
" I love you, too... kakak tampan." gumam Medina pelan hingga tak terdengar oleh Rifky.
Rifky berlari mengejar Medina yang semakin menjauh. Dia tahu gadis itu mengatakan sesuatu namun tak terdengar olehnya.
" Sayang... tungguin dong?" teriak Rifky.
Medina segera berhenti lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Rifky. Senyumnya yang mengembang membuat Rifky ingin segera memeluknya.
Saat Rifky sudah semakin dekat dan mendekap gadis kecilnya, tiba - tiba gadis itu langsung menundukkan tubuhnya menghindar. Karena terlalu cepat dan tidak siap, Rifky tersungkur. Apalagi kaki Medina yang sengaja menghadangnya membuat keseimbangan Rifky hilang.
" Aakkhhh...! Sayang... apa yang kau lakukan?!" rintih Rifky.
" Hahahaa... kakak lucu banget," seru Medina.
" Awas saja nanti, kakak tidak akan melepaskanmu!" ancam Rifky.
Kecewa. Itulah yang dirasakan Rifky saat ini. Dia sudah membayangkan dapat berpelukan hangat dengan sang pujaan hati. Namun dia juga sadar dengan siapa dia berhadapan, gadis brutal yang selalu berbuat onar. Hati gadis itu sangat susah untuk ditebak.
" Bye, kakak tampan... Dina duluan ke penginapan...!" seru Medina sambil berlari meninggalkan Rifky.
" Ya Allah, bagaimana bisa aku mengejar cinta gadis brutal seperti itu." gumam Rifky sambil menahan rasa kesalnya.
¤ ¤ ¤
Selepas maghrib, semuanya bersiap untuk pulang. Diam - diam Medina masuk ke mobil pak Jamal karena takut dengan Rifky yang akan membalas perbuatannya tadi.
" Om, cepat jalan. Keburu kak Rifky nanti maksa Medina ikut dengan mobilnya." bisik Medina yang duduk di jok belakang bersama Seno.
" Nanti kalau Rifky nyariin kamu gimana, Din?" tanya pak Hasan heran dengan tingkah putrinya.
" Nanti kalau mobilnya udah jalan, baru kasih tahu kak Rifky kalau Dina disini." ucap Dina nyengir.
" Kalian tidak sedang marahan, kan?" tanya pak Jamal.
" Tidak, Om. Cuma tadi Dina habis ngerjain kak Rifky sampai dia nyebur ke air. Sepertinya sekarang dia marah dan pasti nanti balas ngerjain Dina. Dina tidak mau nanti diturunin di jalan kayak di film - film." sahut Medina.
" Hah... kamu ini ada - ada saja, pantas saja tadi pakaiannya basah." ucap tante Mita.
" Pak Udin, cepat jalan!" teriak Seno.
" Baik, Den Seno." sahut sang sopir.
Saat mobil mulai melaju, Seno membuka kaca mobil di samping papanya lalu berteriak memanggil Rifky.
" Kak Rifky... kak Dina pulang bareng Seno...!" teriak Seno.
Rifky yang mengira Medina masih di dalam kaget. Dia tidak menyangka gadisnya benar - benar meninggalkannya.
" Pak Udin...! Berhenti, turunkan Medina...!" teriak Rifky.
" Bye... kak Rifky...!" teriak Seno yang langsung dibekap papanya karena berisik.
Rifky langsung mengajak yang lainnya untuk masuk ke mobil dan segera mengejar Medina.
¤ ¤ ¤
Jam sembilan malam mereka sampai di rumah. Saat ingin memasuki gerbang, ternyata mobil papanya terparkir disana. Rifky mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih melajukan kembali mobilnya ke rumah Bayu.
" Kak, ngapain kesini? Apa ada masalah?" tanya Bayu.
" Orangtuaku pulang kesini juga, pasti ada Devi disana." keluh Rifky.
" Kakak menghindari wanita itu? Padahal tadi udah Bayu ceburin ke air, belum kapok juga."
__ADS_1
" Jadi dia pulang karena basah kuyup?"
" Iya, itu ide Ririn yang pengen ngerjain pengacau itu."
" Bisa aja kalian ini, apa Dina juga ikut ngerjain dia?"
" Tidak, Medina lagi malas katanya. Padahal biasanya dia itu paling semangat kalau disuruh bikin onar."
" Saya malam ini menginap disini ya?" kata Rifky.
" Boleh saja sih, tapi kalau besok pak Jamal lihat mobil kakak disini gimana?"
Rifky melihat sekeliling rumah Bayu agar bisa memarkirkan mobilnya dengan aman. Jika orangtuanya tahu Rifky masih di desa ini pasti mereka semakin marah.
" Sampai kapan kakak akan menghindari wanita itu?"
" Saya bukannya menghindar, Bay. Hanya perasaan Medina yang saya jaga. Saya tidak mau Medina berpikir jika saya dan Devi memang dekat."
" Kak Rifky beneran cinta sama Medina?"
" Apa kau meragukanku? Tidak mungkin saya sampai bolak - balik ke kota untuk kerja dan tinggal disini kalau bukan untuk Medina. Kadang saya berangkat setelah shubuh dan pulang hampir jam sepuluhan hanya untuk bertemu dengannya."
" Bukannya ragu, kak. Bayu cuma penasaran aja, apa Medina bisa nerima kakak?"
" Walaupun dia belum mengungkapkannya, tapi kakak yakin Medina juga memiliki rasa yang sama sepertiku."
" Semoga kalian bisa bersatu, kak. Saya senang jika akhirnya Medina bisa menambatkan hatinya pada seseorang yang dia cintai dan bertanggung jawab."
Rifky memarkirkan mobilnya di samping rumah Bayu dan mereka berdua segera masuk ke dalam rumah. Setelah basa - basi sebentar dengan kedua orangtua Bayu, Rifky keluar sebentar ingin menemui Medina.
Rifky menyelinap ke samping rumah pak Hasan lalu mengetuk pelan jendela kamar Medina. Lampu kamar masih menyala, pasti gadis itu belum tidur.
" Sayang, buka dong? Ini kak Rifky..." bisik Rifky.
" Kakak, ngapain kesini?" Medina berdiri di hadapan Rifky walaupun terhalang oleh tembok.
" Kak, ini sudah malam. Dina mau tidur, besok harus ke sekolah."
" Sebentar saja, sayang. Kakak hanya ingin menghabiskan waktu malam ini bersamamu."
" Apalagi sih, kak? Memangnya besok kakak tidak kerja?"
" Justru karena itu, sayang. Untuk satu minggu ke depan, kakak tidak bisa pulang kesini. Ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan."
" Bukan karena kak Devi?"
" Ya Allah, sayangku. Kakak janji akan menjaga jarak dari wanita itu. Percayalah pada ketulusan cinta kakak."
" Iya, Dina percaya sama kakak."
Rifky mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya dan diberikan kepada gadis kecilnya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.
" Ini untukmu, gadis cantik kesayangan aku." Rifky memberikan bunga mawar merah yang sudah ia siapkan dari siang.
" Cuma ini?" sahut Medina datar.
" Loh, memangnya kamu mau apalagi sayang? Kalau kamu butuh apapun juga, bilang sama kakak."
" Kirain di kasih bunga bank." ucap Medina sambil nyengir.
" Hmm... jangankan bunga bank, pohonnya bank aja bisa kakak berikan." sahut Rifky sambil tersenyum.
Medina menatap Rifky dengan perasaan yang entah seperti apa. Hatinya selalu gelisah dan berdebar saat berdekatan dengan pria masa kecilnya itu.
__ADS_1
" Kak, itu kamar kakak lampunya masih menyala dari tadi. Kakak tidur sama siapa disana?"
" Kakak tidak tahu, sayang. Mungkin disana papa dan mama atau Devi. Kakak menginap di rumah Bayu, malas pulang kesana kalau ada mereka bertiga."
" Kak, mereka itu orangtua kandung kakak. Tidak boleh seperti itu, tidak sopan namanya." tegur Medina.
" Sayang, kakak hanya tidak ingin membuat kamu salah paham lagi. Devi itu selalu mengusikku, kakak malas bertemu dengannya."
" Kak, apa kakak beneran cinta sama aku?"
" Iya, sayang. Cinta kakak tidak akan pernah bisa tergantikan, hanya ada kamu dalam hati kakak."
" Apa suatu saat nanti kakak akan menikahiku?"
Melihat wajah serius Medina, Rifky menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan gadis kesayangannya.
" Insya Allah, jika kita ditakdirkan berjodoh... kita pasti akan menikah. Kakak yakin kamu adalah wanita yang sudah ditakdirkan bersamaku."
" Apa kakak menginginkan anak dariku?"
" Sayang, kenapa bertanya seperti itu? Katakan saja apa yang sebenarnya kamu inginkan."
Sejenak Medina memejamkan kedua matanya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rifky walaupun mereka masih terhalang dinding.
" Kak, sebenarnya Dina juga sayang sama kakak. Jujur, Dina sangat nyaman berada di sisi kakak selama ini. Tapi, Dina tidak mau kita menjalani ini tanpa restu dari orangtua kita."
" Maksudnya bagaimana, sayang? Kakak tidak mengerti dengan semua ini. Kita jalani saja dulu berdua, jika waktunya nanti sudah tepat... Kakak pasti akan meminang kamu."
" Bukan soal itu, kak. Sebelum kita melangkah lebih jauh dari ini, tolong selesaikan masalahmu dengan kak Devi terlebih dahulu. Dina tidak mau dianggap sebagai penghalang untuk kalian. Saat ini orangtua kakak sangat berharap kakak bisa bersama kak Devi. Dina salah jika tiba - tiba ada diantara masalah keluarga kalian."
" Sayang, kamu bukan penghalang. Karena sedari awal kamu adalah pemilik hatiku."
" Kak, justru karena itu Dina ingin kak Devi itu tidak mengejar kakak lagi. Seandainya saat ini orangtua kakak tahu tentang hubungan kita, pasti imbasnya ke ayah juga. Dina tidak mau membuat ayah bersedih."
" Iya, sayang. Kakak tahu apa yang kamu inginkan. Kakak akan cari bukti untuk membongkar kebusukan keluarga wanita itu. Kakak janji, orangtuaku pasti merestui hubungan kita."
Medina tersenyum dengan genggaman tangan yang semakin erat. Binar bahagia terpancar jelas dimatanya.
" Sayang, jadi kamu mau terima cintaku, kan?" ucap Rifky dengan sendu.
" Iya, tapi rahasiakan ini dari siapapun. Dina tidak mau ada orang lain tahu dulu. Selesaikan dulu soal kak Devi biar orangtua kakak tidak memaksa perjodohan itu."
Rifky sangat bahagia akhirnya cintanya terbalas juga. Rasanya ia ingin berteriak sekencang mungkin untuk mengungkapkan rasa bahagianya bisa mendapatkan cinta dari gadis kecilnya yang sangat dia sayangi.
" Kamu tenang saja, sayangku. Kakak akan menyelesaikan ini dengan cepat. Kapan masa hukumanmu selesai? Kalau kamu tidak ada ponsel, gimana kakak hubungi kamu?"
" Dua hari lagi, kak. Sebaiknya kakak fokus aja dengan urusan di kota, Dina juga sedang merencanakan sesuatu untuk kegiatan di pasar."
" Sayang, jangan berbuat ulah lagi. Kakak tidak mau terjadi hal yang buruk padamu." tegur Rifky.
" Tidak, kak. Insya Allah ini adalah kegiatan yang bermanfaat."
" Ya udah, kakak percaya padamu. Tapi ingat! Jangan berbuat onar lagi." peringat Rifky.
" Iya, kakak tampanku..." balas Medina dengan tersenyum.
Karena hari sudah semakin larut, Rifky kembali ke rumah Bayu untuk beristirahat karena besok pagi harus segera ke kota setelah shubuh.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.