Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kesibukan yang tiada akhir


__ADS_3

Hari berganti bulan, tahun pun berganti. Kini usia Shaka sudah menginjak tiga tahun. Medina kembali pada cita - citanya dari awal yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Medina mulai masuk kuliah saat Shaka berusia satu tahun.


" Bunda, baju Ayah dimana?" seru Rifky sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah mandi.


" Masih di lemari, Yah. Bunda belum sempat mengambilnya, baru juga masuk kamar habis mandiin Shaka."


" Itulah kamu, Shaka terus yang diurusin. Ayah selalu saja diabaikan."


" Iya, ini juga mau diambilkan!" suara Medina terlihat kesal.


Medina segera mengambil pakaian kerja suaminya lalu ditaruh diatas tempat tidur. Dia juga langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sudah hampir terlambat ke kampus.


Selesai dengan mandinya, Medina keluar untuk mengambil bajunya. Dia tak mendapati suaminya disana, mungkin sudah sarapan lebih dulu dengan orangtuanya.


" Pagi, Pa... Ma." sapa Medina sambil menggendong Shaka.


" Pagi... Ayo sarapan dulu," balas Mama Kamila.


" Maaf, Ma. Dina sudah telat kekampus. Ada kelas pagi."


Medina menyerahkan putranya kepada pengasuh karena hari ini tak sempat menyuapi putranya. Dia terlambat bangun karena semalam harus mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga.


" Sarapan dulu, Dek!" titah Rifky.


" Sudah ditungguin ojek di depan."


" Kakak antar saja,"


" Tidak usah,"


Medina menyalami punggung tangan kedua mertua dan suaminya lalu beranjak keluar dari rumah dengan sedikit berlari.


" Dina kenapa, Ky...?" tanya papa Surya.


" Tidak tahu, Ma. Tadi aku tanya soal baju aja jawabnya ketus." jawab Rifky.


" Mungkin Dina lelah, Ky. Harus ngurus Shaka, kamu, dan juga kuliahnya. Belum lagi akhir - akhir ini dia sepertinya banyak tugas dari kampus. Mama sering lihat dia begadang sampai malam di depan laptop." ujar Mama Kamila.


" Kapan, Ma? Perasaan Medina selalu tidur lebih dulu dari Rifky."


" Makanya kamu itu sedikit perhatian sama istrimu. Jangan apa - apa harus istrimu yang mengerjakan. Jangan sampai dia merasa lelah dan tak sanggup bertahan hingga pergi meninggalkanmu." ujar papa Surya.


" Papa jangan ngomong begitu, Rifky tidak akan membiarkan Dina pergi."


.


.


Di kampus, Medina duduk melamun setelah kelas pertama usai. Dia belum berniat untuk beranjak dari tempat duduknya padahal semua temannya sudah berhamburan keluar kelas.


" Woiii... Melamun aja ini istri orang." ledek Clarissa, temannya di kampus.


" Ish... Jangan keras - keras!" ketus Medina.


" Hehehee... Peace...!" Clarissa nyengir tanpa merasa bersalah.


" Kenapa sih? Tumben tidak semangat hari ini? Nggak dapat jatah ya semalam?"


" Mulutmu belum pernah di lakban ya, Ris!"


" Mulut siapa yang minta di lakban?"


Tiba - tiba seorang pria tampan duduk di depan Medina dengan senyum lebarnya. Pria berwajah blasteran itu memang primadona kampus yang jadi rebutan para kaum hawa. Sayangnya, dia selalu memasang wajah datar dan dingin kecuali pada Medina dan Clarissa.

__ADS_1


" Devan... ngapain sih disini! Bikin hidup kami berdua nggak tenang tahu nggak!" kesal Clarissa.


" Kenapa sih? Apa salahku coba, baru juga datang sudah diomelin." gerutu Devan.


" Jangan berisik, ah! Aku mau tidur sebentar." gumam Medina.


" Kenapa sih, Mey? Seperti kurang tidur gitu?"


" Kesayanganku lagi sakit, ya?" celoteh Devan.


" Apaan sih? Mau di cincang suaminya!"


" Ups...! Sorry, lupa kalau sudah bersuami. Soalnya masih imut, cantik pula."


" Diam atau kaki meja ini menghantam kepalamu!" teriak Medina kesal.


Devan dan Clarissa memang sudah tahu tentang Medina yang sudah memiliki anak dan suami. Mereka tidak pernah mempermasalahkan itu karena Devan maupun Clarissa juga menyukai anak kecil.


" Coba aja kamu masih sendiri, Mey. Aku mau jadi pacar kamu." celoteh Devan.


" Huh... kau tahu berapa jumlah gadis di kampus ini? Kau tinggal pilih saja salah satu, Risa juga boleh." sahut Medina.


" Males, dia itu pria yang paling tidak peka di dunia!" ketus Risa.


" What...? Apa salahku kali ini? Setiap hari hidupku sudah seperti sopir taksi untuk kalian." sungut Devan.


Medina dan Clarissa tersenyum melihat raut wajah Devan yang cemberut. Menurut mereka itu lebih baik daripada tampang sangarnya saat di dekati para gadis di kampus.


" Besok itu libur, jalan - jalan yuk?" rengek Clarissa.


" Kemana?" tanya Devan.


" Kemana aja, yang penting keluar dari rumah. Menikmati masa muda yang indah ini."


" Coba dulu bujuk suami kamu, Mey. Shaka bisa kita ajak kok, masa' kamu tiap hari cuma rumah sama kampus terus. Memangnya tidak bosan seperti itu terus?"


" Udah jadi resiko menikah muda, Dev."


Tanpa mereka sadari, Rifky berdiri di ambang pintu mendengarkan obrolan mereka bertiga. Tanpa berniat untuk menghampiri istrinya, Rifky kembali ke kantor padahal tadi ia ingin menjemput istrinya pulang karena kelasnya sudah selesai. Hari ini ada ada satu mata kuliah karena jam keduanya dosen tidak hadir.


.


.


Sore hari, Rifky pulang lebih cepat dari biasanya. Dia segera menghampiri anak dan istrinya yang sedang bermain di taman samping rumah.


" Assalamu'alaikum, Bunda." sapa Rifky.


" Wa'alaikumsalam, tumben jam segini Ayah sudah pulang?" balas Medina.


" Ini buat Bunda."


Rifky memberikan setangkai mawar merah yang masih fresh. Tampak wangi semerbak saat menghirupnya.


" Ini pasti petik dari pot yang di samping garasi, ya? Kalau Mama tahu bisa diomelin tujuh hari tujuh malam." omel Medina.


" Biarin saja, nanti Ayah belikan gantinya yang banyak." sahut Rifky santai.


Rifky mengajak Medina untuk duduk di kursi panjang di depan Shaka yang sedang bermain bola. Sejenak mereka terdiam menatap Shaka yang sangat cepat tumbuh besar.


" Tidak terasa anak kita sudah besar, Bunda." ucap Rifky pelan.


" Kenapa...? Jangan bilang pengen punya anak lagi." sahut Medina datar.

__ADS_1


" Tidak. Jika Bunda tidak menginginkannya, Ayah tidak akan memintanya. Kehadiran Shaka sudah membuatku bahagia. Ayah tidak ingin Bunda merasa terpaksa melakukan semua keinginan Ayah."


" Ayah ngomong apa sih?"


" Tidak apa - apa, Ayah mandi dulu."


" Sebentar, biar aku siapkan airnya dulu. Ayah temenin Shaka main dulu."


Rifky mencium kening Medina dengan lembut lalu beranjak dari duduknya. Senyum tipis menghiasi bibirnya dengan tatapan mata teduh.


" Tidak usah, Ayah masih bisa melakukannya sendiri. Bunda sama Shaka disini dulu, Ayahnya mandinya cuma sebentar."


Medina menatap heran pada sang suami yang kini berjalan masuk ke dalam rumah. Terasa ada yang janggal dari ucapan suaminya tadi. Tak ingin berpikir terlalu jauh, Medina kembali bermain bersama putranya.


Tidak sampai lima belas menit, Rifky sudah selesai mandi dan segera menyusul anak dan istrinya ke taman.


" Shaka, lempar bolanya ke Ayah." seru Rifky.


" Ayah, Shaka mau ice cream." pinta Shaka saat melihat Ayahnya datang.


" Nanti habis maghrib kita beli ice cream, ya? Sekalian kita makan diluar, Shaka mau makan apa?"


" Chicken...!"


" Boleh, asal Bunda mengijinkan."


Shaka dan Rifky menatap Medina. Orang yang ditatap kelihatan salah tingkah karena tidak biasanya Rifky menuruti permintaan putranya begitu saja, apalagi ice cream di malam hari.


" Iya, boleh. Asal tidak boleh terlalu banyak." ucap Medina.


" Terima kasih, Bunda." Shaka memeluk Medina dengan riang.


" Ayah boleh peluk nggak?" pinta Rifky.


" Sejak kapan minta ijin mau peluk?" sindir Medina.


Rifky tak hanya memeluk, namun juga mencium bibir istrinya tanpa sepengetahuan putranya. Bisa gawat kalau ditiru sama anaknya suka cium - cium bibir Bundanya.


" Besok liburan yuk? Boleh ajak teman - temanmu." bisik Rifky.


" Kakak nggak kerja?"


" Nggak, pengen jalan - jalan sama Bunda dan Shaka."


" Boleh ajak teman?"


" Boleh, besok kita ke Villa menginap disana. Bilang sama temanmu supaya ijin pada orangtuanya."


" Iya, kak. Dina ambil ponsel dulu di kamar, jagain Shaka sebentar, ya?"


Medina langsung lari ke dalam rumah dengan perasaan senang. Saking semangatnya, ia hampir menabrak ibu mertuanya.


" Maaf, Ma... Dina tidak sengaja."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2