
Sampai di hotel, Medina langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rifky yang pengertian langsung menyiapkan baju ganti untuk istrinya karena tadi Medina tidak sempat membawanya ke kamar mandi.
" Kak, tolong ambilkan bajuku." teriak Medina dari pintu kamar mandi.
" Itu sudah kakak siapin di tempat tidur, sayang." sahut Rifky.
" Tidak dibawain kesini...?"
" Kakak lagi periksa berkas buat Nicko meeting besok, sayang." ucap Rifky santai sambil tersenyum.
" Ish... sok sibuk banget sih!"
Bukannya mengambil bajunya, Medina malah duduk di pangkuan suaminya hanya dengan handuk yang menutupi dada sampai atas lutut.
" Sayang... pakai dulu bajunya, kakak mau meeting online dengan beberapa klien." tegur Rifky.
Walaupun begitu, Rifky tetap memeluk erat istrinya seraya menciumi pipinya yang kenyal itu. Bau harum tubuhnya membuat Rifky tak bisa menahan hasratnya.
" Jangan menggodaku, sayang." bisik Rifky.
" Siapa yang menggoda...? Dina cuma duduk diem tidak menggoda siapa - siapa." sahut Medina santai.
" Sebentar lagi meetingnya dimulai, sayang." ucap Rifky menghiba.
" Mulai saja, tidak ada yang melarang."
Rifky yang frustasi dengan tingkah istrinya langsung menciuminya secara membabi buta di seluruh tubuh yang tidak tertutup itu. Posisi sudah berganti dengan Rifky yang merebahkan tubuh istrinya di sofa lalu menindihnya pelan.
" Takkan kulepaskan walau kau menangis sekalipun." geram Rifky tertahan.
" Kak... jangan! Handuk Dina lepas nih." rengek Medina.
" Siapa suruh menggodaku? Kau akan mendapat balasan yang setimpal." seringai Rifky.
Baru saja Rifky ingin menarik handuk yang melilit tubuh istrinya, tiba - tiba ponselnya berdering. Dengan mendesah pelan, ia meraih ponsel di samping laptop tanpa mengubah posisinya yang masih menindih tubuh sang istri.
Rifky : " Hallo... Ada apa, Nick...?"
Nicko : " Lima menit lagi buka laptopnya, Boss. Semua klien sudah siap untuk meeting."
Rifky : " Huft... baiklah! Tapi kau harus kosongkan jadwalku untuk dua hari ke depan. Aku tidak mau ada pekerjaan apapun meski cuma virtual."
Nicko : " Ok, Boss! Hanya sekali ini saja meetingnya."
Rifky meletakkan begitu saja ponselnya di meja lalu kembali mencium bibir sang istri yang membuatnya candu.
" Kau nakal sekali." lirih Rifky.
Rifky beranjak dari atas tubuh istrinya lalu menggendongnya ke ranjang dan menyelimutinya dengan selimut hingga ke leher.
" Sudah selesai datang bulannya...?" tanya Rifky penuh harap.
Medina hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya membuat Rifky semakin gemas dan gencar untuk menjamahnya.
" Tidak usah pakai baju, tunggu kakak selesai meeting." bisik Rifky lembut.
Setelah mencium kening istrinya cukup lama, Rifky segera beranjak untuk melakukan meeting dengan klien dari beberapa negara tetangga secara virtual. Sambil sesekali mencuri pandang kearah istrinya yang bermain ponsel, tanpa sadar Rifky sudah meeting selama hampir satu jam.
Selesai meeting, Rifky segera merapikan berkas - berkas dan laptopnya. Saat melirik sang istri, ternyata dia sudah tidur lelap.
" Hhh... ditunda lagi." keluh Rifky kecewa.
.
.
Malam harinya, Medina yang malas keluar dari kamar meminta suaminya untuk makan malam di dalam kamar saja. Sikapnya yang manja membuat Rifky tak bisa berpaling walau hanya sebentar saja.
__ADS_1
" Sayang... yakin tidak mau keluar? Cuacanya cerah banget malam ini."
" Nggak, Dina udah keliling kota tadi pagi."
" Ya udah, kakak pesen makanan dulu."
" Kak_..."
" Apa, sayang...?"
" Kapan Dina daftar kuliah...?"
" Nanti setelah anak kita lahir."
" Kakaakkk...!" teriak Medina.
Rifky tersenyum melihat wajah kesal istrinya. Sungguh sangat menggemaskan dan lucu.
" Setuju atau tidak sama sekali...!"
" Kalau Dina nggak hamil juga gimana?"
" Ya coba dulu, proses juga belum udah nyerah." goda Rifky.
" Ish...!" Medina mendesis pelan.
Tak lama makanan mereka datang. Rifky menyuruh pelayan masuk untuk meletakkan makanan di meja. Medina hanya menatap malas pada pelayan yang menghidangkan berbagai makanan kesukaannya.
" Sayang... ayo makan!" ajak Rifky.
" Hmm..." jawab Medina datar.
" Kenapa lagi, sayang? Kakak cuma bercanda, semuanya sudah diurus. Kamu tinggal pilih jurusan apa, nanti kamu satu kampus dengan Ririn."
" Benarkah...? Tapi_..."
" Hmm... terserah kakak saja." ucap Medina sendu.
" Makanlah dulu, kakak ada urusan sebentar diluar." balas Rifky menahan rasa kecewanya.
Rifky segera beranjak menyambar kunci mobilnya lalu pergi keluar dari kamar. Entah kemana ia pergi, Medina hanya bisa menatapnya dengan sendu.
.
.
Hingga jam dua belas malam, Rifky tak juga kembali membuat Medina semakin gelisah. Bahkan ponsel sang suami masih tergeletak di sofa.
Medina berdiri di balkon menatap langit malam yang sekarang terlihat mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Suaminya tak kunjung kembali hingga gerimis mulai datang. Medina tidak berniat untuk beranjak dari sana, justru air yang semakin deras membasahi tubuhnya membuat gadis itu lebih nyaman.
" Apakah air hujan ini bisa meluruhkan dosaku yang telah membuat suamiku marah? Jika bisa, aku akan tetap disini sampai dia memaafkanku." gumam Medina lirih.
Di tempat lain, Rifky sedang berada di Apartemennya bersama Adam. Johan dan Bayu sudah tidur dari tadi. Rifky hanya diam tanpa berkata apapun sejak beberapa jam yang lalu.
" Kak Rifky... sebenarnya ada apa? Kenapa meninggalkan Medina sendirian di hotel?" tanya Adam.
Adam merasa khawatir karena Medina sedari tadi tidak menjawab panggilannya. Pasti mereka berdua sedang ada masalah sehingga Rifky pergi.
" Tidak ada apa - apa. Tidurlah! Katanya besok pagi mau ke desa."
" Kak Rifky jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan yang sebenarnya terjadi? Jangan sampai Medina nekat dengan melakukan hal - hal aneh diluar sana. Kakak tahu apa yang akan dilakukan Medina saat sedih ataupun marah?"
" Apa maksudmu...?"
" Jangan sampai dia melampiaskan masalahnya dengan menyakiti orang lain atau dirinya sendiri."
" Ya udah aku pulang dulu."
__ADS_1
" Hati - hati, Kak. Diluar sepertinya hujan deras. Medina paling tidak suka hujan di tengah malam."
" Hmm..."
Hanya butuh waktu seperempat jam, Rifky sudah sampai di hotel. Lampu kamar sudah dimatikan hanya menyisakan lampu tidur. Rifky berpikir istrinya sudah tidur jadi dia langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum menyusul istrinya tidur.
" Maaf, harusnya kakak tidak meninggalkanmu tadi." gumam Rifky pelan karena tak ingin mengganggu istrinya.
Namun saat Rifky memeluknya, dia kaget karena ternyata hanya guling yang ada di hadapannya. Rifky langsung menyalakan lampu utama untuk mencari istrinya.
" Sayang...? Dina... kamu dimana...?" teriak Rifky.
Rifky menatap tidak percaya kearah balkon yang sedikit terbuka. Dia langsung bergegas lari ke balkon untuk mencari istrinya.
" Dina... apa yang kau lakukan?" teriak Rifky kaget.
Tubuh Medina basah kuyup karena hujan masih juga belum berhenti. Rifky langsung mendekapnya dari belakang karena Medina menghadap membelakanginya.
" Kenapa menyakiti dirimu sendiri? Kalau marah padaku marah saja, jangan menyiksa dirimu sendiri." ujar Rifky lembut.
Ternyata benar apa yang dikatakan Adam, istrinya memang selalu nekat dan tak memikirkan apapun akibatnya nanti.
" Maaf..." lirih Medina.
" Ayo masuk!"
Tak ingin istrinya sakit, Rifky langsung membawanya ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya dengan air hangat. Rifky mengisi bathup dengan air hangat dan sabun. Rifky melepas semua pakaian istrinya lalu menggendongnya masuk ke dalam air.
" Mandilah, kakak akan siapkan pakaianmu." ujar Rifky pelan.
" Jangan pergi..." lirih Medina.
" Hmm...?"
" Tolong jangan pergi,"
" Kakak tunggu diluar."
Medina menggelengkan kepalanya lemah. Tatapannya yang sendu membuat Rifky merasa sangat bersalah. Rifky tidak masalah jika istrinya itu marah, tapi di saat dia diam seperti ini hatinya justru merasa sakit.
" Mau kakak temani berendam?" tanya Rifky pelan.
Medina mengangguk dan mengulurkan tangannya. Rifky menyambut uluran tangan istrinya lalu ikut masuk ke dalam bathup tanpa melepas pakaiannya.
" Maafkan Dina, Kak. Seharusnya Dina bisa bersikap sedikit lebih dewasa." lirih Dina.
" Tidak, sayang. Jadilah dirimu sendiri, kakak tidak ingin kamu berubah hanya karena ingin membuatku bahagia."
Medina menyandarkan tubuh polosnya dalam dekapan suaminya. Hanya itu yang bisa dilakukan Medina saat ini untuk mencari kenyamanan di hatinya.
" Jangan seperti ini lagi, aku akan sangat merasa bersalah jika kamu tersakiti begini." lirih Rifky.
Medina mendongakkan wajahnya lalu mencium bibir suaminya dengan lembut. Senyum kecil menghiasi bibir Medina setelah itu.
" Hmm... mulai nakal lagi ya? Takkan kulepaskan lagi kali ini." seringai Rifky.
Keduanya kembali berciuman melepaskan pelukan mereka. Medina sudah benar - benar siap untuk melepaskan mahkota yang selama ini ia jaga.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1