Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Tamu Yang Terusir


__ADS_3

Untuk sesaat suasana diruangan itu menjadi tenang, Reno menatap Rania dan ketiga temannya yang menatap tajam kearah Adinda begitu juga sebaliknya.


Mereka seolah sedang memancarkan laser untuk saling baku hantam dalam mata mereka, sedangkan Reno, Alvian dan juga Iyan hanya diam tanpa ikut-ikutan.


Entah sampai kapan kelima gadis tersebut saling bermusuhan jika dipikir-pikir itu cuma karena mereka belum mengenal satu sama lain dan juga Adinda yang masih saja mengejarnya meski sudah di tolak berkali-kali membuat Rania langsung memasang bendera perang permusuhan.


"Oh iya Yan jadi syuting iklannya dimana?" Tanya Reno mencoba mengalihkan perhatian.


"Rencananya sih kita mau syuting di Lombok Ren, jarang-jarang kan syuting iklan diluar ruangan!" Ucap Iyan memberi idenya.


"Bagus sih aku setuju saja Yan, gimana kamu sudah menyiapkan sutradara dan juga yang lainnya?" Tanya Reno lagi.


"Untuk sutradara kita ambil lewat Justin saja ya Ren dia kan sudah pakarnya, aku tidak mau mengambil resiko kita kan belum paham betul bagaimana cara kerja dunia seperti ini, kita harus lebih hati-hati mengenai prodak sabun yang akan kita luncurkan Ren termasuk masalah iklan dan juga promosi kita serahkan kepada yang lebih ahli saja!" Ucap Iyan mengeluarkan unek-uneknya sambil menatap Reno serius.


Reno mengangguk mengerti dia paham maksud kata-kata Iyan, sebelumnya perusahaan Reno adalah perusahan yang bergerak dibidang perhotelan dan juga batu bara.


Dan dia ingin mengembangkan sayap perusahaanya lebih besar dengan merambah ke industri lain seperti mengeluarkan prodak sabun dan juga yang lainya yang masih dia siapkan.


Waktu dia dan Iyan ke Kalimantan dia kesana untuk membeli ratusan hektar kebun kelapa sawit dimana akan diolah langsung oleh perusahannya.


Untuk membantu perekonomian warga disana Reno berniat membuka pabrik disana dimana para warga disana bisa bekerja di pabrik yang dia bangun, namun memperoleh ijin untuk membangun pabrik besar tidak semudah yang Reno dan Iyan bayangkan membuat dia harus terjun langsung meninjau tempat tersebut.


"Baiklah aku setuju kamu hubungi saja Justin dan tanya kapan kita bisa mulai syuting agar peluncuran prodak sabun kita bisa lebih cepat!" Ucap Reno akhirnya menyetujui usulan Iyan.


Justin memang sudah pakarnya dalam hal itu, teman sekaligus rekan bisnisnya itu memang mempunyai perusahaan dibidang entertainer yang mempunya banyak sutradara, bintang iklan, model serta artis papan atas.


Selain memiliki perusahaan yang diwarisi orang tuanya secara turun menurun, Justin sudah lebih dulu memiliki perusahaan sendiri yang dia bangun tanpa embel-embel nama besar orang tuanya dan terbukti perusahaanya cukup sukses sekarang.


"Kamu tahu Ren aku baru saja mengirim pesan kepada Justin dan dia malah menyuruh kita ke Lombok besok, dia sedang disana sekarang lengkap dengan sutradara dan juga yang lainnya" Ucap Iyan setelah melihat pesan di hp nya dan tersenyum geli.


"Sedang apa Justin disana apa dia sedang ada proyek juga?" Tanya Reno penasaran.


"Iya betul katanya ada syuting film disana yang kebetulan sudah selesai dan kamu tahu disana dia sedang bersama Aldo mengikuti kedua gadis yang sedang mereka kejar" Ucap Iyan sambil tersenyum.


Reno ikut tersenyum mendengarnya dia tahu kedua gadis yang Iyan maksud adalah Alysha dan Kimmy, mereka itu memang pantang menyerah dalam hal mengejar cinta.


"Mas, Justin yang dimaksud tadi Justin yang kita temui saat berkunjung kerumah kak Alysha bukan?" Tanya Rania penasaran sambil menatap suaminya itu.


"Iya sayang itu Justin yang kita temui saat berkunjung ke tempat Alysha" Ucap Reno lembut sambil mengusap kepala Rania dengan lembut.


"Cih menyebalkan sekali mereka seperti pasangan remaja saja pakai belai-belai segala" Sungut Adinda kesal dalam hati melihat tingkah Reno dan Rania.


"Baiklah siapkan segalanya untuk keperluan besok, besok siang kita berangkat kesana!" Putus Reno sambil kembali menatap Iyan yang langsung diangguki Iyan dengan patuh.


"Wah aku tidak sabar Mas pasti seru disana, kita bisa main dan bersenang-senang disana!" Ucap Adinda genit sambil mengelayut manja kepada Reno.


"Minggir Mba kayak ulet bulu deh kagatelan banget main nemplok aja!" Ucap nungky sambil menyingkirkan Adinda membuat gadis tersebut terjatuh dan dengan santainya Nungky mengambil tempat duduk Adinda disamping Reno.


"Awwww" Pekik Adinda merasakan bokongnya yang sakit karena menyentuh lantai.


"Din kamu gak apa-apa kan?" Tanya Iyan mencoba beranjak bangun untuk membantu Adinda namun ditahan Veyya yang memegang tangannya erat.

__ADS_1


"Sudah Mas tampan biarin aja belum mati kok!" Ucap Veyya santai sambil tersenyum kearah Iyan dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Hei gadis licik berani sekali kamu ya, kamu ma saya hajar hah?" Bentak Adinda menatap Nungky tajam sambil beranjaka berdiri.


"Apasih Mba gatel gitu baru gitu saja sudah marah-marah ketahuan titisan nenek lampirnya deh, jadi cewek itu kayak saya dong Mba selalu tenang dimana pun dan kapan pun" Ucap Nungky membanggakan dirinya.


"Dasar si Nungky bisa banget ngomongnya, dia emang tenang tapi suka bikin hidup orang gak tenang kalau ada dia" Bisik Veyya kepada Gisuwa disampingnya.


"Betul tuh Veyy, tuh anak ngapain juga duduk disamping Om ganteng pasti ada maunya tuh anak" Bisik Gisuwa kepada Veyya, mereka melihat temannya itu yang sudah memasang jurus penggoda miliknya.


"Om ganteng yang baik hati ajak aku sama kedua temanku juga ya, lumayan Om sekalian liburan kita, nyelip di koper juga gak apa-apa kok Om" Rayu Nungky sambil memasang muka sedihnya.


"Ran ajak kita bertiga ya masa kamu tega ninggalin kita disini kesepian lagi" Ucap Nungky merayu sahabatnya Rania.


Seolah mendapat angin segar karena nama mereka disebut, Veyya dan Gisuwa saling berpandangan senang, akhirnya mereka memiliki kesempatan untuk ikut liburan ke Lombok, dengan sigap mereka ikut mendekati Rania dan Reno.


"Iya Om ganteng, Ran ajak kita ya masa tiap hari diam dirumah terus kayak di penjara" Ucap Gisuwa sedih sambil menatap mereka berdua.


"Aku juga ya Om Ganteng, Ran aku sudah capek disuruh belajar terus sama bapakku padahal aku sudah pintar loh gak kayak Gisuwa sama Nungky tuh" Ucap Veyya dengan muka memelas.


"Veyy gak usah bawa-bawa aib kita juga kali kita lagi ngerayu nih bukan ngehina" Bisik Gisuwa kesal sedangkan Veyya hanya tersenyum malu mendapat tatapan tajam dari Gisuwa dan Nungky.


"Jadi gimana Mas mereka boleh ikut gak, kan biayanya mahal loh Mas?" Ucap Rania sambil menatap Reno dengan ragu.


"Gak apa-apa kok sayang mereka boleh ikut biar kamu ada temannya, baiklah kalian semua boleh ikut" Ucap Reno tersenyum sambil menatap ketiga gadis tersebut.


Mendengar itu Veyya, Gisuwa dan Nungky langsung bersorak senang karena berhasil membujuk Reno dan Rania sedangkan Rania hanya meringis merasa malu dengan tingkah ketiga temannya itu.


Reno mengangguk sambil tersenyum dia menatap Alvian yang sedari tadi diam tanpa bicara sedikit pun, adiknya itu seperti kehilangan nyawanya setelah digoda oleh Nungky sekarang dia hanya bengong dengan pandangan mata kosong.


"Al disana kamu jagain Nungky, Veyya sama Gisuwa ya!" Perintah Reno.


Seolah mendengar musibah yang akan menimpanya Alvian mengerjap-ngerjapka matanya sambil menatap Reno.


"Kok aku sih Kak tugasku disana kan cuma motret doang, masa aku harus jagain mereka bertiga juga, gak mau ah lagipula mereka sudah besar bisa jaga diri sendiri kok" Ucap Alvian langsung menolak perintah kakaknya itu.


"Oke baiklah kalau kamu menolak, kalau begitu aku akan bilang ke Mama kalau kamu yang merusak Tas Mama kemarin dengan memutuskan talinya" Ucap Reno sambil tersenyum sinis.


Alvian melotot dengan kaget dia tidak menyangka kakaknya Reno mengetahui perbuatan bejatnya kemarin saat di acara ulang tahun ayah Rania.


Padahal dia hanya ingin membalas dendam pada ibunya dengan memtuskan tali Tas milik ibunya itu yang kebetulan diletakan diatas meja.


Alvian menatap Reno yang sedang tersenyum sinis kearahnya, kakaknya itu sudah seperti Kikan yang sudah pakar dalam hal mengancam dan menindas Alvian.


Akhirnya Alvian mengangguk mengiyakan permintaan Reno mungkin sudah nasibnya yang malang dan juga sial, dia hanya berharap dia masih bernyawa setelah pulang dari Lombok nanti.


"Baiklah aku akan menuruti semua keinginan kakak, tapi jangan bilang-bilang ke Mama masalah itu ya, bisa habis aku" Ucap Alvian pasrah sambil menatap kakaknya sendu yang langsung diangguki Reno dengan senang.


"Mas Reno disana kita misahin diri aja ya dari para gadis menyebalkan seperti mereka!" Ucap Adinda sambil menunjuk Veyya, Gisuwa dan juga Nungky.


"Tidak bisa Mas Reno hanya akan bersamaku iyakan sayang?" Tanya Rania genit dan Reno langsung mengiyakan.

__ADS_1


"Aduh Mas aku yakin deh kita pasti sibuk banget tempur disana, bekas semalam juga masih ada, mau nambah lagi gak? aku kasih bonus kejutan deh nanti!" Ucap Rania dengan mengedipkan sebelah matanya genit sambil mengibaskan rambutnya memperlihatkan bekas merah akibat perbuatan Reno yang tentu saja membuat pipi reno bersemu merah karena malu.


"Dasar bocah mesum menyebalkan sini kamu!" Adinda yang kesal melihat leher Rania yang memiliki banyak bercak merah langsung menjambak rambut gadis itu.


"Awwwww sakit" Pekik Rania.


"Adinda apa yang kamu lakukan pada istriku?" Bentak Reno kesal dan menatap Adinda dengan tajam sambil melepaskan tangan Adinda di rambut Rania.


"Heh jablay berani ya kamu nyiksa teman kita, sini kalau berani" Dengan kesal Veyya langsung menjambak rambut Adinda.


Nungky dan Gisuwa pun tak tinggal diam mereka ikut membantu Veyya berkelahi dengan Adinda yang sudah berguling-guling dilantai.


"Ayo hajar terus hajar guys aku tahu kalian bisa!" Ucap Rania semangat memberi dukungan.


Reno, Alvian dan juga Iyan mencoba melerai perkelahian antar gadis berbeda umur itu, namun mereka malah keawalahan sendiri tanpa bisa memisahkan mereka.


Para gadis itu seolah memiliki tenaga tambahan jika sedang berkelahi membuat para lelaki pun enggan memisahkan mereka yang ada mereka ikutan babak belur jika ikut campur.


Rania yang sedang tertawa senang malah tertimpa badan Nungky yang habis ditendang oleh Adinda kearahnya, Rania meringis pelan sambil menyentuh hidungnya yang mengeluarkan sedikit darah.


Rania menatap para gadis yang masih asyik berkelahi tersebut dan dengan kesal dia beranjak mengambil tongkat golf dan juga sapu dan kembali menghampiri mereka.


"Berhennnntiii!!!" Teriak Rania lantang membuat perkelahian tersebut seketika berhenti.


Mereka berempat menatap Rania yang tengah menatap mereka dengan tajam seolah ingin memakan mereka hidup-hidup, dia terlihat menyeramkan dengan hidung berdarah sambil memegang kedua benda yang tadi dia ambil di kedua tangannya.


"Keluar sebelum aku habisi kalian semua!" Ucap Rania dengan kejam.


"Kabuuuuurrr!"


Dengan serempak keempat gadis tesebut langsung kocar-kacir keluar apartemen, mereka melupakan perselilihan diantara mereka untuk menyelamatkan diri dulu dari amukan Rania, diikuti oleh Iyan dan juga Alvian yang ikut kabur bersama mereka.


Reno melirik istrinya itu dengan takut, Rania seperti sedang kesurupan membuat Reno bergidik ngeri, dengan perlahan dia mencoba berjalan keluar apartemen, dia takut akan jadi sasaran amukan istrinya itu jika masih disini.


"Mau kemana kamu Mas?" Tanya Rania yang sudah menatapnya dengan tajam membuat Reno langsung diam ditempat.


"Ya Allah tolong selamatkan hamba" Ucap Reno dalam hati sambil menatap Rania takut.


------


Holla


Hari ini aku up sekali saja ya kan partnya panjang iniπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Sedih akutuh tadi pagi udah cape ngetik selama 2 jam pas mau di up malah hp ku mati alhasil aku harus nulis ulang😒😒😒😒


Terima kasih untuk kalian readersku tercintah yang slama ini setia mendukung dan membaca novel murahanku.


jangan bosan ya, ketahuilah tanpa kalian aku bukan apa-apa.


Salam Sayang

__ADS_1


Author Galau


__ADS_2