Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Akhir Cerita


__ADS_3

Orang bilang kesedihan dan kebahagiaan itu satu paket, jika awalnya hidupmu dipenuhi dengan kesedihan dan air mata, maka percayalah akan hari esok dimana kamu bisa tertawa bahagia tanpa beban kesedihan, tawa yang akan membuatmu lupa akan semua kesedihan yang pernah kamu alami.


Begitu juga dengan Rania, sejak kecil wanita cantik nan periang itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan dengan terpaksa dia juga harus menikah dengan seorang pria yang tak dikenal dan juga memiliki usia yang terpaut cukup jauh darinya, tapi karena keterpaksaan itu dia malah menemukan kebahagiaan dan cinta sejati yang membawa nya menjadi seorang istri lelaki tampan yang begitu mencintainya.


Sudah bertahun-tahun berlalu Rania dan Reno menjalin kehidupan sebagai sepasang suami istri, namun meski begitu keduanya masih saling bermanja-manja dan kadang saling menggoda satu sama lain, seperti sekarang wanita yang tengah sibuk membuat Jus itu terganggu dengan tingkah Reno yang memeluknya dari belakang.


"Mas udah ih jangan peluk-peluk gitu sayang, malu tahu disini lagi banyak tamu Mas!" Ucap gadis berkerudung itu sambil melepaskan pelukan Reno."Mending kamu suruh Alvian sama istrinya buat cepat-cepat kesininya, dari tadi mereka gak nyampe-nyampe coba, temen-temen aku sama orang tua kita aja udah nyampe dari tadi, emang ya tuh Al dia yang ngajak buat makan-makan disini tapi dia sendiri yang ngaret!" Ucap Rania mengomel dengan tangan sibuk mengaduk jus jeruk di depannya.


"Paling tuh anak lagi dibangunin sama istrinya Ran, kamu tahu sendiri dia itu susah banget dibangunin, gak kayak aku yang rajin dan tampan ini iyakan sayang?" Ucap Reno sambil cengengesan sedangkan Rania hanya membalasnya dengan memutar bola matanya malas kemudian dia pun tersenyum geli saat melihat wajah cemberut Reno.


"Iya Sayang kamu rajin dan tampan kok, buktinya aja jam sepuluh kamu baru bangun sayang" Ucapnya sambil tersenyum geli sedangkan Reno hanya nyengir mendengarnya."Oh iya anak-anak mana Mas kok gak kelihatan?" Tanyanya sambil melirik sekitar, pasalnya saat tadi dia bangun kedua anaknya itu masuk bergelung bersama Reno diatas kasur. 


Reno duduk di kursi meja makan sambil memangku dagunya menatap wajah cantik istrinya itu sambil tersenyum, kini dia, Rania dan anak-anaknya sudah tinggal di rumah mereka sendiri meskipun kadang Kikan selalu datang dan menginap di rumah mereka karena merindukan cucu-cucunya.


Reno mencomot kue kering buatan Rania dan langsung melahapnya, dia tersenyum puas saat merasakan kue yang ternyata cukup enak itu diselingi dengan air putih, setelah sekian lama belajar memasak kini istrinya itu sudah pandai memasak hidangan untuknya dan juga kedua anak mereka.


"Nih minum Mas kopi nya" Rania menaruh segelas kopi di atas meja dan duduk disamping suaminya itu.


Reno mengangguk sambil tersenyum kemudian dia mengambil kopi tersebut meniupnya sebentar dan langsung meminumnya."Nikmat seperti biasanya, kopi buatan kamu memang tidak ada duanya Ran" Pujinya sambil menaruh kembali gelas cangkirnya dan mengusap kepala Rania dengan lembut membuat pipi Rania jadi bersemu merah."Kamu gak gabung sama yang lain Ran, kalau kamu mau gabung sama mereka gak apa-apa aku sendiri saja disini, sebentar lagi aku juga mau mandi" Ucapnya lagi.


Rania menggeleng sambil menghembuskan napasnya pelan."Gak ah aku juga belum mandi Mas lagian mereka juga lagi pada asyik ngobrol sama Mama" Jawabnya, merasa ingat sesuatu Rania kembali menatap wajah suaminya itu yang tengah memakan kue kering buatannya."Besok kamu jadi berangkat ke Singapura Mas?" Tanyanya membuat Reno mengalihkan perhatian dan menatap nya.


"Jadi Ran, aku sudah memesan tiket untuk jam 10 pagi besok, soalnya sebelum berangkat aku juga harus mengurus beberapa hal di kantor" Jawabnya menjelaskan."Kamu yakin tidak mau ikut denganku Ran?, lumayan loh setelah kerja aku bisa mengajakmu jalan-jalan disana, lagipula aku disana selama seminggu kalau kamu ikut aku bisa mempercepat pekerjaanku untuk jalan-jalan denganmu Ran" Ucapnya sambil memegang salah satu lengan Rania.


Rania menggeleng sambil tersenyum tangannya yang bebas  terulur untuk mengusap tangan Reno yang sedang memegang salah satu tangannya."Tidak apa aku disini saja sama yang lain, aku harus ngurus Bima sama Arleta Mas" Jawabnya membuat Reno mengangguk mengerti sambil beranjak berdiri.

__ADS_1


"Arghhhh Mas lepas!" Pekik Rania saat Reno menggendong istrinya itu sambil berjalan menaiki tangga dan membawanya ke kamar mereka.


Reno menurunkan Rania saat mereka sudah sampai di dalam kamar, Rania menatap Reno kesal kemudian tanpa bicara apa-apa dia kembali berjalan ke arah pintu, namun langkahnya langsung terhenti saat Reno menarik tangannya hingga kembali ke belakang dan menubruk dada bidang milik suaminya itu.


"Kenapa sih Mas, ada apa?" Tanyanya dengan bibir mengerucut sebal membuat Reno terkekeh geli dan mengecup bibir istrinya itu dengan singkat.


"Kita mandi bareng yuk Sayang aku merindukanmu, rasanya aku tidak kuat jika harus berjauhan dengan mu selama seminggu Ran" Ucapnya sambil menciumi tengkuk Rania yang kerudungnya sudah lebih dulu dia lepas.


"Ini kan bukan pertama kali kamu pergi dinas keluar kota atau luar negeri Mas, masa tiap mau pergi kamu kayak gini terus ,malu ah sama umur kita udah tua sekarang" Ucap Rania sambil melepaskan diri dengan pipi bersemu merah, dia membuang pandangannya ke arah lain rasanya dia tidak akan sanggup menahan tatapan menggoda dari suaminya itu yang selalu membuatnya luluh.


Reno kembali menarik Rania membuat istrinya itu diam tidak berkutik merasa pasrah akan keinginan kuat dari Reno."Tua dari mana Ran, aku juga masih bugar dan kamu makin cantik sekarang, menurutku tidak ada yang berubah dari kita" Ucapnya membuat Rania tersenyum geli dibuatnya.


"Kamu ini Mas kita itu sudah tua Mas, sekarang Bima sudah berumur 9 tahun dan Arleta juga sudah hampir menginjak usia 5 tahun Mas, waktu berjalan begitu cepat rasanya baru kemarin aku melihat Bima belajar jalan sekarang dia malah sudah mempunyai adik cantik yang menggemaskan" Ucapnya dengan pandangan menerawang sambil tersenyum.


"Aku tahu Ran, aku pun merasa begitu Sayang" Ucap Reno sambil mengeratkan pelukannya pada Rania."Makannya sebelum semuanya berlalu ayo kita melakukan sesuatu yang menyenangkan Ran, biar Bima sama Arlet punya adik kecil lagi!" Ucapnya lagi sambil mencium kening Rania mencoba memberikan sensasi hangat pada keduanya.


Bima dan Arleta memasuki kamar mereka tanpa permisi membuat Reno dan Rania langsung mengerjak kaget beruntung kedua anaknya belum sempat melihat sesuatu yang terlarang untuk dilihat, Rania langsung melotot saat melihat Bima yang sudah berurai air mata sedangkan disampingnya Arleta menepuk-nepuk punggung kakaknya itu.


"Sudah Abang Bima yang sabar ya" Ucap gadis berwajah imut itu dengan polosnya.


"Kamu kenapa Bima sayang, siapa yang jahatin kamu nak?" Tanya Rania sambil mengusap air mata Bima yang tidak berhenti mengalir.Ah Mama tahu pasti Om Al yang ngerjain kamu ya?" Ucapnya lagi menebak.


"Bukan Mama, Abang Bima abis dicium sama Zahra" Ucap Arleta yang menjawab pertanyaan Rania sambil tersenyum geli mengingat kejadian yang baru saja menimpa kakaknya itu.


"Huaaa!"

__ADS_1


Mendengar itu Bima kembali menangis histeris di dalam pelukan ibunya."Ma Bima udak gak perawan, kata Nenek cantik Bima harus minta tanggung jawab sama Zahra Ma!" Ucapnya tersedu-sedu.


"Hahahaha anak cowok kok nangis Cemen kamu Bim" Ledek Reno yang langsung ciut saat Rania menatapnya tajam.


Rania mengusap air mata Bima sambil tersenyum lembut mencoba menenangkan anak sulungnya itu."Kata siapa kamu udah gak perawan Bima, memangnya kamu sudah diapain sama Zahra, Mama yakin nenek cuman bercanda sayang!" Ucapnya dengan lembut."Arlet kamu lihat sendiri kan kalau Abang Bima cuma dicium doang bukan diapa-apain?" Ucapnya lagi sambil memandang Arleta.


Sejenak Arleta terdiam mencoba memikirkan maksud dari kata-kata ibunya, namun sedetik kemudian dia menyerah dan kembali menatap ibunya Rania dengan kening berkerut bingung."Diapa-apain kayak gimana Ma" Tanyanya Bingung.


Rania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum, dia mengutuk ucapannya sendiri yang berbicara sembarangan pada anak umur 4 tahun, sekarang dia sendiri bingung harus berkata apa agar Arleta bisa mengerti.


"Diapa-apain itu ya dicium pas gak pake baju Arlet Sayang" Ucap Reno menjelaskan."Tapi kan Bima pakai baju jadi dia masih perawan dong ya" Ucapnya lagi menenangkan.


Namun bukannya berhenti menangis Bima malah makin histeris, dia langsung terdiam di tempatnya dengan wajah pucat dan pandangan kosong ke depan , Reno dan Rania saling pandang dengan bingung akan reaksi Bima yang begitu mengkhawatirkan.


"Tadi pas dicium sama Zahra Abang Bima lagi gak pake baju Ma, kan tadi Abang lagi main air sama aku" Ucap Arleta menjelaskan."Terus kata Mama Nungky sama yang lain juga Abang udah gak suci lagi" Ucapnya menambahkan dengan kata mengerjap polos.


Mendengar itu Rania langsung beranjak berdiri."Emang dasar si Nungky kampret gak anak gak ibu sama banget kelakuannya suka nyosor-nyosor sama cowok" Ucapnya kesal."Ayo nak kita kasih pelajaran sama Mama Nungky dan Zahra" Ucapnya lagi sambil menarik tangan Arleta yang berjalan di sampingnya dengan wajah dibuat marah seolah ikut merasakan kekesalan ibunya.


,


________


Hua seneng campur sedih karena novel ini tamat,😘😭😭


jangan lupa terus dukung karyaku, ya guys, mampir juga di kepentok cinta Nungky 😁

__ADS_1


Muuaaachhh


ohtor Sholehun


__ADS_2