Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Tidak usah cemburu


__ADS_3

Minggu pagi, Rifky jalan - jalan pagi di sekitar desa bersama Adam dan Bayu setelah sholat shubuh. Selama ini Rifky jarang sekali berinteraksi dengan orang lain kecuali urusan pekerjaan.


" Mey tidak ikut, kak?" tanya Bayu.


" Tidak, aku memang tidak mengajak dia." jawab Rifky.


" Kemarin Mey lari - lari sepertinya ke rumah kakak?" tanya Adam.


" Iya, tapi saya udah duluan ke perkebunan." kata Rifky.


" Untuk acara minggu depan gimana, kak?"


" Kalian urus saja data warga yang akan diberi santunan, biar nanti saya yang menyiapkan dananya."


Sambil terus berjalan, mereka membahas soal acara yang akan diadakan diakhir bulan ramadhan.


¤ ¤ ¤


Hari ini, terakhir hari ramadhan. Warga yang terdaftar untuk mendapatkan santunan sudah berkumpul di balai warga. Rifky dan Nicko juga sudah hadir di tempat acara.


" Sayang, kapan acaranya dimulai?" tanya Rifky saat Medina melintas di depannya.


" Ihh... kakaakkk...! Jangan panggil Dina begitu, malu di dengar orang." sungut Medina.


" Kenapa harus malu? Aku akan menikahimu besok." bisik Rifky sambil tersenyum.


Medina meninggalkan Rifky sambil memanyunkan bibirnya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara seorang gadis yang entah datang dari mana sedang bercanda dengan Rifky.


Medina berbalik lalu menatap tajam ke arah Rifky. Namun sayang, pria tampan itu sama sekali tak meliriknya bahkan masih bercengkerama dengan gadis itu.


" Dasar murahan!" pekik Medina sambil berjalan menabrak Rifky dengan sengaja.


Rifky yang kaget langsung berpamitan dengan gadis itu lalu bergegas menyusul Medina. Dia yakin gadisnya pasti cemburu dan salah paham.


" Sayang, tunggu dulu...!" Rifky menarik lengan Medina dengan cepat.


" Apaan sih? Pergi sana, urusin saja pacar kamu itu!" ketus Medina.


" Ya Allah, sayang. Kakak tidak mengenal gadis itu, kebetulan saja kami berbincang tadi."


" Terserah kalian mau apa aja, aku tidak peduli."


" Tidak usah cemburu, sayangku. Hei... jangan marah, kakak cuma sayang sama kamu."


" Siapa yang cemburu? Pergi saja sana sama dia."


" Hmm... apa perlu aku melamarmu disini di depan semua orang untuk membuktikan cintaku padamu?" ancam Rifky.


" Kakak pergi sana! Dina masih pengen sendiri." sungut Medina.


" Hhh... baiklah, kakak tidak akan mengganggumu. Lanjutkan saja pekerjaanmu." kata Rifky pasrah.


Walaupun tetap menjaga jarak, Rifky tetap mengikuti kemanapun Medina pergi. Dia tidak ingin gadis itu berbuat hal - hal diluar kendali.


Rifky terus saja mengekor di belakang Medina tanpa memperdulikan Nicko yang sedari tadi mengajaknya bicara. Nicko yang mulai jengah segera menarik lengan Rifky menuju tempat mobilnya terparkir.


" Nick, kenapa sih narik aku kesini?" ketus Rifky.


" Boss, ada hal yang lebih penting daripada mengekor kayak anak ayam di belakang Medina." kata Nicko.


" Tidak ada yang lebih penting daripada kekasihku." sanggah Rifky.


" Dasar bucin," ledek Nicko.


Acara pemberian santunan dimulai. Kepala desa sedang memberikan sambutan di tempat yang sudah disediakan. Medina dan keempat temannya dibantu panitia yang lain sedang menyiapkan santunan yang akan segera dibagikan untuk warga yang sudah datang.


Rifky dan Nicko duduk di sudut belakang tempat acara. Mereka sudah menyerahkan semua kegiatan itu kepada Medina dan teman - temannya.


" Nick, acaranya masih lama. Kita jalan - jalan aja sebentar sambil menunggu mereka selesai," ajak Rifky.

__ADS_1


" Tidak apa - apa kakak ipar ditinggal?" ledek Nicko.


" Justru itu, kita berjaga diluar tempat acara." kata Rifky.


Tak ada hal yang mencurigakan hingga acara selesai. Mereka membereskan tempat acara supaya kembali bersih seperti sebelum mereka gunakan.


" Sayang, pulang yuk? Sebentar lagi maghrib, kita buka puasa di rumah om Jamal ya?" ucap Rifky.


" Dina sama ayah saja, kak." jawab Medina datar.


" Masih marah? Tidak usah cemburu, sayangku."


" Siapa yang cemburu,"


" Ya udah, kita pulang sekarang."


" Memangnya kakak tidak pulang ke kota?"


" Tidak, kakak tidak ingin jauh dari gadis kesayanganku ini."


" Terus... kak Nicko, gimana?"


" Nicko sudah tidak punya orangtua lagi, dia punya tante diluar kota namun tak pernah menganggap Nicko ada."


" Apa kak Nicko berasal dari keluarga kaya?"


" Tidak, dia pernah tinggal di jalanan saat kedua orangtuanya telah tiada. Waktu itu dia masih SMA, kehidupannya begitu sulit apalagi rumahnya dijual oleh tantenya itu."


Medina merasa iba mendengar kisah hidup Nicko di masa lalu. Dia pikir lelaki tampan yang selalu bersama kekasihnya itu berasal dari keluarga yang berada.


" Kasihan sekali kak Nicko." ucap Medina sendu.


" Kau tidak kasihan padaku?" sungut Rifky.


" Kasihan kenapa?"


" Ish... lebay."


Medina berjalan lebih dahulu menuju ke mobil Rifky yang sudah ada Nicko dikursi kemudi. Medina langsung masuk ke dalam mobil duduk di samping Nicko.


" Kak Nicko... ayo pulang," ajak Medina.


" Hhh... kamu tidak lihat yang diluar itu?" Nicko menunjuk ke samping Medina dengan ekor matanya.


" Kenapa?" tanya Medina tak paham.


Rifky memasang wajah datar dan menatap tajam kekasihnya. Dia langsung membuka pintu mobil dan menarik lengan Medina dengan kasar.


" Pindah ke belakang!" perintah Rifky.


" Dina pengen di depan, kak." rengek Medina.


" Sayang...!"


" Huhh... dasar menyebalkan."


Medina terpaksa masuk ke mobil bagian belskang diikuti Rifky. Nicko tersenyum kecil melihat tingkah Rifky dan Medina yang seperti anak kecil.


" Tuan dan Nona... apakah kita bisa jalan sekarang?" tanya Nicko tanpa menoleh ke belakang.


" Ya...!"


" Tidaakkk...!"


Rifky dan Medina menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda. Nicko menghela nafas pelan lalu menatap pasangan aneh itu.


" Bisakah kalian membuat tujuan yang sama?" seru Nicko.


" Jalan saja, Nick!" titah Rifky.

__ADS_1


Medina menjauhkan posisi duduknya dari Rifky karena masih kesal. Gadis itu menatap jalanan dari kaca jendela tanpa memperdulikan tatapan sang kekasih.


" Hei... jangan ngambek terus, sayangku. Tidak usah cemburu, kakak beneran cuma ngobrol biasa aja." bujuk Rifky dengan lembut.


" Hmm..." jawab Medina singkat.


Sepanjang perjalanan, mereka bertiga saling diam. Medina sibuk dengan game di ponselnya walaupun Rifky terus saja menatapnya. Nicko fokus menyetir mobilnya tak ingin mencampuri urusan boss dan kekasihnya.


" Sayang, mau beli sesuatu dulu sebelum pulang?" tanya Rifky.


" Tidak," jawab Medina singkat.


" Hhh... katakanlah apa yang kau inginkan?"


" Tidak ada,"


" Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap Rifky pasrah.


Jalanan sudah nampak sepi karena hanya menunggu beberapa menit lagi adzan maghrib berkumandang. Tiba - tiba Nicko mengerem mendadak sambil mengumpat pelan.


" Shittt...!!! Kurang ajar...!" umpat Nicko.


" Kak Nicko... ada apa?" tanya Medina.


" Ada kayu besar yang menghalangi jalan, sebentar aku cek dulu." jawab Nicko.


" Hati - hati, Nick. Mungkin saja ini semua jebakan untuk kita." kata Rifky.


Rifky dan Medina tetap di dalam mobil sementara Nicko mengecek keadaan diluar. Mereka bertiga tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.


" Kak, hati - hati... lihat ke semak di samping kakak." bisik Medina pada Rifky.


" Benar, sayang... ini bahaya untuk Nicko." balas Rifky pelan.


" Kakak keluar dulu, Dina akan melihat dari dalam ada berapa musuh yang yang menyerang."


" Ok, sayangku. Kamu juga hati - hati, tetap waspada."


Rifky langsung menghampiri Nicko. Mereka saling berbisik untuk menyusun strategi hingga akhirnya ada beberapa orang berpakaian serba hitam di hadapan mereka.


" Jadi ini orang kota ini yang suka membagi - bagikan uang? Jefri... preman yang paling ditakuti di desa ini saja sudah menjadi budaknya." kata salah satu penjahat dengan sinis.


" Benar, boss. Mereka semua sudah mengusik kita." sahut yang lainnya.


" Saya tidak pernah mengusik kalian, biarkan kami lewat." ucap Rifky ramah.


Rifky tak ingin ada perkelahian saat ini, apalagi di hari kemenangan seperti ini. Sebentar lagi suara takbir akan bergema di seluruh negeri. Sebagai umat muslim, ini adalah moment sekali dalam setahun jadi harus dirayakan dengan kebahagiaan.


" Hah...? Kau ingin lewat sini? Hahahaa... lawan kami dulu baru bisa lewat!"


" Ini adalah hari raya, tidak baik kita berkelahi di malam penuh kemenangan ini."


" Jangan banyak bicara, hajar dia...!"


Para penjahat itu menyerang terlebih dahulu sehingga dengan terpaksa Rifky dan Nicko harus melawan. Medina masih di dalam mobil karena ingin tahu seberapa banyak gerombolan penjahat itu. Dia juga mengamati mereka mungkin saja ada yang dikenalnya.


Tak lama, gerombolan penjahat sudah keluar semua dari persembunyiannya. Mereka berjumlah delapan orang dengan senjata tumpul di tangan masing - masing.


" Mereka...? Aku seperti mengenali salah satu dari mereka," gumam Medina.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2