
" Jika bahagiamu sesederhana ini, aku janji akan selalu membuatmu tersenyum. Akan kuhapuskan luka dihatimu dan kugantikan dengan cahaya cinta yang akan selalu menyinari jiwamu." batin Rifky.
Selesai dengan foto - foto yang tidak karuan para remaja itu, Rifky mengajak mereka kembali ke penginapan untuk sholat maghrib sebelum pulang.
" Sayang, besok kakak mau pulang dulu ke kota. Mungkin malamnya baru kembali." kata Rifky saat hanya berdua saja di depan penginapan bersama Medina.
" Kakak punya kesibukan apa di kota? Kok mondar - mandir ke kota terus?"
" Hanya pekerjaan kecil saja, Calis. Pasti kangen ya kalau nggak ada kakak?"
" Ish... justru Dina sangat senang tidak ada kak Rifky. Tidak ada yang menggangguku lagi."
" Hmm... yakin nggak kangen?"
" Apaan sih? Ayo pulang, ayah pasti udah nungguin di rumah."
" Iya, sayang. Temen - temen kamu aja belum pada keluar dari kamar."
¤ ¤ ¤
Pagi hari, Medina sarapan bersama ayahnya sebelum berangkat ke sekolah. Keduanya hanya diam saat sedang sarapan, hanya Medina yang sesekali menatap ayahnya yang sedang menikmati sarapannya.
" Yah, mmm.... Dina_..." ucap Medina ragu.
" Ada apa? Katakan saja, Nak. Kau putri ayah satu - satunya, apapun yang kau inginkan pasti ayah akan berusaha untuk mengabulkannya selama ayah masih mampu." kata pak Hasan.
" Mmm... apa ayah masih punya keinginan untuk menikah lagi? Maaf ya, dulu Dina menentang pernikahan ayah. Dina baru menyadari sekarang betapa pentingnya seorang ibu untuk kita." ucap Medina sendu.
" Sudahlah, cukup ada kamu bersama ayah. Hanya kita berdua, ayah saat ini sudah bahagia. Kamu bisa tumbuh menjadi remaja yang cantik dan pintar sudah membuat ayah bangga dan juga bahagia."
" Maafkan Dina, Yah. Seandainya dulu Medina tidak melarang ayah menikah lagi, pasti sekarang ada yang mengurus kita."
" Tidak apa - apa, hidup berdua bersamamu sudah cukup untuk ayah."
" Maafkan, Dina. Dina tidak pernah mengerti dengan keadaan ayah."
Medina mulai berkaca - kaca hampir menangis saat memeluk ayahnya pertama kali semenjak sang ibu pergi.
" Hei... anak gadis ayah jangan menangis. Malu nanti kalau Rifky kesini lihat gadis yang biasanya hobi tawuran terlihat mengeluarkan airmata." ujar pak Hasan seraya membalas pelukan putrinya.
Jika tidak malu di depan anak, sebenarnya pak Hasan juga ingin menangis karena bahagia putri kecilnya sudah kembali lagi seperti dulu.
" Ayaahhh...! Kak Rifky juga udah pergi ke kota setelah shubuh tadi." sungut Medina.
" Hahahaa... kamu tahu jadwal keseharian Rifky?"
" Tidak, cuma kemarin kak Rifky bilang sama Medina kalau ada urusan di kota."
" Ya sudah, tidak bahas soal pernikahan lagi. Dengan senyum kamu seperti ini saja, ayah sangat bahagia."
Selesai membereskan meja makan, Medina berangkat sekolah diantar ayahnya untuk pertama kali semenjak sekolah SMA. Ada binar bahagia di wajah keduanya.
" Assalamu'alaikum, pak. Sudah mau berangkat ke sekolah?" sapa Adam yang sudah memarkirkan motornya di depan rumah Medina.
" Wa'alaikumsalam. Iya, ini mau antar Medina dulu ke sekolahnya." jawab pak Hasan.
" Medina biar sama saja, Pak. Seperti biasa biar pak guru tidak capek bolak - balik antar Medina."
__ADS_1
" Tidak apa - apa, nanti saja pulangnya sama kamu. Sekarang saya antar saja."
" Iya, pak."
Medina keluar dari rumah dengan tas ransel di punggungnya sedang mengunci pintu.
" Hei... Darman! Tumben jam segini udah siap?" sapa Medina.
" Dari pagi juga udah siap kali, habis dari pasar ini antar ibu shopping." sahut Adam.
" Idih... shopping telur sama garam... hahahaa..."
" Terserah kau saja, nanti sore temenin antar pesanan di desa sebelah ya. Pesanan lumayan banyak, jadi sepulang sekolah nggak bisa nongkrong dulu."
" Tidak apa - apa, nanti aku bantuin masak sekalian." kata Medina.
" Thank's Meong..."
" Hmmm...."
Medina naik ke atas motor yang dikemudikan ayahnya, sementara Adam mengikuti dari belakang. Di perempatan, mereka bertemu dengan Johan dan Ririn.
" Bayam belum berangkat, Mey?" tanya Ririn.
" Astaghfirullah, lupa tadi tuh anak ketinggalan. Darman, telfon dia jangan - jangan tidur lagi habis shubuh." kata Medina.
Saat Adam mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, Bayu sudah sampai di sampingnya.
" Sorry, tadi antar adik - adik dulu ke sekolah." kata Bayu.
" Ya udah berangkat sekarang, nanti pak guru telat lagi ngajarnya." ujar Adam.
" Dina biar sama saya saja, pak. Nanti bapak bisa telat mengajarnya."
" Iya, Yah. Lain kali saja ayah bisa antar Dina ke sekolah." ucap Dina.
" Beneran nggak usah diantar sampai sekolah?" tanya pak Hasan.
" Iya, ayah. Dina bareng sama yang lain saja."
" Ya sudah, hati - hati. Yang bener sekolahnya, jangan tawuran lagi."
" Siap pak guru...!"
¤ ¤ ¤
Lima siswa yang paling terkenal di sekolah itu memasuki gerbang dengan gaya cool membuat para siswa yang lain terpesona melihatnya.
" Mey, apa ada yang salah dengan kita? Mereka melihat kita seperti ingin makan saja." bisik Ririn.
" Sudah biasa mereka seperti itu." sahut Medina santai.
Saat mereka hendak masuk ke dalam kelas, tiba - tiba ada seorang siswa yang datang menghampiri.
" Mey, tunggu sebentar!" teriak siswa itu.
" Kamu... siswa kelas sebelah ya?" tanya Medina.
__ADS_1
" Iya, saya hanya ingin memberitahu sesuatu padamu."
" Soal apa?"
" Anak sekolah lain yang kamu keroyok minggu lalu, salah satu dari mereka pindah ke sekolah ini."
" Kok bisa? Kamu tahu dari mana?" tanya Adam.
Siswa laki - laki yang bernama Aldi itu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah tak ingin ada orang lain yang mendengarnya.
" Kenapa celingak - celinguk seperti maling?" kesal Johan.
" Sabar, Jo. Dengerin dulu dia mau ngomong apa," omel Ririn.
" Begini, dia itu namanya Dani. Kebetulan rumah kami dekat, dia masih keponakan kepala sekolah. Hati - hati, dia orangnya sangat licik dan pandai memutar balikkan fakta." peringat Aldi.
" Thank's infonya, kami pasti akan lebih hati - hati lagi." ucap Medina.
" Saya pergi dulu, sebentar lagi bel masuk." pamit Aldi.
" Silahkan, kamu juga hati - hati." sahut Bayu.
Mereka berlima duduk di dalam kelas menunggu bel berbunyi lima menit lagi. Mereka menyiapkan tugas yang akan dikumpulkan sebentar lagi.
Tak lama bel berbunyi dan seluruh siswa masuk ke dalsm kelasnya masing - masing. Medina dan keempat temannya kaget melihat siswa baru yang kini duduk di sampingnya.
" Hei... ketemu lagi kita, mungkin jodoh kali ya?" bisik Dani pada Medina.
" Oh ya? Saya pikir kamu adalah tukang kebun" sahut Medina asal.
Dani ingin menjahili Medina karena sedari tadi mengacuhkannya. Sedangkan Medina, gadis itu berusaha untuk menahan amarah saat mengingat pesan dari Rifky dan ayahnya untuk tidak berbuat ulah di sekolah.
" Hei... kita belum kenalan?" bisik Dani.
" Diam! Jangan menggangguku!" Medina menatap tajam kearah Dani.
Mereka kembali fokus dengan pelajaran yang disampaikan guru di depan kelas. Semua terlihat tenang hingga jam pelajaran selesai.
Jam pulang sudah tiba, Medina menggandeng Ririn menuju parkiran diikuti Adam, Johan dan Bayu. Saat ingin naik ke motor Adam, tiba - tiba Dani datang menghampiri mereka.
" Mey, pulang bareng yuk?" ajak Dani.
" Sorry, jangan sok akrab!" ketus Medina.
Medina menyuruh Adam segera melajukan motornya keluar gerbang meninggalkan Dani yang masih menatapnya dengan senyuman.
" Aku pasti bisa mendapatkanmu..."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1