Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Jangan menangis!


__ADS_3

" Semuanya cepat ke atas!" teriak Rifky.


Di pimpin Nicko, mereka naik ke lantai atas setelah menyalakan semua lampu. Mereka memeriksa setiap ruangan yang ada diatas.


" Kak, lihat darah ini. Pasti ini jejak kakaknya Anna, aku menembak pahanya tadi." kata Medina.


" Kita ikuti tetesan darah ini, sayang. Tapi kamu beneran tidak apa - apa...?" Rifky sangat khawatir melihat memar di wajah kekasihnya.


" Dina baik - baik saja, Kak."


" Kalian berjaga di bawah, yang lain di lorong ini dan beberapa orang ikut denganku." perintah Rifky.


Akhirnya Rifky, Medina, Nicko, Jonathan dan beberapa orang dari pihak kepolisian naik ke atap lewat tangga di ujung ruangan.


Mereka sangat terkejut begitu sampai diatas. Orangtua Rifky diikat pada tiang besi dengan mulut dibekap. Medina yang marah ingin sekali menghajar mereka namun dengan cepat Jonathan menariknya mundur.


" Jangan gegabah, Mey! Mereka bawa sandera." bisik Jonathan.


" Shittt...! Harusnya aku menembaknya tepat di kepalanya tadi." geram Medina.


" Tenanglah, sayang. Jangan mudah terpancing emosi, pikirkan keselamatan Papa dan Mama." bisik Rifky.


" Iya, Kak. Maafin Dina, maaf tidak bisa menjaga mereka dengan baik."


Rifky merengkuh tubuh kekasihnya dengan erat. Dikecupnya kening gadisnya sekilas sebelum berjalan semakin mendekat ke arah Anna dan Jason.


" Lepaskan mereka, Anna! Apa urusanmu dengan orangtuaku!" teriak Rifky.


" Apa urusannya? Tentu saja mereka ikut andil menjebloskan saya ke penjara!" sinis Anna.


" Menyerahlah, Nyonya! Anda tidak akan bisa pergi kemana - mana sekarang." seringai Medina.


" Diam kau bocah kecil! Kau sudah menembakku, jadi kau harus membayar semua perbuatanmu!" teriak Jason.


Medina tertawa pelan mendengar ancaman Jason yang menatapnya tajam. Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam diri gadis itu menghadapi bahaya apapun.


" Jangan menggertakku, Tuan berpangkat! Lepaskan mereka atau kau mati di tanganku!" ancam Zahra.


" Coba saja kalau kau berani, bocah! Selangkah saja kau mendekat, kutembak kepala wanita ini!" Jason menunjuk ke arah Kamila.


Wanita paruh baya itu sudah menangis membayangkan dirinya akan terpisah jauh dari suami dan anaknya.


" Mama..." lirih Medina.


" Apa yang sebenarnya kau inginkan, Anna!" seru Rifky.


" Dimana Hasan?" sahut Anna.


" Untuk apa...? Apa belum cukup kau hampir membunuhnya?"


" Ayah...? Apa hubunganmu dengan ayahku!" teriak Medina.


" Ayahmu...? Kau putri Hasan...?" ucap Anna terkejut.

__ADS_1


" Jadi kau benar - benar melukai ayahku?"


Rifky merangkul tubuh kekasihnya agar tidak berbuat nekat. Terlihat dari sorot matanya, gadis itu sangat marah. Usianya yang masih sangat muda membuat gejolak dalam hatinya berubah dengan sangat cepat.


" Sayang, sebaiknya kau turun dan tunggu kakak di bawah." bisik Rifky.


" Tidak, dia harus mendapatkan balasannya!" geram Medina.


" Dengarkan aku, sayang. Kamu harus tenang, jangan melakukan hal - hal yang bodoh lagi."


" Iya, Dina tahu."


" Surya ...! Suruh mereka menyiapkan helikopter kesini sekarang juga atau kau kubunuh!" perintah Jason.


" Tidak, kau akan mati disini Jason." seringai Surya.


Buukkk!


Sebuah pukulan mendarat di perut Surya hingga membuat Nyonya Kamila menjerit.


" Cukup, Kak. Dina nggak bisa melihat Papa dan Mama seperti itu." lirih Medina.


" Kakak tahu, sayang. Kita ulur waktu sebentar lagi." bisik Rifky.


Entah sejak kapan, Nicko dan Jonathan sudah pergi dari tempat itu entah kemana. Rifky terlihat sangat tenang seraya merangkul Medina yang menatap iba orangtuanya.


Hanya butuh waktu lima menit, tiba - tiba Nicko dan Jonathan sudah berdiri di belakang Jason dan Anna. Ternyata mereka naik ke atap lewat balkon kamar Rifky di bantu beberapa anak buahnya dibawah.


" K-kau... bagaimana kau bisa disitu?" Jason dan Anna terlihat sangat kaget.


" Jangan berpikir bisa kabur dari sini, Tuan!" seru Rifky.


Namun diluar dugaan mereka, ternyata Anna juga membawa senjata yang ia simpan di dalambtas selempangnya. Dengan cepat wanita itu menarik pelatuknya dan langsung diarahkan ke tubuh Surya yang masih terikat.


Doorrr... Doorrr... Doorrr!!!


" Aaakkkhhh...!!!"


.


.


Ambulance datang sepuluh menit setelah kejadian. Rifky menangis sambil memeluk tubuh yang bersimbah darah itu.


" Bertahanlah, kamu pasti kuat." Rifky menatap sendu tubuh lemah di pelukannya.


" Jangan menangis! Kau terlihat sangat jelek."


Sampai di rumah sakit, Rifky ikut mengantar sampai di depan ruang ICU. Nicko dan yang lainnya menyusul dengan mobil di belakangnya tadi.


" Boss, are you oke?" lirih Jonathan.


" Bagaimana kau bisa bertanya seperti itu, lihat itu! Orang yang paling berarti dalam hidupku terbaring lemah di dalam sana." teriak Rifky.

__ADS_1


" Tenang, Boss. Semuanya pasti baik - baik saja." hibur Nicko.


" Apakah dia akan selamat, Nick?"


" Pasti, Boss. Kita harus tegar dan terus berdo'a agar dokter bisa menyelamatkannya."


Sementara itu di tempat lain, Anna dan Jason langsung diseret ke dalam penjara. Setelah insiden tadi, polisi langsung mengumpulkan semua bukti kejahatan mereka. Dengan pasal berlapis, mereka berdua akan dijatuhi hukuman berat sesuai dengan kejahatannya.


" Sial...! Gara - gara mereka aku harus mendekam lagi di penjara!" teriak Anna.


Sementara Jason, dia akan menjalani sidang kode etik setelah pemeriksaan bekas perkara selesai karena dia masih menjabat sebagai abdi negara saat tertangkap melakukan kejahatan dan akan dipecat secara tidak hormat.


.


.


Satu bulan kemudian,


Rifky sudah mulai tenang setelah kejadian satu bulan yang lalu. Walaupun sekarang dia lebih menutup diri dan selalu berwajah pucat, namun ia tetap bertanggung jawab untuk mengurus pekerjaannya. Ribuan nyawa bergantung padanya saat ini agar bisa terus menyambung kebutuhan hidup.


" Boss, hari ini ada meeting dengan klien dari Singapore. Mau datang sendiri atau perlu kutemani?" tanya Nicko.


" Kau saja yang pergi, Nick. Aku mau ke rumah sakit nanti saat jam makan siang. Tidak tahu entah kembali atau tidak."


" Aku mengerti dengan yang kau rasakan. Pergilah, besok Om Jamal yang akan menjemput pak Hasan dari Singapore."


" Ayah sudah sembuh?"


" Iya, beliau sudah dinyatakan sembuh satu minggu yang lalu. Tapi sepertinya masih butuh observasi selama dua hari ke depan."


Rifky berdiri di dinding kaca menatap pemandangan kota yang sangat indah. Siang yang cerah, mentari seakan tersenyum hingga memancarkan sinarnya yang berkilauan ke seluruh penjuru negeri.


" Semoga ada keajaiban, Nick. Sampai kapan aku mampu menanggung semua beban ini." lirih Rifky.


" Jangan berkecil hati, Boss. Tuhan tidak akan membiarkan makhlukNya dalam keadaan terpuruk selamanya. Ujian ini adalah awal dari naiknya derajad manusia di hadapan Sang Pencipta."


" Kau benar, Nick. Terima kasih sudah memberikan support padaku setiap hari, setiap waktu."


" Hei... Kita ini saudara, jangan lupakan itu! Seorang saudara itu tidak akan membiarkan saudaranya yang lain menanggung beban sendirian."


" Thank you, Brother. Kau saudara terbaikku."


Rifky memeluk Nicko dengan erat. Dia hanya berdo'a semoga orang terpenting dalam hidupnya itu segera bangun dari koma yang sudah sebulan tak ada perkembangan apapun. Rifky juga selalu teringat dengan pesan terakhir sebelum masuk ruang ICU, 'Jangan menangis '.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2