Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Pelukan hangat


__ADS_3

Usai membersihkan kamar dan sholat ashar, Medina istirahat untuk melepas lelah. Dia sangat nyaman tidur di kamar yang sudah lama tidak ia tempati.


Malam hari usai maghrib, Medina meminta ijin pada ayahnya untuk membeli makanan diluar karena di rumah tidak ada bahan makanan sedikitpun.


" Yah, Dina keluar cari makanan dulu ya?"


" Biar Ayah saja, Din."


" Tidak, Ayah. Dina sekalian pengen jalan - jalan di sekitar sini."


" Kamu jangan pergi sendirian, ini sudah malam."


" Kalau ajak Seno, bolehkan?"


" Belum tentu anak itu mau,"


" Kalau begitu... gimana kalau kita berdua sekalian makan diluar, Yah?"


" Boleh juga, kapan lagi kita bisa menyempatkan waktu pergi berdua seperti ini. Mumpung suamimu belum jemput."


" Mudah - mudahan motornya nggak mogok, Yah. Sudah lama tidak dipakai."


Medina mengeluarkan motornya lalu mencoba menyalakannya. Dia berteriak senang saat mesin motor itu dapat menyala.


" Alhamdulillah... ternyata kamu tahu aja kalau aku lagi butuh." gumam Medina sambil tersenyum.


Medina segera bersiap mengambil jaket di kamar dan mengambilkan untuk ayahnya juga. Saat ingin memakai jaketnya, ponselnya berdering. Ternyata sudah ada 3 panggilan tak terjawab dari suaminya.


Medina : " Assalamu'alaikum, suamiku."


Rifky : " Wa'alaikumsalam, kamu darimana saja? Ini baru habis maghrib dan kamu tidak menjawab telfonku."


Medina : " Maaf, Kak. Tadi Dina diluar panasin motor."


Rifky : " Mau kemana malam - malam begini? Jangan keluyuran dengan preman - preman pasar itu!"


Medina : " Siapa juga yang pergi sama mereka? Kakak ini su'udzon sama istri sendiri."


Rifky : " Bukan begitu, sayang. Kakak_..."


Medina : " Aku tidak pernah melarang kakak melakukan apapun, sekarang kakak sedang bersama wanita lainpun Dina juga tidak akan tahu! Terserah kakak mau ngapain disana!"


Medina langsung memutuskan panggilan telfonnya bahkan menon-aktifkan ponselnya itu. Dia sangat kecewa dengan sang suami yang tidak percaya padanya.


.


.


Rifky menyandarkan punggungnya di sofa. Pikirannya sangat kacau jika sudah memikirkan istrinya yang marah. Bukannya ia tidak percaya pada istrinya, Rifky hanya ingin Medina tidak bergabung lagi dengan para preman itu.

__ADS_1


" Kenapa, Boss?" tanya Nicko yang baru saja masuk ke ruangan.


" Entahlah, Nick. Apa aku bisa pulang lebih cepat?"


" Bisa, Boss. Baru saja klien kita membatalkan acara makan malamnya karena anaknya tiba - tiba sakit."


" Aku pulang sekarang,"


" Tunggu, Boss. Kau mau kemana?"


" Medina ada di desa dan aku akan menyusulnya kesana. Kau kosongkan semua jadwalku untuk besok."


" Tapi besok pagi ada meeting dengan para divisi untuk proyek terbaru, Boss."


" Tidak bisa diundur lusa? Kau tahu sendiri seperti apa istriku. Dia tidak akan mau diajak pulang secepat itu."


" Masalahnya ini proyek penting, Boss."


" Ya sudah, aku akan datang besok. Kau undur waktu habis makan siang."


" Ok, tapi sampai kapan kau bolak - balik seperti ini?"


" Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya, no problem."


Jika Rifky sudah mengambil keputusan seperti itu,Nicko tidak akan bisa mengubah apapun. Dia hanya berharap bossnya itu bisa menjaga fisiknya dengan baik.


" Fine, tetap jaga kesehatan. Jarak dari sini ke desa itu jauh, jangan dipaksakan."


Rifky bergegas pulang setelah menandatangani beberapa berkas yang disodorkan Nicko. Tidak lupa ia mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan karena pak Hasan pasti belum sempat belanja.


" Semoga Medina tidak benar - benar marah. Bagaimana bisa dia berpikir aku bersama wanita lain." gumam Rifky.


Rifky melanjutkan perjalanannya setelah sholai isya'. Dia akan sampai di desa sekitar jam sepuluh karena menggunakan mobil. Jika dengan motor, mungkin dia bisa sampai lebih cepat.


Sementara di desa, Medina dan pak Hasan sedang makan nasi goreng di warung tenda dekat pasar. Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Mungkin besok tidak bisa seperti ini lagi karena Rifky pasti akan menjemputnya.


" Yah, habis makan kita keliling sekitar sini dulu, ya?" pinta Medina.


" Memangnya kamu tidak lelah?"


" Tidak, Dina pengen menikmati waktu bersama ayah malam ini. Besok kalau kak Rifky jemput pasti Dina tidak bisa bersama ayah lagi."


" Baiklah, kita jalan - jalan dulu nanti."


Usai makan, Pak Hasan kembali melajukan kendaraannya ke arah kota kecamatan sekedar berkeliling bersama putrinya. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah keduanya. Mereka jadi ingat saat Medina masih berumur tujuh tahun, saat sang ibu masih ada, mereka sering menghabiskan waktu libur dengan berkeliling mengendarai motor bertiga. Kehidupan yang sederhana, namun terpancar kebahagiaan yang sangat besar.


" Ayah, dulu sepertinya kita sering duduk di sebuah taman deket sungai, dimana itu?" tanya Medina yang duduk di boncengan ayahnya.


" Oh itu, kamu tidak ingat taman yang di dekat sekolah SD Negeri 1 itu? Kita dulu selalu menghabiskan waktu duduk disana dengan ibumu."

__ADS_1


" Kita kesana lagi yuk, Yah?"


" Tentu saja, semenjak ibumu tidak ada... kita... tidak pernah kesana lagi."


Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka sudah sampai di taman yang di inginkan Medina. Tempatnya masih sama seperti dahulu, hanya bunga - bunya bertambah banyak.


" Ayah... Dina ingat batu ini! Biasanya kita duduk di tempat ini." seru Medina.


Pak Hasan bahagia bisa melihat senyum putrinya saat ini, saat hanya ada mereka berdua di tempat itu. Seandainya istrinya masih ada, pasti kebahagiaannya akan berlipat ganda.


" Ayah ingat kenangan kita dengan ibu, ya?"


" Ya... walaupun kejadian itu tidak akan pernah bisa terulang lagi, tapi kenangan itu tidak akan pernah hilang."


Medina memeluk Ayahnya dengan erat. Pelukan hangat yang pernah ia rasakan di tempat ini. Dulu masih ada sang ibu, kini mereka hanya berdua saja mengulang kenangan masa lalu.


" Pelukan Ayah masih tetap sama, selalu hangat." lirih Medina.


" Kamu sudah besar, Nak. Ayah tidak menyangka kamu tumbuh menjadi wanita cantik secepat ini."


" Tinggallah bersamaku di kota, Yah. Dina nggak mau Ayah sendirian di desa."


" Ayah baik - baik saja disini, Nak. Bahagialah kamu bersama suamimu. Jadilah istri yang baik untuk Rifky. Dia bekerja sangat keras untuk bisa membahagiakan dirimu."


" Iya, Yah. Dina akan berusaha untuk menjadi istri baik untuk kak Rifky."


Cukup lama Medina dan Pak Hasan saling bercerita mengenang masa lalu. Menceritakan masa - masa saat ibu masih ada bersama mereka. Tanpa mereka sadari, malam semakin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Astaghfirullah, Yah...! Udah jam sepuluh, pulang yuk? Besok Ayah juga harus masuk sekolah." ucap Medina.


" Oh iya, kita sampai lupa waktu karena terlalu senang mengenang masa lalu." sahut pak Hasan.


" Besok pagi sarapan apa ya, Yah? Di rumah nggak ada bahan makanan sedikitpun."


" Besok beli saja di warung yang di ujung desa itu. Terus siangnya kamu ke pasar buat belanja."


" Iya, Yah. Nanti beres - beres rumah habis dari pasar saja."


Medina dan pak Hasan bergegas pulang karena malsm senmakin larut. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah karena pak Hasan melarang Medina untuk membawa motor dengan cepat.


Sampai di rumah, Medina dan pak Hasan terkejut karena ada mobil yang terparkir di halaman rumah mereka.


" Dina, itu mobil siapa...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2