
Seorang bayi kecil yang imut dan juga menggemaskan tengah menggerak-gerakan tangan dan bibir mungilnya saat Kikan sang nenek cantik itu mengayunkan bayi tersebut di atas ayunan bayi.
Kikan menoleh menatap Reno dan Rania yang terlihat sangat kelelahan sambil bersandar di kepala ranjang mereka, sudah seminggu berlalu sejak kelahiran bayi tersebut dan kini mereka sudah kembali pulang ke rumah Kikan.
“Bima sayang jangan nakal ya sayang lihat tuh Papa sama Mama kamu pada kecapean, duh cucu nenek cantik yang nakal” Ucap Kikan terkekeh pelan saat Bima tertawa mendengar perkataannya.
“Mas aku gak kuat kalau Bima terus-terus bangun tengah malam, nanti giliran kamu yang begadang ya sayang” Ucap Rania pada suaminya Reno.
Reno menoleh pada Rania dengan wajah lesunya.”Aku juga gak kuat sayang, Bima nangis mulu kalau aku gendong maunya sama kamu terus Ran” Ucapnya sedih sekaligus lelah karena meski Bima tidak mau dia gendong, tapi anak pertamanya itu selalu menangis saat Reno baru akan memejamkan matanya, bayi kecil itu seolah tidak ingin membiarkan Rania kelelahan sendiri mengurusnya.
“Gak juga Mas dia mau sama aku kalau lagi mau ASI doang abis itu dia nangis gak jelas, ternyata susah banget ya ngurus bayi itu aku pikir mudah” Gumam Rania pelan, dia baru mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu setelah dia sendiri yang mengalaminya.
“Kamu benar juga Ran, tapi aneh banget ya kalau sama Mama, Bima ateng banget lihat tuh dia ketawa-ketawa gitu” Ucap Reno melirik Bima yang kini sedang tertawa dalam gendongan Kikan.
Rania mengangguk setuju sambil tersenyum kecil menatap Bima dan Kikan.”Mungkin itu yang namanya kekuatan seorang ibu berpengalaman Mas, tangannya bisa bikin bayi tenang dan nyaman” Ucapnya pelan.
“Oh iya Mas, aku juga ma lanjut kuliah ya soalnya aku juga gak mau lama-lama ketinggalan sama yang lain, takutnya nanti keburu hamil lagi aku” Ucapnya lagi sambil melirik Reno.
“Ya sudah aku terserah kamu saja Sayang, yang penting kamu bisa jaga kesehatan dan jangan sampai kecapean” Ucap Reno sambil tersenyum dan membelai rambut Rania.
“Terus yang jagain Bima siapa dong kalau aku lagi kuliah Mas?” Tanya Rania.
“Kan ada aku sayang, aku pasti bisa kok ngurusin Bima” Jawab Reno menenangkan.
“Ada Mama juga Ran tenang aja semua pasti beres kalau ada Mama” Ucap Kikan menyahut sambil tersenyum.
“Lihat tuh Bima kayaknya seneng banget kalau lagi sama Mama!” Ucap Kikan melihat Bima yang tersenyum padanya sambil duduk di dekat Rania dan Reno.
Mereka berdua ikut tersenyum saat melihat Bima tengah menggerak-gerakan tangannya dengan lucu, kemudian Alvian muncul dengan wajah panik sambil berjalan menghampiri ketiganya.
“Ada apa Al mukanya jelek amat pagi-pagi mandi gih bikin orang sebel aja lihat muka kamu yang kucel itu” Omel Kikan.
Alvian tidak menggubris perkataan Kikan dia menatap Rania dengan ragu, seolah takut untuk berbicara, dia melirik layar hp milik ibunya yang baru saja mendapat panggilan telepon dari kakak Rania yaitu Natalya yang kebetulan dia angkat.
“Ada apa Al?” Tanya Rania yang menyadari kegelisahan Alvian.
“I-ini Ran barusan Kak Nat telepon katanya Papa kamu Bram masuk rumah sakit dan sekarang dia lagi kritis, dia minta kamu kesana sekarang Ran, Kak Nat dan suaminya juga baru sampai barusan” Ucap Alvian dengan gugup mencoba mengatakan kabar buruk itu pada Rania.
Degg
Semua orang dalam ruangan itu menoleh pada Rania, dia terlihat sangat syok dengan mata berkedut menahan tangis, ayahnya Bram kini terbaring lemah di rumah dalam keadaan kritis, Rania meneteskan air matanya tak sanggup menerima kesedihan dari kabar yang diterimanya itu.
Reno memegang tangan istrinya itu mencoba memberi kekuatan atas apa yang sedang dialami Rania, dia bisa mengerti bagaimana sedih dan kacaunya perasaan Rania saat ini, terlebih lagi setelah dia tau jika Bram adalah ayah kandungnya sendiri, gadis itu pasti merasa sangat terpukul.
“Antarkan aku ke rumah sakit Mas” Ucap Rania pelan dengan pandangan kosong.
Reno mengangguk mengiyakan kemudian dia menoleh menatap Kikan yang sedang memangku Bima.”Pergilah biar Mama yang jaga bayi kalian” Ucap Kikan seraya tersenyum lembut pada Rania dan Reno.
Tanpa pikir panjang Reno langsung pergi bersama Rania dengan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan gadis itu menggumamkan doa agar ayahnya bisa selamat dan baik-baik saja.
__ADS_1
“Ya Allah ijinkan aku sekali saja untuk bisa merasakan kasih sayang ayahku dan juga berbakti padanya”
Di depan sebuah pintu ruangan rumah sakit dengan ragu Rania meraih pegangan pintu tersebut namun dia melepaskannya kembali, Rania mencoba menguatkan dirinya dengan tersenyum dan langsung membuka pintu tersebut diikuti oleh Reno yang berjalan di belakangnya.
Natalya, Joshua dan Bram langsung menoleh pada Rania, yang berjalan perlahan menghampiri ayahnya, matanya kembali berkaca-kaca melihat keadaan Bram yang terbaring sambil tersenyum padanya, tangannya terulur mencoba menyentuh anak bungsunya itu.
Joshua menyingkir sambil menarik kursi roda yang dinaiki istrinya membiarkan Rania untuk duduk disamping ayahnya Bram, Rania tersenyum dengan air mata yang sudah mengalir sambil meraih tangan Bram yang terulur padanya.
“Hai sayang terima kasih kamu sudah bersedia datang” Ucap Bram lemah.
Rania mengangguk dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.”Tentu Pa, mana mungkin aku tidak datang jika Papa memanggilku” Ucapnya sambil terisak.
“Mas Jo ayo kita pergi, biarkan Rania dengan Papa berdua disini” Ucap Natalya berbisik pada suaminya
Joshua mengangguk mengiyakan, dia pun mendorong kursi roda istrinya itu keluar ruangan, dengan ragu Reno mengikuti mereka keluar membuat Natalya meminta Joshua berhenti sejenak dan menoleh pada Reno.”Kamu disini saja Ren, mungkin saja Ran membutuhkanmu disini temanilah dia!” Ucap Natalya serasa tersenyum dan kembali keluar ruangan bersama Joshua meninggalkan mereka bertiga.
Reno berdiri dengan tenang di dekat Rania dan ayahnya Bram mencoba untuk tidak mengganggu mereka berdua.Rania mencium tangan ayahnya dengan bibir bergetar dia tersenyum lembut saat ayahnya itu mengusap kepalanya dengan lembut.
“Apa kamu membenciku Ran?” Tanya Bram tiba-tiba sambil menatap Rania.
Rania menggeleng dengan kuat.”Tidak Pa, aku menyayangimu” Ucapnya.
Bram tersenyum mendengar ucapan dari anak yang selama ini dibencinya, anak yang selalu dia caci maki dengan kata-kata kasar kini berada disampingnya dan mengatakan jika dia menyayangi Bram, tanpa terasa Bram menitikan air mata bahagia dan penyesalan atas apa yang selama ini dia lakukan pada gadis yang bahkan rela melakukan apapun untuknya.
“Maafin Papa ya nak, Papa tidak bisa menjadi ayah yang baik dan memberikan kebahagiaan untuk kamu Ran, Papa menyesal karena kebodohan Papa kamu jadi banyak menderita, seandainya saja Papa punya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, tapi sayang Papa tahu semuanya sudah terlambat, jadi kalau bisa tolong maafkanlah ayahmu yang jahat ini Ran” Ucap Bram panjang lebar, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam.
“Tidak Papa salah, Papa adalah ayah terbaik yang selama ini Ran punya, maafin Ran juga ya Pa, Ran belum bisa bikin Papa bahagia” Ucap Rania dengan sesenggukan.
Tangan Bram terulur mengusap wajah bayi yang begitu tampan dan menggemaskan, air matanya kembali mengalir saat melihat wajah polos bayi mungil tersebut.”Ini cucu Papa? tampan sekali, Papa yakin dia akan menjadi pria tampan yang disukai banyak wanita” Ucapnya sambil terkekeh pelan mencoba memaksakan senyum terbit di bibirnya yang pucat.
“Tentu saja Pa, makannya Papa harus cepat sembuh dan sehat biar bisa ikut jagain Bima Pa” Ucap Rania mencoba untuk tersenyum.
Bima mengangguk pelan sambil tersenyum, dia kemudian menoleh menatap Reno yang tersenyum padanya, Bima melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Reno mendekat.
Reno berdiri disamping Rania sambil menatap Bram.”Ada apa Pa?” Tanyanya.
“Kemarilah!” Perintah Bram agar Reno membungkuk padanya.
Dengan segera Reno mendekatkan kupingnya kepada Bram.”Tolong jaga Rania untukku, bahagia kan dia dan jangan, lakukan kesalahan seperti yang aku lakukan, jangan sampai dia menangis lagi!” Ucap Bram berbisik membuat Rania tidak bisa mendengar perkataannya.
Reno mengangguk mengiyakan, kemudian dia meraih tangan Bram yang mencoba menggenggamnya.”Pasti” Jawabnya.
Bram tersenyum puas mendengar ucapan dari menantunya itu, dia memandang langit-langit kamarnya dengan mata berbinar bahagia, terlihat wajah istrinya Alea seolah sedang tersenyum padanya, dengan perlahan matanya tertutup diiringi dengan napasnya yang secara teratur mulai menghilang.
Reno melepaskan genggaman tangan Bram padanya, dia membisikan kalimat syahadat pada ayah mertuanya itu, setelah selesai dia menutup mata Bram dengan mengusapkan tangannya, kini ayah dari gadis yang dicintainya itu telah pergi untuk selama-lamanya.
“Papa” Teriak Rania sambil mengoncang-goncangkan badan ayahnya itu dengan histeris, lolongan kesedihan terdengar memenuhi koridor rumah sakit, Natalya memeluk suaminya Joshua dengan menangis tersedu-sedu.
“Sudah Ran, ikhlaskan Papa Bram biarkan dia tenang di alam sana” Bisik Reno sambil memeluk Rania mencoba menenangkan istrinya itu, air matanya ikut menetes merasakan kesedihan yang mendalam seperti yang dirasakan Rania.
__ADS_1
*Ayah
maafkan keegoisanku yang mungkin tanpa sadar aku sudah menyakitimu.
Dulu
kau selalu berkata jadilah anak baik yang membanggakan orang tua.
Tapi
Sudahkah aku melakukan itu?
kamu adalah orang terpenting dalam hidupku setelah ibuku, kau adalah orang yang mengajarkan bagaimana kerasnya hidup.
Aku menangis
Saat kau berkata kau akan menjadi orang yang bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.
sedangkan aku sendiri malah terus mengecewakanmu dengan apa yang kulakukan.
Ketegasanmu adalah bukti kau tidak ingin aku lemah.
Amarahmu adalah bukti kau begitu menyangiku.
Tapi aku sebagai anak malah sering kali menganggap itu sebagai ketidak perdulianmu*.
The Best Ending
----------
Huaaaa sedih Akhirnya selesai juga nh cerita dr kemrn aku gak kuat nulis chap ini karan air matamu yg trs2 mengalir😧😧😧.
Ingat seburuk-buruknya ayah atau ibumu merekalah orang yg sudah mbgurus dan merawatmu dari bayi, ingat gk ada yg namanya orang tua durhaka.
Aku ingat Bokap pernah bilang gini. "Ayah itu meskipun kamu masuk neraka ayah pasti bakal nyoba nyelametin kamu meskipum resikonya Papa yang harys gantiin kamu" Btw aku lbh dekat sama bokap Guys jd gitulah, sifatku n doi sama soalnya jd kita lbh sepemikiran.
Huaa aku kgn ortu ku dah brp minggu gk ktmu, kayak bokap kalau aku dtg pasti suka senyum2 trs bilang "Kasihani ayahmu belikanlah aku kopi" dan aku dgn gesreknya ngsh dia uang seribu abis itu kita ketwa ngakak breng, simpel tp berharga guys ortuku emg gitu, mereka walau udah tua kayak abg yg mash suka mojok berduaan yang serng bgt digodain sama anak2nya.
Btw nih udah tamat ye dan aky blm kepikiran buat season 2 nya takut kalian bosen sama novelku, tapi kalau kalian mau aku bisa lanjut sih😆😆😆
maaf kalau slama ini ada salah kata yg bikin sakit hati ya maafkanlau daku, maaf jga novelu mash bmyi salahnya baik itu typo psnulisan ataupum cerita yang mungkin sdkit garing dsn membosankan ktahuilah aku hmya ingin menghibur kalian tidak lbih.
Terima kasih banyak buat kalian yang selama ini setia baca dan dukung novelku, tau gak yg bikin aku smgt nukis itu sebnrnya adalah komen kalian meski itu hanya kata *Lanjut ata semangat*
Mampir dong ke lapak Nungky judulnya. *Kepentok Cinta Nungky* disitu lapakny masih sepi yg baca dikit masa😧😧😧😧
Sampai Jumpa guys.
Salam Gesrek
__ADS_1
AUTHOR NGENES