagaimanapun, mereka tetaplah orangtua kandung Rifky.
" Jadi mama selama ini berpikir semuanya bisa di dapatkan dengan uang? Seandainya mama sakit, apakah mama hanya membutuhkan uang dariku? Tidak pernahkan mama berpikir jika orang hidup itu juga butuh perhatian dari orang lain?"
Devi dan kedua orangtuanya hanya diam tak berani ikut campur dengan urusan keluarga Mahendra. Sedangkan Nicko, ia berulang kali menenangkan Rifky yang tampak tengah emosi.
" Rifky, papa minta maaf selama ini sudah menelantarkanmu. Papa sadar bahwa selama ini tidak pernah memberikan contoh yang baik kepadamu." ucap papa Surya sendu.
" Rifky tidak butuh permintaan maaf dari papa dan mama. Yang perlu kalian tahu bahwa apa yang kita tanam sekarang suatu saat itulah yang kita tuai."
" Apa maksudmu, Rifky? Kau menyumpahi orangtuamu sendiri?" seru mama Kamila.
" Rifky tidak mungkin menyumpahi orangtua Rifky, Ma. Rifky hanya ingin mengingatkan bahwa hidup itu tak selamanya diatas. Jangan memandang orang lain dengan rendah karena suatu saat nanti kita bisa saja berada di tempat yang paling rendah."
" Sudah, Rif. Kendalikan amarahmu, istighfar..." ucap Nicko sambil mengelus pundak Rifky.
" Astaghfirullah..." lirih Rifky.
Rifky pergi menuju ruang tamu diikuti oleh Nicko sementara yang lain meneruskan makan malam yang sudah cukup lama tertunda. Rifky tidak mau berlama - lama berhadapan dengan keluarga Devi. Masalah ini harus segera selesai agar hubungannya dengan Medina semakin membaik.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1