Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Tertembak


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka sepakat untuk berangkat selepas isya'. Medina yang masih marah memilih ikut di mobil Nicko. Dia tidak mau berdekatan dengan Rifky karena keributan pasti terjadi lagi.


Nicko mengajarkan cara menggunakan pistol kepada tiga remaja itu sebelum mereka berangkat walaupun Rifky tidak mengijinkannya karena mereka belum tahu tehnik dasar menembak.


" Mey, kamu ada masalah apalagi dengan Rifky? Baru aja ketemu udah berantem." kata Nicko.


Mereka di dalam mobil hanya berdua karena Adam dan Bayu ikut di mobil Rifky. Nicko tidak mau Rifky sendirian di saat seperti ini.


" Dina hanya tidak suka diatur - atur, kak Rifky tidak bisa ngertiin keinginanku." sungut Medina.


" Rifky itu hanya tidak ingin kamu terluka, Medina. Dia sayang banget sama kamu."


" Sudahlah, aku tidak mau bahas dia dulu."


" Hhh... terserah kau saja, sekalinya keras kepala ya begitu terus sampai kapanpun."


Sementara di mobil Rifky, Adam dan Bayu tidak berani bicara sedikitpun karena Rifky yang selalu diam. Baru kali ini Rifky terlihat dingin dan sangat serius. Entah apa yang dia pikirkan, laju mobilnya semakin lama semakin cepat.


" Kak, jangan ngebut. Bahaya, jalanan ramai." kata Adam memperingatkan.


" Diam...! Duduk saja dengan benar." ketus Rifky.


Bayu tahu jika Rifky sedang mengkhawatirkan ibunya. Dia hanya diam saja tak ingin menambah emosi Rifky kian memuncak.


¤ ¤ ¤


Tak berselang lama, mereka sampai di sebuah gedung bekas pabrik. Terlihat ada beberapa penjaga di depan pintu masuk. Nicko berusaha mencari jalan lain untuk bisa masuk ke dalam gedung. Dia membagi anak buahnya menjadi empat kelompok untuk mengepung tempat itu.


" Adam, kau pimpin dari sisi barat. Bayu, kau dari sisi timur." perintah Nicko.


" Rifky, kau dan Medina dari sisi selatan. Itu adalah sisi belakang gedung. Cari tante Kamila dan Seno, disana pasti tak ada penjagaan ketat. Aku akan bergerak dari depan." kata Nicko lagi.


" Sayang, ayo masuk." ajak Rifky.


" Hmm..." jawab Medina singkat.


" Ya Allah, kenapa dia masih ngambek aja sih?" kata Rifky dalam hati.


" Kalian... cepat menghadap kesana!" perintah Rifky kepada anak buahnya.


" Baik, boss."


Setelah anak buahnya balik badan, Rifky langsung menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya.


" Jangan marah lagi, kajak sayang padamu." lirih Rifky.


" Lepas!" pekik Medina.


" Ssttt... jangan keras - keras, sayang. Kamu kenapa sih? Baru aja bertemu kok marah? Kemarin katanya rindu, minta kakak cepat pulang?"


" Dina nggak mau bahas itu, lebih baik cari Seno dan tante Kamila dulu." ketus Medina.


Setelah melepaskan pelukannya, Rifky segera menyuruh anak buahnya untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung.


" Kalian periksa lantai dasar, saya akan naik ke lantai dua." perintah Rifky.


" Baik, boss."

__ADS_1


Rifky menggandeng Medina ke lantai dua karena tempatnya yang gelap takut mereka akan terpisah.


" Kak, ini sangat gelap. Bagaimana kita bisa mencarinya?" bisik Medina.


" Kita masuk ke setiap ruangan, sayang. Pelan - pelan saja jalannya, biar langkah kita tak terdengar." kata Rifky.


Medina memeluk lengan Rifky dengan erat karena sebenarnya ia sangat tidak suka dengan kegelapan. Walaupun tidak takut, namun Medina merasa sedikit pusing karena tak bisa melihat apapun.


" Sayang, kenapa kamu tegang sekali?" tanya Rifky khawatir.


" Tidak, kak. Dina cuma sedikit tidak nyaman saja dalam kegelapan seperti ini."


" Ya udah, jangan lepaskan tanganmu. Kakak tidak mau kekasihku yang cantik ini terluka."


Rifky dan Medina mengelilingi seluruh ruangan disana namun tak ada tanda - tanda keberadaan Seno dan tante Kamila. Medina mengajak Rifky untuk naik ke lantai tiga.


" Kak, disana ada cahaya. Mungkinkah Seno ada disana?" bisik Medina.


" Ya udah, kita mendekat kesana. Hati - hati, sayangku."


Saat Medina dan Rifky semakin dekat, terdengar suara tembakan dibawah. Sepertinya Nicko sudah mulai menyerang. Rifky menarik Medina untuk bersembunyi karena ada orang yang keluar dari dalam sebuah ruangan.


" Kak, itu Devi sama siapa?" bisik Medina.


" Sepertinya itu papanya, sayang."


Mereka menajamkan pendengaran untuk mendengar semua perkapan para penjahat itu.


" Pa, bagaimana ini? Kalau anak buah kita kalah gimana?" ucap Devi resah.


" Kenapa papa juga menculik anak itu?"


" Rifky lebih sayang pada anak itu daripada ibunya sendiri. Harusnya kita menyekap gadis itu, tapi ilmu bela dirinya lumayan juga. Orang suruhan papa yang dulu tidak bisa mengalahkannya."


" Dari awal Devi juga tidak suka dengan gadis itu, sok cuek dan sombong."


Medina yang mendengar ucapan Devi langsung geram. Ingin rasanya ia menghajar wanita tidak punya akhlak itu.


" Sayang, sabar ya? Jangan terpancing emosi." bisik Rifky sambil memeluk gadis itu.


" Kenapa kakak jadi membela dia?"


" Ya Allah, sayang..."


Terdengar suara langkah kaki seseorang berlari semakin mendekat. Ternyata ada beberapa anak buah Devi yang datang.


" Boss, kami tidak bisa melawan mereka. Jumlahnya terlalu banyak."


" Bod*h...! Begitu saja kalian kalah. Saya sudah bayar mahal untuk kalian!" teriak papanya Devi.


" Pa, Devi tidak mau masuk penjara." rengek Devi.


" Kita pergi dari sini, bawa tawanan itu sekarang juga!"


" Baik, boss."


Saat tante Kamila dan Seno dibawa keluar dari ruangan itu, Rifky langsung menembak para anak buah Devi di kakinya.

__ADS_1


Doorrr... Doorrr... Doorrr!!!


Mereka semua tersungkur ke lantai membuat Devi dan papanya terkejut. Rifky keluar dari persembunyiannya bersama Medina mendekati Devi dan papanya.


" Tidak kusangka kalian bisa senekat ini," seringai Rifky.


" Rifky, bukannya kau diluar negeri?" ucap Devi kaget.


Medina langsung membuka ikatan di tangan Seno dan tante Kamila. Pasti mereka berdua sangat menderita di sekap di tempat seperti ini.


" Tante dan Seno tidak apa - apa? Apakah ada yang luka?" tanya Medina cemas.


" Tidak, kami baik - baik saja." jawab tante Kamila.


" Syukurlah, kami sudah mencari tante dari siang."


Seno yang tadinya hanya diam tiba - tiba memeluk Medina dengan erat dan terisak.


" Seno takut, kak." isak Seno.


" Hey... jagoan tidak boleh menangis. Semua baik - baik saja, di bawah juga ada kak Adam dan kak Bayu." hibur Medina.


Medina melepaskan pelukan Seno lalu menghampiri Devi. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan kemarahan.


Plaakkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Devi sehingga gadis itu berteriak.


" Aakkhhh...! Beraninya kau menamparku!" teriak Devi.


" Itu karena kau sudah menculik Seno, dia sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak akan memaafkan siapa saja yang menyakiti orang terdekatku!" balas Medina.


Rifky menodongkan pistolnya kearah papanya Devi agar tidak kabur sembari menunggu Nicko dan yang lainnya datang.


" Kakak, kita pulang." rengek Seno.


" Kita akan pulang, kakak tahu kamu lelah." sahut Rifky.


Saat tante Kamila ingin mendekat ke arah Rifky, tiba - tiba anak buah Devi mengangkat senjatanya yang sempat terlempar.


Doorrr!!!


" Aakkhhh...!"


Doorrr... Doorrr... Doorrr...!!!


Suara tembakan bertubi - tubi bersarang di tubuh anak buah Devi. Nicko datang sedikit terlambat sehingga harus ada korban.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2