
" Makan lagi...?" seru Rifky heran.
" Memangnya kenapa? Pelit, bilang aja nggak mau bayarin!" ketus Medina.
" Ya udah, mau berapa porsi sayangku?"
" Nggak usah, kakak nggak ikhlas!"
" Ya Allah... kenapa calon istriku ini sangat cantik?"
Rifky memesan dua porsi nasi goreng di bungkus. Walaupun gadisnya itu diam, tapi Rifky tahu dia tidak benar - benar marah.
" Ini, sayang. Kita pulang sekarang ya?"
" Hmm..."
" Jangan ngambek, nanti kakak cium lagi. Bukan hanya disini, tapi bisa turun kesini juga." bisik Rifky sambil menunjuk bibir Medina yang manyun.
" Dasar mesum...!" Medina mencubit pinggang Rifky cukup keras.
" Auwww... sakit, sayang." rintih Rifky sambil menggenggam erat tangan gadisnya yang masih menempel di pinggangnya.
Rifky segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena ingin menikmati waktu lebih banyak dengan gadis kesayangannya.
" Sayang, besok kakak berangkat setelah shubuh. Kamu tidak apa - apa kan ke sekolah sendiri?"
" Tidak masalah, biasanya juga Dina pergi sama Adam."
" Kakak pasti akan merindukanmu, sayang. Jepang sangat jauh dari sini, kakak tidak tenang meninggalkanmu sendiri."
" Nanti bisa telfon, kak. Selisih waktunya nggak terlalu lama kok."
" Iya, sayang. Kamu harus hati - hati dan waspada, banyak orang jahat yang berkeliaran."
Sampai di depan rumah, Medina segera turun dan menyuruh Rifky langsung pulang. Medina ingin segera istirahat, tak mau diganggu kekasihnya itu.
" Kak, langsung pulang aja ya? Dina ngantuk nih."
" Ya udah, tapi kita ketemu sebentar sebelum shubuh nanti ya? Rasanya berat berjauhan dari kamu, Calis sayangku."
" Udah, jangan lebay...! Nanti jangan lupa bawa oleh - oleh buat Dina ya?"
" Pasti, sayang. Kamu mau minta apapun pasti kakak berikan. Jangan pernah sungkan untuk meminta sesuatu pada kakak."
" Terimakasih, sayang." bisik Medina.
" Ya udah, kakak pulang dulu. Assalamu'alaikum..."
Rifky mengacak pelan rambut Medina. Wajah imutnya membuat siapa saja yang melihat pasti merasa gemas walaupun pada kenyataannya dia adalah gadis brutal yang sangat kejam saat berhadapan dengan penjahat.
" Wa'alaikumsalam."
¤ ¤ ¤
Seperti janjinya semalam, Rifky menemui Medina setelah sahur. Mereka duduk di teras menunggu waktu imsak tiba.
" Sayang, hhh... kakak bingung harus bicara apa sama kamu." ucap Rifky nyengir.
" Kenapa bingung? Tinggal bicara aja apa susahnya?"
" Apa kau akan merindukanku saat kita berjauhan?" tanya Rifky penuh harap.
" Mmm... gimana ya?" Medina nampak berpikir.
" Sayang...!" kesal Rifky.
__ADS_1
" Dina harus memikirkan jawaban yang tepat, kak. Yang namanya bulan puasa itu tidak boleh berbohong."
" Ish... kenapa jawabannya gitu sih? Bikin kakak nggak mood buat pergi. Kakak batalin aja pergi ke Jepang." ketus Rifky.
" Dihhh... bisa ngambek juga ternyata." ledek Medina.
" Udah, kakak mau pulang saja. Percuma ngomong sama preman pasar!"
Melihat raut wajah Rifky yang kesal membuat Medina sangat senang. Kapan lagi bisa membuat kekasihnya itu merajuk.
" Kak, jangan lama - lama perginya. Dina pasti merasa sangat kesepian saat kakak tidak ada disini." ucap Medina serius.
" Kamu tidak bohong, kan?" Rifky tak percaya dengan ucapan kekasihnya.
" Sejak kapan Dina bohong sama kakak? Dina memang sempat melupakan wajah kakak, tapi tidak dengan perasaan. Sedari kecil Dina menunggu kedatangan kakak kembali. Dua belas tahun bukan waktu yang sedikit untuk Dina menanti, sekarang jangan pernah pergi lagi." ungkap Dina.
" Maafin kakak, sayang. Harusnya kakak sering pulang untuk menemuimu. Tapi demi meraih cita - cita, kakak harus sedikit berkorban agar bisa membahagiakanmu suatu hari nanti."
" Aku tahu, kakak selama ini berjuang sendirian. Mulai sekarang, kita akan berjuang bersama - sama."
" Terimakasih, gadis kecilku."
Setelah imsak, Rifky berpamitan untuk sholat shubuh lalu kembali ke kota bersama kedua orangtuanya.
¤ ¤ ¤
Sekitar jam delapan pagi, Rifky dan orangtuanya sampai di rumah. Mereka duduk di ruang keluarga untuk beristirahat sambil mengobrol santai. Hal yang telah lama tidak terjadi dalam keluarga itu.
" Rifky... papa ingin bertanya padamu?" ucap pak Surya.
" Soal apa, Pa? Kalau soal perusahaan papa, Rifky belum bisa untuk saat ini." sahut Rifky.
" Bukan soal itu, Rifky... tapi soal putri pak Hasan." kata pak Surya.
" Memangnya kenapa dengan dia, Pa?" tanya mama Kamila.
Rifky mulai tidak suka jika orangtuanya ikut campur urusan pribadinya. Selama ini dia sudah diam dengan perlakuan kedua orangtuanya yang tak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang.
" Apa kau menyukai gadis itu?" tanya papa Surya.
" Tidak boleh! Dia itu tidak selevel dengan keluarga kita." seru mama Kamila.
" Rifky tidak butuh persetujuan mama! Level apa yang mama bicarakan?" kata Rifky lantang.
" Tenang dulu, Rifky. Kita bisa bicarakan ini baik - baik." ujar papa Surya.
" Rifky, mereka itu hanya orang miskin. Tidak sederajat dengan keluarga kita. Jika sampai kamu menikahinya, malu dengan para kolega kita." ucap mama tak mau kalah.
" Cukup, Ma! Jangan memandang rendah orang lain." bentak papa Surya.
" Jadi mama mengukur kebahagiaan dengan uang? Baiklah! Sekarang mama jumlahkan saja berapa uang yang telah mama berikan pada Rifky. Rifky akan membayar semuanya dan hubungan kita berakhir!" kata Rifky menahan amarah.
Rifky tidak ingin meluapkan amarah lebih besar lagi di hadapan kedua orangtuanya. Lebih baik dia pergi daripada akan terjadi keributan di bulan puasa ini.
" Rifky... tunggu! Papa belum selesai bicara." teriak papa Surya.
" Percuma, Pa. Selama kalian belum berubah, Rifky tidak akan pernah bisa menghargai kalian sebagai orangtuaku."
" Rifky_..."
" Cukup, Pa. Biarkan Rifky pergi, katakan saja berapa hutang Rifky pada kalian. Besok Rifky akan transfer ke rekening papa."
Rifky segera pergi meninggalkan rumah kedua orangtuanya dengan hati yang terluka. Kekecewaannya semakin dalam terhadap orangtuanya.
¤ ¤ ¤
__ADS_1
" Ma, harusnya kau tidak bicara seperti itu pada Rifky!" hardik papa Surya.
" Memang apa salahnya, Pa. Mama hanya ingin punya menantu yang tidak kampungan." sahut mama Kamila sinis.
" Ternyata kau tidak berubah juga, kau lebih memilih harta daripada anakmu sendiri...!"
Tak ingin berdebat lagi, papa Surya lebih memilih pergi. Dia segera bersiap untuk berangkat ke kantor daripada melihat istrinya semakin berulah.
Sebenarnya papa Surya tidak masalah jika Rifky menyukai Medina. Gadis itu sangat cantik dan juga sopan. Pak Hasan pasti mendidik putrinya dengan baik.
Sementara itu di Apartemen, Rifky merebahkan diri untuk beristirahat. Suasana hatinya sangat kacau dengan kejadian tadi di rumah.
" Assalamu'alaikum, Boss..." seru Nicko mengagetkan Rifky yang sedang merenung.
" Wa'alaikumsalam... kau tidak bisa mengetuk pintu dulu!" sahut Rifky ketus.
" Hmm... lagi puasa kenapa marah - marah sih? Datang bulan ya?" ledek Nicko.
" Sudah kau siapkan semua berkasnya?"
" Sudah, Boss. Semua pakaian juga sudah saya siapkan di koper."
" Kau dapat informasi apa tentang Devi dan keluarganya?"
" Maaf, Boss. Saya kehilangan jejaknya, dia sangat pintar mencari tempat persembunyian."
" Besok kau ke desa, sepertinya Devi akan menyerang lagi."
" Menyerang, Boss?"
" Iya, kemarin ada yang menyerangku. Tapi Medina juga ada bersamaku, aku takut dia jadi sasaran berikutnya karena tidak berhasil membunuhku."
" Apa aku akan menjaganya sepanjang hari?"
" Tidak, gadisku tidak selemah itu. Hanya saja dia selalu bertindak gegabah."
" Kenapa tidak kau telfon saja biar dia tidak berulah saat sendiri."
" Kau tidak tahu betapa kerasnya gadis itu. Semua keinginannya harus dituruti, kalau tidak bisa marah - marah sepanjang hari."
" Hahahaa... belum jadi istri saja sudah menang, apalagi nanti... bisa jadi budak kau." ledek Nicko.
" Gadisku tidak seperti itu."
" Baiklah, apa yang harus kulakukan disana?"
" Temui Medina dan Jefri untuk memperketat keamanan terutama untuk keluarga om Jamal. Devi mengenal keluarga om Jamal karena mama pernah mengajaknya kesana."
" Siapa Jefri?"
" Dia anak buah Medina, kalian buat rencana untuk menghadang para penjahat itu."
" Ok, apa perlu aku tambah bodyguard?"
" Tidak, kawal papa dan mama dari jauh."
Setelah membahas rencana dengan matang, mereka berdua tertidur pulas walaupun hari masih menjelang siang.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.