Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Keras kepala


__ADS_3

" Sebenarnya... Dina... mmm... belum bisa cerita sekarang sama kakak." ucap Medina pelan.


" Kenapa? Kau tidak sedang berselingkuh dariku, kan?"


Rifky melepaskan pelukannya lalu menatap tajam gadis kecilnya yang sedari tadi menundukkan wajahnya. Namun, mendengar tuduhan Rifky yang tidak berdasar itu membuat Medina langsung mengangkat wajahnya.


" Selingkuh? Kakak menuduhku selingkuh? Atas dasar apa menuduhku tanpa bukti? Lagian kita juga tidak memiliki hubungan apa - apa? Kalau harus ada yang disebut selingkuh itu kakak, tidak tahu malu peluk - pelukan di perkebunan!" kesal Medina.


" Ya Allah, Medina. Bukankah masalah wanita itu sudah selesai? Kenapa masih diungkit lagi?"


" Keluar dari kamarku! Dina benci kakak!"


" Dina, dengarkan kakak dulu. Jangan keras kepala!"


Medina beranjak dari tempat tidur lalu berdiri menghadap jendela. Rasa sesak di dalam dadanya saat semua orang menyalahkan dirinya.


" Maaf, kakak tidak bermaksud membentakmu."


Rifky berusaha untuk meraih jemari gadis kecilnya namun langsung di tepis dengan kasar. Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya kearah luar jendela dengan raut wajah marah.


" Sayang, jangan diam seperti ini. Kakak hanya takut kehilangan dirimu. Kakak sayang sama kamu," bujuk Rifky.


" Dina ingin sendiri dulu, kakak keluarlah." lirih Medina.


" Tidak, sayang. Kita keluar bersama, ayah sudah menunggu di meja makan."


" Aku tidak lapar,"


" Hei... apa kamu tidak menghargai masakan kakak dan paman? Setidaknya makanlah walau sedikit."


" Paling juga cuma masak telur,"


" Hmm... lihat dulu, kebetulan tadi paman baru dari pasar."


Medina sedikit terkejut karena ayahnya belanja sendiri ke pasar. Biasanya Medina yang masuk ke dalam pasar, sedangkan sang ayah hanya menunggu di tempat parkir.


" Kenapa bengong? Ayo keluar, mau langsung makan atau mandi dulu?"


" Makan,"


Rifky tersenyum lalu mengikuti langkah Medina menuju meja makan. Pak Hasan sudah duduk disana menunggu mereka berdua.


" Paman sudah selesai mandi?" ucap Rifky.


" Sudah, ayo makan terus sholat dhuhur berjamaah." ujar pak Hasan.


Selesai makan, mereka sholat dulu sebelum Medina membersihkan peralatan dapur dan piring bekas mereka makan. Rifky menjadi imam sesuai permintaan ayahnya Medina.


¤ ¤ ¤


Kini Medina sedang membereskan dapur dibantu Rifky, sedangkan pak Hasan istirahat di kamarnya.


" Sayang, jadi liburannya?" tanya Rifky.


" Liburan apa?" sahut Medina.


" Kemarin bilang mau liburan kalau libur sekolah."

__ADS_1


" Tidak untuk saat ini, kak. Dina tidak bisa keluar rumah selama masa hukuman masih berlangsung."


" Nanti biar kakak yang minta ijin sama paman,"


" Kak, Dina tidak mau."


" Sayang, paman pasti mengijinkan jika kakak yang minta."


" Tidak usah, biarkan masa hukuman ini selesai dulu."


Setelah semuanya beres, Medina duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Rifky mengikutinya dan duduk tepat di sampingnya. Selama beberapa saat, keduanya saling diam sampai akhirnya Rifky membuka suara.


" Calis, kakak tidak tahu apa yang menyebabkan kamu dan paman seperti ini. Kakak sayang sama kamu, ceritakan apapun masalah yang kamu alami, sebisa mungkin kakak akan selalu ada buat kamu."


" Dina tidak apa - apa, kak."


" Calis, kakak mohon... jangan buat kakak meragukanmu. Kakak selalu berusaha percaya bahwa apa yang kamu lakukan itu benar walaupun dengan cara yang salah."


" Sudahlah, kak. Dina tidak mau menambah beban pikiran kakak."


" Kamu bukan beban, Medina. Kakak serius mengatakan semua ini. Kenapa kamu masih belum percaya dengan perasaanku padamu?"


" Kita belum saling mengenal dengan baik, kak. Medina tidak yakin kakak benar - benar suka dengan gadis yang selalu buat onar sepertiku."


Rifky menatap lekat gadis kecilnya cukup lama untuk meyakinkan hatinya sendiri walaupun dia sangat yakin bahwa hatinya memang sudah terikat dengan gadisnya itu.


" Apa yang kamu ragukan dari kakak?"


" Kita tidak bertemu cukup lama, dulu umurku masih lima tahun saat terakhir kita bersama. Bagaimana hanya dalam waktu sebentar saja kakak bisa menyatakan cinta padaku?"


" Kakak juga tidak tahu kapan rasa itu ada, sayang. Anggaplah kakak tidak waras, tapi semenjak kita berpisah waktu itu... kakak selalu memikirkanmu setiap hari. Awalnya kakak merindukanmu seperti seorang kakak kepada adiknya. Tapi setelah kakak mulai masuk kuliah, perasaan itu masih tetap ada dan semakin kuat. Kamu adalah semangat kakak setiap melakukan aktifitas apapun. Kamu adalah alasan di balik kesuksesan kakak meraih cita - cita."


" Kakak akan menunggumu sampai kapanpun."


¤ ¤ ¤


Rifky pulang ke rumah pak Jamal setelah puas bersama gadis kecilnya. Walaupun dia tidak bisa membujuknya untuk liburan seperti janjinya kemarin, tapi melihat gadis itu baik - baik saja membuat hati Rifky lega.


" Ish... keponakan tante sudah mulai hilang akal, senyum - senyum sendiri." ledek tante Mita.


" Apaan sih, tan? Ganggu aja deh." sahut Rifky sambil tersenyum.


" Lagian kamu itu, Rifky. Kalau ada orang lewat lihat kamu tersenyum sendirian, bisa dikira kamu kurang satu gram." ucap tante Mita sambil tertawa.


" Tante, masa' ponakan ganteng begini dibilang kurang satu gram? Memangnya Rifky ini perhiasan," sungut Rifky.


" Iya - iya, kamu itu keponakan tante yang paling ganteng."


" Oh iya, tante... si bocil kemana?"


" Biasa, main sama temennya di lapangan."


" Tante, Rifky mau bicara serius." ucap Rifky tiba - tiba.


Tante Mita yang tadinya ingin masuk ke dalam rumah, mengurungkan niatnya berdiri dari sofa tempat ia duduk.


" Kok tante jadi merinding, kamu bicara serius." tante Mita mengusap - usap tengkuknya beberapa kali.

__ADS_1


" Ya Allah, tante. Bagaimana bisa Om Jamal dulu menikahi orang menyebalkan seperti tante." sungut Rifky kesal.


" Heh... bocah keras kepala! Apa maksudmu ngomong begitu? Selama ini yang ngurusin kamu itu siapa?"


" Hehehee... peace, Aunty. I'm sorry..."


" Hhh... ya udah, cepat mau bicara apa?" ketus tante Mita.


" Tante, sayang... Rifky_..."


" Jangan berbelit - belit, cepat bicara!"


Rifky nampak berfikir untuk mencari kata yang tepat. Hatinya kecilnya sudah yakin, namun pikirannya masih mengambang karena memikirkan akibatnya nanti.


" Tante, seandainya Rifky melamar Medina gimana?"


" Apaaa...?" tante Mita terlonjak hingga berdiri dari duduk santainya.


" Tante, jangan berteriak."


" Sorry, tante shock aja denger omongan kamu."


" Tante, jadi gimana?"


" Rifky, keponakan tante yang ganteng... begini, sayang. Belum waktunya kamu sampai ke tahap itu. Dina masih sekolah, dia juga belum yakin dengan perasaannya. Dekati dia secara perlahan, jangan gegabah dalam mengambil keputusan."


" Tapi, tante... ini bukti keseriusan Rifky pada Medina."


" Apa kamu berani bicara pada orangtuamu? Sedangkan mereka menjodohkanmu dengan gadis yang kemarin itu."


" Justru itu, tante. Jika Rifky melamar Medina, perjodohan itu tidak akan terjadi."


Tante Mita menghela nafas dengan kasar lalu meraih tangan Rifky dengan tatapan sendu.


" Kamu tidak mengenal sifat mama kamu, Ky. Dia itu sangat keras kepala, merasa dirinya yang paling benar."


" Maksud, tante...?"


" Apakah selama ini dia peduli padamu? Dia lebih memilih kehidupan sosialitanya itu daripada mengurusmu. Dia membuangmu jauh keluar negeri supaya tidak bersusah payah merawatmu. Sebenarnya tante ingin kau tinggal disini waktu itu, namun mama kamu menolak karena berpikir pedesaan itu tidak cocok untuk kalangan orang kaya."


" Rifky juga tahu itu, tante. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah ibunya Rifky."


" Tante tahu, maka dari itu... pikirkan dulu niatanmu untuk melamar Medina. Jika mama kamu menolak, Medina dan pak Hasan bisa menjadi bahan gunjingan masyarakat. Mama kamu itu sangat keras kepala, kamu harus bisa menyatukan mereka berdua dulu baru mengambil langkah selanjutnya."


" Iya, tante. Terimakasih sudah menjadi ibu yang sebenarnya bagi Rifky."


" Jangan memuji tante seperti itu, bisa roboh nanti rumah ini." gurau tante Mita.


Mereka berdua mengobrol di teras cukup lama hingga pak Jamal pulang dari perkebunan.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2