Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Pergi lagi


__ADS_3

" Apa harus dicium dulu agar tangannya berhenti mengacau?" bisik Rifky di telinga Medina.


" Kakak, lepas! Nanti kalau tante masuk kesini gimana?"


" Hmm... baiklah. Tapi janji, jangan marah lagi soal wanita lain. Apa yang kamu lihat, belum tentu semuanya benar. Berfikirlah lebih dewasa lagi, apalagi sekarang kamu punya tanggungjawab dengan keamanan pasar."


" Iya, Dina hanya sedang cari orang yang bisa menjaga keamanan pasar dengan hati bukan karena uang."


" Tubuhmu sudah tidak panas lagi, sayang. Ayo bangun terus mandi." kata Rifky.


" Malas, lututku sakit kalau kena air." rengek Medina.


" Mandinya sebentar saja, tadi kakak udah bawain baju ganti kamu."


" Apaaa...? Kakak ambil baju ganti Dina? Jadi, kakak ambil yang_..." Medina merasa sangat malu untuk mengatakannya.


" Iya, lengkap semuanya tinggal pakai. Tidak usah malu, dulu juga kakak sering mandi bareng sama kamu dalam satu bak tanpa sehelai benang." ucap Rifky dengan senyum jahilnya.


" Kapan? Kakak pasti bohong!"


" Buat apa kakak bohong, tanya pada paman kalau tidak percaya. Waktu itu umur kamu baru satu tahun, terus kakak enam tahun. Paman yang memandikan kita berdua."


Medina sangat malu menatap senyuman di bibir Rifky yang menatapnya intens. Dia langsung menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


" Dasar mesum!" Medina melempar bantal ke muka Rifky dengan kesal.


" Tidak apa - apa, mesumnya cuma sama calon istriku yang cantik ini."


" Huft... menyebalkan!"


" Sayang, nanti siang kakak harus ke kota karena ada pekerjaan yang sangat penting. Kamu tidak apa - apa kakak tinggal?"


Medina menatap Rifky sendu seakan tak ingin ditinggalkan. Gadis itu masih terlihat pucat dan Rifky sendiri tidak tega untuk meninggalkannya.


" Sayang, kenapa diam? Kalau memang tidak boleh ya tidak apa - apa. Kakak bisa atur scedule ulang biar bisa menemani kamu disini." ucap Rifky lembut.


" Pergilah, kak. Dina bisa pulang ke rumah kok. Ayah juga tidak akan lama di sekolah."


" Hei... jangan seperti ini? Kakak tidak akan pergi jika kamu keberatan."


" Tidak, kak. Pekerjaan itu adalah sebuah tanggung jawab yang harus kakak tunaikan. Pergilah, bukan kewajiban kakak untuk menjaga Medina."


" Kakak janji akan pulang secepatnya, tapi mungkin butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaan kakak."


" Tapi liburannya jadi, kan?"


" Insya Allah, Calis sayangku."


" Liburan kemana, kak?"


" Terserah kamu maunya kemana, cantik."


" Hhh... jangan panggil begitu, nggak enak kalau ada orang lain yang dengar."


" Iya, sayang. Kakak panggilnya kalau kita cuma berdua aja. Nanti kalau sudah resmi menikah, baru boleh panggil sayang di depan orang banyak."


" Ihh... jangan kebanyakan berkhayal!"


Rifky hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya ia mendekap sekali lagi tubuh ramping yang selalu membuatnya bersemangat.


" Cepat mandi! Atau mau kakak mandiin?"


" Dina bisa mandi sendiri!"

__ADS_1


¤ ¤ ¤


Setelah ayah Medina pulang dari mengajar, Rifky segera mengantar gadisnya pulang sekalian berangkat ke kota. Sampai di teras rumah, Rifky kembali menyampaikan pesan - pesannya yang tidak boleh dilanggar oleh Medina.


" Sayang, kamu mau oleh - oleh apa dari kota?"


" Tidak perlu repot - repot, kak. Cukup kakak jaga diri disana, dari apapun."


" Hmm... iya, kakak paham apa yang kamu maksudkan, sayang."


" Maksud apa? Udah kayak dukun aja."


" Sudahlah, kakak pergi dulu. Ingat semua pesan kakak, jika keluar rumah harus bersama salah satu dari keempat temanmu."


" Iya, sudah ratusan kali kakak bilang begitu." sungut Medina.


"Assalamu'alaikum, Calis."


" Wa'alaikumsalam, kak Rifky."


" Kok begitu panggilnya? Pakai panggilan sayang, dong?"


" Iya, kakak tampaaannnnn...!" seru Medina.


" Gadis pintar, I love you." bisik Rifky.


Medina langsung masuk ke dalam rumah setelah Rifky tak terlihat lagi. Dia segera menghampiri sang ayah yang sedang menonton siaran televisi.


" Assalamu'alaikum, ayah." ucap Medina.


" Wa'alaikumsalam, gimana keadaan kamu?" balas Ayah.


" Sudah mendingan, Yah. Tadi udah dikasih obat sama tante Mita."


" Rifky tidak antar kamu pulang?"


" Rifky adalah pemuda pekerja keras. Pasti pak Mahendra sangat bangga memiliki anak seperti dia."


" Seandainya nanti Medina tidak sukses seperti kak Rifky, apa ayah tidak akan bangga pada Medina?"


" Bukan kesuksesan yang membuat orangtua bangga pada anaknya. Tapi anak yang sholeh - sholehah dan berbakti, itulah kebanggaan para orangtua."


" Maafkan Medina, Yah. Selama ini Dina tidak pernah menurut kata ayah, Dina berkelakuan buruk di depan ayah."


" Sudahlah, ayah mengerti dengan yang kau rasakan. Sekarang kita lupakan semuanya dan mulai membuka lembaran baru bersama."


" Iya, ayah. Dina sayang ayah,"


¤ ¤ ¤


Setelah meeting dengan beberapa klien, Rifky merasa tubuhnya sangat lelah. Dia pulang ke Apartemen jam sepuluh malam bersama Nicko, asisten pribadinya.


" Nick, apa kau memberitahu Devi aku pergi ke desa?"


" Tidak, boss. Dia tidak datang ke kantor."


" Tapi dia kemarin datang ke desa mengacaukan semuanya."


" Dia berani datang ke desa?" Nicko terlonjak dari duduknya.


" Hmm... dan Medina salah paham melihat Devi memelukku di perkebunan."


" Sekarang apa sudah baikan?"

__ADS_1


" Sudah, untung dia masih percaya dengan penjelasanku."


" Boss, kau harus waspada dengan wanita itu."


Rifky menatap tajam asistennya untuk meminta penjelasan. Sepertinya Nicko mengenal Devi dengan baik.


" Kamu kenal sama Devi, Nick?"


" Sekedar tahu saja, boss. Dia wanita yang sangat licik, suka mencari mangsa para pengusaha muda. Lihat saja, walaupun boss jadian sama dia, tidak akan sampai ke jenjang pernikahan."


" Kok bisa?"


" Hhh... dia itu hanya memanfaatkan para pria kaya untuk fasilitas hidup glamournya. Katanya perusahaan ayahnya hampir bangkrut sekarang. Peringatkan orangtuamu untuk tidak menanam modal di perusahaan itu."


" Sial...! Kenapa kau baru bilang sekarang! Sepertinya mama mau menjodohkan aku dengannya."


" Makanya kita harus bergerak cepat untuk mengungkap kebusukan mereka, boss."


" Baiklah, nanti aku pikirkan cara untuk menghancurkan mereka."


¤ ¤ ¤


Sudah jam sebelas malam, Medina belum juga tidur. Entah mengapa, ia menunggu pesan dari Rifky.


" Apa setelah pergi ke kota dia melupakanku? Kenapa dia harus pergi lagi?" gumam Medina.


" Kak Rifky, apa kita akan seperti ini terus? Kamu datang secara tiba - tiba mengubah hidupku, tapi setelah aku merasa nyaman denganmu kau malah pergi lagi tanpa kabar." batin Medina kesal.


Saat Medina hendak memejamkan matanya, tiba - tiba ponselnya berdering. Dengan sangat malas, Medina menjawab telfonnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


" Hallo... siapa sih malam - malam ganggu aja!" gerutu Medina.


( " Ya Allah, sayang. Ini kakak, kamu kenapa sih?" ) ucap Rifky kaget.


" Kakak ngapain telfon jam segini?"


( " Sayang, kakak merindukanmu." )


" Ish... baru inget sekarang? Tadi kemana aja?"


( " Maaf, Calis sayang. Tadi_..." )


" Tidak usah cari alasan, aku mau tidur besok sekolah."


( " Hei... kenapa jadi ngambek, sayang? Kakak minta maaf, tadi jam sepuluh baru pulang dari tempat kerja." )


" Terserah, mau kerja mau pacaran, Dina nggak peduli!"


( " Sayang, sudah berapa kali kakak bilang. Kamu itu_..." )


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon dimatikan Medina tiba - tiba. Dia kesal karena Rifky selalu mengabaikannya jika sudah kembali ke kota.


" Kenapa sih dia harus mengusik hidupku! Tidak bisakah dia pergi saja untuk selamanya dari kehidupanku." kesal Medina.


Berkali - kali ponselnya berdering namun diabaikan oleh Medina dengan mode silent. Entah kenapa dia merasa sangat marah hari ini kepada Rifky, apalagi saat mengingat Rifky dipeluk oleh seorang wanita di perkebunan.


" Aku benci kak Rifky...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2