
Setelah kepergian para tamu yang membuat Rania naik pitam, Reno dan Rania sedang duduk berdua di kursi meja makan, dengan telaten Reno menyuapi Rania makan yang kelaparan sehabis marah-marah tadi.
Reno baru tahu jika istrinya suka kelaparan sehabis marah yang menurutknya sangat manis, entah apa kebiasaan Rania yang Reno tidak sukai baginya semua yang Rania lakukan adalah hal indah yang menyenangkan.
"Akutuh sebel Mas, masa aku ketiban ai Nungky mana hidungku sakit lagi" Curhat Rania sambil mengunyah makanannya.
"Ini semua gara-gara si Adinda rese ngapain juga dia kesini!" Ucap Rania lagi dengan kesal.
"Iya sayang aku ngerti kok sudah ya makan saja dulu jangan marah-marah terus!" Ucap Reno pelan.
"Oh jadi kamu gak suka Mas aku marah-marah sama si Adinda rese itu, ada hubungan apa kamu sama dia kok belain dia terus kayaknya?" Tanya Rania penuh selidik sambil menatap suaminya itu dengan tajam.
Reno jadi salah tingkah padahal bukan itu maksudnya, dia hanya ingin Rania menyelesaikan makannya tanpa harus mengungkit masalah yang sudah terjadi yang hanya akan membuatnya kembali kesal, tapi sepertinya Rania salah tangkap dan malah menyudutkanya seperti ini.
"Bukan gitu sayang, sudah ya lanjut makan aja katanya lapar" Ucap Reno mencoba mengalihkan perhatian yang untungnya Rania setuju.
"Oh iya Mas besok kita berangkat jam berapa?" Tanya Rania.
"Mungkin agak siang sekitar jam 10 an lah supaya yang lain gak ada yang terlambat!" Ucap Reno.
Rania menggeleng saat Reno ingin menyuapinya kembali dan memilih meminum air putih yang sudah disediakan diatas meja.
"Gak sabar aku Mas pengen cepat-cept kesana, sekalian bulan madu kita" Ucao Rania sambil tersenyum.
"Tentu saja Ran, maaf ya aku belum bisa mengajak kamu pergi kemana-mana tunggu sampai nanti kamu lulus sekolah pasti aku akan membawamu kemana pun kamu mau pergi!" Ucap Reno sambil tersenyum lembut.
"Janji ya Mas, kalau gitu bantuin aku belajar ya mulai sekarang aku gak mau dikalahin sama si Adinda rese" Ucap Rania.
"Baiklah aku akan mengajari kamu belajar semampuku, atau apa kamu mau aku masukin ke tempat les pribadi disana kamu bisa lebih fokus belajar, mau gak sayang?" Tanya Reno.
Rania menggeleng dia tidak mau ikut les pribadi, dia tidak pernah suka belajar sendiri yang ada malah dia mengantuk kecuali jika gurunya Reno mungkin akan berbeda.
__ADS_1
"Gak usah Mas cukup kamu saja aku gak mau sama yang lain" Ucap Rania menolak usulan Reno.
"Yasudah terserah kamu saja sayang!" Ucap Reno tersenyum sambil membelai rambut Rania.
"Ayo kita kekamar saja yuk!" Ajak Reno sambil beranjak berdiri dan memegang salah 1 tangan Rania.
"Gendong Mas!" Ucap Rania manja.
Reno terkekeh pelan gadisnya itu sudah mulai manja padanya yang tentu saja dia menyukainya, dengan sigap Reno membopong Rania menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar Reno membaringkan Rania dengan lembut dan ikut berbaring disampingnya, Rania menoleh kearah Reno menatap wajah suaminya yang masih terlihat lebam karena ulah teman-temannya tadi.
"Masih sakit gak Mas, mau aku kompres?" Tanya Rania sambil menyentuh wajah Reno yang lebam.
"Tidak perlu Ran ini tidak sakit kok, cukup peluk aku saja Ran itu sudah menjadi obat yang ampuh buatku!" Ucap Reno sambil menarik Rania kedalam pelukannya.
"Mas kita berapa hari di Lombok?" Tanya Rania sambil mendongak menatap Reno.
"Gak sih aku takutnya lama kan bentar pagi aku masuk sekolah!" Ucap Rania pelan.
"Kamu tenang saja aku tidak akan mengganggu kegiatan sekolah kamu Ran, kalau ada apa-apa kasih tahu aku jangan dipendam sendiri" Ucap Reno sambi mengeratkan pelukannya.
"Mas tahu gak, aku ngerasa Mas itu suami sekaligus ayah bagiku!" Ucap Rania pelan.
"Kok ayah sih kenapa gak suami saja" Protes Reno pura-pura tidak terima dengan perkataan Rania.
"Ish aku serius Mas!" Ucap Rania kesal sambil mencubit pinggang Reno membuat suaminya itu terkekeh pelan.
"Kamu tahu Mas sejak aku kecil ayah tidak pernah peduli padaku bahkan saat aku sakit sekali pun" Ucap Rania sendu.
Tes
__ADS_1
Air mata Rania menetes saat mengingat ayahnya apalagi mengingat kata-kata ayahnya saat di pesta kemarin membuat tangisan Rania makin menjadi.
"Sudah jangan di teruskan Ran!" UcapnReno sambil menghapus air mata Rania.
Rania menggeleng sambil terus menangis dia merasa Reno berhak tahu tentang dirinya dan juga ayahnya yang tidak dekat.
"Tidak Mas aku ingin menceritakan semuanya padamu, kenapa ya Mas ayah begitu membenciku apa aku bukan anaknya?" Tanya Rania menatap Reno dengan pandangan nanar.
"Jangan berpikir seperti itu sayang, Papa Bram itu ayahmu aku yakin itu jangan berpikiran aneh yang hanya akan menyakitimu Ran, mungkin dia memang seperti itu tapi ketahuilah dia menyayangimu sama seperti Natalya!" Ucap Reno mencoba menghibur Rania.
Reno sendiri ragu saat mengatakannya, dia masih belum tahu apa sebab ayah Rania dan Natalya yaitu Bram berlaku tidak adil pada kedua anaknya itu.
"Lucu sekali Mas kata-katamu sama persis dengan yang kak Nat katakan yang lucunya lagi aku terus mencoba mempercayainya meski aku tahu itu semua bohong belaka" Ucap Rania sambil tersenyum miris membuat Reno langsung terdiam.
Dia menatap Rania yang terus menangis mengeluarkan air matanya membuat hati Reno terasa teriris-iris ingin rasanya dia menggantikan semua kesedihan Rania menjadi kebahagiaan yang Reno tahu itu sulit yang bisa dia lakukan hanya memeluk istrinya denga erat.
"Kamu tahu Mas aku pikir Papa akan berubah jadi baik padaku setelah aku menggantikan Kak Nat dan menerima perjodohan kita hingga akhirnya kita menikah" Ucap Rania mengenang saat dia menyetujui untuk menjadi istri Reno.
"Tapi semau sia-sia Mas, Papa masih tidak menganggapku bahkan dia tidak tersenyum sekali pun padaku saat kita menikah aku mungkin memang anak sial seperti yang selalu Papa katakan!" Ucap Rania sedih.
"Sudah Ran sudah cukup jangan bicara lagi, lihat sekarang ada aku disini bersamamu yang akan selalu menjaga kamu Ran, kumohon jangan menangis lagi!" Ucap Reno tanpa sadar air matanya ikut menetes seperti merasakan kesedihan Rania.
"Maaf Mas aku tidak bermaksud membuat kamu bersedih, dan sekarang aku sudah bahagia kok karena ada kamu, Mama Kikan dan juga Papa William yang sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri" Ucap Rania sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
"Terima kasih ya Mas kamu selalu ada untukku!" Ucap Rania sambil memeluk Reno dengan erat.
"Tentu saja sayang jangan khawatir setelah ini aku pastikan kamu tidak akan bersedih lagi Ran!" Ucap Reno dengan yakin.
Sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Reno, Rania mengangguk sambil tersenyum dia percaya akan apa yang suaminya itu ucapkan meski dia sendiri tidak yakin apa itu akan berhasil.
"Aku mencintai kamu Mas Renoku sayang!" Ucap Rania dalam hati.
__ADS_1