Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Panti Asuhan


__ADS_3

Jam sepuluh, semua sudah berkumpul di rumah pak Jamal.Medina dan teman - temannya ikut menata barang di dalam mobil.


" Rif, kok ada Medina dan yang lainnya?" tanya pak Jamal.


" Oh itu, iya Om... daripada mereka nganggur dan berbuat onar di rumah mending bantuin Rifky nanti bawa barang - barang ini ke Panti." jawab Rifky.


" Memangnya mereka tidak sekolah?"


" Om pasti lebih mengenal mereka daripada Rifky. Mereka sedang kena skors dari sekolah selama satu minggu."


" Sayang sekali, padahal mereka berlima itu anak yang cerdas. Mereka itu selalu masuk rangking sepuluh besar tiap semester."


" Iya, mereka sepertinya butuh bimbingan khusus soal adab dan budi pekerti, Om."


" Dan kau akan melakukan itu demi Medina?"


Rifky hanya tertawa pelan tak menanggapi ucapan Om Jamal. Memang benar Rifky hanya ingin Medina berubah, tapi jika pergaulannya tetap sama usahanya itu tidak akan berhasil. Jalan satu - satunya adalah mengubah semuanya menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa menahan diri dari amarah.


" Apa kau menyukai Medina?" tanya Om Jamal lagi.


" Tidak tahu, Om. Rifky merasa nyaman dekat dengan gadis kecil itu. Dia mampu membuat hidup Rifky menjadi lebih berwarna." jawab Rifky tanpa melepaskan pandangannya dari Medina.


" Dia sudah remaja sekarang, cantik dan menarik." goda Om Jamal.


" Pilihan Rifky pasti yang terbaik, Om. Oh iya, bisa minta tolong nggak Om?"


" Minta tolong apa?"


" Tolong nanti siang suruh bibik antar makanan ke rumah paman Hasan. Beliau sedang sakit, kemarin jatuh dari motor."


" Kamu tenang saja, nanti Om bilang sama bik Tami."


" Terimakasih, Om."


" Hati - hati dijalan, kamu sekarang tanggung jawab membawa para jawara kampung." gurau Om Jamal.


" Tenang saja, Om. Di kasih sebungkus nasi aja mereka sudah senang." seloroh Rifky.


" Kau ini ada - ada saja, cepat berangkat sana."


" Ya udah, Rifky pamit dulu Om. Assalamu'alaikum," pamit Rifky.


" Wa'alaikumsalam." jawab Om Jamal.


Reyhan menghampiri lima remaja yang sudah berjajar di samping mobilnya.


" Ayo masuk, kita berangkat sekarang." titah Rifky.


" Siap, Oppa...!" teriak Ririn.


Medina melangkah membuka pintu bagian belakang namun di tahan oleh Rifky.


" Ayo masuk! Adam, Johan, Bayu, Ririn... kalian di belakang. Medina di depan sama saya." kata Rifky.


" Kak, Dina di belakang aja." sungut Medina.


" Calis, temani di depan biar calon suamimu ini semangat mengemudi." bisik Rifky.

__ADS_1


" Nggak ah! Kakak gangguin Dina terus."


" Nggak, Calis sayang. Kakak nggak gangguin kamu asal nurut sama calon suami."


" Tuh, kan?"


" Iya - iya... ayo masuk, sayangku."


Rifky membukakan pintu mobil untuk gadis kecilnya lalu masuk ke kursi kemudi. Sambil menyunggingkan senyumnya, Rifky segera melajukan mobilnya.


Menjelang dhuhur, mereka sampai juga di Panti Asuhan. Setelah istirahat sebentar, mereka sholat berjama'ah di Mushola panti asuhan.


Setelah selesai sholat, semuanya berkumpul di aula panti untuk penyerahan sumbangan yang rutin dilakukan oleh pak Jamal setiap tahunnya.


Rifky sebagai wakil dari keluarga pak Jamal menyerahkan bingkisan untuk seluruh anak panti dibantu oleh kelima remaja yang dibawanya.


" Terimakasih, Nak. Sampaikan salam dan terimakasih kami kepada pak Jamal." ucap penanggung jawab panti.


" Insya Allah, nanti saya sampaikan pak." kata Rifky dengan senyum ramahnya.


" Pak Jamal adalah donatur tetap disini, selalu memberikan hadiah untuk anak - anak setiap tahun dan mengirimkan uang setiap bulan ke panti ini."


" Minta do'anya saja, pak... semoga rejeki paman saya semakin bertambah sehingga bisa membantu anak - anak disini."


" Aamiin... Kalau begitu ajak teman - temannya masuk, kita makan siang bersama dengan anak - anak. Walaupun hanya makanan sederhana, tapi patut disyukuri."


" Iya, pak. Kalau begitu saya panggil teman - teman saya di depan."


" Silahkan."


Medina dan teman - temannya duduk di saung depan panti tempat anak - anak bermain di waktu sore. Rifky menghampiri mereka untuk makan siang bersama.


" Iya, kak. Saya juga udah lapar dari tadi." kata Bayu.


" Ya udah masuk sana, anak - anak sudah nungguin di dalam." sahut Rifky.


Lima remaja itu sangat antusias jika soal makanan. Apapun makanannya, yang penting halal pasti mereka santap. Mereka bergegas menuju ke ruang makan sambil berlarian. Medina yang ingin ikut berlari langsung ditahan oleh Rifky.


" Calis, mau kemana?" bisik Rifky.


" Kak, Dina pengen makan!" rengek Medina.


" Iya, sayang. Mau makan dimana?" goda Rifky.


" Ish... tadi bilangnya tidak akan mengganggu?" sungut Medina.


" Iya - iya, kakak tidak akan mengganggu lagi."


Rifky merangkul pundak Medina lalu mengajaknya masuk berkumpul dengan yang lain. Baru beberapa langkah mereka berjalan, ada beberapa orang berpakaian preman berteriak di depan gerbang.


" Hei... keluar kalian...!" teriak mereka.


Rifky dan Medina berhenti lalu membalikkan badannya ke arah gerbang. Rifky melepaskan rangkulannya lalu hendak menghampiri mereka.


" Kak, kakak mau ngapain?" bisik Medina.


" Ada tamu, sayang. Kita lihat mereka ada urusan apa kesini." kata Rifky cukup tenang seraya menggenggam tangan Medina dengan erat.

__ADS_1


Rifky bukannya ingin melindungi gadis cantiknya itu seperti para pria kebanyakan yang selalu terlihat melindungi wanitanya. Rifky hanya tidak ingin Medina terpancing emosi dan menyerang para preman itu lebih dulu. Terlihat dari wajah polos gadis itu menyiratkan tatapan amarah dari matanya.


" Maaf, pak. Ini ada apa ya? Apakah ada perlu dengan pengurus panti ini?" tanya Rifky ramah.


" Tidak usah banyak omong! Cepat panggil pak Sofyan kesini untuk membayar semua hutangnya!"


" Maksud bapak ini hutang apa? Mari masuk, kita bicarakan baik - baik masalah ini."


Rifky membuka gerbangnya menyuruh mereka masuk dan bicara baik - baik.


" Heh... Bocah! Ini bukan urusanmu! Kalau Sofyan tidak membayar hutangnya sekarang juga, saya bakar panti ini!"


Para preman itu mengacak - acak tanaman di sampingnya yang tertata rapi. Rifky yang sedari tadi tenang lama - lama geram juga.


" Pak, hentikan! Jangan merusak apapun di tempat ini!" kata Rifky tersulut emosi.


" Heh... Bocah ingusan! Jangan ikut campur urusan kami!"


Para preman yang berjumlah sepuluh orang itu siap menyerang Rifky. Medina di tarik mundur beberapa langkah oleh Rifky.


" Din, kamu mundurlah. Biar kakak yang menghadapi mereka." lirih Rifky.


" Tidak, kak. Mereka terlalu banyak, nanti kakak bisa kalah. Dina akan bantu kakak melawan mereka."


" Dengarkan aku, Dina! Kau tidak boleh ikut melawan mereka. Kakak bisa melawan mereka sendirian."


" Kak, Dina tidak bisa melihat kakak terluka."


" Cepat mundur!" seru Rifky yang kini mulai diserang oleh para penjahat itu.


Medina mundur perlahan karena takut dengan tatapan tajam dari Rifky. Sebenarnya Medina ingin membantu Rifky namun pria itu menolak dan menyuruh Medina diam.


Rifky terus baku hantam dengan para preman itu. Tenaganya mulai terkuras karena harus melawan preman yang berjumlah sepuluh orang itu.


Melihat Rifky yang kewalahan, Medina akhirnya ikut maju melawan para penjahat itu karena tidak tega jika Rifky harus melawan mereka sendirian.


" Dina, apa yang kau lakukan?" seru Rifky.


" Dina tidak mau kakak melawan mereka sendirian, boleh ya Dina membantu kakak?"


" Ya sudah, tapi hati - hati ya?"


" Iya, kakak tampanku." goda Medina.


" Ok, Calis. Kita beri mereka semua pelajaran!" kata Rifky bersemangat.


Mereka berdua tampak bersemangat baku hantam dengan para preman itu. Tendangan dan pukulan keras dari Medina membuat beberapa preman itu jatuh tersungkur ke tanah. Rifky tampak tersenyum melihat gadisnya yang tampak sangat bersemangat seperti dapat mainan baru.


Karena keributan itu, para penghuni panti keluar bersama Adam dan yang lainnya. Mereka kaget karena melihat Rifky dan Medina sedang berkelahi.


" Hentikan...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2