Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Baby girl


__ADS_3

Tepat pukul setengah dua siang, Medina pamit pada Ayahnya untuk pergi ke Korea. Tak lupa ia membawa titipan Ayahnya untuk Hans yang dibungkus kertas dengan rapi.


" Dina pergi dulu, Yah. Jaga kesehatan, jangan lupa makan." ucap Medina sendu.


" Iya, Ayah bukan anak kecil lagi. Kamu harus nurut apa kata suamimu, jangan membantah. Jangan suka ngambek juga, suami kamu itu sudah lelah memikirkan pekerjaannya, jangan ditambah dengan sifat kekanakanmu itu."


" Ayah tidak usah khawatir, Rifky pasti akan membuat Dina bahagia dan tidak akan ngambek lagi." kata Rifky.


Usai berpamitan, Rifky langsung mengajak Medina masuk ke dalam mobil. Kali ini Nicko yang menyetir karena tadi dari kota Rifky yang berada di kursi kemudi.


" Kak, mampir ke Supermarket sebentar ya?"


" Mau beli apa, sayang?"


" Pengen beli mie instan, pasti di korea tidak ada."


" Disana banyak, sayang."


" Tapi yang merk 'itu' tidak ada."


" Baiklah, nanti kalau sudah dekat Bandara saja."


Karena jalanan tidak terlalu padat, Medina dan Rifky sampai di Bandara setengah jam lebih cepat dari waktu keberangkatan. Sambil menunggu, mereka masuk ke supermarket seperti permintaan Medina saat di jalan tadi.


" Kak, lain kali kita ke Jepang ya?"


" Mau apa kesana?"


" Pengen ketemu anak dan istrinya kak Jonathan."


" Iya, kalau ada waktu kita kesana."


Selesai berbelanja, mereka langsung ke Bandara menuju privat jet yang sudah siap lepas landas. Nicko mengantarkan mereka sampai masuk ke dalam pesawat.


" Mey... cepat pulang, hampa hidupku tanpamu." seru Nicko.


" Bye, kak Nicko...!" Medina melambaikan tangannya dengan senyuman lebar.


" Sayang...!" tegur Rifky.


Medina merangkul lengan Rifky seraya tersenyum. Dia tahu suaminya cemburu tiap kali ia terlihat akrab dengan ketiga temannya.


" Ayo masuk, Dina capek pengen duduk."


" Jangan seperti itu lagi, walaupun dia teman - temanku kamu jangan terlalu dekat. Apalagi dengan Nicko yang nggak laku itu."


" Ssttt...! Jangan bicara begitu, harusnya kita mendoxakan kak Nicko biar cepet dapat jodoh."


" Iya, sayangku."


.


.


Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya Rifky dan Medina sampai di Korea. Rifky sengaja tidak memberitahu Hans karena asistennya itu pasti bersikeras untuk menjemputnya.


" Kak, istrinya kak Hans masih di rumah sakit, ya?" tanya Mefina.


" Iya, sayang. Kamu mau jenguk ke rumah sakit atau tunggu mereka pulang saja?"


" Ke rumah sakit aja, Kak. Dina nggak sabar pengen lihat anaknya kak Hans."

__ADS_1


" Ya udah, tapi kita istirahat dulu. Siang saja kesana, sekalian kakak ajak kamu ke kantor."


" Beneran? Dina boleh ikut ke kantor?"


" Boleh, sayang. Kantor itukan milikmu juga."


" Terima kasih, suamiku."


" Sama - sama istriku yang cantik."


Rifky dan Medina sampai di rumah pribadi milik Rifky yang sudah bertahun - tahun ia tempati sejak masih kuliah dulu. Mereka di sambut oleh beberapa pelayan yang juga sudah lama bekerja disana.


" Selamat datang, Tuan... Nyonya."


" Siapkan makanan untuk kami, satu jam lagi kami turun." perintah Rifky.


" Baik, Tuan."


Rifky segera mengajak Medina naik ke lantai atas menuju kamarnya. Mereka akan membersihkan diri dulu sebelum makan walaupun sudah hampir pagi.


" Sayang, kamu atau kakak dulu yang mandi?"


" Kakak saja duluan, Dina pengen rebahan sebentar."


" Ya udah, tapi jangan tidur. Kita makan dulu terus tunggu shubuh sekalian."


" Masih lama, Kak."


" Bantah terus kalau dibilangin sama suami."


Medina hanya tersenyum jika melihat sang suami sudah ceramah seperti kepala sekolah. Kalau sudah seperti ini, hanya satu yang bisa membuat Rifky diam yaitu pelukan.


" Bilang aja pengen, ayo!"


Rifky langsung mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak peduli jika Medina meronta minta diturunkan.


" Kak...! Dina belum pengen mandi."


" Jangan banyak alasan, bilang aja pengen minta jatah." seringai Rifky.


" Ish... Jangan ngaco, deh!"


Seberapa kuat ia meronta, namun tenaga sang suami jauh lebih besar. Medina hanya bisa pasrah saat dirinya harus menuruti keinginan sang suami untuk proses mempercepat dapat keturunan.


.


.


Siang hari, Rifky datang ke rumah sakit bersama sang istri. Hans sampai terkejut saat bossnya itu sudah berdiri di depan pintu.


" Assalamu'alaikum," sapa Rifky dan Medina.


" Wa'alaikum salam, Boss... Kau benar - benar datang?" seru Hans senang.


" Jangan berisik, nanti anakmu terbangun." tegur Rifky.


" Selamat kak Hans dan kak Sandra, baby'nya laki - laki atau perempuan?"


" Lihat saja sendiri, terima kasih sudah menyempatkan waktu datang jauh - jauh kesini." ucap Hans.


Istri Hans yang sedang menimang anaknya tersenyum dan juga berterima kasih karena Medina memberikan kado yang untuk anaknya.

__ADS_1


" Kak Sandra, baby girl...!" pekik Medina saat melihat wajah cantik bayi kecil yang sangat menggemaskan dengan kain warna pink yang membalut tubuhnya.


" Sayang... Jangan keras - keras!" tegur Rifky sambil membekap mulut Medina.


" Baby nyaman banget tidurnya, boleh Dina gendong, Kak?"


" Of course, kamu juga calon ibu. Belajarlah mulai dari sekarang. Jaga pola makan dan perbanyak makan buah dan sayur. Jangan mengkonsumsi makanan instan terlalu banyak." ujar Sandra.


" Iya, Kak. Baby'nya cantik dan lucu."


Sementara Medina sedang menimang baby girl yang menggemaskan itu, Rifky mengajak Hans untuk bicara diluar.


" Ada apa, Boss?" tanya Hans.


" Bagaimana pekerjaan kantor?"


" Aman, semua meeting aku tunda sampai Sandra keluar dari rumah sakit."


" No, kau bisa cuti sampai istrimu pulih dan bisa merawat anak kalian."


" Maksud Boss apa?"


" Aku yang akan mengurus pekerjaan selama dua minggu ke depan. Kau di rumah saja urus anak dan istrimu. Aku akan memanggilmu jika ada keadaan darurat saja."


" Tapi, Boss... Aku tidak masalah harus bekerja. Ibunya Sandra juga akan datang dan tinggal di rumah sampai satu bulan ke depan."


" Kau lebih dulu menikah, harusnya lebih peka pada keluargamu. Saat ini istrimu baru saja melahirkan, jangan sampai ia terkena dampak baby blues."


" Kau benar, aku tidak berpikir sejauh itu. Mungkin aku memang butuh cuti."


" Aku datang juga karena memikirkan keponakanku, Hans. Istriku juga sangat senang disini, jadi nikmati harimu menjadi orangtua baru."


" Thank you, Boss. Kau memang yang terbaik."


" Hmm... Hari ini kau ikut ke kantor sebentar. Tunjukkan padaku berkas apa saja yang sedang berjalan. Istriku akan disini untuk menemani anak dan istrimu."


" Baiklah, kita bisa pergi sekarang."


Rifky dan Hans kembali ke dalam ruang rawat istri Hans. Medina masih betah menimang baby mungil itu sedangkan Sandra tidur karena tubuhnya belum pulih.


" Sayang, kakak ke kantor dulu sama Hans sebentar. Kamu temani baby girl yang cantik ini dulu, kasihan Sandra sendirian kalau kamu ikut." pamit Rifky.


" Iya, Dina akan jaga baby girl dengan baik. Oh iya, kak Hans... Bayu dimana...?"


" Bayu tinggal di Apartemen dekat dengan Universitas. Jadi dia akan lebih mudah ke kampus dan kantor."


" Nanti suruh Bayu ke rumah, ada titipan dari orangtuanya. Kak Hans juga ada titipan dari Ayah, tapi nanti Dina antar setelah kalian pulang."


" Terima kasih, Mey."


Medina meletakkan bayi yang sudah tertidur lelap itu ke dalam box setelah Rifky dan Hans pergi. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan ikut berkelana di alam mimpi.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2