Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Jangan marah


__ADS_3

" Kak Rifkyy...!" teriak Medina.


Medina berhenti setelah melihat Rifky yang sedang duduk di sebuah batu besar diatas bukit. Rifky hanya menatap sekilas lalu mengalihkan pandangannya menuju arah matahari terbit. Cahayanya yang masih redup serta angin yang berhembus pelan membuat hawa dingin merasuk ke dalam tubuh.


Medina kembali berjalan menghampiri Rifky lalu duduk di rerumputan yang masih basah karena embun pagi di hadapan Rifky.


" Kak, jangan marah? Maafin Dina, ya?" ucap Medina dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


" Kamu ngapain kesini?" kata Rifky datar.


" Cari kakak, Dina mau_..."


" Sudah, buang saja sana!"


" Apanya yang dibuang...?"


" Ckk... terserah kamu saja."


Medina menatap wajah kekasihnya yang tak sedikitpun melihatnya. Ada rasa sakit saat orang yang paling dia cintai mendiamkannya.


" Kak, Dina minta maaf. Dina tidak akan menolak semua pemberian kakak lagi. Jangan marah...?" ucap Medina memohon.


" Jangan dipaksakan kalau tidak suka,"


" Dina suka kok, tapi pengen dipakein sama kakak."


Rifky turun dari batu besar itu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Medina berdiri namun gadis itu malah menundukkan wajahnya. Matanya berkaca - kaca mencoba menahan airmata yang siap menetes.


" Berdiri, rumputnya basah nanti kamu sakit." kata Rifky.


" Ini juga udah sakit," lirih Medina.


" Sakit...? Kamu sakit apa, sayang?" Rifky terlihat panik menatap lekat seluruh tubuh Medina.


" Hatiku sakit setiap kali kakak marah dan diam seperti tadi."


" Ya Allah, sayangku. Kakak tidak marah sama kamu, ayo berdiri."


" Dina tidak mau berdiri sampai kakak mau memaafkanku."


" Hey... kakak tidak marah, sayangku. Ayo kakak bantu berdiri."


Rifky mensejajarkan tubuhnya di hadapan Medina. Mereka saling menatap sendu tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan.


" Sini kalungnya biar kakak pakaikan?" bujuk Rifky.


" Kakak harus janji jangan marah lagi."


" Iya, sayang. Maafin kakak ya? Mulai hari ini, kakak tidak akan marah lagi padamu."


Medina memberikan kotak perhiasan itu kepada Rifky sambil menundukkan wajahnya. Dia tak berani menatap mata kekasihnya.


" Kamu boleh menundukkan wajahmu di hadapanku, tapi angkatlah wajahmu di depan para musuhmu. Jadilah wanita yang kuat dan mandiri. Hanya boleh bermanja padaku, bukan orang lain. Hanya boleh mencintaiku, bukan orang lain."


Rifky memasangkan kalung itu di leher Medina lalu tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala gadis kesayangannya itu. Seandainya saja sudah menjadi kekasih halalnya, pasti Rifky akan memeluk dan mencium gadis itu.


" Kakak jangan pernah tinggalin Dina, ya? Cuma kakak satu - satunya orang yang paling dekat dihati Medina selain ayah. Jangan pernah menyerah untuk membimbing Dina ke jalan yang di ridloi Allah."


" Insya Allah, kakak pasti akan menjaga kamu. Mendampingi hari - harimu sepanjang umurku. Semoga kita ditakdirkan berjodoh agar kita bisa memiliki ikatan yang halal di hadapan Allah."

__ADS_1


" Dina sayang sama kakak."


" Kakak juga sayang sama kamu."


Mereka berdua berjalan berkeliling perkebunan. Rifky yang melihat Medina kedinginan langsung melepas jaketnya lalu memakaikannya di tubuh gadis itu.


" Kenapa tadi nggak pakai jaket? Kalau sakit gimana?" ujar Rifky.


" Tadi Dina buru - buru mengejar kakak, jadi lupa tidak bawa jaket." sahut Medina.


" Pulang yuk? Hari sudah mulai siang, nanti ayah nyariin." kata Rifky.


" Ayahnya siapa?"


" Ayah kita berdua, sayang."


" Ayah Dina sendiri itu!"


" Ayah mertuaku..."


¤ ¤ ¤


Sore hari, Rifky ikut ke pasar untuk mengajar mengaji anak - anak. Seperti biasa, dia selalu mengikuti kemanapun Medina melangkah. Dia tidak peduli dengan omelan gadis kecilnya yang risih dengan tingkahnya.


" Kak, apa tidak bisa sebentar saja tidak mengikutiku?" sungut Medina.


" Memangnya kenapa? Kakak pulang ke desa karena pengen dekat sama kamu." sahut Rifky sambil tersenyum.


" Tapi tidak seperti ini juga, kak! Dina risih diikutin kakak terus."


" Jadi kamu bosan dekat dengan kakak?"


" Sudahlah, Dina tidak mau berdebat lagi dengan kakak. Kita disini untuk mengajar anak - anak mengaji, bukan bertengkar seperti ini."


" Jangan marah... cinta tidak akan tumbuh jika mengedepankan amarah." ucap Medina.


" Kakak tidak akan bisa marah sama kamu, cintaku padamu sangatlah besar, lebih besar dari yang kau kira." ujar Rifky.


" Aku tahu... cinta yang besar pasti akan ada pula ujian yang besar. Mulai sekarang, kita harus menghadapi ujian bersama - sama agar cinta kita tak akan pernah memudar." tutur lembut Medina.


Saat Rifky dan Medina hendak masuk ke dalam mushola, beberapa anak menghampiri mereka dengan tersenyum.


" Kakak, main tebak - tebakan lagi yuk?" ajak anak - anak itu.


Rifky dan Medina saling berpandangan lalu balas tersenyum. Rifky mengusap pelan kepala anak - anak itu.


" Mainnya besok lagi, ya? Sekarang kita belajar membaca Al-Qur'an dulu." ujar Rifky.


" Aakkhhh... nggak seru."


" Sudah - sudah... ayo masuk." titah Medina.


Anak - anak kembali masuk ke dalam mushola lalu mengaji bersama. Rifky terlihat senang melihat anak - anak yang rajin untuk belajar mengaji.


¤ ¤ ¤


Setelah mengaji dan membagikan makanan berbuka puasa, Rifky dan yang lainnya sholat maghrib berjamaah. Anak buah Jefri juga banyak yang ikut berjamaah sebelum pulang ke rumah masing - masing.


Usai sholat, Rifky mengajak teman - temannya untuk berdiskusi untuk membahas acara ramadhan yang sebentar lagi akan selesai.

__ADS_1


" Adam, acara apa yang akan kita adakan untuk ramadhan akhir nanti?" tanya Rifky.


" Mmm... Saya belum ada rencana apapun, kak. Terserah kakak aja mau buat acara apa." ucap Adam.


" Buat acara amal saja, kak." usul Bayu.


" Iya, Oppa... kita bagi - bagi sembako saja." sahut Ririn.


" Memangnya sembako siapa yang mau kalian bagikan?" tukas Johan.


Rifky menatap Medina yang sedari tadi diam. Dia masih ingin menunggu pendapat yang lainnya.


" Sayang, kamu kenapa diam?" bisik Rifky pelan.


" Dina lapar, pengen makan bakso." rengek Medina.


" Huft... baiklah, nanti setelah ini kita pergi." ujar Rifky.


" Boss, apa kita perlu mencari donatur untuk buat acaranya?" tanya Jefri.


" Tidak usah, yang penting kalian buat acaranya saja." kata Rifky.


" Memangnya kita mau bikin acara apa kalau tidak ada donatur?" tanya Medina.


" Masalah donatur, nanti kakak yang cari."


" Kenapa tidak santunan untuk anak yatim dan lansia saja." usul Bayu.


Semua berpikir sejenak untuk mencari ide yang tepat untuk membuat acara. Mereka harus membuat acara yang bermanfaat untuk orang lain.


" Idenya Bayu boleh juga. Besok kalian ke rumah kepala desa untuk meminta data warga yang berhak mendapatkan santunan." kata Rifky.


" Satu desa, kak?" tanya Adam.


" Iya, satu desa. Sekalian minta ijin sama kepala desa untuk memakai tempat yang cukup luas untuk acaranya." jawab Rifky.


Setelah berdiskusi, Rifky mengajak Medina dan teman - temannya untuk makan diluar. Mereka sangat antusias jika diajak pergi oleh Rifky sebab pria itu orang yang sangat loyal dan baik hati.


" Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Rifky.


" Apa saja, kak." jawab Medina.


" Jangan seperti itu, kakak takut kamu tidak suka dengan pilihan kakak, sayangku."


" Dina pasti suka dengan pilihan kakak."


" Kenapa?"


" Karena Dina sayang sama kakak."


" Ish... sudah pintar merayu rupanya."


Rifky melajukan motornya lebih cepat sehingga dengan terpaksa Medina harus berpegangan padanya. Rifky tersenyum sendiri melihat tangan mungil itu melingkar di pinggangnya.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2