
Pukul 11 siang, Rifky dan Medina sampai di rumah orangtua Rifky. Mereka di sambut hangat oleh mama Kamila. Banyak sekali makanan yang terhidang di meja makan untuk menyambut kedatangan Medina.
" Ma, kok makanannya banyak banget? Memangnya sedang ada acara?" tanya Rifky.
" Ini untuk menyambut kedatangan calon menantu mama." jawab mama Kamila seraya merangkul bahu Medina.
Rifky berdecak kesal karena ibunya lebih sayang pada Medina daripada dirinya yang notabene anak kandungnya. Karena merasa diabaikan, Rifky langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
" Kamu mau istirahat dulu, sayang? Sekalian nunggu papanya Rifky pulang dari kantor." kata mama Kamila.
" Boleh, tante. Dina juga mau mandi dulu," jawab Medina.
" Kamu ke atas saja, mandi di kamar Rifky."
" Tidak ada kamar lain, Tan?"
" Tidak usah takut, Rifky tidak akan macam - macam sama kamu. Kamar yang lain belum sempat dibersihkan, soalnya Rifky mendadak ngabarin mama kalau kamu ikut pulang. Oh iya, kamu jangan panggil tante lagi, mulai sekarang harus terbiasa panggil mama." ujar mama Kamila.
" Ma... mamaa...?" ucap Medina terbata.
" Iya, mulai sekarang kamu adalah anak mama." ujar mama Kamila.
Setelah berbincang sebentar, Medina naik ke lantai atas untuk mencari kamar Rifky. Sesuai petunjuk sang mama, Medina mengetuk pintu kamar yang paling dekat dengan jendela.
Tok... Tok... Tok...!
" Kak... ini Dina." ucap Medina setengah berteriak.
Tak berselang lama, Rifky membuka pintu kamarnya dengan wajah kusutnya khas orang bangun tidur.
" Ada apa, sayang? Sorry, kakak ketiduran tadi." kata Rifky sambil menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangannya.
" Dina numpang mandi di kamar kakak, ya? Mama yang suruh, katanya kamar yang lain belum dibersihkan."
" Ya udah, kamu langsung mandi aja. Oh iya, kakak mau tidur lagi... nanti bangunin saat papa datang ya?"
" Iya, kak."
Melihat Rifky yang sudah meringkuk kembali ke tempat tidur, Medina bergegas mengambil pakaian ganti di tas ranselnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, Medina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
" Hmm... kak Rifky beneran tidur lagi," gumam Medina lalu segera turun ke ruang keluarga.
Sampai di bawah, tidak ada satupun orang disana. Mungkin mamanya Rifky sedang berada di kamarnya karena suaminya belum pulang. Medina masuk ke ruang keluarga dan duduk di sofa sambil menunggu pemilik rumah berkumpul.
" Sudah setengah satu, kok Om Surya belum pulang ya?" batin Medina.
Medina hendak kembali ke kamar Rifky untuk mengambil mukena dan sholat dhuhur. Namun saat ingin menaiki tangga, dia bertemu dengan seorang ART yang kebetulan lewat.
" Non, butuh sesuatu? Biar bibik siapkan...?" tanya Art yang bernama Sumi, umurnya sekitar 40'an tahun.
" Dina mau ambil mukena, bik. Mau sholat dhuhur..." jawab Medina sopan.
" Oh... itu di sudut ruangan ada mushola, sudah tersedia semua perlengkapan buat sholat."
" Benarkah? Terimakasih, bik... kalau begitu Dina langsung ke mushola aja."
" Silahkan, Non..."
__ADS_1
Medina segera berjalan ke Mushola sebelum papanya Rifky pulang. Memang benar, semua sudah tersedia di tempat itu sehingga siapapun yang bertamu ke rumah ini tidak akan kesulitan untuk menjalankan kewajibannya beribadah.
Selesai sholat, Medina rebahan sebentar karena keadaan rumah itu masih sepi. Art di rumah itu juga sedang membersihkan kamar yang akan dipakai Medina selama menginap.
¤ ¤ ¤
" Rifky... katanya pulang sama Medina? Kenapa nggak diajak turun sekalian?" tanya papa Surya.
Rifky yang baru turun dari kamar merasa bingung karena dia pikir Medina bersama mamanya tadi saat dirinya sedang tidur.
" Loh... bukannya tadi sama mama...?" tanya balik Rifky.
" Kok mama sih? Tadi bukannya Dina mandi di kamar kamu?" sahut mama Kamila.
" Iya, Ma. Tapi setelah mandi sepertinya keluar lagi dari kamar Rifky."
" Duh... gimana kalau anak itu hilang, apa yang akan kita katakan pada pak Hasan." kata papa Surya.
" Kamu sih, Ky! Harusnya kamu itu tidak mengabaikan calon istrimu itu." omel mama Kamila.
" Apaan sih, Ma... Rifky capek habis perjalanan jauh, ini sebentar lagi juga mau meeting dengan klien."
" Kerjaan terus yang kamu pikirin, kalau nanti Medina berpaling jangan menyesal!"
" Mamaaa...!" kesal Rifky.
Rifky beranjak untuk mencari Medina ke halaman. Mungkin saja gadis itu sedang berada di taman karena tadi tak ada yang menemaninya.
" Sayaaang...!" teriak Rifky.
" Hhh... kayak di hutan saja! Carinya yang kalem dikit." ledek mama Kamila.
" Hmm... terserah kamu! Tadi kata bibik, Medina terakhir kali terlihat masuk ke Mushola."
" Astaga... kenapa Rifky nggak kepikiran sih, Ma?"
" Udah... cari dulu sana! Jangan sampai menantuku ditikung cowok lain."
Rifky bergegas menuju Mushola untuk mencari Medina. Sungguh dirinya sangat khawatir, takut kekasihnya pergi dalam keadaan marah.
" Sayaa...ng..."
Rifky berhenti berucap saat melihat Medina sedang tidur di Mushola masih dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya.
" Dina... sayang, ya Allah... kenapa tidur disini?" gumam Rifky.
Rifky menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. Rasanya tidak tega untuk membangunkan kekasihnya yang tengah terlelap itu. Dengan perlahan, Rifky melepas mukena yang dipakai Medina lalu mengangkat tubuh gadis itu untuk dipindahkan ke kamarnya.
" Rifky...?" tanya mama Kamila.
" Ssttt...! Rifky pindahkan ke atas dulu, Ma. Kasihan dia, pasti kelelahan." ucap Rifky pelan.
Setelah merebahkan tubuh kekasihnya di tempat tidur, Rifky segera turun kembali untuk makan siang bersama kedua orangtuanya.
" Medina tidak sakit kan, Ky...?" tanya papa Surya.
" Tidak, Pa. Dina hanya ketiduran saja, mungkin lelah belum terbiasa bepergian jauh." jawab Rifky.
__ADS_1
" Ya sudah, tapi kamu udah bilang kan tentang tujuan kamu ajak dia kesini?"
" Belum, Pa... soalnya takut dia nolak."
" Ya Allah... jadi dia belum tahu tentang rencana pernikahan kalian?"
" Belum... Papa dan Mama juga baru kemarin bilang sama Rifky. Paman juga tak pernah bilang apa - apa sama kami berdua."
" Sudah, sebaiknya makan dulu. Keburu makanannya nggak enak." sela mama Kamila.
Usai makan siang, papa Surya kembali ke kantor. Begitu pula dengan Rifky, dia juga pergi untuk meeting dengan klien.
¤ ¤ ¤
Medina yang baru bangun sangat kaget karena sekarang berada diatas kasur yang sangat nyaman. Padahal seingatnya, ia sedang berada di Mushola tadi.
" Hah... aku dimana ini? Kenapa seperti kamar kak Rifky ya?" gumam Medina dengan pikiran yang masih setengah sadar.
Saat pikirannya sedang berputar - putar mengingat apa yang terjadi pada dirinya, tiba - tiba pintu terbuka dengan perlahan.
" Sayang... udah bangun? Turun yuk...? Makan dulu, kamu pasti lapar." ujar mama Kamila lembut.
" Mmm... Ma... kok... Dina bisa... ada disini?" tanya Medina terbata.
" Oh itu...! Tadi Rifky yang bawa kamu kesini saat kamunya ketiduran di Mushola. Kamu pasti capek banget ya? Sekarang makan dulu, terus nanti bisa istirahat lagi. Kamar di bawah udah bersih, tinggal nempatin aja."
" Terimakasih, Ma."
" Sama - sama, sayang. Cuci muka dulu, mama tunggu di bawah."
" Iya, Ma."
Setelah makan, Medina diajak ke taman di samping rumah oleh mama Kamila. Mereka terlihat sangat akrab layaknya ibu dan anak. Tanpa terasa, hari sudah sore saat Rifky pulang bersama Nicko.
" Assalamu'alaikum." ucap Rifky diikuti Nicko di belakangnya.
" Wa'alaikumsalam... kalian udah pulang?" jawab mama Kamila.
" Tante, itu di sebelah tante diem aja dari tadi?" celoteh Nicko.
" Dina masih marah sama kak Nicko...!" ketus Medina.
" Loh... kok marah sama saya, Mey?" kaget Nicko.
" Pikir aja sendiri...!" ucap Medina sewot.
" Udah dong, sayang. Jangan ngambek terus dong, nanti malam kita dinner." kata Rifky.
" Nggak mau, lagi bad mood!"
Rifky duduk di samping Medina lalu merangkul bahu gadis itu. Sepertinya cukup sulit untuk membujuk kekasihnya untuk hanya sekedar untuk tersenyum.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.