
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, ternyata Mama dan Papanya Rifky datang setelah dihubungi lagi oleh pelayan yang mengantar Medina tadi.
" Selamat ya, sayang. Terima kasih sudah memberikan cucu yang sangat tampan untuk Mama dan Papa." Mama Kamila seraya memeluk Medina.
" Maaf ya, Nak. Papa dan Mama tidak menemani kamu saat melahirkan tadi." ujar Papa Surya.
" Tidak apa - apa, Pa. Sudah ada kak Rifky yang menemani Dina."
" Mama mau gendong baby bolehkan?"
" Boleh, Ma. Tidur setiap hari sama Mama juga boleh. Nanti Rifky buatin lagi yang banyak." celetuk Rifky tanpa malu.
" Kakaakkk...!" Medina melotot kearah suaminya.
" Dasar anak nakal! Istrimu baru saja melahirkan dan kamu sudah mikirin mau buat lagi." omel Mama Kamila.
" Hehehee... Kan baru rencana, sayang. Buatnya juga tidak langsung sekarang." Rifky memeluk istrinya dengan gemas.
Medina mencubit lengan suaminya kesal. Bisa - bisanya dia berbicara seperti di saat anaknya baru keluar beberapa jam yang lalu.
" Kak, Ayah tidak datang?" ucap Medina sendu.
" Tadi Papa menghubunginya dan akan kesini besok. Katanya harus ijin dulu ke sekolah baru kesini, Nak." ujar Papa Surya.
" Iya, Pa."
Tak lama kemudian, Ririn datang dengan membawa buah - buahan yang paling disukai Medina. Tentu saja ada belimbing, jambu dan mangga.
" Hai, Oppa...! Meong, ini ada buah - buahan. Belinya ini di pasar loh." ucap Ririn.
" Rin, aku udah nggak ngidam lagi. Kenapa bawa buah seperti itu. Itu juga bukan dari pohon di depan rumah Bayu, kan?"
" Bukanlah, Mey. Aku belum sempat pulang kampung. Dari kecil juga kamu paling suka manjat, kan? Kalau belum diomelin ibunya Bayu nggak bakalan turun."
" Ish... Jangan buka aib orang!" desis Medina.
" Ya udah kamu istirahat, sayang. Mama sama Papa pulang sebentar, nanti sore datang lagi." ujar Mama Kamila.
" Iya, Ma."
Nicko yang sedari tadi diam sambil menatap bayi mungil yang tertidur itu tiba - tiba tersenyum geli saat sang bayi menggeliat kecil.
" Kak Nicko kenapa?" tanya Ririn heran.
" Lihatlah! Dia menggeliat, lucu banget." seru Nicko.
" Gemes banget deh lihat baby kecil seperti ini." celoteh Ririn.
" Kamu pengen yang kayak gini juga?"
" Kalau di kasih siapa yang nolak."
" Memangnya bisa buatnya?" goda Nicko.
" Apa maksud, Kak Nicko?!" Ririn yang tersadar langsung menatap tajam pria di sampingnya.
__ADS_1
Rifky dan Medina tertawa melihat interaksi dua orang berlainan jenis itu. Entah mengapa, Ririn selalu kesal jika terlalu lama bicara dengan Nicko.
" Itu kode diajak nikah, Rin." ledek Medina.
" Nikah? Sama dia? Amit - amit, deh! Dia itu pria yang sangat menyebalkan." sinis Ririn.
" Jangan bicara begitu, nanti kalau jodoh baru tahu rasa kamu." sahut Medina.
" Nggak! Aku tidak mau sama cowok menyebalkan seperti dia."
" Lihat saja, suatu saat kau yang tidak akan mau lepas dariku." Nicko menatap Ririn dengan seringai tipis.
" Ish... Jangan harap!"
Ririn yang kesal langsung mengambil tas yang berisi buku - buku kuliah karena dia mengikuti kelas sore. Pagi hari ia bekerja di butik ibunya Rifky.
" Mey, aku mau ke kampus dulu. Nanti malam aku mampir lagi." pamit Ririn.
" Biar diantar Nicko, Rin." kata Rifky.
" Tidak usah, Kak. Nanti bisa cari taksi di depan." tolak Ririn.
" Ayolah, Rin. Nanti kamu terlambat ke kampus." ucap Medina.
" Kelamaan...!" Nicko menarik tangan Ririn keluar dari ruang rawat Medina.
Rifky kembali memeluk Medina setelah semua orang keluar. Mereka bisa kembali berduaan selagi putra kecil mereka masih tidur.
" Kak, sudah memutuskan nama putra kita?" tanya Medina.
" Sudah," jawab Rifky singkat sambil mencium pipi istrinya itu.
" Arshaka Putra Mahendra, kau suka?"
" Nama yang bagus, Dina suka."
" Sebenarnya Ayah yang memberikan nama itu. Tadi kami sempat telfonan sebentar."
" Ayah...? Kenapa tidak bilang telfon Ayah? Dina juga mau bicara sama Ayah."
" Istirahat dulu mumpung Shaka belum bangun."
Rifky mengusap lembut puncak kepala istrinya agar cepat beristirahat. Dia tidak tahu kapan putranya akan bangun dan membuat Medina harus bangun juga.
.
.
Pagi hari, semua berkumpul di ruang rawat Medina. Tak hanya keluarga, sahabat Rifky dan Medina juga hadir disana. Jonathan bersama Adam dan Johan, Hans bersama Bayu. Ririn datang bersama Nicko yang entah hanya kebetulan bertemu di depan atau Nicko yang menjemput Ririn di Apartemen gadis itu.
" Bagaimana semuanya bisa berkumpul disini?" ucap Medina kaget.
" Tentu saja untuk melihat keponakan kami." sahut Adam.
Hampir satu tahun Medina tidak bertemu dengan Adam dan Johan. Mereka saling memeluk tanpa menghiraukan tatapan tajam Rifky.
__ADS_1
" Rifky, siapa nama cucu Mama ini?" tanya Mama Kamila.
" Arshaka Putra Mahendra, Ma." jawab Rifky.
" Nama yang indah, cocok dengan wajahnya yang tampan." sahut papa Surya.
" Hallo, baby Shaka..." sapa Ririn gemas.
Teman - teman Medina berebut untuk menggendong baby Shaka. Mereka sangat antusias menyambut hadirnya keponakan pertama mereka.
Ayah Medina duduk di tepi brankar sambil memeluk putrinya yang terlihat sangat manja padanya hari ini.
" Biar aku yang gendong duluan!" seru Adam.
" Aku yang duluan, Dam." sahut Bayu tak mau kalah.
" Biar aku saja!" lerai Johan.
" Kalian jangan berisik, nanti Shaka nangis!" tegur Ririn.
Para orangtua hanya bisa menggelengkan kepala melihat teman - teman Medina yang berebut bayi seperti berebut mainan. Untung saja Shaka adalah anak yang tidak mudah rewel walaupun terdengar suara gaduh di sekitarnya.
" Kalian jangan berebut, bisa gantian." tegur Jonathan.
Adam terlebih dahulu menimang baby Shaka. Melihat binar ceria di mata bayi mungil itu Adam merasa sangat bahagia.
.
.
Satu minggu berlalu sejak kehadiran baby Arshaka, mereka berkumpul di rumah papa Surya untuk mengadakan syukuran. Sebenarnya Rifky sudah mempersiapkan rumah baru untuk anak dan istrinya namun Mama Kamila tidak mengijinkan mereka pindah sampai Medina benar - benar siap untuk merawat anaknya sendiri. Di usianya yang masih muda, Mama Kamila takut menantunya mengalami baby blues.
" Bunda, biar Ayah saja yang gendong Shaka ke bawah." ucap Rifky.
" Iya, Bunda juga sedikit lelah semalaman tidak bisa tidur." sahut Medina.
" Bunda harus banyak istirahat, jangan sampai sakit. Kasihan baby Shaka kalau Bunda sakit. Mulai sekarang tidak usah mempersiapkan semua keperluan Ayah, cukup jaga Shaka saja."
" Tapi_..."
" Ayah bisa melakukan semuanya sendiri, Bunda. Bahkan Ayah yang akan membantu Bunda merawat Shaka."
" Terima kasih, Ayah."
" Sama - sama, Bunda Shaka."
Rifky turun ke bawah bersama istri dan putranya. Acara sebentar lagi akan dimulai dan semua orang sudah bersiap - siap.
Kebahagiaan terpancar di wajah seluruh keluarga Besar Mahendra dan para tamu undangan. Banyak juga hadiah yang dikirimkan rekan bisnis papa Surya, Rifky dan juga teman - teman Mama Kamila.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.