Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Misi penyelamatan


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang cukup pengap, tante Kamila memeluk Seno sambil menangis. Mereka berdua terkunci di dalam sebuah kamar di gudang kosong bekas pabrik yang sudah lama terbengkalai.


" Tante, Seno takut..." rengek Seno sambil menangis.


" Kamu harus tenang Seno, tante yakin kak Nicko pasti menolong kita." hibur tante Kamila.


Walaupun sebenarnya tante Kamila juga sangat takut, namun dia berusaha untuk kuat agar keponakannya itu tidak semakin takut. Tante Kamila hanya berharap akan ada seseorang yang menolongnya.


" Tante, apa kak Rifky akan datang menolong kita?"


" Kamu berdo'a saja semoga kakakmu segera datang kesini menyelamatkan kita."


Tak lama pintu terbuka dan dua orang lelaki besar dan terlihat seram masuk membawa dua bungkus makanan untuk mereka.


" Cepat makan! Sebentar lagi boss datang kemari." bentak penjahat itu.


" Siapa yang menyuruh kalian menculik kami?"


" Kau bisa lihat sendiri nanti."


¤ ¤ ¤


Nicko dan yang lainnya mencari tante Kamila di sekeliling kota. Setiap ada bangunan kosong mereka masuki, namun tak juga menemukan keberadaan tante Kamila dan Seno.


Mereka semua kembali ke Apartemen Rifky karena tempat itu paling dekat dengan titik temu mereka.


" Masuklah, ini tempat tinggal Rifky." kata Nicko setelah membuka pintu. Medina, Adam dan Bayu segera masuk karena sangat lelah. Para bodyguard beristirahat di mobil sambil menunggu perintah selanjutkan.


" Wahh... bagus sekali pemandangan dari atas sini." seru Bayu sambil berdiri di dinding kaca. Pemandangan kota terlihat jelas dari ketinggian.


" Memangnya kak Rifky tidak tinggal bersama orangtuanya?" tanya Adam.


" Tidak, semenjak pulang dari luar negeri dia lebih memilih membeli Apartemen ini."


" Kak, Dina mau mandi dulu."


" Di kamar itu saja, itu kamarnya Rifky."


Medina masuk ke dalam kamar Rifky untuk membersihkan diri dan sholat Ashar. Bayu dan Adam berada di kamar lain bersama Nicko. Mereka tidur sambil menunggu buka puasa kemudian melanjutkan pencarian.


Medina tidur di kamar Rifky dengan sangat nyaman. Aroma parfum yang biasa dipakai kekasihnya itu masih tercium di seluruh ruangan.


¤ ¤ ¤


Rifky sudah sampai di Bandara Indonesia. Dia segera mencari taksi untuk mengantarnya pulang. Dia sengaja tidak meminta Nicko menjemputnya karena ini adalah hari libur dan Nicko pasti punya acara sendiri.


Satu jam kemudian, Rifky sudah sampai Apartemen dan langsung masuk. Dia sedikit kaget karena lampu dalam keadaan menyala. Biasanya Rifky selalu mematikan lampu sebelum pergi.


" Apa aku lupa matikan lampu ya? Tapi biasanya aku selalu ingat." gumam Rifky.


Rifky segera masuk ke dalam kamar dan menaruh kopernya asal karena buru - buru ingin ke kamar mandi. Bahkan dia juga tak menyadari bahwa lampu di kamarnya juga menyala.


Lima belas menit kemudian, Rifky sudah selesai mandi dan keluar hanya memakai handuk saja seperti biasanya karena dia hanya tinggal sendirian.


" Aaaaa.....!!!" teriak seseorang dari dalam selimut.


Rifky terkejut karena ada suara orang berteriak dari dalam selimut di tempat tidurnya.


" Siapa kau...?!" teriak Rifky sambil berjalan mendekati ranjang.


" Jangan mendekat...!" pekik orang itu.


Dari nada suaranya seperti seorang wanita. Rifky tidak percaya ada orang lain yang bisa masuk ke Apartemennya. Password Apartemen ini hanya Rifky dan Nicko saja yang tahu.


" Jawab aku! Kau siapa dan kenapa ada di kamarku?"


" Kak Rifky, ini Medina."


" Apa? Jangan mengada - ada kamu!"

__ADS_1


Rifky hendak menarik selimut yang menutupi gadis itu namun pekikan keras membuatnya tersadar.


" Pakai dulu bajumu...!" pekik gadis itu.


" Astaghfirullah...! Tetap disitu dan jangan keluar dari selimut." titah Rifky.


Rifky segera mengambil pakaiannya di lemari dan memakainya di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Rifky langsung menghampiri gadis dalam selimut itu.


" Keluarlah...!" perintah Rifky.


" Kakak beneran sudah pakai baju?"


Meskipun Rifky mengenal suara itu tapi dia tidak percaya bahwa kekasihnya itu ada di dalam kamar Apartemennya. Rifky menarik dengan keras selimut itu hingga terlempar ke lantai.


" Sa... sayang... ini... beneran kamu?" tanya Rifky terbata.


" Memangnya kakak pikir siapa?!" Medina melempar bantal ke muka Rifky.


" Tapi... bagaimana kamu bisa ada disini?"


Rifky mengguncang tubuh Medina berulang kali karena masih tidak percaya dengan penglihatannya. Mungkin saja dirinya hanya berhalusinasi karena sangat merindukan gadis kecilnya.


" Kaakkk...! Dina pusing tahu nggak!" pekik Medina.


" Maaf, sayang. Kakak hanya ingin memastikan bahwa ini nyata."


" Huhh... dikira aku hantu...!"


" Iya, kakak sudah minta maaf, sayang."


Rifky hendak memeluk Medina namun gadis itu menolak dan melempar guling dengan keras.


" Sayang_..."


" Eheemmm..." tiba - tiba pintu kamar Rifky terbuka.


Nicko, Adam dan Bayu berdiri di depan pintu sambil menatap sepasang kekasih itu.


" Bukan anak, tapi bapak." sahut Adam.


" Oh iya, mereka belum bikin ya?"


" Ish... Diam kalian!" seru Nicko.


Rifky heran dengan keberadaan mereka di Apartemennya. Apa Nicko mengajak mereka liburan? Tapi tidak mungkin, masalah Devi saja belum selesai.


" Nick, kenapa mereka bertiga ada disini?" tanya Rifky.


" Maaf, boss. Sebenarnya sedang ada masalah besar disini." jawab Nicko.


" Masalah apa?"


" Seno hilang dan tante Kamila diculik."


" Apaaa? Kau jangan bercanda, Nick?"


" Tidak, boss. Seharian ini kami berempat beserta para anak buahku berkeliling kota untuk mencari Seno dan tante Kamila."


" Papa dan om Jamal?"


" Ada di rumah utama, boss. Tante Mita tidak ikut karena ini sangat berbahaya."


" Kalau mereka menyerang rumah om Jamal, gimana?"


" Kakak tenang saja, ayah dan Johan akan jaga diluar rumah om Jamal. Di dalam rumah ada Ririn yang menemani tante Mita." kata Medina.


" Ya sudah, aku percaya pada kalian. Kalian sudah mencari kemana saja?"


" Kami sudah mencari di seluruh kota ini, boss. Tiap gedung kosong sudah kami periksa tapi tante Kamila tidak ada disana."

__ADS_1


Rifky sedang berpikir kira - kira kemana Devi membawa ibunya dan Seno. Mungkinkah mereka dibawa keluar kota? Tempat yang tepat untuk menyembunyikan mereka berdua adalah antara desa dan kota. Mereka pasti berada di antara keduanya.


Rifky bergegas membuka kopernya dan mengambil laptop. Dia segera duduk diatas ranjang, lalu membuka laptopnya. Rifly membuka aplikasi untuk cek lokasi.


" Kakak cari apa?" tanya Medina.


" Lokasi di tengah - tengah antara desa dan kota. Kita harus cepat, Devi orang yang sangat licik dan kejam." jawab Rifky.


Nicko mengingat - ingat tentang data diri keluarga Devi di masa lalu. Dia seperti tidak asing dengan daerah - daerah yang ditunjuk Rifky.


" Boss, aku baru ingat. Dulu kakeknya Devi tinggal di daerah ini." kata Nicko sambil menunjuk salah satu daerah.


" Dari mana kau tahu?"


" Informanku mencari asal - usul Devi saat boss mau dijodohkan dengan dia."


" Informasi apa yang kau dapat?"


" Dulu kakeknya memiliki sebuah pabrik disana. Dia termasuk orang terkaya di daerah itu. Namun suatu ketika, ayahnya Devi menjual pabrik itu untuk modal membangun perusahaan di kota ini."


" Mungkinkah mama disekap di tempat itu?" tanya Rifky.


" Kita coba saja, tapi kita tidak bisa membawa mereka bertiga." kata Nicko.


" Kenapa?"


" Itu sangat berbahaya, mereka sepertinya bukan preman biasa. Mereka bersenjata semuanya, resikonya sangat tinggi karena mereka belum terlatih dengan senjata."


" Tapi Dina mau ikut, kak." seru Dina.


" Sayang, kamu disini saja ya? Disana sangat berbahaya, kau bisa terluka." bujuk Rifky.


" Pokoknya aku ikut!"


" Dina, dengarkan kakak dulu!" bentak Rifky.


" Kakak_... aku akan pergi sendiri. Aku sudah berjanji pada tante Mita untuk membawa Seno pulang dengan selamat." ucap Medina datar.


" Mey, kak Rifky benar. Kamu disini saja, kami berdua yang akan ikut kesana." kata Adam.


" Diam! Aku tidak butuh saran kalian." ketus Medina.


" Nick, ajak Adan dan Bayu keluar dulu. Aku mau bicara berdua dengan Medina." ujar Rifky.


" Baik, boss."


Setelah Nicko keluar, Rifky mendekati Medina yang berdiri di balkon menatap langit yang mulai redup.


" Maaf... aku sudah membentakmu tadi." ucap Rifky pelan.


Medina tak mau menjawab maupun menatap kekasihnya itu. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


" Sayang, ini bukan waktunya kita bertengkar. Kakak mohon jangan seperti ini." bujuk Rifky.


" Dina mau pergi saja, ternyata kakak memang tidak benar - benar mencintai aku."


" Sayang, apa yang kau katakan? Kakak sangat mencintai kamu, jangan pernah bicara seperti itu."


" Kalau begitu, biarkan Dina ikut."


" Ok, kau boleh ikut. Tapi berjanjilah untuk selalu bersamaku, jangan sampai terpisah."


Rifky tidak bisa membujuk kekasihnya yang keras kepala itu. Apapun yang dia mau harus Rifky turuti, kalau tidak... bisa semakin berulah.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2