
Beberapa hari kemudian, Rifky dan Medina ikut menjemput Hans serta anak istrinya di rumah sakit. Medina yang menggendong baby cantik Hans sejak di dalam mobil hingga sampai rumah.
" Kak Hans, siapa nama putri cantik ini?" tanya Medina.
Kini mereka sudah sampai di rumah Hans dan Medina mengantar baby girl itu sampai ke kamarnya dan meletakkannya ke dalam box.
" Namanya SIENA HANSA," jawab Hans.
Entah ada artinya atau tidak, tapi Hans sangat menyukai nama itu. Nama belakangnya gabungan dari namanya dan sang istri.
" Nama yang cantik, baby Siena... Selamat datang, sayang. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia." ucap Medina sambil mengusap pelan baby Siena.
" Kak Hans, Siena waktu lahir udah di adzani?" ucap Medina lagi.
" Adzan...?"
" Kau tidak tahu adzan, Hans?" tanya Rifky menyelidik.
" Tahu, Boss. Tapi tidak hafal, maksudku belum..." jawab Hans malu.
" Kak Rifky, kamu saja yang adzani baby Siena." pinta Medina.
" Iya, kak Rifky. Saya mohon, kami memang belum begitu paham soal agama." ucap Sandra.
" Baiklah, tolong bawa sini baby Siena. Aku belum berani angkat sendiri bayi sekecil ini."
Medina mengangkat baby Siena dari dalam box lalu meletakkannya dalam pangkuan suaminya dengan hati - hati. Setelah itu, Rifky segera melantunkan adzan di telinga bayi kecil Siena.
" Alhamdulillah..." lirih Medina.
" Ini, sayang. Kamu taruh lagi baby Siena ke dalam box, kakak mau bicara sebentar sama Hans." ujar Rifky.
" Iya, Kak. Sini, sayang... Digendong sama Aunty Dina."
" Sepertinya kita juga akan segera mendapatkan baby lucu seperti ini, sayang." bisik Rifky.
" Aamiin..." sahut Medina pelan.
.
.
Hari ini Medina ikut suaminya ke kantor karena merasa bosan jika ditinggal sendirian di rumah. Pelayan di rumahnya sebagian besar hanya bisa berbahasa Korea saja sehingga dirinya sangat sulit untuk berkomunikasi.
" Sayang, kamu istirahat saja di kamar kalau lelah? Semalam juga kamu sampai larut jagain baby Siena." ujar Rifky.
" Dina kasihan sama Kak Sandra dan Kak Hans. Orangtua mereka tidak jadi datang kesini, padahal kak Sandra masih dalam masa pemulihan." ucap Medina.
" Kakak tahu, nanti kakak akan cari baby sitter untuk Siena. Hans terlalu keras kepala menolak baby sitter, harusnya dia juga pikirin kondisi Sandra."
" Nanti biar Dina yang bicara sama Kak Hans."
" Iya, sayang. Semiga saja Hans mau terima tawaran kita, kalau perlu ambil salah satu pelayan dari rumah kita."
Medina masih setia duduk di pangkuan suaminya dengan manja. Walaupun mereka sedang mengobrol, namun Rifky tetap fokus dengan laptop di hadapannya.
" Oh ya, Kak. Kak Jonathan katanya mau kesini dengan anak dan istrinya." ucap Medina.
__ADS_1
" Kapan...? Kok dia nggak chat kakak, sayang? Di group juga tidak ada, loh?" sahut Rifky.
" Baru tadi pagi kak Jo chat Dina, tapi Dina lupa mau bilang sama kakak."
" Kenapa harus bilang sama kamu? Aku yang sudah sejak lama berteman dengan dia malah tidak di kasih tahu. Padahal kakak ini atasan dia."
" Kak Rifky jemput sana, sekalian antar aku ke Apartemen Bayu."
Rifky menghentikan jari - jemarinya yang sedang mengetik bahan presentasi di laptop. Dia langsung mempererat dekapannya, menciumi leher jenjang sang istri.
" Kalau kerjanya ditemani kamu seperti ini terus, kakak rela jika harus lembur sampai pagi." bisik Rifky.
" Ish... Siapa juga yang mau datang ke kantor setiap hari? Ini kenapa bukan sekretaris kakak yang mengerjakan?"
" Ini file penting, hanya aku dan Hans yang boleh tahu isi dari proyek ini. Ini proyek besar, tidak boleh bocor ke perusahaan lain."
" Jadi kakak sendiri yang membuat design proyek ini?"
" Iya, sayang. Kenapa...?"
" Bagus, ini untuk pembangunan Mall, ya?"
" Hmmm..."
" Kak, aku mau ke kamar dulu."
" Ayo."
" Kok ayo? Dina bisa ke kamar sendiri, terusin pekerjaan kakak."
" Ada pekerjaan yang lebih penting daripada berkas - berkas ini, sayang."
" Kakaakkk...! Kak Jo minta dijemput sebentar lagi." sungut Medina.
" Dia akan datang satu jam lagi, masih ada waktu untuk satu kali permainan." lirih Rifky.
.
.
Dengan wajah yang ditekuk, Medina mengikuti langkah Rifky menuju basement kantor. Sedari tadi Rifky bertanya namun tak ada sahutan sama sekali.
" Sayang... Mau sampai kapan kamu diam? Ayo masuk ke mobil, sebentar lagi Kim datang." ujar Rifky.
Medina langsung masuk ke dalam mobil namun di bagian belakang membuat Rifky sedikit kesal juga. Kenapa dia harus semarah itu hanya karena masalah sepele.
" Bisakah pindah ke depan? Atau kita pulang saja, tidak usah jemput Jonathan." ujar Rifky pelan.
Medina pindah ke depan namun tetap diam. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu saat ini, namun ia enggan untuk berbicara dengan suaminya.
" Sayang, Jonathan akan tinggal bersama kita selama disini. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Rifky.
" Iya,"
" Kenapa kayak gitu, sih? Masih marah soal tadi?"
" Nggak."
__ADS_1
" Medina...!" sentak Rifky.
" Dina lagi nggak pengen ngomong sama kakak, jadi jangan ganggu dulu."
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Rifky dan Medina sampai di Bandara untuk menjemput Jonathan dan keluarganya.
" Sayang, itu Jonathan sudah datang." Rifky menunjuk arah di depannya.
" Tampan sekali, " gumam Medina membuat Rifky kaget.
" Kamu bilang apa, Dek!"
" Kakak nggak lihat dia sangat tampan?"
" Medina...! Aku ini suamimu, tidak pantas kau mengatatakan itu pada pria lain."
" Ish... Apaan sih! Ayo cepat, Dina nggak sabar pengen peluk dia."
Jonathan semakin mendekat dengan senyum lebarnya kearah Rifky dan Medina. Rifky justru menatap kesal pada istrinya yang hendak menyambut Jonathan. Dia langsung menarik pinggang istrinya begitu Jonathan hanya berjarak beberapa jengkal saja.
" Selamat siang, Mr. Rifky..." sapa Ayumi, istri Jonathan.
" Siang, Ayumi. Bagaimana perjalanannya? Pasti sangat merepotkan membawa dua anak balita." sahut Rifky.
" Tidak, mereka justru senang naik pesawat."
" Kenalkan, ini istriku Medina."
" Hai... Medina, senang bertemu denganmu. Saya, Ayumi... Ini anak pertama saya Alicia Kim, yang satunya Arata Kim."
" Hai juga, Nona Ayumi. Senang bisa berkenalan langsung denganmu. Kapan - kapan berkunjunglah ke Indonesia."
" Iya, nanti saya akan berkunjung dengan anak - anak."
Medina mengambil alih si kecil Arata dari gendongan Jonathan. Dengan gemas ia memeluk dan menciumi pipi gembul Arata yang terlihat sangat senang bertemu dengannya.
" Hai... Anak tampan? Kau lucu sekali." seru Medina.
" Mey... Kau tak merindukanku...?" seloroh Jonathan.
" Kita juga belum lama ini ketemu, Kak. Untuk apa aku merindukanmu?" sahut Medina.
" Ayo pulang, anak - anak pasti lelah. Kalian tinggal saja bersamaku." ujar Rifky.
" Apa tidak merepotkan, Boss? Kami bisa tinggal di hotel. Hanya tiga hari aku disini, Ayumi memaksa untuk menjenguk Sandra."
" Nothing, kasihan anak - anak kalau di hotel. Biasanya juga kau menginap di rumahku."
Medina menggendong Arata yang masih berumur satu tahun, sedangkan Alicia yang sudah berusia tiga tahun di gandeng oleh ibunya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.