
Sembilan bulan kehamilan Medina, kini mereka sudah berada di Indonesia. Mereka kembali ke Indonesia saat usia kandungan Medina menginjak tujuh bulan.
" Sayang, tidak apa - apa Kakak tinggal ke kantor? Mama juga sedang pergi sekarang." ucap Rifky.
" Tidak apa - apa, perkiraan dokter lahirnya masih satu minggu lagi, Kak." sahut Medina.
" Tapi, sayang... Kakak nggak tega ninggalin kamu sendirian."
" Di bawah ada ART dan penjaga, Kak."
" Baiklah, setelah meeting selesai Kakak langsung pulang."
Rifky mengecup kening istrinya cukup lama lalu berganti ke perut buncit yang sebentar lagi akan menghadirkan anggota baru dalam rumah tangga mereka.
Medina melambaikan tangannya saat sang suami sudah berada di dalam mobil. Sebenarnya ada rasa takut dalam diri Medina saat berjauhan dengan suaminya. Kandungannya semakin besar dan tinggal hitungan hari, ia akan melahirkan seorang bayi.
" Nyonya, sebaiknya Anda masuk saja. Cuaca diluar sudah panas," ucap pelayan.
" Tolong bantu saya keatas, Bik. Perut saya rasanya gerak - gerak terus dari tadi, sedikit nyeri." pinta Medina.
" Apa tidak sebaiknya di kamar bawah saja, Nyonya. Bahaya kalau harus naik turun tangga, apalagi kalau sendirian."
" Bener juga kata bibik, tiap kali naik tangga nafas saya seakan mau putus."
" Duduk dulu di ruang keluarga, biar bibik siapkan kamar untuk istirahat. Nanti saat Tuan datang baru pindah keatas. Jangan lupa ponsel harus selalu di dekat Nyonya, kalau ada apa - apa langsung hubungi semua orang yang ada di rumah ini termasuk satpam di depan. Saat ini semuanya harus siaga sewaktu - waktu Nyonya melahirkan."
" Iya, Bik. Terima kasih sudah perhatian sama saya. Bibik sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri."
Medina rebahan di sofa sambil nonton tv. Cemilan di depannya tidak ia sentuh sama sekali karena perutnya yang terasa tidak nyaman.
" Perutku kenapa, ya? Kenapa rasanya bergetar begini sih." keluh Medina.
Medina terlihat menarik nafas berkali - kali seraya mengusap perutnya yang terasa nyeri. Pelayan yang tadi membersihkan kamarnya kaget melihat Medina meringis kesakitan.
" Nyonya...! Apa yang terjadi, apa sudah kontraksi?" seru pelayan kaget.
" Tidak tahu, Bik. Sakit sekali perutku." rintih Medina.
Melihat pakaian bagian bawah Medina sudah basah, pelayan itu segera memanggil sopir untuk menyiapkan mobil dan satpam untuk membantunya memapah Medina ke mobil.
" Nyonya sudah waktunya melahirkan, biar bibik ambil barang - barang di kamar atas dulu."
" Saya takut, Bik."
" Tidak apa - apa, Nyonya. Semua baik - baik saja."
Pelayan yang usianya hampir setengah abad itu tentunya sudah berpengalaman dalam hal seperti ini karena dia juga pernah mengalaminya. Dia memiliki tiga anak yang semuanya lahir secara normal.
Setelah semuanya siap, Medina diantar ke rumah sakit oleh pelayan dan sopir pribadinya. Medina hanya bisa merintih sambil mencengkram lengan pelayannya.
" Sakit, Bik...!"
" Sabar, Nyonya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
" Saya sudah tidak kuat lagi, Bik." Medina meneteskan airmata menahan rasa sakit.
" Istighfar, Nyonya. Berdo'a semoga semua diberi kelancaran."
Seraya mengusap punggung majikannya, salah satu tangannya bergerak untuk menghubungi Rifky. Pelayan itu dengan bersusah payah akhirnya dapat menemukan nomor Tuannya. Namun sudah berkali - kali dihubungi tetap tidak ada jawaban.
" Nyonya, nomor Tuan tidak bisa dihubungi." ucap pelayan cemas.
.
.
__ADS_1
Sementara di gedung tinggi perkantoran, Rifky sedang memimpin rapat dengan para klien penting dari beberapa kota. Nicko yang duduk di sampingnya, sedikit kaget saat ponselnya bergetar.
" Boss, saya angkat telfon dulu sebentar." bisik Nicko.
" Cepatlah, Nick!"
" Baik, Boss."
Nicko keluar dari ruang meeting lalu menjawab telfon dari nomor yang tidak dikenal. Mungkin saja ada hal penting karena menghubunginya sampai tiga kali.
Nicko : " Hallo, siapa ini?"
Pelayan : " Maaf, Tuan... Benarkah ini dengan Tuan Nicko sendiri?"
Nicko : " Iya, kau siapa?"
Pelayan : " saya pelayan di kediaman Tuan Surya Mahendra."
Nicko : " Ada apa? Saya sedang sibuk."
Pelayan : " Itu, Tuan... Apakah Anda sedang bersama Tuan Rifky?"
Nicko : " Ya, ada apa? Katakan padaku sekarang!"
Pelayan : " Nyonya muda saya bawa ke rumah sakit, Tuan. Sepertinya sudah mau melahirkan, sekarang sudah berada di ruang persalinan."
Nicko : " Apaaa...?! Astaga, ya sudah... Saya akan beritahu Rifky sekarang."
Bersamaan dengan Nicko yang menutup panggilannya, Rifky keluar dari ruang meeting bersama para kliennya.
" Nick, cari Restoran yang bisa reservasi cepat. Kita makan siang bersama sekarang." perintah Rifky.
" Tidak bisa, Boss!" seru Nicko membuat para klien menatap heran padanya.
" Apa maksudmu, Nick!"ucap Rifky tegas.
" Bicara yang jelas, Nick! Kau mau membuatku malu!"
" Bukan, Boss. Maksud saya, itu... Istrimu di rumah sakit mau melahirkan."
" Apaaa...? Kau jangan bercanda, Nick! Dokter bilang masih satu minggu lagi."
Salah satu klien yang mengerti dengan keadaan Rifky yang sedang panik berusaha untuk menenangkannya.
" Tenanglah, Tuan. Dokter itukan hanya memperkirakan saja, belum tentu tepat. Sebaiknya sekarang Anda ke rumah sakit untuk menemani istri Anda. Yang paling dibutuhkan wanita yang akan melahirkan adalah dukungan dari suaminya."
" Terima kasih atas pengertiannya, Tuan. Saya mohon maaf tidak bisa menemani semuanya untuk makan siang."
" Tidak masalah, kabarkan saat anak Anda sudah lahir, kami akan mengirimkan hadiah untuk pewaris Mahendra."
Rifky mengangguk lalu berpamitan untuk pergi ke rumah sakit. Para klien tak lupa mendo'akan agar proses persalinan istri Rifky berjalan dengan lancar.
.
.
Nicko mempercepat laju mobilnya membelah jalanan kota yang padat. Berkali - kali ia mengumpat karena terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan.
" Apa tidak ada jalan lain, Nick!" teriak Rifky.
" Tidak ada, Boss. Posisi kita di tengah - tengah sekarang."
" Aku pergi sendiri saja, setelah perempatan mungkin ada ojek atau tumpangan yang lain."
" Baiklah, hati - hati." seru Nicko.
__ADS_1
Rifky berjalan di bahu jalan dengan sedikit tergesa - gesa. Keringatnya mengalir deras saat ia mulai berlari menuju perempatan jalan. Rifky segera berjalan menuju arah rumah sakit seraya mencari orang yang bisa ia mintai pertolongan.
Saat ia sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan, sebuah sepeda motor yang berhenti di sampingnya.
" Ojek, Mas?" seorang pria paruh baya menawarkan jasa.
" Iya, Pak. Antar saya ke rumah sakit."
" Silahkan naik, Mas. Pakai helmnya."
Hanya butuh waktu lima menit, Rifky sudah sampai di depan rumah sakit. Setelah membayar ongkos ojeknya, ia langsung menuju ruang persalinan, tempat istrinya berada.
" Pak, istri saya sama siapa di dalam?" tanya Rifky pada sopir yang menunggu diluar ruang persalinan.
" Sama bibik, Tuan. Tuan dan Nyonya Besar nomornya tidak bisa dihubungi. Nyonya muda juga tidak mau ditinggal sendiri."
" Baiklah, saya masuk dulu. Terima kasih sudah menjaga istri saya, Pak."
" Sudah menjadi tugas saya, Tuan."
Rifky masuk ke dalam ruangan dan mendapati sang istri yang tengah menahan sakit yang luar biasa.
" Sayang, maaf tadi meninggalkanmu. Seharusnya kakak tidak pergi ke kantor." lirih Rifky.
" Sakit, Kak...!" rintih Medina pelan.
Pelayan yang tadinya menemani Medina segera keluar setelah Rifky datang. Lebih baik ia menunggu diluar agar tidak memenuhi ruangan.
" Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rifky khawatir.
" Tuan yang tenang, istri Anda sudah pembukaan tujuh. Kita tunggu beberapa menit lagi. Prosesnya lebih cepat dari perkiraan untuk ukuran ibu yang melahirkan untuk pertama kali."
" Tapi istri saya nampak kesakitan, Dok. Saya tidak tega melihatnya."
" Memang seperti inilah perjuangan seorang ibu yang melahirkan, Tuan. Jadi, sebagai seorang suami... Muliakanlah istri Anda, jangan menyia - nyiakan perjuangannya yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan seorang anak."
Rifky hampir menangis di depan istrinya. Betapa luar biasanya seorang perempuann rela mengorbankan nyawa demi anaknya lahir ke dunia. Rifky jadi merasa bersalah karena selama ini tak menjalin hubungan yang baik dengan ibunya sebelum bertemu Medina.
" Aakkhhh...!"
Teriakan dan cengkraman kuat di lengannya membuat Rifky tersadar dari lamunannya. Ternyata Medina sudah siap untuk melahirkan dan Dokter sudah mengambil tindakan.
" Sayang... Kamu harus kuat, aku mencintaimu." bisik Rifky.
Setelah beberapa menit akhirnya jabang bayi keluar dan langsung dibawa suster untuk dibersihkan. Rifky memeluk dan mencium seluruh wajah istrinya seraya mengucapkan terima kasih atas perjuangannya yang sangat luar biasa.
" Terima kasih, sayang. Anak kita lahir dengan selamat." bisik Rifky seraya menitikkan airmatanya.
" Iya, Kak. Dina senang bisa melahirkan anak kita dengan normal." lirih Medina.
Suster yang tadi membawa bayi Medina kembali dengan keadaan yang sudah bersih. Dia memberikan bayi itu kepada Rifky untuk diadzani.
" Selamat, Tuan... Nyonya. Putra Anda sangat tampan, silahkan di adzani dulu."
" Terima kasih, suster."
Rifky segera mengadzani putranya lalu diberikan pada istrinya supaya dilakukan IMD (inisiasi menyusui dini).
" Baby Boy Mahendra," lirih Medina tersenyum.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.