Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Mengingat kembali


__ADS_3

Seorang gadis cantik duduk sendirian dibangku taman, dia menengadahkan kepalanya memandang langit sambil tersenyum, tangannya terangkat saat tetesan air hujan membasahinya, rintik hujan kecil itu membasahi pipinya, rambutnya dan juga tangannya.


Rania menutup matanya membiarkan tetesan kecil hujan itu mengenai Nya, lambat laun hujan itu bertambah besar  membuatnya tambah tersenyum, keningnya berkerut bingung saat tetesan hujan itu berhenti mengenainya.


"Mas Reno" Ucap Rania pelan saat dia membuka kedua matanya dan menatap suaminya itu yang sedang berdiri sambil memegang payung dan memayungi mereka berdua.


Reno tersenyum dan duduk disamping istrinya itu."Kenapa kamu disini Ran, ada apa?" Tanya Reno penasaran.


Sekilas dia menoleh menatap Reno dan kembali mengalihkan perhatiannya memandangi hujan yang kini malah mengecil membiarkan tetesan air mengenai dedaunan, tangannya kembali terulur membiarkan tetesan air hujan itu mengenai tangannya, Reno yang melihat apa yang dilakukan Rania hanya duduk diam menunggu gadis itu bicara padanya, dengan perlahan dia mengikuti langkah Rania dan ikut menjulurkan tangannya.


"Aku ingat kejadian itu Mas" 


Reno menoleh menatap Rania dengan kening berkerut bingung."Ingat apa maksudmu Ran" Tanyanya tak mengerti.


Rania menoleh Reno dengan raut wajah tak terbaca, kemudian dia mengusap senyum kecilnya itu."Aku ingat kejadian waktu Mama kecelakaan dulu Mas, aku ingat semuanya" Ucapnya membuat Reno langsung melebarkan matanya terkejut.


Flashback on


Seorang ibu muda tengah berjalan sambil menuntun putri kecilnya dengan memegang tangan gadis itu, Rania kecil tersenyum sambil menatap wajah ibunya yang terlihat cantik diterpa matahari dan juga angin yang membuatnya bak Malaikat tak bersayap.


Tangannya yang bebas menjilati es krim yang dipegangnya itu dengan senyum diwajahnya, gadis itu merasa senang karena Alea mengajak nya ke taman tadi dana bertemu seorang pria tampan yang membelikannya es krim, Alea mengajak Rania menyebrangi jalan raya dengan hati-hati saat beberapa kendaraan lewat di depan mereka dengan kecepatan tinggi.


Alea berjengit saat sebuah motor lewat dengan cepat di depannya dan Rania."Huh hampir saja, dasar motor kurang ngajar minta di tonjok tuh orang" Sungutnya kesal kemudian dia menatap Rania yang juga tengah menatapnya."Kamu gak apa-apa kan sayang?" Tanya khawatir.


Rania menggeleng sambil tersenyum kecil."Gak kok Ma, aku lebih takut kalau Mama lagi bawa mobil bikin Ran jantungan" Jawabnya polos membuat Alea terkekeh pelan mendengar nya.


"Aduh anak Mama kalau ngomong suka bener ya kamu" Ucap Alea gemas sambil mencubit hidung Rania membuat gadis itu terkekeh sambil menatapnya.


"Ma kita mau kemana?" Tanya Rania penasaran saat mereka selesai menyebrangi jalan dan Alea mengajak Rania untuk terus melangkahkan kakinya.


"Ketemu teman Mama sayang, ayo nak sebentar lagi kita sampai" Jawab Alea sambil terus melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Di sebuah kafe yang berada tidak jauh dengan letak taman saat mereka bermain tadi, terlihat beberapa pengunjung memenuhi beberapa meja di kafe tersebut ,ada yang sedang bersama pacar atau pasangannya, ada juga yang duduk sendirian  menikmati secangkir kopi sambil memperhatikan jalan diluar dibalik jendela kafe.


"Tunggu disini ya Sayang, Mama mau ngobrol sama Om yang disana itu!" Ucap Alea menunjuk seorang pria yang terlihat masih muda tengah menatap mereka sambil tersenyum.


Rania mengangguk kecil dengan senyum manis yang terukir di bibirnya saat pelayan menghidangkan kue dan juga jus di atas meja."Wah kue Ran suka" Ucapnya dengan tangan kecil yang langsung mencoba rasa kue tersebut, matanya berbinar senang saat merasakan kue yang sangat enak itu.


Alea mengacak rambut anaknya itu dengan lembut.


"Makan yang banyak ya Sayang, Mama kesana dulu bentar" Ucapnya dan beranjak pergi meninggalkan Rania dan duduk di depan pria tadi yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk Rania.


Rania memperhatikan ibunya dan pria itu tengah berbicara dengan wajah serius, kemudian dia melihat raut wajah Alea yang berubah saat si pria mengatakan sesuatu yang tidak diketahui Rania, Alea menoleh menatap Rania dengan menyunggingkan senyuman lembutnya seolah mengatakan jika dia baik-baik saja.


Setelah berpisah dengan pria tersebut Alea dan Rania pun langsung pergi dari kafe tadi, saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan sambil menunggu lampu lalu lintas berubah agar mereka bisa menyebrangi jalan.


Alea terlihat merenung dengan raut wajah tak terbaca, matanya berkaca-kaca saat melihat Rania yang menatapnya polos, dia mencoba tersenyum sambil mengacak rambut anaknya itu, Rania memegang tangan Alea dengan kuat seolah tidak mau berpisah jauh dari ibunya itu.


Alea berjongkok dan langsung memeluk anaknya itu dengan erat."Ran, nanti kalau udah gede jangan nakal ya sayang, Maka yakin kamu pasti bakal jadi Putri Mama yang paling cantik" Ucapnya sambil melepaskan pelukan mereka.


"Lebih cantik dari kak Nat gak Ma?" Tanya Rania polos.


"Ran masih kecil Mama gak ngerti begituan" Protes Rania dengan bibir cemberut.


"Iya Maka tahu Sayang, Mama harap siapapun orang yang akan menjadi suami kamu dan Nat adalah pria baik ya nak" Ucap Alea tulus kemudian dia beranjak saat lampu sudah berubah."Ayo sayang kita nyebrang!" Ucapnya lagi sambil memegang tangan Rania. 


Rania berjingkrak senang sambil tersenyum pada ibunya Alea yang menuntunnya menyebrang jalan, namun baru beberapa langkah mereka berjalan, Alea melebarkan matanya terkejut saat sebuah truk besar datang dari arah kiri dengan kecepatan tinggi menuju mereka, dengan sigap ibu muda itu langsung memeluk anaknya dengan erat.


Brak


Mobil truk itu menghantam tubuh Alea bersama Rania yang berada di pelukannya hingga terpental menabrak trotoar, semua orang langsung yang berada di sana langsung berteriak panik sambil berlari menuju mereka.


"Ran bangun Sayang jangan tidur" 

__ADS_1


Samar Rania mendengar suara ibunya, dia menatap Alea yang tengah bercucuran dengan darah, dia ingin mengucapkan sesuatu pada ibunya namun lidahnya terasa kelu hingga dia hanya mampu mengerang merasakan sakit di seluruh tubuhnya.


Alea tersenyum lembut dengan wajah yang mulai memucat dia mengecup kening anaknya itu dengan lembut, air matanya menetes mengenai Rania membuat gadis kecil itu menatap ibunya lemah."Kamu harus selamat nak, Mama sayang kamu!"


Dan setelah ibunya mengatakan itu Rania langsung kehilangan kesadaran nya.


Di sebuah ruangan yang serba putih Rania mengerjapkan matanya perlahan, dia melihat sekelilingnya dimana terlihat Natalya bersama Bibi Mau dan juga Lisa tengah duduk di sisi ranjang nya


"Ran kamu sudah bangun nak" Bibi Mau yang pertama kali menyadari gadis itu sadar langsung berdiri sambil mengusap wajahnya lembut, kebahagiaan terpancar dari mata Bibi Mau dan yang lain saat melihat Rania sadar.


Rania menatap Natalya dan Lisa yang tersenyum ke arahnya, kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan seolah mencari sesuatu."Mama mana Kak, kenapa aku disini?" Tanya Rania bingung menatap Natalya menuntut penjelasan, gadis kecil itu ingin segera bertemu ibunya.


Semua orang saling berpandangan dengan gugup seolah ragu untuk mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat gadis kecil di ranjang itu terpuruk, mereka sudah tahu dari dokter yang menangani Rania jika kemungkinan gadis kecil itu akan hilang ingatan, tapi meskipun begitu mereka tidak bisa menyembunyikan kebenaran tentang Alea padanya.


"Kamu jatuh dari tangga Ran, kamu sih bandel suka lari-larian di tangga" Ucap Lisa sambil tersenyum polos.


"Benarkah, kenapa aku tidak mengingat nya?" Gumamnya bingung dia meringis merasakan kepalanya berdenyut sakit saat dia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya."Mama kemana kak aku ketemu Mama" Ucapnya lagi dengan nada merengek.


"Kenapa kalian diam,Mama mana?" Ucapnya lagi saat melihat tatapan dari semua orang yang terlihat gugup.


"Mama udah gak ada Ran" Ucap Natalya dengan mata berlinang membasahi pipinya.


"A-apa maksud kakak aku mau Mama" Teriak Rania histeris.


Bibi May langsung memeluk gadis malang itu yang menggeliat dengan tangisannya yang pilu."Tenang sayang Mama kamu sudah tenang di surga sana Ran, kamu harus ikhlas Ran jangan menangis ada kami Disini!"Ucap Bibi May mencoba menenangkan Rania, namun gadis kecil itu tidak menghentikan tangisannya, dia meraung-raung dengan tangisannya yang menyayat hati.


________


aku mau hiatus ya guys, lagi ada masalah yang gak bisa aku ceritakan 😭😭


Sedikit saran jangan terlalu baik sama orang karena bisa saja kebaikan mu itu akan menjebakmu😔😔

__ADS_1


Salam Gesrek


Othor Mecum


__ADS_2