Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Pulang


__ADS_3

Pagi - pagi sekali Medina sudah menyiapkan semua barang bawaannya yang akan ia bawa pulang ke Indonesia. Tak banyak yang ia bawa pulang karena Rifky sengaja menyuruh Medina untuk membawa barang - barang yang penting saja agar nanti saat mereka kembali ke tempat ini tak perlu membawa banyak pakaian lagi.


" Sayang, kita berangkat sekarang." seru Rifky dari luar kamar Medina.


" Kak... tadi Ririn minta aku foto sama artis Korea, gimana?" Medina keluar dari kamar dengan cemberut.


" Ada - ada saja tuh anak, kakak mana ada kenal dengan artis. Kalau cuma minta album saja gampang, kita bisa cari sebentar sekalian ke Bandara."


" Huhhh... gimana ya?" pikir Medina.


" Dia tidak menyebutkan nama artisnya, kan?" tanya Rifky.


" Tidak, yang penting orang Korea."


" Kakak punya ide!" seru Rifky seraya tersenyum.


.


.


Disinilah sekarang, Rifky, Medina dan Hans berada di ruang tamu. Ide konyol Rifky adalah menyuruh Medina berfoto dengan Hans. Dengan berbagai pose yang memperlihatkan Hans merangkul pundak Medina.


" Kak... tapi kak Hans ini bukan artis!" seru Medina.


" Tenang saja, bilang sama dia kalau Hans ini artis drama lokal jadi tidak terkenal sampai Indonesia." sahut Rifky santai.


" Yang benar saja, Boss! Aku bukan artis dan tidak berminat sedikitpun di dunia entertainment." kesal Hans.


" Sudahlah, yang penting urusan ini sudah selesai. Lagian kamu juga tidak mungkin bisa bertemu temannya Medina."


" Tapi boleh juga sih, kalau di Indonesia mungkin kak Hans bisa jadi model." sahut Medina nyengir.


Hans hanya bisa pasrah menuruti keinginan bossnya. Walaupun dipikir - pikir wajahnya lebih tampan dari para artis itu.


Urusan selesai, Hans mengantar Rifky dan Medina ke Bandara. Mereka akan naik privat jet milik Rifky supaya lebih nyaman dalam perjalanan.


Medina berteriak girang melihat betapa mewahnya privat jet milik calon suaminya. Dia tidak menyangka jika sang pujaan hati memiliki kekayaan yang tak terhitung berapa jumlahnya.


" Kak... ini beneran privat jet milik kakak?"


" Bukan, ini milikmu sayang."


" Milikku...?"


" Iya, semua yang aku miliki adalah milikmu. Termasuk diriku juga, aku adalah milikmu seutuhnya."


" Hmmm... terserah!"


Rifky merangkul bahu kekasihnya saat menaiki privat jet miliknya. Dua pramugari menyambutnya dengan sangat ramah begitu juga kapten pilotnya.


" Silahkan Tuan Muda, semua sudah siap." ucap kapten pilot.


" Pastikan semua aman!" perintah Rifky tegas.


" Siap, Tuan Muda."

__ADS_1


Medina baru kali ini terlihat sangat tegas dan berwibawa. Auranya terlihat sangat dingin jika berhadapan dengan bawahannya.


" Kak... jangan serem begitu mukanya, Dina takut." rengek Medina.


Rifky menoleh ke arah Medina. Dalam sekejap, raut wajahnya berubah drastis. Sekarang hanya nampak senyuman lebar di wajah pria itu.


" Buat kamu apa sih yang nggak kakak lakukan?"


Rifky meraih tangan Medina dan menggandengnya menuju kursi penumpang. Pramugari sikap memberi arahan untuk bersiap lepas landas. Rifky sudah terbiasa melakukan hal ini, namun tidak dengan Medina. Gadis itu baru pertama kali naik privat jet yang super mewah itu.


" Kak... Dina takut," bisik Medina dengan raut wajah pucat.


" It's Ok. I'm here, sayang." balas Rifky lembut.


" Tapi ini yang pertama kali aku naik privat jet, kak."


" Ini sama seperti pesawat kemarin, sayang. Kayak mau malam pertama aja, belum mulai udah takut duluan." goda Rifky.


" Ish... nggak lucu!"


" Hehehee... maaf, sayang. Percayalah, perjalanan ini lebih nyaman daripada kemarin."


Setelah privat jet mengudara, Rifky mengajak Medina untuk masuk ke kamar pribadinya agar gadis itu lebih nyaman selama perjalanan.


Kamar yang cukup luas memang membuat Medina tak merasakan ketakutan lagi walaupun tangannya tak lepas dari lengan Rifky. Kemanapun Rifky pergi, gadis itu selalu mengikutinya.


" Sayang, bisa kau lepaskan lenganku sebentar? Kakak mau ke kamar mandi dulu."


" Dina ikut kemanapun kakak pergi!"


" Hah...! Kamu yang bener aja, sayang. Kakak cuma ke kamar mandi tak sampai lima menit."


" Iya... cuma sebentar sayangku."


Setelah Medina melepaskannya, Rifky bergegas ke kamar mandi sebelum gadisnya berubah pikiran dan mengikuti kemanapun ia melangkah.


Akhir - akhir ini memang Medina bersikap lebih manja. Rifky sempai kuwalahan jika gadis itu sudah merengek meminta sesuatu yang membuat Rifky harus meninggalkan pekerjaan. Kalau Hans bilang, gadis itu seperti orang ngidam tak boleh dibuat bad mood. Tapi bagaimana mungkin gadis itu ngidam? Rifky tak pernah berbuat diluar batas pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


" Kakaakkk...!" pekik Medina keras.


Rifky yang baru keluar dari kamar mandi menghela nafas panjang. Kekasihnya itu menunggunya di depan pintu kamar mandi sambil bersandar di dinding pesawat.


" Sayang... kamu tidur ya? Perjalanan akan terasa cepat jika kita tidur. Mungkin sekitar 7 - 8 jam kita sudah sampai di Indonesia." bujuk Rifky.


" Temani sampai Medina tidur baru kakak boleh pergi,"


" Iya, kita ke tempat tidur sekarang. Kamu harus beristirahat biar fresh sampai di rumah nanti."


Rifky bersandar di kepala ranjang sembari menunggu Medina terlelap. Namun sudah hampir lima belas menit berbaring, gadis itu cuma menggeliat ke kanan dan ke kiri tanpa memejamkan matanya.


" Sayang, kamu kenapa...?" tanya Rifky heran.


" Kenapa Dina jadi kangen ibu ya, Kak? Tidak biasanya seperti ini, apa terjadi sesuatu dengan ayah?"


" Jangan mikir macam - macam, nanti sampai di rumah kita langsung ke rumah Ayah terus ke makam ibu."

__ADS_1


" Beneran? Kakak nggak bohong, kan?"


" Buat kamu apa sih yang nggak kakak lakukan?"


Saking senangnya, Medina memeluk Risky dan merebahkan kepalanya pada perut sang kekasih sambil memejamkan matanya.


" Bangunkan Dina kalau sudah sampai." gumam gadis itu.


" Tidurlah! Mimpilah yang indah sayangku."


Rifky mengelus lembut kepala Medina seperti menidurkan anak kecil. Hatinya terasa lebih tenang saat melihat senyum di wajah kekasihnya kembali mengembang.


" Aku akan selalu menjaga dan mencintaimu selamanya, sayang. Seperti janjiku pada ibumu dulu, takkan pernah aku lupakan." lirih Rifky.


.


.


Jam lima sore, Rifky dan Medina sudah sampai di kediaman orangtua Rifky. Setelah beristirahat sejenak, Rifky mengantar Medina langsung ke desa karena kedua orangtuanya juga berada disana sejak dua hari yang lalu.


" Tumben, kak... Papa sama Mama ada di desa hari kerja seperti ini?"


" Mungkin ada urusan sama Om Jamal, sayang. Kita berangkat sekarang yuk? Biar sampai rumah belum terlalu larut."


" Kakak bawa mobil sendiri...?"


" Nggak, ada Nicko di depan yang antar kita. Besok libur, jadi sekalian dia refreshing disana."


Mereka segera berangkat setelah maghrib. Nicko dan Rifky duduk di depan sedangkan Medina di belakang sendirian. Gadis itu tak masalah karena dia juga butuh merebahkan tubuhnya dengan leluasa biar lebih nyaman dalam perjalanan.


Rifky dan Nicko sedang membahas pekerjaan yang Medina tak paham sama sekali. Gadis itu segera mengambil headset di tas kecilnya untuk mendengarkan musik sebagai pengantar tidurnya.


" Nick, apa terjadi sesuatu selama aku pergi?" tanya Rifky pelan tak ingin Medina mendengarnya.


" Sorry, Boss. Orangtuamu yang melarangmu untuk mengatakan ini karena tak ingin Mey panik. Ada kejadian di perkebunan milik om Jamal dua hari yang lalu."


" Kejadian apa...?"


" Om Jamal diserang di perkebunan oleh orang yang tak dikenal. Sepertinya orang itu mengincarmu dan ingin menghabisi orang - orang terdekatmu."


" Lalu...?"


" Ayah Medina menyelamatkan om Jamal dan beliau terkena tembakan di punggungnya. Sekarang beliau masih kritis di rumah sakit."


" Innalillahi... apa yang akan kita katakan padanya, Nick? Aku yakin Medina tidak akan sanggup menerima ini semua."


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Medina. Gadis yang sudah terbangun itu langsung melompat keluar dari mobil sambil berteriak.


" Ayah... Dina pulang...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2