
Malam ini Jonathan ditemani dua orang bodyguard masuk ke dalam Bar milik Anna. Sampai di dalam, ternyata tak hanya minuman yang disuguhkan tetapi juga banyak wanita malam yang menjajakan diri disana.
" Selamat malam, Tuan. Ini pertama kali saya melihat Anda, silahkan menikmati kesenangan malam ini." ucap seorang wanita dewasa dengan pakaian glamournya.
" Hmm... berikan minuman terbaik untukku!" sahut Jonathan datar.
" Anda perlu privat room, Tuan?"
" Ya, kau temani saya minum."
Anna tentu saja sangat senang memiliki pelanggan yang sangat kaya dan tampan. Walaupun umur pria itu lebih muda darinya, namun pesonanya mampu membuat Anna tak berkutik.
" Oh iya, kenalkan... saya Anna Atmaja, pemilik Bar ini."
" Kim...!" sahut Jonathan datar.
" Tuan Kim, apa usaha Anda di kota ini?"
" Tidak ada, saya hanya liburan di kota ini."
" Oh... baiklah, silahkan menikmati liburan Anda."
Jonathan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang luas itu. Tampak banyak sekali anak buah Anna yang berjaga. Bahkan ada juga para pejabat dan juga orang - orang berseragam tampak sedang bersenang - senang dengan para wanita malam.
" Tuan... kami akan berpencar untuk berkeliling di tempat ini." bisik salah satu bodyguard Jonathan.
" Pergilah! Hati - hati, jangan sampai kalian tertangkap." balas Jonathan.
" Siap, Tuan!"
Jonathan hanya meminum sedikit minuman beralkohol itu karena tak ingin mabuk dan mengacaukan semua rencana. Dia meneliti setiap sudut ruangan untuk memasang alat penyadap yang berbentuk kamera kecil tanpa diketahui.
Setelah setengah jam berkeliling, dua anak buah Jonathan kembali berkumpul. Mereka segera pergi setelah memasang banyak kamera pengintai disana.
¤ ¤ ¤
Pagi hari, semua berkumpul di hotel tempat Jonathan menginap. Medina yang sedari bangun tidur sudah merengek di depan pintu kamar Rifky akhirnya ikut juga berkumpul disana.
" Bagaimana semalam...?" tanya Rifky to the point.
" Semua kamera sudah terpasang, kita bisa cek kegiatan mereka kapanpun juga." jawab Jonathan.
" Memangnya sulit ya, Kak menangkap perempuan itu?" tanya Medina.
" Kita butuh bukti yang kuat, Mey. Dia punya tameng yang sulit kita tembus."
Mereka fokus pada laptop yang memperlihatkan aktifitas di dalam Bar pagi itu. Awalnya hanya sepi, namun selang sepuluh menit ada beberapa orang yang datang ke tempat itu.
" Siapa mereka...?" gumam Rifky.
" Dia pemasok obat - obatan terlarang ke Bar itu. Semalam orang itu juga disana. Mereka juga pernah singgah di Jepang. Sial...! Kita berurusan dengan mafia besar." umpat Jonathan.
" Bukankah kita hanya berurusan dengan Anna, Kak?"
" Tidak semudah itu, Mey. Anna pasti di bawah perlindungan mafia itu juga."
__ADS_1
" Terus... kita harus melakukan apa sekarang?" tanya Nicko.
" Berapa anak buah yang kau punya disini...?"
" Sekitar tiga puluhan."
Jonathan mengernyit heran. Bagaimana mungkin Nicko hanya merekrut tiga puluh orang di negara sebesar ini. Perusahaan Rifky di Indonesia itu masih baru dan harus mendapat pengawalan ketat. Di Jepang, Jonathan memiliki delapan puluh anak buah, Hans di Korea Selatan memiliki enam puluhan anak buah. Nicko benar - benar ceroboh!
" Kalau kita bisa menangkap mafia itu di negara ini, maka namanya akan terkenal di seluruh Asia. Negara ini akan terkenal dengan keamanannya." ujar Jonathan.
" Aku tidak memikirkan itu, Jo. Aku hanya ingin pelaku penyerangan itu tertangkap."
" Aku akan mengambil separuh anak buaku dan anak buah Hans untuk membantu disini."
" Baikkah, kau atur saja semuanya. Bawa mereja nanti ke rumah baruku." ucap Rifky.
" Tapi, Boss...?"
" Tidak masalah, itu akan jadi markas baru kita. Nanti aku bisa cari rumah yang lain, yang baru."
" Kakak beli rumah baru...?" tanya Medina.
" Iya, sayang. Tadinya itu buat kamu, tapi nanti kita cari yang deket rumah Mama aja." jawab Rifky.
Saat semua serius menatap layar laptop, ponsel Medina berdering tanda ada pesan masuk.
Adam : Mey, kau dimana?
Medina : Di kota, Dam. Ada apa...?"
Medina : Perketat penjagaan! Suruh Jefri dan anak buahnya berjaga di seluruh desa. Jangan sampai ada orang asing masuk tanpa identitas dan tujuan yang jelas.
" Ada apa, sayang?" tanya Rifky melihat raut wajah gadis itu serius.
" Ya, ada teror di depan rumah om Jamal. Tapi Adam akan berjaga ketat disana bersama Jefri dan anak buahnya." jawab Medina.
" Apa kita harus kesana?" tanya Nicko.
" Tidak perlu, kau suruh salah satu anak buahmu untuk mengirimkan senjata untuk Adam dan teman - temannya." titah Rifky.
" Tapi, Boss... mereka hanya preman kampung dan teman - teman Medina masih belum cukup umur menggunakan senjata."
" Tidak apa - apa, mereka sudah pernah menggunakannya sebelumnya. Hanya Adam, Bayu, Johan dan Jefri saja senjata itu. Mereka tidak mungkin melawan dengan tangan kosong."
" Baiklah." kata Nicko pasrah.
¤ ¤ ¤
" Bos, mereka akan melakukan transaksi obat terlarang malam ini di gedung kosong dekat jembatan." kata Nicko.
" Kau sudah pasang kamera di tempat itu?" tanya Rifky.
" Sudah, kita tinggal pantau saja. Jika rekaman itu berhasil, kita bisa minta bantuan hukum internasional. Mereka tidak akan bisa lolos lagi kali ini."
" Bagus, hubungi intel Jepang dan Hongkong. Mereka pasti akan senang kita mempermudah pekerjaan mereka."
__ADS_1
Rifky membereskan berkas - berkas di meja kerjanya lalu masuk ke ruangan pribadinya untuk mengajak Medina pulang.
Ya... mereka saat ini sedang di kantor perusahaan milik Rifky. Medina selalu ikut kemanapun Rifky pergi karena tak ingin gadis itu jadi target Anna selanjutnya.
" Sayang... pulang yuk? Udah sore, tadi mama bilang udah masak banyak untuk makan malam." ucap Rifky sambil memeluk Medina dari belakang.
" Dina pengen naik keatap sebentar, Kak. Pemandangan senja diatas ketinggian pasti sangat bagus."
" Lain kali kita bisa melakukannya, sayang. Sekarang kita pulang dulu, ya?"
" Dina tidak suka diatur - atur seperti anak kecil, Kak!"
" Bukan begitu, sayang. Malam ini saja, lain kali kakak akan penuhi semua keinginanmu."
Rifky bukannya tidak mau menemani Medina saat ini. Namun saat ini, ada hal yang lebih penting yang harus ia selesaikan secepatnya.
" Kakak mau kemana...?"
" Hanya pekerjaan kantor, sayang."
Setelah mengantar Medina sampai di rumah, Rifky langsung ke meja makan. Orangtuanya sudah menunggu sedari tadi untuk makan malam.
" Dina... apa kamu baik - baik saja, sayang?" tanya mama Kamila.
" Iya, Ma. Dina baik - baik saja."
Setelah makan malam, Rifky mengantar Medina ke kamarnya. Medina tidak boleh tidur di lantai bawah karena malam ini Rifky kemungkinan tidak akan pulang.
" Sayang, kamu jangan keluar dari rumah tanpa kakak. Diluar sangat berbahaya, jika ada sesuatu yang mencurigakan dan butuh perlawanan kamu bisa gunakan senjata di laci nakas bawah buku." pesan Rifky.
" Kakak mau kemana?"
" Ada yang harus kakak kerjakan. Mungkin malam ini kakak tidak akan pulang, kamu do'akan saja semoga misi ini berhasil."
" Apakah Dina tidak boleh ikut?"
" Tidak untuk kali ini sayang. Kamu tetap di rumah jaga papa dan mama. Diluar juga sudah ada pengawal yang menjaga rumah ini. Mungkin malam ini adalah puncak dari semuanya."
" Hati - hati, Kak. Cepat kembali, pulanglah dengan selamat."
" Pasti, sayang. Ingat! Tetap waspada dan jaga diri. Nanti mama dan papa juga akan tidur di kamar sebelah."
" Om Jamal...?"
" Adam dan Jefri sudah memperketat penjagaan disana. Kamu jangan khawatir, sayang."
Setelah memeluk Medina dan mengecup keningnya sekilas, Rifky segera memakai rompi anti peluru. Diluar sudah menunggu Nicko yang akan membawa mereka ke tempat rahasia untuk berkumpul dengan para intel internasional dari Jepang dan Hongkong.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.