
Medina yang pingsan dibawa ke ruang perawatan. Rifky tak melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu terlihat sangat lemah membuat Rifky semakin khawatir.
" Sayang... bangunlah, kamu harus kuat agar ayah cepat sembuh." lirih Rifky.
" Rifky, Dina belum sadar juga?" mama Kamila merangkul bahu Rifky.
" Belum, Ma. Pasti dia shock melihat keadaan ayahnya."
" Semoga Medina diberikan kesabaran atas musibah ini. Polisi akan segera mengusut kasus ini."
" Iya, Ma. Rifky juga akan mencari dalang dari kejadian ini. Mereka harus membayar semua ini, mereka sudah menyakiti orang - orang yang kusayangi." lirih Rifky.
Mama Kamila membiarkan Rifky menemani Medina. Walaupun Rifky terlihat sangat lelah, namun dirinya lebih peduli dengan keadaan Medina dan ayahnya.
" Ayah..." lirih Medina setengah sadar.
" Sayang... sabar, ya? Ayah pasti baik - baik saja."
Rifky kembali memeluk tubuh kekasihnya, membawanya dalam dekapan agar gadis itu merasa lebih tenang.
" Apa Dina bisa bertemu ayah, kak?"
" Untuk saat ini belum bisa, sayang. Kondisi Ayah masih belum stabil, tunggu observasi dari dokternya dulu ya?"
" Dina takut kehilangan Ayah."
" Tidak, sayang. Ayah tidak akan meninggalkan kita secepat ini. Beliau pernah bilang ingin bermain dengan cucu - cucunya kelak. Kita tidak akan membiarkan ayah pergi sebelum kita bisa mewujudkan impiannya."
" Itu sih kakak yang mau!"
Rifky tak melepaskan pelukannya. Dekapannya semakin erat seraya mengusap pelan rambut sang kekasih.
" Rifky...!" panggil papa Surya.
" Iya, Pa." sahut Rifky.
" Papa mau bicara diluar, cepatlah!"
" Baik, Pa."
Setelah papanya pergi, Rifky mengurai pelukannya lalu mengecup singkat kening Medina. Nampak gadis itu sedikit lebih tenang setelah berada cukup lama dalam dekapannya.
" Kakak keluar sebentar, ya? Kamu istirahat dulu, setelah selesai observasi nanti kita jenguk ayah."
" Iya, Kak. Jangan lama - lama, ya?"
" Iya, sayang."
.
.
" Ada apa, Pa?"
__ADS_1
Kini Rifky dan papanya sedang duduk di taman rumah sakit. Mereka berdua sama - sama lelah menghadapi semua ini.
" Orang - orang Papa sudah bergerak lebih cepat dari polisi. Para penjahat itu kabur keluar kota dan sekarang orangku sedang mengejarnya."
" Percuma, Pa. Mereka hanya orang bayaran dan tidak akan buka mulut tentang siapa bossnya."
" Kenapa begitu?"
" Karena polisi saja tidak berani mengusik penjahat itu. Targetnya om Jamal, ini pasti ulah salah satu saingan bisnisnya."
" Hhh... dunia bisnis sangatlah kejam. Terkadang papa ingin sekali berhenti dengan pekerjaan ini dan memulai hidup sederhana seperti pak Hasan."
" Di syukuri saja, Pa. Mungkin ini jalan kita untuk bisa memberikan manfaat pada orang lain."
Terdengar helaan nafas dari pria paruh baya tersebut. Benar juga, jika ia menutup perusahaan itu secara tiba - tiba maka ribuan karyawannya akan jadi pengangguran.
" Kira - kira siapa orang yang menyerang Jamal? Selama ini dia lebih fokus di perkebunan daripada cafe - cafe miliknya."
" Kita tunggu kabar dari Nicko dulu, Pa. Kalau tak ada hasil, nanti Rifky suruh Hans dan Jonathan untuk datang kesini membantu."
" Apa sesulit itu sampai mendatangkan mereka?"
" Tidak tahu, Pa. Tapi Rifky tidak bisa meninggalkan Medina di saat seperti ini. Kasihan dia kalau harus sendirian menemani ayahnya disini."
" Begini, Nak. Kalau menurut Papa, lebih baik pak Hasan dibawa ke Singapore saja. Disana fasilitasnya lengkap, pak Hasan pasti cepat sembuh. Dan kau juga bisa fokus menangani kasus ini."
" Harusnya juga begitu, nanti Rifky bicarakan lagi dengan Medina."
Rifky kembali menemui Medina setelah papanya pulang. Saat ini nyawa keluarga pak Jamal masih terancam, jadi harus ada pengawalan ketat di rumahnya.
" Sudah, Kak. Dina pengen lihat ayah," jawab Medina pelan.
Rifky membantu Medina turun dari brankar lalu membawanya ke ruangan tempat pak Hasan dirawat. Tubuh gadis itu masih tampak lemas hingga Rifky harus menopangnya.
" Ayah... kenapa seperti ini? Dina sayang sama ayah." lirih Medina.
Medina hanya bisa menatap dari luar sosok yang selalu ada disisinya sejak masih kandungan itu. Terasa ada yang kosong saat melihat pria paruh baya itu tergolek lemah tak berdaya.
" Sayang... please jangan sedih? Kakak ingin kamu kuat, kita cari pelakunya sama - sama." bisik Rifky.
Mungkin dengan cara ini Medina bisa bangkit dari keterpurukan dan bersemangat lagi. Benar saja, Medina langsung berdiri dengan tegak sambil menatap lorong yang sepi dengan kilat amarah.
" Astaghfirullah... Apa aku salah membujuk dia agar tidak sedih?" batin Rifky.
" Sayang... sebaiknya kita pulang ya? Nanti ada beberapa pengawal yang akan jagain ayah."
" Kalau Ayah sadar dan Dina tidak ada disini, gimana Kak?"
" Tidak apa - apa, kita punya urusan yang lain. Kakak ingin memindahkan pengobatan Ayah ke Singapore jika kamu mengijinkan, sayang."
" Tapi biayanya sangat malah disana, Kak."
Rifky gemas sekali dengan gadis dihadapannya itu. Kalau bukan di tempat umum pasti Rifky tidak akan ragu untuk memeluk dan menciumnya. Apa harus menikah dulu biar kekasihnya itu tak memperhitungkan uang yang ia berikan? Padahal selama ini semua yang dimiliki Rifky memang untuk Medina. Katakanlah ia bucin, tapi itu sudah jadi impiannya sejak awal ia membangun bisnisnya.
__ADS_1
" Sayang...! Apa aku harus menikahimu sekarang biar kamu bisa menerima semua yang kuberikan padamu? Sudah berapa kali aku katakan bahwa semua yang aku miliki ini juga milikmu."
" Terserah kakak saja, buat Dina... yang penting Ayah cepat sembuh."
" Nah gitu dong... Sesekali nurut sama calon suami. Ayo pulang, ada hal yang penting untuk kita bahas."
Rifky memanggil semua pengawal untuk berjaga di depan ruangan pak Hasan. Mereka harus memastikan bahwa dokter dan suster yang masuk sesuai dengan yang sudah direkomendasikan.
" Sayang... mau makan dulu?" tanya Rifky.
" Dina belum lapar, Kak." jawab Medina pelan.
" Makan atau cium?"
" Kakak...ih!"
Rifky tersenyum lalu mengemudikan mobilnya perlahan untuk mencari makanan yang disukai gadisnya.
" Kak... bakso aja," lirih Medina.
" Boleh, tapi jangan pakai sambal. Kamu habis pingsan, sayang."
" Iya,"
Rifky menepikan mobilnya di depan warung bakso sesuai permintaan kekasihnya. Dia sendiri juga sangat lapar karena tadi pagi tidak sarapan.
" Pak, baksonya tiga ya? Sama minumnya es jeruk dua." kata Rifky.
" Iya, Mas. Silahkan duduk,"
Medina memilih duduk lesehan agar kakinya bisa diluruskan. Wajahnya masih sedikit pucat dengan nafas yang tidak beraturan.
" Sayang, kenapa?"
" Tidak tahu, Dina kok rasanya capek banget."
" Mau ke rumah sakit aja, sayang?"
" Nggak usah, Kak. Dina cuma butuh makan dan istirahat."
Setelah pesanan datang, Medina heran karena Rifky memesan tiga porsi.
" Kak... kok tiga? Memangnya yang satu buat siapa?"
" Buat kita, kalau kurang bisa buat nambah. Kakak sangat lapar, sayang."
Rifky sangat menikmati makanannya hingga tak terasa dua mangkok bakso itu ia habiskan sendiri. Medina sampai heran dengan porsi makan kekasihnya. Biasanya Medina yang lebih banyak menghabiskan makanan, tapi sekarang dia hanya bisa menatap pria yang sedari tadi fokus dengan makanannya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.