Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Telur asin


__ADS_3

Sudah satu minggu Medina dirawat di rumah sakit dan sekarang sudah diperbolehkan pulang namun harus tetap bedrest. Mereka tidak jadi pulang ke Indonesia karena Medina tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur.


" Kak, pengen telur asin." rengek Medina.


" Disini mana ada telur asin, sayang." ucap Rifky pelan.


" Pokoknya harus ada!" teriak Medina.


Rifky tahu istrinya sedang ngidam, tapi selama bertahun - tahun di Korea, dia tidak pernah melihat ada telur asin di negara itu.


" Gimana kalau telur dadar atau telur mata sapi? Kakak buatin sekarang," bujuk Rifky.


" Nggak mau! Kalau gitu Dina mau pulang saja ke Indonesia."


" Jangan dong, sayang. Kamu masih sakit, belum boleh bepergian."


Sudah berkali - kali Rifky merayu sang istri, namun justru makian dan omelan yang tak kunjung berhenti ia dapatkan. Rifky hanya bisa pasrah menghadapi sifat keras kepala istrinya. Jika ia menanggapinya, takut terjadi sesuatu yang buruk pada kesehatan istri dan calon anaknya.


" Kakak cari dulu telur asinnya, mudah - mudahan ada di pasar tradisional." bujuk Rifky yang membuat Medina langsung diam.


Rifky memanggil salah satu pelayan untuk menemani istrinya selama ia pergi. Dia tak tahu mau pergi kemana karena menurut berita yang entah benar atau tidak, telur asin buatan Indonesia sangat sulit masuk ke pasar Korea Selatan.


Rifky mengambil ponselnya lalu menghubungi Bayu yang kini sudah aktif masuk kuliah pagi dan sorenya akan bekerja part time di kantor Rifky sebagai bawahan Hans secara langsung.


Rifky : " Hallo, Bay..."


Bayu : " Hallo, Kak... Ada apa...? Saya masih di Kampus, tapi sebentar lagi ke kantor karena setelah ini tidak ada kelas lagi."


Rifky : " Dina minta telur asin, kau punya solusinya?"


Bayu : " Kak Rifky dimana sekarang?"


Rifky : " Di jalan, tapi tidak tahu mau kemana."


Bayu : " Kak Rifky ke kantor saja, nanti kita bicarakan lagi disana. Sepuluh menit lagi saya sampsi di kantor."


Rifky : " Baiklah."


Rifky mendesah pelan lalu kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Melihat wajah marah sekaligus sedih istrinya membuat Rifky merasa menjadi suami yang tidak berguna.


.


.


Bayu sudah sampai di kantor dengan motor sport yang dibelikan oleh Hans atas perintah Rifky untuk mempermudah dia saat bepergian. Tak lama, mobil Rifky juga parkir di samping motornya.


" Kak Rifky...!" sapa Bayu.


" Ayo masuk, saya juga tidak bisa meninggalkan Dina terlalu lama." balas Rifky.


Bayu berjalan sedikit di belakang Rifky sebagai tanda hormat terhadap atasannya. Dia ingin bekerja karena kemampuannya sendiri, bukan karena sabahat dari istri sang Boss Besar. Selama ini Rifky sudah banyak membantunya. Membiayai pendidikannya, tempat tinggal dan semua fasilitas yang ia butuhkan di negeri orang. Bayu tidak akan mengecewakan orang yang telah berjasa dalam hidupnya.


" Bagaimana kerjaan kamu disini?" tanya Rifky saat mereka di dalam lift.


" Sampai saat ini masih lancar, Kak. Masih banyak belajar pada Kak Hans. Tapi untuk proyek pembangunan taman itu, apakah saya boleh mengambilnya?"

__ADS_1


" Itukan baru pengajuan, kita belum membuat design dan presentasi. Belum tentu kita mendapatkan tendernya."


" Tidak apa - apa, Kak. Beri kesempatan padaku untuk menghandle proyek ini."


" Apa tidak mengganggu kuliahmu? Walaupun proyek kecil, tapi klien kita cukup detail soal design. Masalahnya ini untuk taman pribadi di dalam mansion seorang pejabat negara. Harus ramah anak dan bisa dijadikan arena permainan."


" Kuliahnya pagi, Kak. Tolonglah beri kesempatan padaku sekali ini saja." pinta Bayu.


" Baiklah, siapkan design dan presentasi dalam tiga hari. Minggu depan kita akan bertemu klien untuk presentasi."


" Boleh minta alamat klien itu, Kak?"


" Untuk apa?"


Rifky dan Bayu melangkah keluar dari lift saat sudah sampai di lantai paling atas. Mereka segera masuk ke ruangan khusus Presdir.


" Kak... sebelum membuat design, kita harus survei dulu lokasinya."


" Datanya sudah ada, Bay. Tinggal kau pelajari berkasnya lalu membuat designnya."


" Kak, membuat taman itu seperti membuat impian. Perlu imajinasi yang tinggi untuk mewujudkannya. Jika hanya memandang selembar kertas, kita tidak akan tahu dimana akan meletakkan kerikil di bawah bunga anggrek."


" Terserah kau saja, nanti bicarakan dengan Hans. Saya kesini bukan mau membicarakan kerjaan."


Rifky tersadar jika tujuannya datang ke kantor bukanlah membahas proyek melainkan masalah ngidamnya sang istri yang meminta telur asin.


"Saat yang bersamaan, Hans masuk tanpa mengetuk pintu karena dia pikir tidak ada orang disana. Dia kaget saat ada Rifky dan Bayu yang sedang duduk di sofa.


" Boss, kau disini?" ucap Hans heran.


" Iya, ada sedikit urusan dengan Bayu."


" Dina ngidam pengen telur asin."


" Telur asin...? Apa itu...? Aku baru kali ini mendengar nama makanan itu."


" Itu asli dari Indonesia, sepertinya tidak ada di negara ini."


" Bagaimana kalau minta dikirim saja dari Indonesia, Kak?" usul Bayu.


" Itu terlalu lama, Bay. Mau berapa ribu kali lagi dia memarahiku?"


" Boss, suruh Nicko mengantarkannya kesini. Sore ini juga suruh berangkat, jadi besok pagi sudah ada." saran Hans.


" Hhh... Tapi kemarin dia bilang sedang banyak kerjaan. Kasihan juga sama anak itu, baru kali ini aku meninggalkannya cukup lama."


" Kenapa tidak tante Kamila saja, Kak? Pasti beliau senang bisa mengunjungi anak dan menantunya." ucap Bayu.


" Benar juga, Mama itu orang yang paling tidak punya kerjaan." sahut Rifky.


" Bukannya Butik milik tante Kamila banyak, Kak?"


Rifky tersenyum kecil jika mengingat seperti apa kelakuan ibunya. Walaupun dia memiliki banyak butik, namun dia tak pernah mengurusnya sendiri. Wanita paruh baya itu lebih suka menghabiskan waktu dengan liburan. Hampir seluruh penjuru dunia telah ia kunjungi.


" Aku telfon Mama dulu. Hans, cari hadiah yang terbaik untuk Mama."

__ADS_1


" Siap, Boss."


Rifky menyuruh Bayu untuk kembali ke ruangannya sendiri sementara Rifky akan membujuk Mama Kamila agar mau datang.


Rifky : " Assalamu'alaikum, Ma..."


Mama : " Wa'alaikumsalam, Nak."


Rifky : " Mama dimana...?"


Mama : " Biasalah, di Butik. Ada apa...?"


Rifky : " Mama nggak pengen liburan?"


Mama : " Liburan? Tumben kamu tanya begitu, sepertinya ada sesuatu nih."


Rifky : " Menantu Mama sedang mengandung cucu keluarga Mahendra, Mama tidak pengen mengunjungi kami?"


Mama : " Tidak usah berbelit - belit! Cepat katakan istrimu lagi pengen apa. Mama tahu kamu tidak bisa memenuhi permintaan istrimu yang aneh - aneh."


Rifky : " Hehehee... Mama kok tahu sih? Dulu waktu muda pasti tukang ramal."


Mama : " Sembarangan kamu! Mama tidak mau datang ke Korea!"


Rifky : " Mamaaa...! Please, tolong Rifky kali ini saja. Mama tega menantu Mama itu ngambek tidak mau makan?"


Mama : " Yaudah, apa yang diminta istrimu?"


Rifky : " Dina minta telur asin, Ma. Di Korea tidak ada, mau buat sendiri butuh waktu lama."


Mama : " Ya udah, besok Mama kirim telurnya."


Rifky : " Kelamaan, Ma. Sore ini Mama langsung terbang kesini. Besok pagi telur itu sudah harus tersedia di depan Dina."


Mama : " Mama belum siap - siap, Rif!"


Rifky : " Tidak usah, Ma. Cukup bawa telur asin kesini, masalah pakaian bisa belanja disini. Mama boleh shopping sepuasnya pakai kartu Rifky."


Mama : " Beneran...? Okelah, Mama cari telurnya dulu sekarang. Mau yang mentah atau mateng?"


Rifky : " Mateng aja, Ma. Biar nanti nggak pecah di perjalanan."


Mama : " Ya, Mama cari dulu telurnya. Jangan lupa jemput Mama di Bandara."


Rifky : " Siap, Boss. Assalamu'alaikum."


Mama : " Wa'alaikumsalam."


Rifky berteriak senang, bersyukur ibunya bersedia untuk datang ke Korea untuk memenuhi permintaan menantunya.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2