Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Dugaan pelaku penyerangan


__ADS_3

Rifky kembali ke rumah pak Hasan setengah jam kemudian. Mungkin Rifky harus membahas soal penyerangan tadi, takutnya akan mengancam keselamatan seluruh keluarganya.


" Paman, Medina sudah tidur?" tanya Rifky.


" Mungkin, tapi barusan masuknya. Coba kamu bujuk dia supaya tidak ngambek seperti anak kecil." jawab pak Hasan.


" Memangnya Medina kenapa lagi, paman?"


" Tidak tahu, dia itu sangat sensitif. Sedikit - sedikit marah, terus ngurung diri di kamar."


" Ya udah, Rifky bujuk Medina dulu biar nggak ngambek lagi sama paman."


" Itu kenapa bawa - bawa kotak obat?" tanya pak Jamal.


Rifky hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak obatnya. Dia harus bisa membujuk Medina agar mau keluar lagi dari kamar dan tidak marah lagi.


" Sayang, udah tidur?" Rifky mengetuk pintu kamar Medina.


" Pergi...! Dina mau tidur." seru Medina dari dalam kamar.


" Gadis kesayangan kakak yang cantik, buka pintunya sebentar. Ada yang mau kakak bicarakan denganmu." bujuk Rifky.


" Malas, besok saja."


" Kakak akan menikahimu sekarang juga jika tidak keluar."


Tak lama Medina keluar dari kamarnya dengan muka ditekuk. Dia menatap Rifky dengan wajah datarnya pertanda ia marah kepada pria di hadapannya.


" Sayang, ada apa lagi? Kenapa marah sama kakak?"


" Ngapain lagi kakak kesini?"


" Kangen sama calon istri."


" Ihh... kakak! Pulang sana!"


" Kok calon suami diusir sih? Salah kakak apalagi, sayang?"


" Tahu ah...!"


" Hmm... baiklah, simpan marah kamu itu sebentar. Kita keluar dulu yuk? Tolong obati luka kakak," rayu Rifky.


" Katanya minta diobati tante Kamila?"


" Kalau ada istri kenapa harus merepotkan orang tua?"


" Istri? Kalau sudah punya istri kenapa kesini?!"


" Menikahlah denganku, biar ibadahku menjadi lebih sempurna."


" Jangan merayuku! Keluar sana, Dina ngantuk mau tidur."


Rifky harus ekstra sabar menghadapi tingkah labil gadis kecilnya. Dia harus mencari cara yang tepat agar Medina tidak marah lagi.


" Sayang, keluar yuk? Ada yang harus kita bicarakan soal penyerangan tadi dengan paman dan yang lainnya." ucap Rifky serius.


" Apa kita harus memberitahu mereka, kak? Pasti ayah marah lagi kalau tahu Dina berkelahi lagi."


" Ayahmu tidak akan marah karena kita hanya membela diri. Nanti kakak yang akan menjelaskan pada semuanya tentang masalah ini."


" Baiklah, terserah kakak saja."


" Kalau menikah sekarang, terserah juga nggak? Mumpung sudah ada wali dan saksi." goda Rifky.


" Boleh juga, tapi ada syaratnya."

__ADS_1


" Apa...?"


" Nanti saja, aku nggak mau bahas itu dulu."


" Hhh... sayang_..."


" Diam, ayo keluar sekarang!"


" Belum jadi istri aja galaknya begini, gimana nanti ya?"


" Yaudah cari saja yang lain." ketus Medina.


Medina keluar lebih dulu meninggalkan Rifky yang masih tersenyum karena sedari tadi terus saja menggoda gadis kesayangannya.


" Loh, belum tidur kamu?" tanya pak Hasan.


" Kak Rifky berisik gangguin Dina tidur." sahut Medina kesal.


" Tapi kalau Om lihat, kalian berdua ini cocok." ledek Om Jamal sambil melirik Rifky.


" Hhh... Om ini, kalau ngomong suka bener." sahut Rifky sambil tersenyum.


" Tapi mana mungkin Medina yang cantik begini mau sama Rifky," timpal pak Surya.


" Kalau saya itu tidak pernah mempermasalahkan jodoh anak, kalau mereka saling suka ya sebagai orangtua hanya bisa memberi restu dan mendo'akan yang terbaik." sahut pak Hasan.


" Kok jadi ngomongin jodoh sih?" sungut Medina.


Semua tertawa melihat raut wajah Medina yang kesal dan memanyunkan bibirnya. Apalagi Rifky yang terlihat senang melihat wajah menggemaskan kekasihnya.


" Auwww...!" teriak Rifky menepuk bahunya dengan keras.


" Syukurin...!" ketus Medina.


" Ya Allah, sayang. Ini aja sakit belum diobati, udah ditepuk kayak nyamuk."


" Iya, Pa. Tapi ini nggak terlalu sakit kok."


Rifky membuka baju tanpa merasa malu sama sekali di depan Medina. Tubuhnya yang kekar dan berotot membuat gadis itu merasa malu sendiri melihatnya.


" Dina, kamu ambil air hangat untuk kompres bahu Rifky." ujar pak Hasan.


" Iya, Yah."


" Lukanya cukup serius ini, apa dibawa ke rumah sakit saja?" usul pak Jamal.


" Tidak usah, Om. Di kompres sama di kasih salep juga besok sembuh." sahut Rifky.


Medina membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Rifky.


" Ini air buat kompresnya, Yah." ucap Medina.


" Kamu itu yang masih muda yang harusnya melakukannya Medina. Kami bertiga ini sudah tua, nggak telaten kalau disuruh begituan." kata Om Jamal dengan tersenyum.


" Ish... pasti Om Jamal sengaja nih!" gerutu Rifky dalam hati.


Rifky sudah bisa menebak jika pak Jamal sengaja menyuruh Medina untuk merawatnya. Senyuman Om-nya itu seakan memberi kode agar kami lebih dekat.


" Tidak usah, Rifky bisa sendiri. Nanti takut ngrepotin Dina, Om." sahut Rifky.


" Drama...!" cibir Medina.


Medina segera mengompres bahu Rifky agar tak ada lagi perdebatan para orangtua itu. Kadang ia lembut menekan bahu Rifky, namun terkadang menekannya dengan sangat kuat hingga pria itu meringin menahan sakit.


" Dina, pelan - pelan..." ringis Rifky.

__ADS_1


" Ish... katanya kuat, gitu aja ngeluh." ledek Medina.


" Sayang... jangan sampai kakak cium kamu sekarang." bisik Rifky.


" Hhh... coba aja kalau berani." Medina mencubit lengan Rifky.


" Udah, duduk sini nanti kamu capek."


Rifky menarik tangan Medina sehingga gadis itu terduduk di sampingnya. Medina ingin segera beranjak dan pindah tempat duduk namun ditahan oleh Rifky.


" Duduk sini, mau kemana?" cegah Rifky.


" Kak_..." rengek Medina.


" Kalian ini dari tadi bisik - bisik ada apa sih?" tanya pak Surya.


" Mmm... begini, Pa. Ada yang mau Rifky bicarakan." ucap Rifky.


" Apakah soal luka di bahumu itu? Kenapa kalian tidak sholat tarawih?" tanya pak Hasan.


" Iya, paman. Rifky ingin bahas soal ini karena Medina mengenal mereka."


" Iya, Yah. Mereka dari perguruan daerah selatan, kita tahu mereka itu hanyalah bekerja sebagai orang bayaran."


" Apa kamu yang jadi targetnya, Din?" tanya Om Jamal.


" Bukan, Om. Tapi sekarang mungkin iya, soalnya tadi Dina bantuin kak Rifky untuk melawan mereka."


Pak Surya terlihat berpikir untuk mencari pelaku penyerangan Rifky dan Medina. Selama ini tak ada permusuhan dalam bisnis Rifky maupun pak Surya.


" Rifky, mungkinkah ini perbuatan keluarga Devi?" tanya pak Surya.


" Dugaan Rifky juga seperti itu, Pa. Tapi kita tidak punya bukti untuk menuduh mereka."


" Om Surya hati - hati ya di kota nanti, jaga tante Kamila. Jika benar dugaan kita, keselamatan Om dan tante juga terancam." kata Medina.


" Bagaimana dengan dirimu sendiri, Nak? Rifky juga jarang datang kesini." ujar pak Surya.


" Kalau soal itu Om tidak usah khawatir. Dina aman disini, mereka tidak akan berani menyerang sampai masuk ke batas desa. Kalau sekolah, Dina ada temennya kok."


" Mereka tidak akan menyerang Om juga kan?" tanya pak Jamal.


" Oh iya, gimana dengan Om Jamal ya?" ucap Rifky.


" Tenang saja, Om. Dina akan mencari orang yang bisa menjaga Om Jamal, tante Mita dan Seno." jawab Medina.


Tanpa semua orang tahu, Rifky terus menggenggam erat tangan Medina. Dia mencuri kesempatan mumpung mereka sedang bicara dengan serius.


" Sayang, ada makanan nggak di dalam? Kakak lapar nih," rengek Rifky.


" Nggak tahu, tanya aja sama ayah. Dina cuma masak nasi tadi sebelum ke pasar." sahut Medina.


" Kamu itu malu - maluin saja, minta makan di rumah orang." kata pak Surya merasa tidak enak dengan pak Hasan.


" Tidak apa - apa, cari sendiri sana di dapur. Tadi ayah sudah masak," kata pak Hasan.


" Terimakasih, paman." ucap Rifky senang.


Rifky langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil makanan tak menghiraukan omelan papanya. Dia memang sudah terbiasa dari kecil makan di rumah pak Hasan.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2