Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Manja


__ADS_3

Sesuai permintaan kekasihnya, Rifky langsung datang bersama pak Hasan. Tampak gadis itu keluar dari kamarnya dengan membawa kotak obat di tangannya.


" Ayah, Dina mau mandi tapi lepas bajunya gimana? Ini perbannya juga harus diganti." ucap Medina.


Rifky tersenyum melihat wajah sendu kekasihnya. Dia segera duduk di samping kekasihnya seraya mengambil kotak obat ditangan Medina.


" Sayang, mau kakak mandiin?" bisik Rifky.


" Ish... apaan sih? Jangan bikin ulah deh!" geram Medina.


" Mandinya besok aja kalau udah kering lukanya." kata pak Hasan.


" Tidak bisa, Yah. Dina pengen mandi."


" Begini saja, paman. Biar Dina mandinya sama Rifky saja." ucap Rifky.


" Apaaa...?" pekik pak Hasan dan Medina serentak.


" Mmm... maksud Rifky itu... Dina mandi dibantu tante Mita. Biar Rifky antar Dina kesana." ucap Rifky nyengir.


" Oh begitu," sahut pak Hasan.


Medina mencubit lengan Rifky dengan keras membuat pria itu meringis menahan sakit.


" Ayo, Dina... ambil baju ganti kamu terus ke rumah om Jamal." ajak Rifky.


" Iya, ini juga baru mau jalan." sahut Medina.


" Paman, Rifky bantu Dina ambil baju gantinya dulu ya? Tangan kirinya belum boleh banyak bergerak."


" Iya, tapi kalian makan dulu baru ke rumah pak Jamal."


" Baik, paman."


Rifky mengikuti Medina ke dalam kamar gadis itu. Medina tampak kesulitan mencari baju yang pas agar gampang untuk dipakai.


" Kamu duduk saja biar kakak yang ambilkan." kata Rifky.


" Jangan, Dina malu." sahut Medina.


" Malu pada siapa? Tadi aja kamu cium kakak tidak malu - malu." goda Rifky.


" Hehehee... kan buat batalin puasa, berbuka puasa itu harus disegerakan." elak Medina.


" Memang siapa yang menerapkan ilmu berbuka puasa dengan ciuman?"


" Udah ah, jangan bahas itu lagi. Dina malu tahu nggak!"


Rifky berlutut di depan Medina yang sedang duduk di tepi ranjang. Ditatapnya mata cantik itu dengan lekat kemudian meraih dua telapak tangannya.


" Mulai sekarang, tidak ada lagi kata malu diantara kita. Kamu harus mulai terbiasa dengan kehidupan pribadiku. Begitupun diriku, akan terbiasa membaur dalam kehidupan pribadimu."


" Kakak serius? Dina tidak tahu harus menjawab apa, semua ini terlalu cepat."


" Kita jalani saja, sayang. Tidak perlu dipikirkan, semua akan berjalan seperti air yang mengalir."


" Bolehkah Dina mencium yang sebelahnya lagi?" goda Medina.


" Jangankan cuma sebelah, seluruh hidupku ini, jiwa raga ini sudah menjadi milikmu. Tidak perlu meminta ijin, semua sudah menjadi hak kamu." ungkap Rifky.


" Hahahaaa... Dina cuma bercanda, kak."


" Serius juga tidak apa - apa."

__ADS_1


" Cepat ambilin baju Dina terus kita makan."


" Iya, sayang."


¤ ¤ ¤


Kini Rifky dan Medina sudah berada di rumah pak Jamal. Rifky meminta tolong pada tante Mita untuk membantu Medina mandi.


" Tante, tolong Dina ya? Tidak ada orang lain lagi yang bisa Rifky mintai tolong." bujuk Rifky.


" Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya?" goda tante Mita.


" Tante... dia itu belum jadi istri Rifky, tidak boleh seperti itu."


" Tante pikir kamu sudah lupa batasan setelah bertahun - tahun diluar negeri."


" Rifky tidak mungkin seperti itu, tante. Jangan sembarangan menuduh, ayo cepat keatas." Rifky menarik tubuh tantenya menuju ke kamarnya di lantai atas.


Medina duduk di tepi ranjang menunggu Rifky dan tante Mita. Sebenarnya ia merasa tidak enak merepotkan orang lain, tapi Rifky selalu saja dengan mudah membujuknya.


" Sayang, malam ini nginep aja disini ya? Biar besok pagi tidak repot kalau mau mandi." kata Rifky.


" Iya, Din. Nanti biar tante yang bantu kamu. Daripada bocah tengil ini yang nekat mandiin kamu." cibir tante Mita.


" Kenapa jadi Rifky yang disalahin sihm" gerutu Rifky kesal.


" Tidak usah, tante. Nanti ayah sendirian di rumah, mungkin besok udah sembuh lukanya." tolak Medina.


" Tidak boleh menolak, nanti kakak yang akan menginap disana menemani paman." kata Rifky.


" Benarkah? Memangnya kakak tidak kembali ke kota?"


" Nanti kalau kamu sudah sembuh."


Rifky keluar dari kamar setelah tante Mita mengusirnya. Pintu ditutup dengan rapat lalu tante Mita membantu Medina melepas kaos pendek yang dipakai gadis itu.


" Sakit ya, Din? Apa bajunya disobek aja, soalnya susah untuk dilepas."


" Terserah tante saja, yang penting baju ini bisa lepas."


Setengah jam kemudian, Medina sudah selesai mandi dan ganti baju. Tante Mita kembali ke kamarnya sendiri setelah menyuruh Medina istirahat. Saat melewati ruang keluarga, tante Mita mendapati Rifky masih duduk disana.


" Rifky, kamu masih ada disini?" tanya tante Mita kaget.


" Eh. iya... tante. Rifky mau ketemu Dina sebentar."


" Baru juga berpisah berapa menit, udah kangen aja?"


" Ah, tante... wajar dong Rifky kangen sama calon istri."


" Hhh... terserah kau saja, makanya cepet di halalin biar tidak diambil orang lain."


" Rifky juga maunya begitu, tante. Tapi Dina itu masih sekolah, paman Hasan pasti tidak akan merestui hubungan kami."


" Coba dulu, tidak akan ada hasil jika tak berusaha."


" Nanti aja, tante. Setelah Dina lulus sekolah, Rifky tidak mau dia terbebani dan tidak fokus belajarnya."


" Dihh... tumben banget jadi bijak gitu,"


" Udah, Rifky mau keatas dulu."


Sampai di depan kamarnya, Rifky mengetuk pintu perlahan. Beberapa kali mengetuk ternyata tak ada sahutan dari dalam. Rifky langsung membuka pintu karena takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya.

__ADS_1


" Sayang_..."


Rifky segera menutup mulutnya saat melihat kekasihnya sedang melakukan sholat. Dia segera masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang menunggu Medina selesai sholat isya'.


" Kak Rifky nggak ke Mushola?" tanya Medina usai melipat mukena dan sajadah.


" Mmm... tidak, sayang. Kakak lelah pengen istirahat dulu." jawab Rifky seraya merebahkan tubuhnya ke ranjang.


" Memangnya berapa lama sih sholat tarawih? Bilang aja males!"


" Kok jadi marah - marah sih, sayang? Kakak salah apalagi sama kamu?"


" Dina pulang saja, kakak bikin kesal terus."


" Hey... kakak salah apa, sayang? Katakan saja apa yang membuatmu kesal pada kakak,"


" Kakak nggak sayang sama aku,"


Rifky benar - benar heran dengan sikap kekasihnya hari ini. Sebentar manja, sebentar marah, sebentar romantis... benar - benar membuat dirinya pusing.


" Katakan saja apa yang kamu mau, pasti kakak turuti semua yang kamu inginkan." bujuk Rifky.


" Janji...?"


" Iya, sayangku."


" Dina pengen mie ayam sama roti bakar." rengek Medina manja.


" Ya Allah... bilang aja kalau lapar, kenapa harus marah." batin Rifky.


" Ya udah, kakak beliin dulu diluar. Sekarang kakak mau sholat isya' dulu." kata Rifky.


" Dina ikut ya? Pengen makan di tempatnya langsung."


Medina bergelayut manja di lengan Rifky. Wajahnya terlihat imut dan menggemaskan membuat Rifky tidak tahan untuk tidak memeluknya.


" Tumben calis cantikku ini manja banget? Pasti masih kangen ya sama kakak?"


" Hmm... Dina takut tidak bisa bertemu dengan kakak lagi."


" Sayang... dengarkan kakak dulu. Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Kakak sayang sama kamu, jangan pernah berfikir macam - macam."


Medina memeluk Rifky dengan erat sambil tersenyum bahagia. Gadis itu nampak tertawa kecil, sesekali menggelitik pinggang pria tampan itu.


" Sayang, tangannya jangan usil dong... kakak geli, nggak tahan kalau seperti ini."


" Boleh ya ikut keluar?"


" Sayangku... Diluar sangat dingin, sebaiknya kamu di rumah saja."


" Pokoknya Dina mau ikut!"


" Ok, kamu ikut! Tapi ingat tidak boleh membantah kakak."


" Iya, kakak tampanku..."


Setelah berhasil menghentikan rengekan manja gadis kecilnya, Rifky beranjak untuk ambil wudlu dan menjalankan sholat.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2