
Rifky sedang berkutat dengan laptop dihadapannya. Walaupun tubuhnya sangat lelah, tapi ia tidak patah semangat karena mengejar waktu agar bisa segera kembali ke desa menemui gadis kecilnya.
" Boss, ada undangan makan malam dengan klien nanti jam tujuh malam." ucap Nicko.
" Aku tidak bisa, nanti habis maghrib harus segera pergi. Batalkan saja, kita tidak akan datang." kata Rifky.
" Sebenarnya Boss kemana sih? Hampir setiap hari nyonya besar datang mencari."
" Aku ada pekerjaan lain, Nick. Sudahlah, pokoknya jangan sampai ada yang tahu kemana aku pergi."
" Apa karena seorang wanita, boss jadi seperti ini?"
" Kau benar, Nick. Dia adalah gadis di masa lalu yang tak dapat aku lupakan sampai sekarang. Belasan tahun tak bertemu, nyatanya perasaan sayang yang dulu sebatas adik kakak sekarang berubah jadi cinta."
" Kau masih mengenali dia walaupun sudah lama tidak bertemu?"
Nicko sudah melupakan dengan siapa ia bicara sekarang. Biasanya dia sangat menjaga etika di depan atasannya walaupun diluar mereka bersahabat.
" Tadinya tidak, aku datang ke rumahnya dan bertemu dengannya. Dia sudah berubah sekarang, aku harus mengembalikan gadis kecilku seperti dulu lagi."
" Apa dia cantik?"
" Tentu saja, kau bisa lihat sendiri."
Rifky membuka galery di ponselnya dan memperlihatkan foto - foto saat mereka di pantai. Nicko sampai tak berkedip melihat wajah cantik gadis yang memeluk Rifky dari belakang.
" Jangan menatap gadisku seperti itu!" hardik Rifky.
" Hehehee... sorry, boss. Habisnya dia sangat cantik, kalau saja bukan milik boss udah aku kejar."
" Awas saja kau berani mengganggu gadisku!"
" Dia tinggal dimana, boss?"
" Tapi janji jangan kasih tahu orangtuaku."
" Siap, boss!"
" Dia tinggal di desa tempat Om Jamal. Rumahnya bersebelahan, jadi kami sering bersama dulu waktu kecil."
" Kapan - kapan ikut kesana ya, boss? Sekalian refreshing biar nggak suntuk di kota terus."
" Nanti aja, masih banyak hal yang harus aku urus disana. Perkebunan Om Jamal juga sedang ada masalah, belum lagi sekarang gadisku jadi penguasa pasar dan jalanan. Semakin kacau saja kehidupannya menjadi boss preman pasar."
" Apaaa...? Preman pasar?" pekik Nicko tidak percaya.
" Hhh... mau bagaimana lagi, semenjak ibunya meninggal sifatnya jadi berubah drastis. Bahkan hubungan dia dengan ayahnya juga renggang saat ini."
" Woww... jadi ceritanya si boss mengejar cinta gadis brutal?" Nicko tak bisa menahan rasa terkejutnya.
" Huss...! Gadisku tidak brutal, dia hanya khillaf." tukas Rifky.
" Ish... kelihatan banget bucin sama tuh gadis kecil." ledek Nicko.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Rifky bergegas keluar dari kantornya dengan motor sport yang akan membawanya ke desa tempat tinggal Medina. Sebelumnya ia sudah menyuruh sekretarisnya untuk mengosongkan semua jadwal meeting untuk besok agar dirinya bisa beristirahat di desa.
¤ ¤ ¤
Jam delapan malam, Rifky sudah sampai di rumah pak Jamal. Setelah membersihkan diri, ia bergegas menuju rumah Medina sebelum gadis itu tidur.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." ucap Rifky di teras rumah.
" Wa'alaikumsalam. Eh, Nak Rifky? Ayo masuk, Medina masih nonton tv di dalam."
" Iya, paman. Rifky memang ingin bertemu dengan Medina."
Rifky mengikuti langkah pak Hasan menuju ke tempat Dina yang sedang bersantai. Gadis itu tak menyadari bahwa Rifky sudah duduk di sampingnya.
" Main apa, Din?" Rifky merebut ponsel dari tangan Medina.
" Aakkhhh...! Kakak, balikin ponselku!" pekik Medina.
" Kirain nonton tv, temenin kakak keluar sebentar yuk?"
" Mau ngapain?"
" Kakak lapar," bisik Rifky.
" Dina buatin nasi goreng aja, ya? Malas keluar malam - malam, dingin."
" Ok, terimakasih."
Sambil menunggu Medina memasak nasi goreng, Rifky mengobrol dengan pak Hasan. Mereka terlihat sangat akrab walau usia yang terpaut cukup jauh.
" Kak, mau dibawa kesitu atau makan disini?" teriak Medina dari dapur.
Rifky dan pak Hasan kaget dengan teriakan Medina. Gadis itu benar - benar brutal, tak ada etika sedikitpun.
" Astaghfirullah... maaf ya, Rif? Medina memang susah untuk diatur." kata pak Hasan sendu.
" Tidak apa - apa, paman. Nanti biar Rifky yang nasehati Medina, jangan terlalu difikirkan." ucap Rifky.
" Sayang, jangan teriak - teriak seperti itu. Nggak sopan, apalagi di depan orangtua." tegur Rifky.
" Hehehee... maaf," sahut Medina sambil nyengir.
" Lain kali jangan begitu lagi, anak gadis itu yang lembut dan anggun." ujar Rifky.
" Iya, tidak akan diulang lagi kalau nggak lupa."
" Sini...!" titah Rifky sambil menarik tubuh Medina agar lebih dekat dengannya.
" Kakaakkk...! Ada ayah di depan," lirih Medina.
" Kakak merindukanmu, Calis. Apa ada masalah hari ini di sekolah?"
" Tidak, semua baik - baik saja. Ya udah, kakak makan dulu keburu dingin nasi gorengnya."
" Terimakasih, Calis kesayangan kakak."
Rifky melahap nasi goreng buatan Medina yang sangat enak. Hanya butuh waktu lima menit, nasi goreng itu sudah habis tak tersisa.
" Sayang, masakan kamu enak sekali." puji Rifky.
" Semua itu tidak ada yang gratis." sahut Medina.
" Maksudnya? Kakak harus membayar makanan ini?"
" Iya, tunggu sebentar."
__ADS_1
Medina masuk ke dalam kamarnya sementara Rifky mencuci piring bekas makannya. Tak berselang lama, Medina keluar dari kamar dengan membawa buku di tangannya.
" Sayang, kenapa bawa buku?" tanya Rifky heran.
" Ayo ke depan kakak tampanku," Medina tersenyum jahil sambil menggandeng lengan Rifky.
" Gadis kecilku habis kepentok apa sih? Tumben manja begini, sayang?"
" Apaan sih? Dina biasa aja."
Pak Hasan sudah masuk ke dalam kamar saat Rifky makan di dapur. Medina langsung menyuruh Rifky duduk dan memberikan buku pelajaran untuknya.
" Untuk apa buku pelajaran, Calis?" Rifky heran dengan tingkah gadis kecilnya.
" Kakak bantuin Dina kerjain PR, ya?" rengek Medina.
" Dasar bocah, dari dulu tidak pernah berubah." kata Rifky.
Rifky membuka buku Matematika milik Medina lalu membaca materinya sebentar. Untung saja otaknya sangat cerdas sehingga soal itu sangat mudah untuk dikerjakannya. Sambil menulis jawabannya, mereka saling bercerita tentang masa lalu.
" Dina ingat waktu berangkat sekolah pernah digendong sama kakak saat jatuh. Wajah kakak beda dari waktu kecil dulu." celoteh Medina.
" Kenapa? Sekarang lebih tampan ya?" goda Rifky.
" Ish... mana ada, lebih tampan waktu kecil. Sekarang Medina takut dekat - dekat dengan kakak."
" Kenapa? Apa wajah kakak menakutkan?"
" Bukan itu, tapi_..."
" Tapi apa, sayang?"
" Tidak apa - apa, terimakasih ya... dulu kakak selalu baik sama Medina. Kakak selalu melindungi Medina dan sayang sama Medina."
Rifky menghentikan gerakan tangannya diatas kertas itu lalu menatap lekat mata cantik gadisnya tanpa berkedip.
" Medina, dari dulu sampai sekarang... kakak selalu sayang sama kamu dan selamanya tidak akan pernah berubah. Seandainya kamu ingat saat kita kecil dulu, kakak sudah berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu selamanya." ucap Rifky.
" Dina lupa, tapi ada satu tempat yang Dina ingat yang sering kita kunjungi."
" Pasti danau di pinggir desa itu, ya? Kakak lupa belum ajak kamu kesana lagi."
" Tempat itu sudah tidak ada, kak."
" Tidak ada? Maksud kamu apa, sayang?"
" Tempat itu sudah rata dengan tanah dijadikan ruko dan dan bangunan lainnya."
" Sayang sekali, padahal itu tempat kenangan kita saat bermain." keluh Rifky.
Rifky ingat saat ia berpamitan pada Medina kecil di danau itu. Gadis kecilnya menangis tak mau berpisah dengannya. Tangan mungilnya terus menggenggamnya erat tanpa mau melepasnya. Menjelang sore, Rifky kecil menggendong gadis yang tak berhenti meraung itu di punggungnya hingga tertidur sampai ke rumah.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.