
Seminggu berlalu pesta peluncuran pun tiba waktunya, sore itu Rania tengah mondar mandir di dalam kamarnya dengan gusar, dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul setengah 5 sore.
Gadis itu sedang bingung untuk pesta peluncuran nanti malam, dia bingung harus memakai baju apa untuk nanti malam, belum lagi dandan dia sendiri tidak bisa berdandan dengan baik, yang tentu saja membuat dia khawatir jika dia kalah oleh Adinda nanti malam.
Sebelumnya dia dan Adinda memang sudah taruhan mereka sama-sama saingan untuk menjadi yang tercantik nanti malam, dia yakin Adinda pasti sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna untuk tampil sempurna malam ini.
Rania membuka lemari miliknya dan langsung mengeluarkan semua baju paling bagus yang dia miliki, dia menaruh baju-baju itu ke atas kasur dan langsung mengacak-ngacak pakaian tersebut dengan cepat.
“Ini baju mana sih gak ada yang bagus kayaknya!” Gumam Rania kesal sambil menilai baju-baju tersebut di depan cermin, dan langsung melempar baju-baju tersebut kembali ke atas kasur, dia menghembuskan nafasnya kasar merasa kesal dengan bajunya yang kebanyakan hanya jaket dan baju santai untuk bermain.
“Kenapa sih Ran sayang kok bajunya diacak-acak gitu?” Tanya Reno sambil menatap Rania.
Sedari tadi dia hanya diam memperhatikan Rania yang terlihat sibuk sendiri, dia yang sedang duduk di atas sofa sambil mengerjakan pekerjaan kantornya.
Reno beranjak menghampiri gadis kesayangannya itu dan langsung memeluk Rania dari belakang, mencoba menenangkan Rania yang masih terlihat kesal.
“Kenapa sayang cerita sama aku!” Ucap Reno sambil mencium pundak Rania yang tertutupi kaos putih yang melekat di tubuh Rania.
Rania melepaskan pelukan Reno dan langsung duduk di sisi ranjang, dia mengacak rambutnya frustasi dengan gusar sambil menghembuskan nafasnya kasar.
“Aku gak punya gaun bagus Mas buat nanti malam, gimana bisa menang coba aku dari si ulat bulu!” Ucap Rania frustasi.
Reno tersenyum mendengarnya, dia pun ikut duduk disamping Rania sambil membelai rambut Rania yang panjang bergelombang, Reno memainkan anak rambut Rania dan menyelipkannya di balik kuping gadis tersebut.
Bahkan disaat sedang panik dan kesal pun Rania terlihat cantik, semakin lama Rania lebih terlihat cantik membuat hati kecil Reno sedikit takut jika gadisnya akan digoda oleh banyak pria hidung belang diluar sana.
“Kamu kenapa khawatir untuk hal tidak penting seperti itu sayang, kan ada aku disini yang akan menyiapkan segalanya untukmu, tenang saja Ran sayang aku sudah memesan gaun-gaun terindah yang ada hanya untukmu Ran!” Ucap Reno sambil tersenyum.
“Benarkah itu Mas, mana bajunya aku mau lihat” Ucap Rania menatap Reno dengan mata berbinar dia pun beranjak bangun dan membuka lemari pakaian Reno mencari pakaian yang belikan Reno untuknya.
“Mana Mas kok gak ada sih?” Tanya Rania sambil berbalik memandang Reno yang tengah menatapnya sambil tersenyum geli.
“Bajunya tidak disini sayang tapi di rumah orang tuaku, sebaiknya ayo kita pergi ke rumah sekarang, Mama pasti sudah menunggu kamu Ran!” Ucap Reno sambil beranjak dan menarik tangan Rania meninggalkan kamar mereka dan pergi ke rumah orang tua Reno.
Sesampainya di rumah Kikan, Rania terkejut melihat gaun-gaun indah sudah berjejer rapi di dalam kamarnya dan juga Reno, Rania menyentuh salah 1 gaun berwarna merah muda yang panjang menjuntai.
Matanya kemudian beralih ke arah gaun-gaun lain yang indah dan juga terlihat sangat cocok untuknya, tidak terlalu terbuka tapi juga elegan, Rania berdecak kagum suaminya itu memang luar biasa, tadinya dia pikir Reno hanya membelikan sebuah gaun untuknya, tapi tidak suaminya itu seperti sudah memborong satu toko baju terkenal di mall.
__ADS_1
“Gimana sayang bagus-bagus kan bajunya?” Ucap Kikan yang berdiri di samping Rania sambil tersenyum senang.
Kikan menemani Rania di dalam kamar sambil melihat gaun-gaun yang dibelikan Reno, sedangkan anaknya itu sudah dia usir agar tidak mengganggu dia mendandani menantu kesayangannya Rania.
Rania mengangguk menyetujui perkataan Kikan dengan mata masih mengagumi gaun-gaun tersebut. “Iya Ma, aku gak nyangka Mas Reno bisa beliin aku gaun yang indah dan bagus banget aku suka!” Ucap Rania sambil berbalik memandang ibu mertuanya dengan mata berbinar senang.
“Siapa dulu anak Mama gitu loh, ada gunanya juga tuh bocah Mama kira dia taunya cuman beli baju nafsu beli gaun juga bisa ternyata” Ucap Kikan sambil tersenyum senang dan juga merasa bangga.
“Ma aku mau ngomong sesuatu nih” Ucap Rania menatap ibu mertuanya itu dengan serius.
“Mau ngomong apa nak kok kayaknya serius Mama jadi lapar, ayo sini duduk ada apa cerita sama Mama Cantik!” Ucap Kikan sambil duduk di atas ranjang dan menyuruh Rania ikut duduk bersamanya.
Dengan patuh Rania duduk di samping ibu mertuanya itu, dia menatap Kikan ragu dia menarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk tenang, dan bicara jujur kepada Kikan.
“Aku taruhan sama mba Adinda Ma, kita saingan buat jadi yang tercantik malam ini, tapi aku takut aku kalah Ma dia kan model terkenal sedangkan aku cuma lapis legit!” Ucap Rania menyerukan segala keluh kesahnya kepada Kikan dengan muka sedih.
“Si anak mesum itu emang nyebelin Ran, tenang nak ada Mama disini.Mama jamin kamu bisa ngalahin tuh anak onta!” Ucap Kikan dengan mata penuh semangat, ibu paruh baya itu seolah masih menaruh dendam terhadap Adinda.
Rania mengangguk dengan senang, dia percaya Kikan akan membuatnya menang taruhan dengan Adinda, dia memperhatikan ibu mertuanya tengah memilah-milah gaun mencari yang paling bagus untuk di pakai Rania malam ini.
Rania pun mencoba gaun tersebut namun saat melihat penampilan Rania, Kikan seolah merasa tak puas dengan baju yang dipakai Rania dan meminta gadis itu untuk mencoba baju yang lain.
Gaun demi gaun pun Rania coba, dia bolak balik mengganti gaun yang dipilihkan Kikan dengan pasrah, dia mengikuti semua instruksi Kikan baik itu bergaya ala model dan juga bergaya seksi, dia percaya Kikan akan membuatnya tampil sempurna malam ini.
“Ma lihat sepatu Al gak yang baru Al beli kemarin?” Tanya Alvian yang melongok di depan pintu.
Kikan berbalik memandang Alvian dengan kesal, anaknya itu sudah kembali dari rumah sakit 2 hari yang lalu, dan kini dia sudah terlihat sehat seperti semula.
“Mana Mama tahu, memangnya kamu taruh dimana sih Al ganggu aja!” Ketus Kikan sambil menatap anaknya dengan sebal.
“Hai Ran, cantik banget kayak model seksi kalau Kak Reno lihat pasti langsung nyosor tuh!” Ucap Alvian menggoda Rania sambil tersenyum menatap gaun seksi yang dikenakan Rania.
“Ah kamu bisa Al” Ucap Rania tersipu malu dengan pipi merona merah membuat Alvian tersenyum mendengarnya, dia pun menoleh menatap ibunya Kikan.
“Ituloh yang aku taruh di rak depan Ma masih di dalam kotak juga, kata Bi Surti Mama yang ngambil kotaknya” Ucap Alvian menjawab pertanyaan Kikan.
Sejenak Kikan terdiam mengingat kotak yang dimaksud Alvian, matanya pun melebar sambil menatap Alvian dengan pandangan tak terbaca.
__ADS_1
“Ada apa Ma, Mama gak buang sepatu Al kan?” Tanya Alvian curiga menatap gelagat ibunya yang aneh.
“Gak kok Al tapi itu Al kotaknya Mama
lempar kemarin ke atas pagar buat nimpuk anjing tetangga,maaf ya Al” Ucap Kikan meminta maaf dengan senyumannya yang sok polos.
“Apa!”
Alvian langsung lemas mendengar kenyataan pahit mengenai sepatu baru yang akan dia pakai nanti malam, dia menatap ibunya dengan pandangan nanar, Alvian mencoba mengatur nafasnya yang naik turun menahan amarah yang ingin meledak.
Rania tersenyum miris menatap Alvian iba, Rania menoleh menatap Kikan yang terlihat pura-pura sedih, Rania yakin ibu mertuanya memang tidak sengaja membuang sepatu Alvian, tapi dia juga tidak tega melihat Alvian menderita.
“Emang ya Mama mertuaku lain dari yang lain, ya Allah mudah-mudahan kalau aku hamil nanti anakku gak kayak Mama Kikan!” Ucap Rania dalam hati dengan refleks mengusap perutnya yang rata.
“Terus sekarang kotaknya dimana Ma, kenapa Mama buang sepatu Al?” Ucap Alvian sedih.
“Mama gak buang Al, kok kamu nuduh gitu sih dosa loh Al nuduh orang tua sendiri, sudah ah pergi sana cari sepatu kamu di tetangga sebelah, Mama yakin pasti ada di kandang si guk-guk!” Ucap Kikan kesal dan mengusir Alvian dengan teganya.
Blam.
Alvian menatap pintu kamar Rania dan Reno yang baru saja ditutup oleh ibunya itu, Alvian menunduk sedih dia merasa hidupnya itu sungguh indah jika dilihat oleh orang yang suka melihatnya merana.
“Kamu kenapa Al?”
Reno menepuk pundak Alvian pelan saat dia baru saja dari dapur membuat kopi, adiknya itu terlihat kacau dan juga sedih, Alvian menoleh ke arah Reno yag menatapnya bingung.
“Sepatu baruku Kak hilang sudah, ini semua karena Mama kak tolong aku dari gangguan ibu yang kejam!” Ucap Alvian menatap kakaknya dengan penuh harap untuk membantu segala kesulitannya.
“Makannya nikah Al, kalau sudah nikah kan kamu bisa pindah rumah kayak aku, kamu jomblo sih jadi terima saja nasibmu Al!” Ucap Reno sambil tertawa dan berlalu meninggalkan Alvian sendiri.
“Ya Allah sudah ibuku kejam, punya kakak juga gak ada akhlak” Gumam Alvian sedih.
-----
hari ini gak bs up 2 x ada kesibukan aku😆😆
jangan lupa mampir oe lapak nungky ya judulnya "Kepentok Cinta Nungky"
__ADS_1