Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kedatangan Jonathan


__ADS_3

Medina dan Rifky mengantar pak Hasan ke Bandara. Dengan berat hati Medina melepas kepergian ayahnya dan mencoba untuk menahan airmatanya.


" It's Ok. Hans akan menjaga Ayah di Singapore, jangan bersedih. Ayah pasti akan segera sembuh, sayang." bisik Rifky.


" Iya, Kak. Dina tidak apa - apa, kita bisa pergi sekarang." balas Medina pelan.


" Sebentar, sayang. Kita tunggu Jonathan datang, dia mendarat sebentar lagi."


" Mr. Kim akan datang?" ucap Medina berbinar.


" Kau senang sekali mau bertemu dengannya!" sungut Rifky.


" Kakak kenapa sih? Cinta Medina hanya untuk Rifky Mahendra." ucap gadis itu nyengir.


" Hhh... lihat saja! Saat Ayah sembuh nanti kau harus siap untuk menikah hari itu juga!"


" Ish... Maksa!"


Lima belas menit menunggu, seorang laki - laki tinggi, putih dan bermata sipit itu menghampiri Rifky dan Medina.


" Good morning, Boss." sapa Jonathan sambil tersenyum.


" Morning... gimana perjalananmu?" sahut Rifky.


Dua pria tampan itu saling berpelukan. Mereka terlihat seperti saudara, tidak ada yang namanya atasan dan bawahan.


" Sangat menyenangkan, semoga masalah disini tidak terlalu sulit untuk kita selesaikan."


Medina yang sedari tadi hanya diabaikan oleh dua orang dihadapannya itu segera pergi meninggalkan mereka. Namun baru beberapa langkah, ada yang menarik tangannya dari belakang.


" Mau kemana...?"


Tanpa menolehpun, Medina tahu siapa yang menghentikan langkahnya. Pria itu membalikkan tubuh kecil Medina sambil tersenyum.


" Katanya ingin bertemu? Kenapa sekarang malah pergi, apa aku terlalu jelek untuk kau lihat?" ucap Jonathan lembut.


" Ish... sejak kapan kau bersikap lembut pada orang lain? Istrimu saja sering kau abaikan." cemooh Rifky.


" Tidak ada waktu untuk berbasa - basi dengan kalian." ucap Medina datar.


" Sayang... kenapa lagi? Kamu tidak mau berkenalan langsung dengan Jonathan?" ujar Rifky.


" Udah kenal." sahut Medina asal.


Jonathan mengeluarkan kotak hadiah dari dalam tas ranselnya. Cukup besar karena ransel itu isinya hanya kotak itu saja.


" Ini buat kamu, semoga kau menyukainya." kata Jonathan.


" Terima kasih, apa ini isinya pedang samurai?" tanya Medina asal.


" Bukan, boneka Nobita dan Doraemon." jawab Jonathan asal juga.


" Hhh... aku bukan anak kecil lagi, kenapa di kasih boneka?"


" Bukan buat kamu, tapi calon keponakanku darimu." bisik Jonathan sambil tertawa.


" Mr. Kiiimmmmmm...!!!" pekik Medina kesal.


" Ssttt...! Sayang, ada apa...?" Rifky memeluk Medina dari belakang.


" Temen kakak minta di mutilasi...!" ketus Medina.


" Sorry, honey... aku cuma bercanda." bujuk Jonathan.


Medina yang cemberut membuat Rifky malah semakin gemas. Pelukannya semakin erat sambil menarik pelan tubuh kekasihnya menuju mobil yang sudah sedari tadi menunggu.


" Jo, kau mau tinggal di rumah atau Apartemenku?" tanya Rifky.


" Terserah kau saja, Boss. Tapi lebih aman di hotel saja biar tidak ada yang tahu jika aku bersama keluarga Mahendra."


" Baiklah, kami akan mengantarmu ke hotelku."

__ADS_1


Medina yang masih merajuk memilih duduk di samping sopir. Dia menolak saat Rifky mengajaknya duduk di belakang bersamanya.


.


.


" Mamaaa...!" panggil Medina kencang hingga membuat Rifky menutup telinganya.


" Ya Allah, sayang... ucapkan salam, bukan berteriak." tegur Rifky.


" Sayang... udah pulang? Ada apa cemberut begitu? Apa Rifky menyakitimu?" tanya mama Kamila heran.


" Dina pengen peluk Mama." ucap Medina manja.


" Kau ini, kadang manja seperti anak kecil. Tapi kalau sudah bertemu musuh, seperti wonder woman..." mama Kamila mengepalkan tangan ke udara sambil tersenyum.


" Ish... Mama, Dina nggak mau lagi berantem. Biar kak Rifky aja, Dina pengen pensiun."


" Pensiun dari preman pasar?" ledek Rifky.


" Apaaa...!" sinis Medina.


" Udah...! Sebentar lagi kalian itu menikah, jangan ribut terus." omel mama Kamila.


" Kak Rifky duluan, Ma..." sungut Medina.


Rifky pura - pura tak mendengar dan lebih fokus pada laptopnya. Kalau diteruskan berdebat, bisa semakin panjang urusannya.


" Rifky... minta maaf sama Dina!" seru mama Kamila.


" Hhh... Ok. Sayang, maafin kakak ya? Lain kali tidak melakukan ini lagi." Rifky mengusap pelan pucuk kepala Medina.


" Udah kan, Ma? Rifky banyak sekali kerjaan." ucap Rifky lagi sambil nyengir.


Tak lama Nicko datang dengan membawa berkas dari kantor karena Rifky tidak ke kantor. Dia juga membawa makanan kesukaan Medina, martabak telur special.


" Assalamu'alaikum." sapa Nicko seraya mencium punggung tangan mama Kamila.


" Kak Nicko, gimana penyelidikannya?" tanya Medina.


" Hhh... katanya mau pensiun? Baru juga beberapa menit yang lalu bilang mau tobat." sindir Rifky.


" Apa...! Syirik aja jadi orang." ketus Medina.


" Nanti saja kita bicarakan dengan Kim sekalian." kata Nicko.


" Kak Hans udah sampai di Singapore, kan?"


" Sudah, dia sudah standby di Bandara menjemput Ayahmu."


Medina merasa sangat beruntung bisa mengenal Rifky dan teman - temannya. Mereka sangat baik padanya walau belum lama saling kenal.


" Sayang, kamu istirahat dulu sana. Nanti siang kita ke hotel menemui Jonathan." ujar Rifky.


" Dina istirahat di kamar tamu ya, kak?"


" Diatas saja, di kamar kakak."


" Huft..."


.


.


Siang hari, Rifky sudah bersiap untuk bertemu Jonathan di hotel milik keluarga Mahendra. Medina dan Nicko sudah menunggu di dalam mobil sedari tadi.


" Kak Rifky ngapain aja sih? Dandan kayak mau nikahan aja." gerutu Medina.


" Bukan dandan, Mey... Rifky sedang mengambil berkas untuk meeting nanti sore." sahut Nicko.


" Kak Nicko itu tidak tahu apa yang aku rasain. Aku tidak tahu harus melakukan apa pada orang yang telah mencelakai ayah."

__ADS_1


" Kau tidak perlu melakukan apapun, Mey. Semua ini menjadi tanggung jawabku dan Rifky."


" Tidak, tolong beritahu padaku siapa dia. Aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalah ini termasuk kalian."


" Jangan bertindak bodoh, Mey! Kau tidak tahu siapa musuhmu. Mereka penjahat kelas kakap yang dilindungi oknum pemerintah."


Medina berdecak kesal. Dia sudah bertekad akan membalas mereka yang telah menyakiti ayahnya. Tak ada yang bisa menghalangi keputusannya meskipun Rifky sekalipun.


" Sayang... kenapa duduk di depan? Kakak sendirian dong?" keluh Rifky.


" Hmm..." jawab Medina datar.


Nicko segera melajukan kendaraannya meninggalkan halaman kediaman Mahendra. Selama perjalanan, tak ada percakapan dari mereka bertiga hingga sampai di hotel tempat Jonathan Kim menginap.


" Nicko... how are you, brother?" sapa Jonathan seraya memeluk Nicko dengan erat.


" I'm fine. Apa kau betah di Indonesia?" sahut Nicko.


" Mmm... aku belum berkeliling, mungkin lain waktu aku akan kembali bersama anak dan istriku."


Medina berdiri di balkon melihat pemandangan kota dari atas. Jalanan terlihat padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.


" Kenapa, sayang?" Rifky berdiri di samping Medina.


" Ayah pasti sembuh kan, Kak?"


" Insya Allah, sayang. Kita harus selalu berdo'a untuk kesembuhan Ayah."


" Dina tak bisa membayangkan jika Ayah pergi meninggalkan aku sendiri disini."


" Hei... lihat aku!"


Rifky menarik tubuh Medina sehingga mereka saling berhadapan. Tatapan lembut Rifky membuat Medina merasa nyaman.


" Kakak akan selalu bersamamu, selamanya!" tegas Rifky.


" Terima kasih, Kak."


Rifky mengajak Medina untuk masuk ke dalam karena ingin membahas tentang misi penyelidikan di Bar milik Anna.


" Kak, Anna itu sebenarnya siapa? Apa hubungan dia dengan Ayah dan Om Jamal?"


Rifky menjelaskan secara singkat tentang wanita yang bernama Anna dan hubungannya dengan pak Hasan dan pak Jamal di masa lalu.


" Apakah Dina harus masuk ke Bar itu untuk menyelidiki?" tanya Medina.


" Tidak, sayang. Disana sangat berbahaya, kemungkinan besar Anna mengenali kamu karena dia berhasil menemukan rumahmu dan om Jamal."


" Lalu...?"


" Jo... kau yang masuk kesana! Mereka belum pernah melihatmu, kau bebas keluar masuk tempat itu."


" Siap, Boss! Serahkan semua ini padaku, sekalian kita bongkar kejahatan seluruh keluarganya." kata Jonathan.


Setelah sepakat bahwa Jonathan yang akan melakukan penyelidikan bersama beberapa anak buah Rifky, Nicko pamit untuk kembali ke kantor.


" Kak Jo, maaf soal tadi pagi. Terima kasih hadiahnya, Dina sangat menyukainya."


" Sama - sama, sayang."


Ya. Setelah sampai di rumah Rifky, Medina membuka hadiah dari Jonathan. Dia tersenyum dan merasa bersalah setelah melihat isinya yang ternyata sebuah mantel bulu yang sangat cantik.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2