
Semalaman Rifky tidak tidur karena harus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa kembali ke Indonesia secepatnya. Status dirinya dan Medina belum menikah, jadi Rifky harus menjaga nama baik orangtua mereka terutama pak Hasan yang tinggal di desa. Pasti akan ada gunjingan dalam masyarakat apalagi untuk seorang gadis.
Waktu shubuh sudah tiba dan Rifky segera membangunkan Medina. Dia berpura - pura juga baru bangun dengan masuk ke dalam selimut yang sama dengan kekasihnya.
" Sayang... bangun yuk? Udah shubuh, sholat dulu nanti bisa lanjut tidur lagi." ujar Rifky.
" Hmmm... udah pagi, Kak? Dina masih ngantuk banget, dingin." lirih Medina.
" Iya, sholat dulu yuk? Nanti bisa dilanjut mimpi indahnya."
" Kakak kok tidur disini sih?"
" Hahahaaa... inikan kamar kakak, sayang... " Rifky menyentil kening kekasihnya.
" Ihh... sakit, Kak...!"
" Makanya cepetan bangun!"
Usai sholat shubuh, Rifky kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Matanya sudah tidak dapat dibuka karena semalaman tak tidur sama sekali.
" Kakaaakkk...! Kok tidur lagi sih?" teriak Medina.
" Ya Allah, sayang... ini masih pagi, kamu juga tidur lagi sana." gumam Rifky.
" Ish... Kakak tega! Udah jauh - jauh kesini cuma tidur di rumah!" kesal Medina.
Rifky membuka mata perlahan, menatap kekasihnya yang membuka pintu balkon. Apa rasa kesal bisa meredam dinginnya salju yang sedang turun deras?
" Sayang... Diluar dingin, masuk ya? Pakai mantelnya kalau keluar." ucap Rifky lembut.
" Apa pedulimu!" ketus Medina.
Kalau sudah marah seperti ini, Rifky harus mengalah daripada Medina kabur di negeri orang bisa semakin susah carinya.
" Bersiaplah, kita pergi sekarang." ucap Rifky pasrah.
" Tidak usah, Dina mau pulang saja!"
" Sayang... Jangan sekarang ya? Kakak masih ada pekerjaan yang belum selesai disini."
" Dina bisa pulang sendiri, Kak."
" Tidak boleh! Kamu hanya akan pulang bersamaku."
" Dina tidak mau tinggal disini, kak!"
Rifky menghela nafas panjang agar emosinya bisa melunak. Dirinya sadar bahwa kekasihnya itu masih sangat labil dan belum bisa berpikir dewasa.
" Kita jalan - jalan dulu yuk? Ada satu tempat yang ingin kakak tunjukkan padamu." bujuk Rifky.
Medina masih diam tak menanggapi ucapan Rifky. Tatapan sendu Rifky membuatnya sedikit luluh dan merasa bersalah juga.
" Lain kali saja, Kak. Pasti kakak banyak pekerjaan."
" Tidak ada yang lebih penting dari kamu, sayang..."
__ADS_1
Rifky memeluk kekasihnya dari belakang. Tak ada yang lebih penting dari hidupnya kecuali kebahagiaan Medina.
" Ayo bersiap! Kita jalan - jalan sebelum kakak ke kantor."
Rifky menggandeng kekasihnya menuruni tangga menuju lantai satu. Sampai di kamar Medina, Rifky mengambil pakaian ganti dan juga mantel milik gadis itu. Pria itu tak canggung sama sekali walaupun sebelumnya tak pernah menyentuh barang - barang pribadi milik perempuan. Dia jadi tersenyum sendiri saat teringat dulu ia sering memilihkan baju untuk Medina kecil setiap selesai mandi.
" Ternyata kangen juga sama Ibu." batin Rifky.
.
.
Rifky mengajak Medina untuk sarapan di Resto cepat saji yang menyediakan makanan khas Korea. Gadis itu nampak senang menikmati makanannya.
" Mau jalan kemana lagi, sayang?" tanya Rifky.
" Terserah kakak saja, Dina tidak tahu mau kemana."
" Baiklah, kita akan menghabiskan waktu seharian ini berdua. Asal bersamamu, semua akan terasa sangat indah, sayangku."
Usai sarapan, Rifky hanya berkeliling kota saja karena dirinya sebenarnya tak suka dengan keramaian. Apalagi tubuhnya yang terasa sangat lelah karena semalaman tidak tidur sama sekali.
Rifky dan Medina duduk di taman yang tidak terlalu ramai. Gadis itu tak pernah melepaskan genggaman tangannya, sesekali bersandar di bahu Rifky.
Puas duduk di taman, mereka memutuskan untuk ke pusat perbelanjaan. Namun saat ingin masuk ke mobil, mereka dihadang oleh beberapa pria yang tak dikenal.
" Kalian tidak bisa pergi dari sini!" seru salah satu dari mereka.
Medina hanya menatap mereka dari balik punggung Rifky. Kalau dari bahasa yang digunakan, sepertinya memang mereka mengincar Rifky atau Medina sebagai targetnya.
" Ikut dengan kami baik - baik atau kami menyeretmu!"
" Saya tidak merasa punya urusan dengan kalian, pergilah!"
" Boss kami ingin bertemu denganmu."
" Siapa...? Kenapa bukan dia yang datang langsung padaku?"
" Tidak perlu kau tahu! Cepat ikut dengan kami!"
Karena Rifky terus menolak, akhirnya mereka menyerang. Perkelahian tak dapat dihindari, ternyata mereka bukan lawan yang bisa diremehkan. Medina berdiri di samping mobil Rifky melihat aksi sang kekasih.
Karena lawan yang cukup banyak, Rifky kuwalahan menghadapi mereka. Beberapa kali Rifky terkena pukulan membuat Medina heran karena menurutnya gerakan Rifky kurang cepat. Tak ingin kekasihnya babak belur, Medina ikut berkelahi. Gerakan gadis itu sangat cepat sehingga musuh yang kini kuwalahan
Rifky heran dengan kekasihnya itu. Dia hanya mau membantu di saat dirinya sudah mulai terdesak. Haruskah ia terluka dulu baru kekasihnya itu bertindak?
" Kakak tidak apa - apa?" tanya Medina masih dengan tangan yang tak berhenti memukul musuhnya.
" I'm fine, hati - hati sayang..." Rifky juga lebih bersemangat dalam perkelahiannya.
Setelah cukup lama bertarung, akhirnya para penjahat itu kabur dengan tubuh babak belur. Mereka tidak menyangka bahwa gadis kecil seperti itu tenaganya sangat kuat.
" Kakak... wajahmu memar?" Medina cukup panik.
" Cuma luka kecil, sayangku." sahut Rifky sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kak Rifky sedang sakit ya? Sepertinya gerakan kakak sangat lambat saat bertarung tadi?"
" Masa' sih? Perasaan biasa saja, sayang."
" Jangan bohong! Ayo pulang, kakak harus istirahat."
" Sayang... Kakak tidak sakit. Kita bisa jalan - jalan lagi sekarang."
Medina menyandarkan tubuhnya di pintu mobil menatap wajah Rifky pucat. Beberapa kali kekasihnya itu juga menguap menahan kantuk.
" Apa semalam kakak tidak tidur?" cecar Medina.
" Mmm_..." Rifky ragu untuk jujur.
" Pulang sekarang! Kakak harus istirahat yang cukup."
" Asalkan bersamamu, kakak tidak akan merasa lelah."
Rifky memeluk Medina dengan erat. Dia tak peduli saat ini di tempat umum. Bisa sedekat ini dengan kekasihnya, hatinya sudah sangat bahagia.
" Kita ke kantor dulu, sayang. Biar nanti Hans ke rumah ambil berkas - berkas dan laptopnya." ucap Rifky lagi.
" Tapi kakak harus istirahat, istrinya kak Hans juga mau datang ke rumah."
" I love you, sayangku..."
" Nggak nyambung!"
Rifky mengecup kening Medina sekilas lalu menghubungi Hans untuk mengambil berkas meeting yang ada di kamarnya.
.
.
Rifky langsung merebahkan tubuhnya di sofa untuk beristirahat sembari menunggu Hans datang. Medina iseng duduk di kursi kebesaran Rifky sembari membuka berkas - berkas yang ada disana.
" Seperti apa ya rasanya jadi Boss besar? Mau apa - apa tinggal perintah, kayak jaman kerajaan saja." gumam Medina sambil tersenyum.
Rifky yang tadinya ingin tidur jadi terbangun lagi melihat kekasihnya yang mengoceh sendirian. Tingkahnya sungguh berbeda jauh dari saat berkelahi dengan para penjahat.
" Semua ini milikmu, sayang. Kamu boss besar disini," ujar Rifky lembut.
Medina kaget saat Rifky memeluknya dari belakang. Pelukan hangat yang selalu membuat Medina nyaman. Rasanya Medina tak ingin jauh lagi dari calon suaminya.
" Aku tidak butuh semua ini, Kak. Asal bersamamu, hidupku tidak akan kekurangan, terutama cinta dan kasih sayang."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1