Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Terimakasih, sayang!


__ADS_3

Setelah cukup lama bermesraan di bathup, Rifky membantu istrinya untuk membilasnya di shower. Setelah bersih, Rifky membopong tubuh istrinya ke tempat tidur dengan ciuman yang tak terlepas dari bibir mereka.


" Kak_..."


" Ssttt... jangan takut, pelan - pelan saja." bisik Rifky.


Medina hanya bisa pasrah malam ini. Rifky benar - benar tak melepasnya walaupun ia melakukannya dengan sangat lembut. Rasa yang awalnya sakit berubah jadi kenikmatan yang membuat candu keduanya. Entah berapa kali mereka melakukannya, Rifky baru berhenti setelah Medina sudah kehabisan tenaga dan tertidur pulas. Rifky melihat jam di ponselnya dan ternyata sudah jam tiga pagi.


" Terima kasih, sayang! Kakak janji akan selalu membuatmu bahagia." bisik Rifky sembari mengecup kening istrinya cukup lama.


Rifky menyelimuti tubuh polos istrinya sampai ke leher lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rifky tak ingin tidur karena takut bangun kesiangan dan kehilangan waktu shubuh.


Selesai mandi, ia membuka laptop untuk memeriksa berkas yang dikirimkan Nicko kemarin. Belum berkas - berkas yang dikirimkan Jonathan dan Hans.


Jam setengah lima pagi, Rifky membangunkan Medina untuk segera mandi. Dia tahu istrinya sangat lelah, tapi harus tetap dibangunkan.


" Sayang, bangun yuk? Mandi dulu, udah pagi nih." bisik Rifky seraya mengusap lembut kepala Medina.


" Mmm... sebentar lagi, Kak." gumam Medina.


" Nanti bisa tidur lagi setelah shubuh, sayang."


" Temenin..." rengek Medina.


Rifky membopong tubuh polos istrinya lalu membawanya ke kamar mandi. Air hangat sudah tersedia di bathup sehingga tinggal masuk saja untuk berendam.


" Kakak sholat duluan apa nungguin kamu selesai mandi...?" tanya Rifky.


" Kakak duluan saja, Dina masih lama mandinya." jawab Medina.


" Ya udah, jangan lama - lama. Setelah shubuh nanti bisa tidur lagi."


.


.


Pukul sepuluh pagi, Medina terbangun. Rifky masih terlelap dengan memeluk dirinya. Medina yang merasa sangat lapar tidak bisa melanjutkan tidurnya.


" Kak... bangun!" Medina menarik hidung suaminya pelan.


" Mmm... ada apa, sayang?" sahut Rifky lirih.


" Dina lapar, makan yuk?"


" Pesen aja ya? Kakak masih mengantuk."


" Terserah, yang penting makan."


Rifky beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka sebelum memesan makanan di restoran hotel. Dengan jalan yang masih sempoyongan, ia meraih pintu kamar mandi dengan malas.


" Sayang, mau pesan makanan apa...?" tanya Rifky setelah keluar dari kamar mandi.


" Soto daging sama perkedel kentang. Minumnya jus Alpukat." jawab Medina.


" Ya udah, kakak lagi pengen ayam balado sama capcay jamur. Minumnya jus jeruk, kamu mau nggak?"


" Punya kakak aja porsinya ditambah, nanti Dina minta punya kakak."


" Iya, sayang."


Rifky kembali membuka laptop sembari menunggu makanannya datang. Medina ikut duduk di sofa sambil bersandar di bahu suaminya.


" Masih ngantuk...?" tanya Rifky.


" Nggak, cuma ini masih sakit." sahut Medina cemberut.

__ADS_1


" Makanya sering dipakai biar nggak sakit." goda Rifky.


" Apaan sih! Dina nggak mau lagi, kakak jahat nggak mau berhenti!"


Rifky mendekap erat tubuh kekasih halalnya sambil tersenyum. Ternyata kehidupannya menjadi lebih berwarna setelah menikah dengan orang yang dicinta.


Setelah makanan datang, Rifky menyuapi istrinya dengan telaten. Istrinya yang sangat manja membuatnya terlihat sangat menggemaskan dan Rifky sangat menyukainya daripada Medina yang mandiri dan terkesan arogan di depan musuh - musuhnya.


" Udah, Kak. Dina udah kenyang." tolak Medina saat Rifky kembali menyodorkan sendoknya.


" Ya udah, kamu mau istirahat lagi?"


" Dina pengen jalan - jalan."


" Katanya masih sakit, sayang?"


" Kan cuma di dalam mobil aja, nggak turun."


" Keliling kota aja...?"


" Hmm..."


" Ok, nanti setelah zuhur sekalian ya? Kakak selesaikan makan dulu."


.


.


Medina sangat senang melihat gedung - gedung tinggi menjulang seakan menyentuh langit. Dia tersenyum sembari memeluk erat lengan suaminya yang sedang mengemudi.


" Kak, kantor kakak yang mana...?"


" Tadi sudah terlewat, Yang. Memangnya kenapa...?"


" Nanti sore mampir kesana yuk? Dina pengen naik keatap melihat sunset dari sana."


" Terima kasih, suamiku." Medina mencium pipi suaminya sekilas.


Rifky dan Medina keliling kota hingga waktu Ashar tiba. Keduanya menghabiskan kencan tanpa turun dari mobil. Rifky kembali tersenyum melihat binar bahagia di wajah istrinya. Namun bersamaan dengan itu, ponsel di saku jaketnya berdering.


Rifky : " Hallo... Ada apa, Nick? Aku sudah bilang jangan menggangguku!"


Nicko : " Sorry, Boss. Ini urgent dan hanya Boss yang bisa menanganinya."


Rifky : " Aku juga butuh privasi, Nick!"


Nicko : " Tapi ini sangat penting, Boss. Bisakah kau datang ke kantor sekarang?"


Rifky : " Iya...! Kau sangat menyebalkan!"


Rifky sangat kesal karena kencannya terganggu oleh ulah Nicko. Harusnya ia potong saja gaji asistennya yang ngelunjak itu.


" Ada apa, Kak? Kenapa jadi marah - marah, sih?" tanya Medina.


" Huft... kita ke kantor sekarang, sayang. Ada pekerjaan yang harus kakak selesaikan. Nicko hanya membuatku kesal saja, kerjaan gitu aja nggak bisa." keluh Rifky.


" Jangan marah, Dina takut."


" Hhh... iya, kakak nggak marah."


" Ya udah, langsung ke kantor aja. Mungkin memang hanya kakak yang bisa mengerjakannya."


" Terima kasih, sayang. Kamu sangat pengertian sekali, I love you." Rifky mencium bibir istrinya dengan lembut.


" I love you, too... my husband."

__ADS_1


Rifky putar balik di persimpangan jalan untuk ke kantornya. Walaupun kesal namun dia tak berani mengungkapkannya di depan sang istri. Lagipula, Medina tidak merasa keberatan harus mengakhiri kencan mereka hari ini.


Sampai di kantor, Rifky langsung mengajak istrinya untuk sholat Ashar terlebih dahulu sebelum menemui Nicko yang entah pergi kemana.


" Sayang, kamu istirahat saja dulu. Kakak mau cari Nicko sebentar." ujar Rifky.


" Jangan lama - lama, Kak." sahut Medina.


" Kenapa...? Kakak juga cuma di depan, sayang."


" Kalau Dina kangen gimana?"


" Ya Allah... istriku manis sekali. Bisa nggak minta yang seperti semalam lagi sekarang." goda Rifky.


" Katanya mau kerja? Udah keluar sana! Dina mau nonton Drakor saja, siapa tahu ada yang mirip Kak Hans." sahut Medina tersenyum lebar.


" Kamu ngefans banget sama Hans! Suamimu ini jelas lebih tampan dari dia."


" Hahahaa... Dina cuma bercanda, Kak. Oh iya, kak Hans sama kak Jo udah pergi?"


" Sudah tadi pagi. Adam dan Johan ikut Jonathan ke Jepang, Bayu ikut Hans ke Korea. Selain kuliah, mereka juga akan bekerja di perusahaan."


" Kakak yakin mereka mampu...?"


Rifky duduk di samping istrinya lalu mengecup pipinya gemas. Bukannya beranjak mencari Nicko, dia malah tiduran di pangkuan istrinya.


" Kalian tidak menyadari kemampuan kalian sendiri. Karena tak ada yang memfasilitasi saja kemampuan kalian tidak berkembang. Adam yang bercita - cita jadi dokter, dia memiliki kemampuan lain yang lebih kompeten dari itu. Johan, dia memiliki kemampuan dalam bidang IT. Jika dia bisa mempelajarinya lebih dalam, dia bisa jadi peretas yang handal. Bayu, dibalik sifatnya yang tak bisa serius itu, dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal perencanaan ataupun ide yang sulit dipahami orang lain. Dia bisa mengembangkan sebuah penemuan kecil menjadi sesuatu yang luar biasa."


" Kalau Ririn...?"


" Dia itu calon Designer ternama. Sebenarnya aku ingin mengirimnya ke Paris, tapi aku tahu kamu pasti kesepian. Kau ingat gaun resepsi yang kamu pakai kemarin? Itu adalah hasil karya temanmu itu."


" Kalau aku, kemampuanku apa...? Semua temanku memiliki kemampuan luar biasa padahal di sekolah nilaiku paling tinggi."


" Kemampuanmu juga sangat luar biasa,"


" Apa...?"


" Kau bisa memuaskanku di ranjang." bisik Rifky.


" Aakkkhhh...!!!"


Medina yang kesal dengan jawaban Rifky langsung mendorong suaminya hingga terguling di lantai. Sakit? Tentu saja! Posisi Rifky yang tadinya sangat nyaman tiba - tiba terhempas ke lantai dengan keras.


" Auwww...! Sayang, kenapa mendorongku?" rintih Rifky.


Lutut dan punggung Rifky sangat sakit karena membentur lantai dan terguling sampai dua kali. Medina yang melihatnya acuh saja kemudian beranjak keluar dari kamar pribadi suaminya.


" Mey... kau disini?" ucap Nicko kaget.


" Hmm... kenapa kakak kaget begitu?" sahut Medina datar.


" Suaminya kemana? Kok sendirian aja disini?"


" Lihat saja di dalam, mungkin temanmu itu butuh bantuan."


Nicko yang bingung segera masuk ke dalam kamar mencari bossnya. Dia sangat terkejut saat mendapati Rifky duduk di lantai menahan sakit.


" Boss...! Kau kenapa...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2