Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Berubah


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah Kikan tengah mondar-mandir mencari sesuatu, sambil menenteng tas mahal miliknya ibu paruh baya itu mengacak-acak rak sepatu miliknya dan William, dia tersenyum senang saat menemukan apa yang dicarinya yaitu sebuah sepatu mewah yang dia beli untuk suaminya itu.


"Pa nih pakai yang ini saja sayang, itu aku beliin sengaja buat acara pernikahan anak angkat Mama yaitu Gisuwa!" Ucap Kikan dia menaruh sepatu tersebut di depan William yang sedang memakai kaos kaki.


William melirik sepatu yang diberikan Kikan itu sambil tersenyum dan mengambilnya."Wah bagus sekali Mama memang hebat!" Ucap William memuji Kikan sambil mengenakan sepatu tersebut.


Kikan tersenyum senang untuk soal mode dia memang jagonya, Kikan memperhatikan penampilan nya di depan cermin, ibu paruh baya itu merapihkan riasannya yang sedikit berantakan kemudian dia berdecak senang saat melihat penampilannya sendiri yang terlihat sangat cantik.


"Kamu cantik sekali Mama sayang, bagaimana kalau kita gak usah pergi aja dan ngelakuin yang seru-seru disini, gimana mau kan?" Ucap William yang berdiri sambil memeluk Kikan dari belakang, dia mencium pundak istrinya itu dengan mesra membuat Kikan tersipu malu.


"Ma, Mama lihat jam tangan Al gak barusan Al taruh di atas meja dikamar terus Al tinggalin buat mandi, tapi pas Al keluar kamar mandi jam Nya udah hilang Ma" Ucap Alvian yang tiba-tiba datang mengganggu Kesenangan Kikan dan William."Uppsss maaf Al gak tahu" Ucapnya lagi sambil cengengesan.


Keduanya berdecak kesal menatap anak bungsu mereka yang terlihat salah tingkah karena sudah mengganggu keduanya, William berdehem dan melepaskan pelukannya dari Kikan, dia mengambil dasi yang sudah disiapkan Kikan Untuk nya dan langsung memakai dasi tersebut seolah tidak ada apa-apa.


"Kamu itu ya Al kebiasaan suka main nyelonong masuk kamar orang saja, siapa sih yang ngajarin kamu jadi anak gak sopan kayak gitu, perasaan Mama gak pernah kayak gitu deh Al" Ucap Kikan mengomeli Alvian dengan kesal."Mama gak tahu jam kamu yang mana yang hilang, dari tadi Mama disini gak kemana-mana Al" Ucapnya lagi sambil memasang anting dikedua telinganya.


"Maaf Ma habis Al udah keburu panik, itu jam baru yang baru Al beli kemarin Ma, masa udah hilang aja sih" Ucapnya Alvian sedih.


William melirik anaknya itu dengan seksama."Coba tanya Reno, mungkin saja dia tahu jam kamu dimana" Ucapnya memberi saran.


Kikan mengangguk mengiyakan."Nah iya tuh sekalian bilang sama Ran dan Reno supaya cepat siap-siap nya nanti kita telat loh" Ucapnya menambahkan.


Alvian mengangguk lesu kemudian dia pun berjalan keluar dari kamar orang tuanya itu, dia terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam dipadukan dengan jas warna biru tua yang membuatnya terlihat gagah dan juga gaya rambutnya yang dibuat klimis menambahkan aura ketampanannya.


Saat Alvian hendak ke kamar kakaknya itu, dia malah melihat kakaknya Reno tengah bersama Bima sambil menuruni tangga, dengan segera dia pun menyusul mereka menuju lantai bawah.


Reno menatap Bima yang berada dalam gendongannya itu sambil tersenyum senang, dia dan Bima terlihat sangat tampan dengan mengenakan setelan jas warna senada, Bima terkekeh pelan saat benda yang dipegangnya itu terjatuh dan meluncur dengan bebas dan tergeletak dengan mengenaskan di atas lantai.

__ADS_1


"Jam-ku" Pekik Alvian yang langsung menuruni tangga dengan cepat melewati Bima dan Reno.


Alvian menatap jam miliknya itu yang sudah kotor dengan bekas air liur dan juga coklat, dia mendongak menatap Reno dan Bima yang berjalan menghampirinya dengan wajah tanpa dosa seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kak apa-apaan ini kenapa jamku bisa ada pada kalian?" Tanya Alvian dengan mata memicing menatap keduanya."Dan juga lihat ini jam ku mati kak kenapa bisa coba!" Ucapnya lagi sedih, dia mencoba mengetuk-ngetuk jam miliknya itu berharap itu bisa membuat jam-nya kembali menyala.


"Sudah gak bakal nyala itu jam orang tadi kesiram air panas sama Bima" Ucap Reno menjelaskan, Bima tertawa senang saat melihat wajah Alvian yang terlihat sangat merana."Kayaknya itu jam palsu deh Al masa kesiram sama air panas sama dilempar-lempar Bima aja udah mati, eh tapi tadi Ran juga ngelempar tuh jam ke tembok gitu gara-gara mau numpuk kakak tapi gak kena" Ucapnya lagi sambil cengengesan.


Alvian menaruh jam baru miliknya itu di atas meja dengan sedih."Aku tanya siapa yang mengambil jam milikku ini, tadi jam ini ada di kamarku kenapa sekarang bisa ada pada kalian?" Ucapnya menatap Reno dan Bima yang sedang duduk di atas sofa.


"Oh itu tadi kakak sama Bima ke kamar kamu Al tapi kamunya lagi mandi, terus Bima Nemu jam ini karena dia suka makannya aku kasih aja ke Bima buat dimainin, lumayan Al bisa bikin Bima anteng dan gak rewel pas Ran mandiin tadi" Ucap Reno menjelaskan, Bima yang berada di pangkuannya tertawa senang saat ayahnya itu mencium pipinya dengan gemas.


"Ka-kalian" Ucap Alvian marah, napasnya sudah naik turun menahan amarahnya saat menatap kakak dan keponakannya yang terlihat tertawa saat melihat wajahnya, mereka berdua memang terlihat seperti anak dan ayah sejati yang wajah sifatnya sangat mirip, dan juga mereka adalah dua makhluk menyebalkan yang selalu membuatnya tersiksa.


"Ren, Ran kemana kok belum muncul sih?" Tanya Kikan yang datang menghampiri nya bersama William.


"Oma" Pekik Bima senah dengan tangan terulur mencoba menyentuh neneknya itu.


Kikan mengambil Bima dari Reno dan menggendong nya dengan senang."Jangan Oma Bimaku Sayang, panggil aku nenek cantik ya nak" Ucapnya sambil mencium hidung mancung Bima gemas yang membuat Bima terkekeh dengan tangan menyentuh wajah Kikan yang cantik.


"Ren panggil Ran gih, kita udah telat loh!" Ucap William sambil menatap jam dipergelangan tangannya.


Sebelum Reno mengangguk mengiyakan Rania sudah muncul menuruni tangga dengan anggun, semua orang yabg berada disana menatapnya tanpa berkedip melihat penampilan Rania yang berbeda dengan biasanya, Bima membuka mulutnya lebar-lebar seperti Reno saat Rania sudah berdiri didepan mereka sambil tersenyum.


"Ran" Reno meneguk salivanya saat melihat wanita cantik berkerudung tengah berdiri di depannya, wanita itu adalah Rania istrinya yang kini mengenakan pakaian yang tertutup serta kerudung yang menutupi rambut indahnya yang biasanya tergerai.


"Rania mantu Mama ini kamu nak?" Tanya Kikan seolah tak percaya melihat penampilan Rania yang baru."Masha Allah, cantik benar kamu nak" Ucapnya lagi memuji Rania dengan mata berbinar senang.

__ADS_1


"Iya Ma ini aku, mulai hari ini aku memutuskan untuk berpakaian seperti ini, gimana menurut kalian?" Ucapnya meminta pendapat dari mereka.


"Cantik Ran kamu cocok pake hijab" Ucap Alvian tulus.


"Kamu terlihat sangat cantik mengenakan pakaian apapun, dan melihat kamu yang memakai pakaian seperti ini membuat Papa bangga nak!" Ucap William memuji Rania sambil tersenyum.


"Iya Ran Mama gak nyangka kamu bakal berubah kayak gini, ya Allah Ran kamu benar-benar istri dan menantu Sholehah nak" Ucap Kikan matanya terlihat berkaca-kaca karena terharu, dia tidak menyangka dia akan memiliki seorang menantu yang bukan hanya cantik tapi juga mampu menjadi wanita Sholehah dengan menjaga auratnya di depan orang lain, dia sendiri merasa sedikit iri dan juga malu, karena sebagai seorang ibu dan mertua dia tidak bisa memberikan contoh yang baik pada yang lain dan malah menantunya itu yang memberikannya contoh baik sebagai seorang istri. 


"Terima kasih Ma, Pa, Al, aku juga awalnya tidak kepikiran untuk merubah penampilanku, tapi sejak Bima lahir aku memang sudah merasa jika aku harus berubah dan akhirnya semua itu baru bisa terlaksana sekarang" Ucapnya jujur, kemudian matanya beralih menatap Reno yang sedari tadi diam menatapnya tanpa berkedip."Mas apa kamu suka dengan penampilanku sekarang?" Tanyanya dengan gugup, sedari awal dia memang sedikit takut jika Reno tidak akan setuju dengan perubahannya, apalagi dia melakukannya tanpa berbicara dulu pada suaminya itu, namun hati kecilnya berharap jika Reno akan menyukai perubahannya.


Kikan mengambil Bima dalam gendongan anaknya itu membuat Reno mengerjapkan matanya kemudian dia tersenyum pada Rania."Haruskah kamu menanyakan hal itu Ran?" Tanyanya membuat Rania menatapnya dengan kening berkerut."Aku senang, ah tidak yang benar adalah aku sangat senang dengan penampilan baru kamu Rania Sayang, kamu sangat cantik Ran" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca dia mencium kening Rania dengan lembut, sebagai seorang suami tentu dia merasa sangat bangga dengan penampilan istrinya yang kini memilih untuk berpakaian seperti layaknya wanita muslim, apalagi itu karena keinginan Rania sendiri bukan karena paksaan dari siapapun, sebagai seorang suami dan kepala keluarga sudah tugasnya untuk membimbing keluarga kecilnya itu ke jalan yang benar.


"Ayo kita berangkat sayang!" Ucap Reno sambil menggandeng tangan Rania dan membawanya pergi.


Kikan memberikan Bima pada Alvian membuat anaknya itu menatap ibunya dengan kening berkerut."Kenapa Bima dikasih ke aku Ma, kan bapaknya Kak Reno bukan aku?" Ucapnya tak mengerti.


"Berisik kamu Al, gak lihat mereka lagi kasmaran gitu masa mau kamu ganggu, sudah urusin Bima ya biar kamu ada temennya juga Al, ayo Pa kita berangkat!" Ucap Kikan sambil menarik tangan William dan berlalu pergi.


"Mama" Ucap Bima sambil tertawa di gendongan Alvian.


"Kamu kangen Mama Bim?" Tanya Alvian menatap Bima yang terkekeh pelan sambil menyentuh wajahnya."Sudah nak ku sama aku aja ya Bim, kita bersatu sebagai sesama jomblo" Ucapnya sambil berjalan menyusul yang lain untuk pergi ke pesta pernikahan Gisuwa.


_&________


Jangan lupa mampir ke lapak "Kepentok Cinta Nungky" ya guys bantu aku dengan like n komen kalian.


I Love U😘

__ADS_1


Othor Galau


__ADS_2