
Rifky duduk sendirian diatas batu karang tak jauh dari Medina dan pak Hasan. Dia tersenyum melihat gadis kecilnya bisa dekat lagi dengan sang ayah.
Rifky hanya dapat melihatnya dari jauh, tak ingin merusak kebahagiaan keluarga kecil itu. Cukup dengan melihat tawa bahagia ayah dan anak itu, Rifky sudah merasakan kebahagiaan tersendiri.
" Hidupmu lebih beruntung daripada aku, Medina. Paman begitu menyayangimu, selalu ada untukmu setiap waktu. Seandainya aku memiliki keluarga hangat sepertimu, pasti aku tidak akan pergi jauh darimu." gumam Rifky.
Rifky merebahkan tubuhnya diatas batu karang padahal matahari semakin meninggi. Dia tak menghiraukan kulitnya yang tersengat sinar mentari. Jika mengingat keegoisan kedua orangtuanya, Rifky merasakan amarahnya menguasai seluruh pikirannya.
" Apa yang kau pikirkan?"
Tanpa Rifky sadari, Om Jamal sudah duduk di sampingnya. Pria yang seumuran dengan ayahnya Medina itu melirik sekilas kearah keponakan satu - satunya.
" Eh, Om... kok disini? Mana Seno dan tante Mita?"
" Mereka sedang bermain dengan Adam dan yang lainnya."
" Apa harta itu lebih penting dari keluarga, Om?"
Rifky bangkit dari tidurnya dan duduk berdampingan dengan pak Jamal. Mungkin jika boleh memilih, ia lebih suka menjadi anak Om Jamal daripada papa dan mamanya.
" Bukan seperti ini, Rifky. Mereka juga sayang padamu, namun mereka menggunakan cara yang salah."
" Mereka tidak pernah menganggap Rifky itu ada, Om. Tapi kini, mereka berusaha untuk menekan hidupku lagi. Tiga belas tahun tidak bertemu, mereka tak pernah merasa kehilangan."
" Sabar, suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan kebahagiaanmu."
" Jujur, Om. Kebahagiaanku adalah bersama gadis kecilku itu. Dia adalah alasan terkuat Rifky membangun bisnis di berbagai negara. Senyumannya adalah semangatku dalam meraih kesuksesan sekarang ini."
" Kau sangat mencintai gadis itu walau nantinya akan menghadapi amarah kedua orangtuamu?"
Rifky menghela nafas panjang sambil mengedarkan pandangan ke tengah lautan yang luas.
" Rifky, Om tahu kamu sayang sama Medina dan pak Hasan. Tapi jangan sampai mereka terseret ke dalam masalahmu dan orangtuamu."
" Iya, Om. Rifky tidak akan melibatkan mereka. Rifky tidak ingin membuat paman Hasan bersedih lagi. Bahkan beliau lebih pantas Rifky anggap sebagai orangtua daripada papa dan mama."
" Jangan bicara begitu, seperti apapun sikap mereka padamu... tetap saja darahnya mengalir di tubuhmu."
" Tapi, Om_..."
" Om tahu apa yang kamu rasakan, kamu harus bisa menghadapi semua ini dengan kepala dingin."
" Terimakasih, Om. Om selalu ada di saat Rifky butuh sandaran."
¤ ¤ ¤
Matahari sudah naik tepat diatas kepala, Rifky mengajak semuanya untuk ke penginapan yang ia sewa untuk beristirahat.
" Om, mau makan di penginapan atau ke resto saja?" tanya Rifky.
" Pesan saja, kita makan di penginapan. Anak - anak terlihat sangat lelah." kata pak Jamal.
" Ya udah, Rifky ajak Medina ya?" bisik Rifky.
" Baru juga berapa menit berjauhan." cibir pak Jamal.
Rifky hanya tersenyum lalu menghampiri Medina yang tak melepaskan tangannya di lengan sang ayah.
__ADS_1
" Paman, Rifky ajak Dina sebentar ya buat cari makanan?" ucap Rifky dengan senyum manisnya.
" Kamu tanya saja sama orangnya, mau apa tidak." sahut pak Hasan.
" Please... mau ya?" pinta Rifky sedikit memaksa.
" Dina capek, kak." sahut Medina.
" Cuma sebentar, pesen makanan aja nanti makannya bareng - bareng di penginapan." rengek Rifky.
" Kamu temani Rifky, Din. Takut nanti dia nyasar." celetuk pak Hasan.
" Nyasar? Bukankah tempatnya dekat, Yah?" tanya Medina.
" Bukan orangnya yang nyasar, tapi hatinya. Jangan menyesal kalau nanti dia dapat yang baru di resto." bisik pak Hasan sambil tertawa.
" Ayaahhh...!" pekik Medina kesal.
Pak Hasan berlalu begitu saja menyusul Adam dan yang lainnya menuju ke penginapan.
" Sayang, ada apa? Kenapa marah sama paman?" tanya Rifky heran.
" Dina marah sama kakak!" ketus Medina.
" Ya udah, mungkin efek lapar jadi bawaannya emosi terus." sahut Rifky santai.
Rifky merangkul bahu gadis kecilnya walau berkali - kali lengannya harus ikhlas menerima cubitan dari jemari lentik dan lembut itu.
" Calis, kau meninggalkan banyak tanda cinta di lenganku." ringis Rifky menahan perih.
" Hmm... jangan marah, sayang. Tersenyumlah... senyumanmu adalah semangatku." tutur Rifky lembut.
" Kalau Dina marah terus sama kakak gimana?"
" Sayang, kakak tidak akan mampu bertahan jika kamu marah padaku. Kau adalah satu - satunya alasanku bahagia."
" Ish... kebanyakan drama." desis Medina.
" Kakak serius, sayangku."
Rifky menggenggam erat jemari Medina hingga sampai di depan resto. Keduanya langsung masuk ke dalam untuk memesan makanan.
" Sayang, mau pesan apa? Sekalian untuk teman - teman kamu, mereka suka makanan apa?" tanya Rifky.
" Mmm... samain aja, kak. Ikan bakar semuanya biar nggak rebutan." jawab Medina.
Rifky segera memesan yang diinginkan gadisnya dan meminta pelayan untuk mengantarkannya ke penginapan. Setelah itu, dia mengajak gadisnya berkeliling sebentar di sekitar resto.
" Kak, balik ke penginapan yuk?" rengek Medina.
" Senyum dulu baru kakak mau," sahut Rifky dengan senyumnya yang menawan.
" Senyumanku mahal...!" balas Medina.
" Ya Allah, sayang. Sama calon suami kok begitu sih? Mau dibayar pakai apa biar senyuman itu terbit di bibir mungil ini?"
Rifky mendekatkan wajahnya ke wajah Medina. Pandangan mereka bertemu, cukup lama mereka saling menatap tanpa sadar.
__ADS_1
" Mmm... kita kembali ke penginapan." ucap Rifky gugup.
" Iy... iya, kak." Medina menundukkan wajahnya.
Entah apa yang mereka rasakan saat ini, keduanya jalan beriringan tanpa sepatah katapun keluar dari keduanya. Rasa canggung kini menghinggapi keduanya.
" Astaga, jantungku kenapa berdetak kencang sekali." gerutu Rifky dalam hati.
" Mmm... sayang, kakak_..."
Rifky tak melanjutkan ucapannya saat melihat gadis kecilnya tersenyum sangat manis kepadanya. Senyum terindah yang takkan bisa ia lupakan selamanya.
" Terimakasih... karena kakak sudah membuat Dina dan ayah semakin dekat. Kami jadi sadar sekarang bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain." ucap Medina serius.
" Apapun akan kakak lakukan untukmu. Paman sudah kuanggap seperti orangtuaku, beliau orang yang baik."
" Kakak juga orang yang baik."
Medina menggenggam erat tangan Rifky dengan senyum yang tak pernah pudar menghiasi bibirnya. Pancaran mentari di siang yang terik itu tak menyurutkan langkah keduanya menyusuri pantai sejenak sambil menunggu pesanan datang.
" Kak, jangan bilang sama ayah ya soal kejadian malam itu. Dina tahu ayah marah karena khawatir. Tapi semua ini harus Dina lakukan agar tak banyak orang yang terlibat."
" Sayang, dengarkan kakak baik - baik! Kakak tahu sekarang ini kamu yang mengambil alih kekuasaan, tapi fikirkan juga dampaknya di masa depan. Mungkin sekarang kamu sudah menang, tapi suatu saat mereka pasti kembali lagi dengan musuh yang semakin banyak."
" Iya, kak. Dina akan lebih berhati - hati lagi dalam mengambil keputusan."
" Ya sudah, kita bicarakan lagi nanti. Kita kembali ke penginapan, takut paman nyariin gadis kecilnya."
" Dina bukan gadis kecil lagi, kak!"
" Hahahaa... iya - iya, gadis kecilku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik. Menikahlah denganku, sayang." goda Rifky.
" Ayo, nikahnya sekarang ya?" balas Medina seraya tersenyum.
" Kau ini benar - benar menggemaskan," Rifky menarik hidung Medina dengan gemas.
" Kakaakkk...! KDRT itu namanya," sungut Medina.
" Hehehee... sorry, honey. Terimakasih untuk hari ini, kakak sangat bahagia."
" Dina juga sangat bahagia, kakak sangat berarti dalam hidup Dina."
" Kamu adalah alasan kakak masih bertahan. Kamu adalah penyemangat hidup kakak. Senyumanmu semangatku."
Rifky terus menggenggam jemari Medina tanpa berniat untuk melepaskannya. Hatinya sangat senang hingga senyumnya tak pernah surut dari bibirnya.
Sampai di dekat penginapan, Rifky menghentikan langkahnya secara tiba - tiba saat melihat sebuah mobil terparkir disana. Tanpa sadar, Rifky melepaskan tangan Medina dan sedikit menjauhi gadis kecilnya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1