
“Ma-maksud kamu apa Ran, kenapa kamu bicara begitu hah?” Tanya Reno menatap Rania dengan kening berkerut.
“Memang benar Mas itu salahku, kalau saja aku tidak lari tadi mungkin kak Nat tidak akan kenapa-napa , seperti kata Papa aku ini memang anak pembawa sial Mas” Ucap Rania dengan berlinang air mata.
“Apa, kenapa Papa Bram bisa mengatakan itu padamu Ran?” Tanya Reno tambah bingung.
Dengan perlahan gadis yang sedang terpuruk itu pun menceritakan tentang kejadian saat tadi dia sedang berada dirumah Bram, dia menceritakan semuanya tanpa terkecuali, Rania menceritakan tentang dirinya yang ternyata bukan anak Bram yaitu dia hanya anak haram hasil perselingkuhan ibunya dengan pria lain.
Rania juga menceritakan tentang penyebab kematian ibunya Alea yang sebenarnya, gadis itu terus terisak saat mengulang semua yang dikatakan Bram padanya, hingga akhirnya Rania menceritakan tentang Bram yang mengusir Rania dari rumah sakit tapi dia tidak menceritakan bagaimana Bram juga menamparnya.
Reno duduk diam mencerna semua perkataan dari Rania dengan tangan terkepal kuat, dia marah sangat marah ingin rasanya dia meninju wajah Bram yang dengan teganya telah berkata yang begitu kejam pada istrinya Rania.
Anak Haram pembawa sial? Reno tersenyum kecut bagaimana seorang ayah bisa dengan gampang menyebut anak yang dia asuh sebagai anak haram pembawa sial, bahkan jika Bram memang bukan ayah kandung dari Rania, dia tidak pantas mengatakan hal itu kepada siapapun.
“Mas” Panggil Rania dengan menyentuh tangan Reno yang terkepal kuat.
Reno tersenyum menatap wajah Rania yang tengah tersenyum padanya, namun senyumannya memudar ketika dia melihat bekas kemerahan di pipi istrinya itu, Reno menyentuh bagian kemerahan itu yang membuat Rania meringis pelan.
“Siapa, siapa yang melakukan ini padamu Ran, katakan padaku siapa orangnya!” Ucap Reno menatap Rania dengan penuh emosi, terlihat sekali jika suaminya itu sedang menahan amarah.
Rania terdiam sambil menunduk dia tidak berani mengatakan apapun pada Reno, jika dia mengatakannya mungkin Bram akan dipukuli oleh suaminya yang sedang marah besar sekarang dan Rania tidak mau itu terjadi, biar bagaimanapun Bram adalah orang yang sudah mengurusnya dari kecil dia tidak ingin orang yang sudah dia anggap ayah kandungnya sendiri itu terluka.
“Kenapa kamu diam saja Ran katakan padaku siapa orang yang berani menamparmu!” Ucap Reno mengulang pertanyaannya.
“Apa dia Bram Rania, brengsek!” Umpat Reno dengan tangan terkepal kuat dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah sakit.
Rania yang melihat itu langsung berlari mengejar Reno yang sedang kalap itu.
__ADS_1
“Mas jangan pergi kumohon” Ucapnya sambil memeluk pinggang Reno dari belakang.
Reno terdiam di tempat berusaha untuk tidak meledakkan amarahnya yang sudah diujung tanduk.”Lepaskan tanganmu Rania, aku ingin memberi pelajaran pada orang yang telah berani menamparmu Ran” Ucap Reno penuh emosi berusaha melepaskan pelukan Rania yang dengan kuat melingkar di tubuhnya.
Dibelakangnya Rania menggeleng dengan kuat sambil terisak.”Jangan Mas aku mohon, jika kamu melakukannya aku tidak akan pernah memaafkan kamu Mas, tolong mengertilah aku mohon” Ucap Rania putus asa.
Mendengar itu Reno langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tangannya yang terkepal kini terbuka lebar membuat Rania melepas pelukannya sendiri dan berjongkok di depan Reno.
Reno tersenyum miris menatap Rania dengan mata berkaca-kaca, dia tidak mengerti kenapa istrinya itu masih membela orang yang sudah menyiksanya dengan begitu kejam, apakah gadis itu tidak punya rasa sakit sedikitpun, sedangkan dia sendiri yang hanya mendengar tanpa mengalami apa yang dirasakan Rania sudah begitu marah dan emosi.
“Katakan padaku Ran, aku harus bagaimana agar kamu mengerti kalau aku hanya tidak ingin ada seorangpun yang melukaimu, katakan apa pantas kamu membela orang itu hah?” Tanya Reno berang.
Dengan senyuman lembutnya Rania mencium bibir Reno singkat agar suaminya bisa sedikit meredam amarahnya.”Aku tahu kamu marah Mas, tapi kamu juga harus ingat jika apa yang dikatakan Papa ah bukan maksudku Om Bram itu benar adanya, sekarang katakan atas dasar apa kamu marah Mas padahal itu semua benar?” Ucapnya membalikan omongan Reno.
“Tapi dia ti-”
“Sudah cukup Mas lupakan semuanya, aku tidak berhak marah mengingat aku ini hanyalah anak haram pembawa sial” Potong Rania sambil tersenyum miris.
“Aku takut Mas aku takut jika Kak Nat kenapa-napa bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri” Ucap Rania membalas pelukan Reno dengan erat.
“Tidak Ran percayalah kak Nat akan baik-baik saja aku jamin itu” Ucap Reno melepaskan pelukan mereka dan mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya itu dengan lembut.
“Bagaimana kalau kita pulang dulu, kita bisa sholat dan mengaji mendoakan kak Nat agar dia bisa selamat Ran!” Ajak Reno sambil tersenyum.
Rania mengangguk mengiyakan sambil menghentikan isak tangisnya, Reno pun mengajak Rania pergi menuju mobilnya dan membawanya pulang ke rumah orang tuanya.Dalam perjalanan mereka sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Reno melirik Rania yang tengah melamun menghadap keluar jendela kaca mobilnya.
“Maaf Ran” Ucap Reno dalam hati.
__ADS_1
Dia merasa bersalah karena saat Rania mengalami kejadian yang begitu menyedihkan dia tidak ada bersama Rania, Reno mengutuk dirinya sendiri yang merasa tidak berguna sebagai seorang suami.
Sesampainya di rumah Reno menuntun Rania dalam diam menuju kamar mereka, di ruang tamu terlihat Kikan dan William tengah menonton tv, ibunya itu tersenyum ke arah mereka namun seketika senyumannya berganti dengan kekhawatiran saat melihat keadaan Rania yang terlihat kacau dan memiliki banyak bekas darah yang menempel di tubuhnya.
“Ran kamu ke--”
Kikan tidak melanjutkan kata-katanya saat Reno menggeleng menyuruh ibunya itu untuk diam, Rania tersenyum samar kepada Kikan dan William yang menatapnya khawatir, tanpa berkata apa-apa dia dan Reno pergi menaiki tangga meninggal-kan Kikan dan William.
Dengan cekatan Reno membuka baju dan membasuh tubuh Rania dengan air hangat, pria itu memandikan istrinya yang masih terlihat kacau dan juga syok yang menurut saja saat Reno memandikannya seperti anak kecil.
Setelah selesai memandikannya Reno memakai kan pakaian kepada Rania dan menyuruh isterinya itu untuk mengambil air wudhu sedangkan dia sendiri mulai membentangkan sajadah di mana mereka akan melakukan sholat berjemaah.
Selesai sholat Reno memimpin doa agar Natalya bisa selamat dan kembali sehat seperti semula, di belakangnya Rania mengikuti Reno yang dengan khusyuk tengah memanjat kan doa untuk keselamatan kakaknya Natalya, dalam diam dia menangis dalam doanya berharap agar tuhan mendengar dan mengabulkan doa mereka.
Lantunan suara orang mengaji yang terdengar merdu keluar dari bibir Reno yang menuntun Rania untuk ikut mengaji bersamanya, dalam diam mereka mengaji beberapa surat suci al-qur’an dengan suara merdu mereka yang begitu menyejukkan.
“Ran ayo kita makan, aku tahu kamu pasti belum makankan” Ajak Reno setelah mereka selesai melakukan kegiatan mereka.
Rania yang tengah duduk sambil bersandar diranjang menoleh menatap Reno dan menggeleng pelan.”Tidak Mas aku tidak lapar” Ucapnya berbohong sambil tersenyum, dia bukannya tidak lapar hanya saja dia benar-benar tidak bernafsu untuk memakan sesuap nasipun sekarang.
Reno mengangguk mengerti.”Baiklah sebaiknya kamu cepat tidur Ran, ini sudah malam!” Ucapnya lagi sambil menarik Rania untuk ikut berbaring bersamanya.
Dengan sabar Reno mengusap kepala Rania mencoba memberi ketenangan pada istrinya itu, lambat laun Rania mulai merasakan kantuk yang datang menderanya hingga akhirnya gadis itu pun terlelap di pelukan Reno.
Setelah memastikan Rania sudah tertidur dengan nyenyak, perlahan Reno menggeser tubuhnya berusaha agar pergerakannya tidak membuat Rania terbangun, setelah turun dari ranjangnya Reno mengambil Hp nya di atas nakas dan mulai menghubungi seseorang.
“Hallo Yan aku butuh bantuanmu!”
__ADS_1
------
Hiya hiya hiyaaaa