
“A-apa?” Tanya Rania seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
“Apa kamu tuli Rania, aku katakan sekali lagi kamu bukan anakku!” Tegas Bram.
Rania serasa ditembak oleh peluru panas yang menyakitkan saat mendengar perkataan dari ayahnya Bram, dia menatap ayahnya itu mencari kebohongan di matanya, dia berharap itu hanya sebuah alasan saja tapi tidak ayahnya itu menatapnya dengan penuh keyakinan.
“Apa benar itu Kak?”
Rania menatap kakaknya yang hanya tertunduk diam tanpa mengucapkan apapun, Rania tersenyum miris kenapa rasanya begitu menyakitkan hingga dia lupa bagaimana caranya bernafas dengan benar.
Haruskah dia senang karena mengetahui alasan di balik kekejaman Bram padanya, apakah dia harus bersedih mendengar kenyataan pahit dari mulut orang yang selama ini dia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri.
“Lalu aku anak siapa Pa, siapa ayah dan ibuku?” Tanya Rania mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk bertanya.
Bram tersenyum kecut saat melihat gadis kecil didepannya itu yang masih bisa bertanya padanya, kemudian matanya beralih ke arah Natalya yang menatapnya sambil menggeleng melarang ayahnya itu untuk bicara lagi.
“Pergilah sebelum kesabaranku habis Rania, jangan pancing aku untuk mengatakan tentang masa lalumu yang membawa sial dan malapetaka dalam keluargaku” Ucap Bram dengan angkuh.
“Ayo Ran sebaiknya kamu pulang sekarang, Reno pasti sudah menunggumu dirumah” Ucap Natalya sambil memegang tangan Rania mengajaknya untuk pergi keluar kamar.
Rania menepis tangan kakaknya itu sambil tersenyum samar berusaha meyakinkan jika dia baik-baik saja, kemudian dia kembali menatap Bram yang masih menatapnya sinis dengan gayanya yang angkuh.
“Tolong jawab saja Pa aku ingin tahu semuanya, aku tidak ingin mendengarnya setengah-setengah seperti ini” Ucap Rania sambil menyunggingkan senyumannya berusaha untuk tegar menghadapi semua yang mungkin dia dengar.
Bram tersenyum sinis, gadis yang dibencinya itu kini menantangnya.”Baiklah anak sial dengarkan baik-baik kata-kataku ini, kamu itu anak hasil perselingkuhan istriku dan pria brengsek diluar sana” Ucapnya.
“Papa cukup jangan diteruskan!” Ucap Natalya dengan nada tinggi.
“Ayo Ran kita pergi kumohon” Ajak Natalya namun gadis malang itu tidak bergeming sedikit pun.
“Biarkan Nat biarkan dia mengetahui semua rahasia kelam tentang masa lalunya, kamu dengar itu Rania kamu hanyalah anak haram yang merusak kebahagiaan keluargaku” Ucap Bram lagi dengan kejamnya dia tidak memperdulikan Rania yang terlihat syok mendengarnya.
__ADS_1
Rania langsung terduduk lemas mendengar semua kebenaran pahit yang bahkan tidak pernah terbersit dalam benaknya sekalipun,dia meluruh kelantai dengan bahu yang terkulai lemas seolah semua energi sudah terkuras habis dari tubuhnya, bahkan untuk mendongak saja dia tidak mampu.Dalam tangisannya yang begitu pilu Rania terdiam mencerna semua kata-kata menyakitkan dari Bram.
Anak haram? benarkah dia anak haram yang menghancurkan keluarga Bram, apa ini alasan sebenarnya mengapa Bram begitu menyakitinya, Rania memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.Dia ingin berteriak marah tapi dia tidak tau harus marah kepada siapa.
Sejenak dia membayangkan wajah ibunya yang masih terkenang diingatannya saat dia masih berumur 5 tahun, dia mengingat bagaimana lembutnya Alea saat sedang menjaga dia dan Natalya, dia terlihat seperti wanita berhati malaikat yang bahkan untuk membunuh nyamuk saja tidak akan dilakukannya.
Bagaimana seorang ibu yang begitu periang, penurut dan juga baik itu bisa mengkhianati Bram suaminya sendiri, bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun dia tidak akan pernah bisa mempercayai jika ibunya itu selingkuh dan memiliki anak haram sepertinya.
“Tidak, Mama tidak mungkin berselingkuh apalagi sampai memiliki anak haram yaitu aku, tidak Mama bukan wanita seperti itu” Gumam Rania pelan menyangkal apa yang dituduhkan Bram tentang dia dan ibunya.
Mendengar itu Bram lansung berjongkok, dia memegang pipi Rania agar mendongak menatapnya, Rania meringis pelan merasakan kerasnya Bram memegang pipinya itu.
“Dasar anak sial tidak tahu diri apa kamu pikir aku berbohong padamu hah, jangan bodoh Rania aku tahu kamu tidak sebodoh itu sampai tidak mempercayai kata-kataku” Ucap Bram sambil tersenyum sinis dan melepaskan tanganyadi wajah Rania.
“Tidak Pa aku tidak mau mempercayai kata-kata Papa barusan, bahkan jika itu benar aku tidak mau mempercayainya, anggap saja aku ini anak sial yang lahir dari rahim seorang ******* yang diasuh Mama tapi jangan pernah bilang Mama selingkuh Pa, aku mohon jangan katakan itu padaku” Ucap Rania sambil membungkuk dalam tangisannya yang begitu pilu.
Melihat Rania yang membungkuk pada Bram, Natalya langsung berjongkok memeluk adiknya itu sambil menangis, bagaimana gadis kecil sepertinya bisa begitu tegar mendengar semua kenyataan pahit tentangnya dan sekarang gadis itu malah membungkuk pada orang yang begitu kejam padanya.
Mendengar itu Rania langsung mendongak menatap Bram dengan bingung, dia tidak mengerti kenapa Bram bisa bicara seperti itu padanya bukankah Alea meninggal karena hal lain, tapi kenapa sekarang berkata seperti itu padanya.
“Maksud Papa apa aku tidak mengerti bukankah Mama meninggal karena sakit?” Tanyanya bingung sambil menatap Bram dan kakaknya secara bergantian.
“Ya Rania ibumu Alea meninggal karena kecelakaan setelah menyelamatkanmu, ah sudahlah untuk apa juga aku mengatakan hal itu mengingat kamu sendiri hilang ingatan dan melupakan kejadian itu” Ucap Bram sambil tersenyum kecut.
“Sekarang katakan padaku apa ada alasan yang bisa membuatku menyayangimu Rania, kamu itu hanya pembawa sial yang membuat hidupku dan anakku Natalya menjadi suram” Tambah Bram.
“Benarkah itu kak jadi Mama meninggal karena aku?” Tanya Rania menatap kalaknya sendu.
Dalam tangisannya Natalya mengangguk dengan pelan.”Iya maaf Ran selama ini kakak menyembunyikan kebenarannya dari kamu, Kakak hanya tidak mau kamu merasa bersalah dan menganggap itu karena kamu, jangan pernah berpikir begitu Ran, ingatlah ini mungkin sudah takdir Mama pergi meninggalkan kita semua tapi itu bukan karena kamu Ran sungguh” Ucap Natalya berusaha meyakinkan Rania.
Cukup sudah, gadis malang itu benar-benar tidak mampu berkata apa-apa lagi sekarang, tangisanya kini sudah kering menyisakan wajah yang penuh luka dan rasa bersalah, kenapa takdir begitu kejam padanya setelah kenyataan pahit tentang kenyataan dia hanyalah anak haram hasil perselingkuhan ibunya Alea.
__ADS_1
Kini gadis itu kembali dihantam dengan kenyataan yang lebih menyakitkan tentang penyebab kematian ibunya itu, dia tersenyum kecut dia tidak sangup menerima semuanya, hatinya hancur dengan sayatan yang begitu dalam.
“Maaf”Cicitnya pelan.
Hanya kata itu yang bisa dia katakan pada Bram dan juga Natalya, Rania menguatkan dirinya mencoba beranjak berdiri, Natalya membantu Rania untuk berdiri dengan memegang tangannya namun Rania menepis tangan Natalya sambil tersenyum tipis.
Dia merasa tidak pantas untuk menerima bantuan dari orang yang selama ini dia anggap sebagai kakaknya, Rania menatap Bram yang bahkan tidak mau untuk menoleh padanya, Rania tersenyum sambil berlari keluar kamar.
“Rania tunggu!” Teriak Natalya mencoba menyusul Rania.
“Jangan pergi Nat, untuk apa kamu memperdulikan anak seperti dia” Larang Bram sambil mencekal tangan Natalya.
Natalya melepas cekalan Bram dan menatap ayahnya itu dengan tajam.”Dia adikku dan selamanya akan menjadi adikku tidak perduli Papa suka atau tidak” Ucapnya tegas sambil berlari menyusul Rania.
“Rania!”
Rania tidak memperdulikan teriakan kakaknya itu, dia terus menuruni tangga dengan cepat berharap jika dia segera pergi menjauh dari rumah itu.
“Arrrrgghhhh!”
Teriakan seseorang yang sangat dikenalnya membuat Rania yang sudah hampir membuka pintu itu kembali berbalik menoleh ke belakang, matanya melebar karena terkejut saat melihat kakaknya Natalya tengah menggelinding menuruni tangga hingga gadis itu menghantam lantai dibawah tangga dengan keras.
“Kak Naaaaatttt” Teriak Rania sambil berlari menghampiri kakaknya yang sudah tak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir disekitar tubuhnya.
--------
Bangke ini siapa sih yag jualan bawang dilapakku.
sumpah aku gak kuat nahan airmata pas nlis adegan ini anjay sedih aing.
Salam Galau
__ADS_1
Author Penjual Bawang