
Jadi lebih suka dipeluk seperti ini?" goda Rifky.
" Kakak, Dina mohon...?"
" Apa susahnya sih turuti permintaan kakak?"
" Ish... Kakak jahat!"
" Kok jahat, sih? Kalau kakak cium kamu dengan paksa, baru jahat." seringai Rifky.
" Udah ah bercandanya, Dina mau bangun udah basah semua."
" Bawa baju ganti, kan?"
" Bawa, kak."
Rifky melepas pelukannya saat teringat ponselnya ikut basah. Setelah Medina berdiri, Rifky segera menariknya ke atas karang lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
" Sayang, ponsel kakak basah nih." kata Rifky.
" Maaf, Dina nggak sengaja." lirih Medina.
" Tidak apa - apa, sayang. Lagian ponsel kakak anti air kok."
" Beneran nggak rusak? Wahh... ponsel kakak bagus."
" Kamu mau ponsel seperti ini?"
" Tidak, mana mungkin ayah mampu membelikan ponsel seperti ini."
Rifky melepas jaketnya yang basah dan hanya menyisakan kaos putih tipis yang melekat di tubuhnya. Tubuh atletis itu terlihat sangat menawan. Siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum dengan tubuh kekar dan atletis serta wajah tampannya yang menghipnotis terutama para kaum hawa.
" Kenapa melihat kakak seperti itu?" Rifky membuyarkan lamunan Medina.
" Mmm... itu, kenapa jaketnya dilepas? Tuh, banyak orang yang lihatin!"
" Basah, Calis. Kakak hanya ingin menjemurnya sebentar. Memangnya kenapa kalau kakak lepas jaket?"
" Mmm... tidak apa - apa, terserah kakak aja!" ucap Medina datar.
" Hahahaa... tidak usah cemburu, biarkan saja mereka melihat. Tapi tidak perlu khawatir, karena semua ini hanya milik kamu."
" Huhh... menyebalkan! Siapa juga yang cemburu? Sekalian saja tidak usah pakai apa - apa!" ketus Medina.
" Ya Allah, sayangku. Kalau cemburu sangat menyeramkan." goda Rifky.
" Nyesel nyusulin kakak kesini!"
Rifky puas bisa menggoda gadisnya yang kadang marah tapi juga nampak rona merah di pipinya.
" Ya udah, sekarang kakak serius. Kenapa kamu nyusulin kakak kesini?" ujar Rifky.
" Mereka yang suruh aku ngajak kakak untuk bermain air bersama mereka."
" Sebenarnya kakak hanya ingin menikmati pemandangan saja disini tanpa berniat untuk menceburkan diri ke air. Tapi karena calon istriku yang cantik ini menginginkannya, mana bisa aku menolak."
Medina tersenyum lalu mengambil ponsel Rifky yang tergeletak di batu karang bersama jaket.
__ADS_1
" Masih bisa di pakai kan, kak?"
" Bisa, mau buat apa?"
" Buat foto, kita selfie dulu yuk?" ajak Medina.
" Ok, mau duduk apa berdiri?" tanya Rifky.
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada hati gadis itu, Rifky tidak bisa menebaknya karena setiap waktu bisa berubah kapan saja. Medina seperti punya kepribadian ganda, kadang dia angkuh dan keras kepala namun beberapa saat kemudian bisa menjadi gadis lemah lembut dan sopan.
" Duduk saja, kak. Malu kalau yang lain lihat."
" Ya udah, sini duduk di samping kakak."
Mereka berdua mengambil banyak foto berdua dengan wajah yang nampak bahagia. Jika orang lain melihatnya, pasti mereka mengira bahwa Rifky dan Medina adalah sepasang kekasih. Bahkan tanpa sadar, Medina memeluk Rifky dari belakang saat berfoto.
" Kak, nanti fotonya kirim ke nomor Dina, ya?"
" Iya, nanti kakak kirim ke ponselmu."
" Ya udah, kita turun yuk gabung dengan yang lain." ucap Medina.
" Kakak harus pakai lagi jaketnya?"
" Iya dong, tidak ada yang boleh lihat tubuh kakak!" ketus Medina.
Rifky kembali mengembangkan senyumnya karena tanpa sadar gadis kecilnya sangat posesif dan tidak rela jika ada wanita lain yang mengaguminya.
" Iya, ini kakak pakai lagi jaketnya, sayangku yang posesif." gemas Rifky.
Setelah kembali memakai jaketnya yang basah, Rifky membantu Medina untuk turun dari batu karang dan bergabung dengan empat temannya yang sedang bermain air laut dan pasir.
Rifky hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Medina lari terlebih dahulu menghampiri empat sahabatnya yang sedang fokus membuat bangunan dengan pasir.
" Kalian buat apa itu?" tanya Medina.
" Ini adalah istana sebuah kerajaan. Di dalamnya ada puteri cantik jelita yang sedang menunggu kedatangan pangeran berkuda putih." jawab Johan asal.
" Kebanyakan halu...!" cibir Medina.
" Eh, Meong! Kok kamu basah semua? Kak Rifky juga, kalian habis mandi bareng?" celetuk Adam.
" Ish... Darman! Asal saja kalau ngomong." ketus Medina.
" Hahahaa... lagian kalian basah kuyup begitu kayak habis tenggelam." sahut Bayu.
" Kami habis main air disana, kalian jangan ledekin Medina terus. Kalau dia minta pulang, repot nanti jadinya." kata Rifky.
" Cieee... ada yang belain nih," celetuk Ririn.
" Udah - udah, jangan mulai lagi." ujar Rifky seraya melihat wajah manyun gadis kecilnya.
Rifky mengajak Medina masuk ke dalam air yang agak dalam supaya gadis itu tak lagi manyun. Namun tak lama, keempat temannya juga menyusul masuk ke dalam air.
" Kak, nanti kalau Medina tenggelam gimana?" rengek Medina.
" Tenang saja, yang penting jangan jauh - jauh dari kakak. Tetap pegang tanganku jangan dilepas, ingat itu!" peringat Rifky.
__ADS_1
" Iya, kak."
Mereka berenam main di dalam air hingga matahari semakin naik dan tak terasa hampir masuk waktu dhuhur. Rifky tahu para remaja itu sangat lelah namun ada binar bahagia di wajah mereka.
" Kita istirahat dulu, sebentar lagi dhuhur kita cari penginapan buat mandi." ujar Rifky.
" Bukannya ada pemandian umum, kak? Kenapa harus sewa penginapan, lagian kita juga pulang nanti." kata Adam.
" Biar kalian bisa istirahat dengan nyaman. Ingat! Besok kalian sudah sekolah dan jangan sampai ada masalah lagi sampai bawa - bawa orangtua ke sekolah. Malu kalau jadi bahan gunjingan tetangga."
" Siap, Oppa. Sebisa mungkin kami tidak akan membuat masalah lagi." sahut Ririn.
" Saya harap juga begitu, jangan kecewakan saya dan orangtua kalian."
Rifky mengajak Medina dan teman - temannya menuju penginapan yang tidak jauh dari pantai. Rifky ingin bergegas membersihkan diri karena air laut membuat tubuhnya lengket.
Rifky menyewa penginapan keluarga yang berbentuk seperti rumah sehingga cukup untuk mereka berenam. Di dalamnya terdapat empat kamar yang ada kamar mandi di setiap kamarnya.
" Kak, bukankah penginapan seperti ini sangat mahal?" tanya Bayu.
" Tidak apa - apa, yang penting kita semua nyaman beristirahat. Ayo kita masuk ke dalam, kita harus membersihkan diri sebelum sholat." ujar Rifky.
¤ ¤ ¤
Sore hari setelah sholat Ashar, Rifky dan yang lainnya kembali ke pantai namun tidak lagi bermain air. Mereka hanya duduk diatas karang menunggu tenggelamnya matahari.
Melihat lima remaja itu nampak bahagia, Rifky sangat senang apalagi saat melihat Medina tersenyum seakan tanpa beban. Ternyata mereka bisa bahagia dengan cara sesederhana itu.
" Kak, jangan melamun terus! Nanti putri duyung lari lihat muka kakak... hahahaa..." seloroh Bayu.
" Iya nih, Oppa. Lagi mikirin pacarnya di kota ya? Atau jangan - jangan sudah punya istri?" sahut Ririn.
Rifky menghela nafas pelan lalu melihat ke arah Medina yang sudah berubah raut wajahnya setelah mendengar celotehan Ririn.
" Jangan ngawur kamu, Rin. Saya tidak punya pacar atau istri di kota." ujar Rifky.
" Benarkah? Kalau begitu Ririn boleh dong daftar?"
" Sorry, pendaftarannya sudah tutup. Soalnya sudah ada yang mendaftar duluan, tinggal nunggu seleksi."
" Siapa, Oppa?"
" Pokoknya ada, nanti pas acara pernikahan... kalian pasti diundang."
" Memangnya nikahnya kapan?" tanya Johan serius.
" Kalau itu terserah calon istri saya kapan dia siap." jawab Rifky sambil tersenyum pada Medina.
Mereka berbincang cukup lama hingga tak terasa moment yang di tunggu - tunggu akhirnya datang juga. Suasana menjadi sangat ramai di saat seperti ini. Mereka mengambil foto bersama dengan berbagai pose. Tanpa mereka sadari, Rifky menggenggam erat jemari Medina seraya memancarkan binar bahagia di wajahnya.
" Jika bahagiamu sesederhana ini, aku janji akan selalu membuatmu tersenyum. Akan kuhapuskan luka dihatimu dan kugantikan dengan cahaya cinta yang akan selalu menyinari jiwamu."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.