Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Fitting gaun pernikahan


__ADS_3

" Kakak tidak mau tidur disini?" kata Medina sendu.


" Apaaa...? Kamu suruh kakak tidur disini?" sahut Rifky kaget.


" Hehehee... maksud Dina, kakak temenin sampai Dina tidur baru kakak keluar. Dina takut di tempat baru sendirian."


Rifky menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia pikir Medina beneran mengajaknya tidur berdua, ternyata hanya di suruh menemani sampai tidur saja.


" Hhh... ya sudah, kakak temani sampai tidur. Apa perlu dibacain dongeng sekalian?"


" Ihh, kakak... Dina bukan anak kecil lagi!"


" Iya - iya, sayangku... cepat tidur, keburu pagi nanti."


Rifky menyelimuti tubuh Medina hingga sebatas leher agar gadis itu nyaman dalam tidurnya. Setelah itu dirinya duduk bersandar kepala ranjang seraya mengusap kepala Medina dengan lembut.


' Hah... seperti menidurkan bayi saja!' batin Rifky.


" Kak,..."


" Hmmm..."


" Terimakasih."


" Untuk apa...? Tidurlah, ini sudah malam."


" Sewaktu aku kecil, ayah juga melakukan hal sama seperti yang kakak lakukan saat ini. Bahkan saat aku membenci ayah sekalipun, beliau tetap melakukannya walau secara diam - diam saat aku sudah tidur."


" Apa kamu merasa nyaman seperti ini?"


" Sangat nyaman. Hatiku sangat bahagia,"


" Kalau begitu tidurlah, mimpi indah calon istriku."


Rifky mencium kening Medina cukup lama seraya membelai lembut pipi gadis itu. Ingin rasanya ia tetap disini lebih lama untuk memberikan kenyamanan kepada gadis kesayangannya.


" I love you, calon suamiku..." lirih Medina kemudian melingkarkan tangannya di perut Rifky.


Medina langsung tidur dengan sangat lelap seraya senyum di bibirnya terlihat manis. Sepertinya gadis itu sangat nyaman dalam mimpi indahnya.


" Love you, too... calon istriku." bisik Rifky seraya melepas perlahan pelukan Medina.


Rifky segera beranjak dari samping Medina lalu keluar dan bergabung dengan Nicko untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


" Boss, lusa jadi ke Korea, kan?" tanya Nicko.


" Astaghfirullah... kenapa aku bisa lupa?" Rifky menghembuskan nafas dengan kasar.


" Jadwal penerbangannya besok aku atur."


" Tapi Medina gimana, Nick? Pasti akan jadi masalah lagi kalau aku meninggalkannya mendadak seperti ini."


" Benar juga," Nicko nampak berpikir.


" Boss, gimana kalau Medina diajak sekalian? Disana lama loh, sampai akhir pekan." saran Nicko.


Rifky tampak berpikir, masalah seperti ini harus ia bicarakan dulu dengan Medina. Hati gadis itu sulit ditebak, kadang bisa dengan mudah luluh namun juga cepat sekali emosi tanpa sebab yang jelas.


" Besok aku bicarakan dulu dengan Medina. Sepertinya dia juga belum punya paspor."


" Gampang kalau cuma paspor, besok lusa akan aku urus dan kalian bisa melakukan penerbangan sore."


" Kau sudah menghubungi Hans?"


" Sudah, Apartemen sudah dibersihkan."


" Suruh dia merapikan rumah, kalau Medina ikut aku akan mengajaknya ke rumah saja biar dia tidak bosan saat ditinggal bekerja."

__ADS_1


" Siap, Boss."


Pagi harinya, Medina terbangun tanpa ada Rifky disampingnya. Dia segera membasuh muka sebelum keluar dari kamar.


" Kak Rifky kemana sih?" gumam Medina.


Saat keluar dari kamar, Medina kaget melihat Rifky dan Nicko tidur di karpet bulu di tengah ruangan. Yang membuatnya sedikit shock adalah posisi tidur keduanya yang saling berpelukan.


" Astaghfirullah... mereka parah sekali. Bahkan dia lebih nyaman berpelukan dengan sesama dari pada memeluk diriku yang sudah jelas lawan jenis." gumam Medina.


Sebelum membangunkan mereka, Medina iseng mengambil foto mereka berdua dengan ponselnya. Geli bercampur sedikit kesal nampat tersirah di wajah cantiknya.


" Kak Rifky... Kak Nicko...! Banguunnn...!!!" teriak Medina.


Rifky dan Nicko yang terlelap sontak terkejut mendengar suara keras di depan mereka. Lebih terkejut lagi saat keduanya baru sadar jika posisinya masih berpelukan.


" Aaakkkhhh...!!!"


Rifky dan Nicko berteriak bersamaan seraya saling tendang di perut masing - masing sehingga keduanya terpental mundur.


" Auwww...!!!" mereka berdua merintih bersamaan.


" Sayang... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami tidak melakukan apa - apa. Kakak berani bersumpah atas nama Tuhan." ucap Rifky menghiba.


" Iya, Mey... saya ini masih pria normal, tidak tahu kalau pacar kamu itu." sahut Nicko sambil melirik Rifky.


" Sialan kau...!" umpat Rifky kesal.


Medina hanya melirik mereka berdua sekilas lalu duduk di kursi kebesaran milik Rifky.


" Dimana musholanya? Aku mau sholat shubuh." ucap Medina datar.


" Oh, ada di bawah sayang. Ayo kita ke bawah bareng." sahut Rifky dengan mengembangkan senyumnya.


" Hmmm..."


Jam delapan pagi, Rifky mengajak Medina ke butik milik mama Kamila. Dalam perjalanan, mereka hanya diam saja karena Medina sedari tadi tak mau menatap Rifky walau cuma sebentar.


" Sayang... kenapa diem aja, sih?" tanya Rifky.


" Dina kangen sama ayah, rasanya sudah lama tidak berjumpa." keluh Medina.


" Sayang... kita baru sehari disini. Jangan sedih dong, kakak jadi merasa bersalah."


" Terus... kita kapan pulang, kak?"


" Mmm... sebenarnya kakak pengen ngajakin kamu pergi, sayang. Kamu mau kan temenin kakak sekalian liburan?"


" Kemana...?"


" Mmm... Korea Selatan, kalau ada waktu bisa mampir ke Jepang."


" Hah...! Kakak nggak salah?"


Rifky menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tidak boleh asal bicara agar gadis kecilnya tak salah paham dengan maksud dan tujuannya.


" Iya, sayang... kakak memulai bisnis dari sana. Saat masih kuliah di Korea, kakak mulai membangun bisnis dibantu Hans yang merupakan teman satu universitas."


" Tapi Dina tidak punya paspor, kak."


" Kalau soal itu gampang, yang penting kamu mau pergi sama kakak."


" Dina nggak berani ijin sama ayah,"


" Nanti kakak yang telfon ayah, yang pasti kita bisa berduaan terus."


" Ish... mulai deh...!"

__ADS_1


Sampai di butik, Rifky langsung mengajak Medina masuk. Gadis itu terpukau dengan interior ruangan yang terlihat sangat bagus dan tertata rapi. Dia terus saja berjalan mengikuti langkah Rifky yang menggenggam tangannya.


" Sayang... lihat jalan dong, nanti kamu bisa jatuh." ujar Rifky.


" Kak, kita mau apa kesini?" tanya Medina.


" Fitting baju pengantin, sayangku."


" Hah...! Tapi kenapa disini? Pasti harganya sangat mahal, kita cari butik yang lain aja ya?"


" Tenang saja, ini gratis kok."


" Kok bisa?"


" Butik ini milik mama, masa iya anak dan menantunya suruh bayar."


" Nanti mama rugi dong kalau kita gak bayar?"


" Ish... kau menggemaskan sekali."


Rifky menghampiri mamanya yang sedang memberi pengarahan kepada pegawainya. Beliau lantas tersenyum lalu memeluk anak dan calon menantunya secara bergantian.


" Mama lagi sibuk, ya?"


" Tidak, sayang. Mama sudah nungguin kalian dari tadi."


Medina di suruh memilih gaun yang ia suka. Setelah mencoba berbagai model, ia menjatuhkan pilihan pada gaun panjang berwarna biru muda.


" Kak, yang ini gimana?" tanya Medina.


" Bagus, gaunnya juga tertutup tapi kakak tidak terlalu suka." jawab Rifky.


" Kenapa? Ini sudah gaun yang kelima yang aku coba, kakak tidak menyukai semuanya." sungut Medina.


" Bukannya tidak suka, hanya saja kau sangat cantik dengan gaun ini. Kakak tidak mau ada pria lain yang menikmati kecantikan calon istriku ini."


" Ish... kalau begitu besok aku pakai masker dan jas hujan saja biar tidak ada yang memandangku." kesal Medina.


Mama Kamila berusaha menahan tawanya melihat tingkah anak dan menantunya itu. Sungguh tak ada romantis - romantisnya sama sekali.


" Kalian ini sudah mau menikah tapi kelakuan masih kayak bocah aja deh." tegur mama Kamila.


" Ish... siapa yang mama bilang bocah? Rifky itu sudah bisa bikin bocah." sahut Rifky asal.


" Kakaakkk...!" sungut Medina seraya memukul bahu Rifky dengan keras.


" Auwww...! Sakit, sayang. KDRT nih," rintih Rifky.


" Sudah - sudah...! Kalian jadi pilih gaun yang mana?" lerai mama Kamila.


" Terserah dia aja, Ma. Nggak pakai baju aja sekalian!" kesal Medina.


" Sudah nggak sabar ya buat malam pertama?" goda Rifky.


" Mamaaa... bolehkan aku penggal saja kepala anakmu yang mesum itu!" pekik Medina.


Mama Kamila mengusap dada berkali - kali menghadapi dua bocah di hadapannya. Untung saja dirinya tak mengalami serangan jantung.


" Diam...! Tidak usah menikah saja, nanti mama bisa carikan jodoh lain buat kalian." geram mama Kamila.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2