Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Merasa Bersalah


__ADS_3

Keesokan harinya Rania sedang duduk melamun di atas sofa ruang tamu, tv yang menyala yang sedang menampilkan sebuah adegan lucu dari film kartun tidak membuat mimik wajah gadis itu berubah sedikit pun.


Pikirannya menerawang kemana-mana memikirkan keadaan kakaknya Natalya yang masih belum jelas bagaimana keadaannya, Reno datang menghampiri Rania dengan membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.


Reno menaruh nampan itu di atas meja dan mengambil piring berisi makanan itu bersamanya yang duduk disamping Rania, gadis yang sedang melamun itu tidak menoleh sedikitpun kepada Reno yang berada disampingnya, raga Rania seolah benar-benar tidak ada disitu.


Reno sengaja tidak masuk kerja hanya untuk menemani Rania istrinya yang sedang sedih itu, dia tidak bisa meninggalkan Rania sedetik pun apalagi disaat keadaanya seperti ini, dia tidak mau istrinya terus bersedih karena kejadian yang menimpa kakaknya dan dia sendiri.


“Makan dulu Ran, dari kemarin kamu belum makan sayang” Ucap Reno sambil mengambil sesendok makanan dan mencoba menyuapi Rania.


Rania menoleh makanan di depannya dan juga Reno yang tengah tersenyum lembut padanya.”Tidak Mas aku tidak lapar” Ucapnya kemudian.


“Aku mohon Ran makanlah sedikit saja jika tidak aku juga tidak akan bisa makan” Ucap Reno merayu Rania.


“Maksudmu apa Mas?” Tanya Rania bingung.


“Aku juga belum makan dari kemarin Ran, jadi kalau kamu tidak makan sekarang aku juga akan ikut kelaparan” Ucap Reno sambil tersenyum.


Rania tertegun mendengarnya, bagaimana suaminya itu bisa begitu banyak berkorban hanya untuk anak haram seperti dirinya, dia merasa segan dan tidak pantas menerima semua kebaikan Reno padanya.


“Baiklah tolong suapi aku Mas” Ucap Rania akhirnya.


Reno tersenyum senang mendengarnya dengan perlahan dia mulai menyuapi istrinya yang menerima suapannya dengan tersenyum dan air mata yang mengalir pelan di pipinya.


“Jangan menangis sayang kamu lebih cantik tersenyum tanpa menangis” Ucap Reno mengusap air mata Rania dengan lembut.


Rania mengangguk mengiyakan.”Kamu makan juga ya Mas biar kita sama-sama kenyang” Ucap Rania sambil menyuapi Reno yang diterimanya dengan senang.


Mereka pun makan dalam diam hingga Rania menghabiskan suapan terakhirnya, Reno memberi Rania minum kemudian dia menaruh kembali nampan tersebut ke dapur, sambil menonton tv Reno mendekap Rania yang menurut sambil ikut menonton tv.


“Oh iya Mas kemana yang lain, kenapa tidak ada yang kelihatan satu pun?” Tanya Rania.


Sejak dia keluar kamarnya Rania memang belum melihat kedua mertuanya dan juga Alvian, padahal mereka selalu berkumpul di meja makan saat waktu sarapan tapi tidak hari ini mereka semua tidak kelihatan batang hidungnya.


“Mama sama Papa mengunjungi kak Nat habis itu mungkin Papa akan langsung ke kantor dan Mama akan pulang kesini, sedangkan Al kamu tahu sekarang dia sudah membantu Papa di kantor” Ucap Reno menjelaskan.

__ADS_1


Rania mengangguk mengerti.”Mas aku kangen kak Nat, apa dia akan baik-baik saja?” Tanya Rania pelan matanya terlihat kembali sendu.


“Tentu saja Ran, apa kamu ingin kesana menemui kakakmu, aku yakin kita pasti sudah bisa mengetahui kondisinya” Ucap Reno mengajak Rania.


Rania menggeleng cepat menolak ajakan Reno.”Tidak Mas aku tidak mau membuat masalah lagi, Papa tidak akan suka melihatku di sana” Jawabnya tersenyum miris.


“Baiklah kita tunggu saja Mama pulang ya Ran, jangan melamun sayang” Ucap Reno sambil mencubit hidung Rania pelan, membuat istrinya tersenyum padanya.


Entah sampai kapan dia harus melihat kesedihan di mata Rania, jika diijinkan ingin sekali rasanya dia memberi pelajaran pada Bram yang telah membuat Rania begitu terpuruk, ditambah lagi keadaan kakaknya yang sedang dirawat sekarang, Reno tidak tahu seberapa besar beban yang ditanggung istrinya itu.


Demi Rania semua akan Reno lakukan untuk istrinya yang sangat dicintainya agar gadis itu bisa kembali tersenyum dan ceria seperti sedia kala, tapi untuk saat ini dia hanya bisa diam menemani istrinya pada saatnya tiba dia sendiri yang akan bertindak.


Tidak lama kemudian Kikan pun pulang dan langsung duduk di depan Rania dan Reno, dia melihat Rania yang menatapnya penuh harap, dia tersenyum kecut melihat keadaan menantu kesayangannya itu yang terlihat sendu.


“Bagaimana keadaan kak Nat, apa dia baik-baik saja Ma?” Tanya Reno menyerukan pertanyaan Rania.


“Dia selamat jika kalian ingin tahu, sekarang keadaanya sudah cukup stabil” Jawab Kikan menatap mereka dengan pandangan sulit terbaca.


Mendengar itu Rania langsung menangis bahagia akhirnya kakaknya selamat, sekarang dia bisa bernapas lega setelah mendengar keadaan Natalya, dia menoleh menatap Reni dan Kikan dengan berbinar senang.


“Lihat apa kubilang kak Nat pasti selamat sayang jadi jangan bersedih lagi ya” Ucap Reni ikut tersenyum.


Kikan melihat wajah Rania yang terlihat senang, hatinya tertegun merasa bersalah karena dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada gadis malang di depannya itu, dia tahu mungkin Rania akan terpukul jika dia mengatakan tentang keadaan Nat yang sebenarnya.


Rania mengangguk mengiyakan.”Iya Mas aku janji gak bakal sedih lagi, makasih ya Ma buat semuanya” Ucap Rania menatap Kikan sambil tersenyum.


“Tentu sayangku anak Mama yang paling Mama sayang, sini nak Mama pengen peluk kamu nak” Ucap Kikan sambil merentang-kan kedua tangannya.


Rania langsung menghambur ke pelukan Kikan yang memeluknya dengan erat, gadis itu terlihat lebih baik sekarang, dia berharap gadis di pelukannya ini akan selalu tersenyum tanpa mengenal air mata kesedihan lagi.


Pada malam hari saat Rania  keluar kamarnya karena kehausan tanpa sengaja dia mendengar suara suaminya di kamar Kikan, dia pun perlahan mendengarkan pembicaraan mereka dari bilik pintu yang sedikit terbuka.


Disana dia melihat Kikan tengah menangis tersedu di pelukan suaminya William, sedangkan Reno sendiri duduk diam diatas lantai.


“Mama takut Ren kalau Rania tahu Nat lumpuh dia akan menyalahkan dirinya sendiri, Mama tidak mau melihat menantu kesayangan Mama sedih lagi” Ucap Kikan sambil terisak.

__ADS_1


“Sudah cukup Ma jangan khawatir Jo dan Bram pasti bisa memulihkan keadaan Nat, aku yakin mereka akan mengerahkan tim medis terbaik untuknya” Ucap William menenangkan.


“Tapi bagaimana kalau Rania tahu kakaknya lumpuh dan sampai sekarang Nat belum sadar juga apa yang akan terjadi padanya?” Isak tangis Kikan makin menjadi memikirkan hal itu.


“Jangan khawatir aku yang akan menjaga Rania, sampai semuanya tenang jangan katakan apapun pada Rania” Ucap Reno sambil menatap kedua orang tuanya.


“Tentu Ren, apalagi lat dokter Nat alan segera sadar jika dia sudah sadar kita bisa bicara pelan-pelan pada Rania” Ucap William menyetujui usulan Reno.


Reno mengangguk mengerti dia mengembuskan napasnya kasar sambil memijat kepalanya yang terasa sakit, sekali lagi dia harus berusaha tegar demi Rania, Reno berharap Rania bisa mengerti saat dia mengetahui keadaan Nat yang sebenarnya.


“Ran aku menyayangimu gadis kuatku, jangan menyerah karena ada aku disini yang akan menguatkanmu Ran” Ucapnya dalam hati.


Degg


Jantung serasa dipukul dengan kerasnya mendengar percakapan ibu mertuanya Kikan jadi maksud dia tadi saat mengatakan Nat selamat adalah dia selamat dengan keadaan lumpuh, Rania tersenyum miris ini semua salahnya, dia menyesali semua perbuatannya dia juga menyesali kehadirannya di dunia ini.


“Ya Allah aku mohon padamu jangan buat kak Nat lumpuh, kenapa bukan aku saja yang lumpuh bukan kak Nat” Ucapnya dalam hati sambil terisak.


Dengan segera Rania kembali ke dalam kamarnya, saat duduk ditepi ranjangnya dia memandang langit-langit kamarnya sambil tersenyum miris, Rania langsung menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki Reno yang mendekat.


“Mas kamu dari mana saja?” Tanyanya sambil tersenyum pada Reno yang tengah berjalan ke arahnya.


“Aku habis nyari angin segar sayang, kenapa kamu terbangun Ran?” Ucap Reno berbohong sambil duduk dan membelai rambut Rania.


Rania tersenyum pura-pura mempercayai kata-kata Reno, dia tahu suaminya itu tidak akan mungkin jujur padanya.”Aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu Mas, kurang anget gak yang meluk” Ucap Rania membuat Reno terkekeh pelan.


“Kalau begitu aku akan menghangatkanmu sayang, ayo tidur sambil aku peluk” Ucap Reno mengajak Rania berbaring bersamanya.


Beberapa jam berlalu namun gadis itu tidak bisa memejamkan matanya, dia berbalik memandang wajah Reno yang sedang terlelap tidur, Rania tersenyum melihat napas teratur dari suaminya itu, dia pasti kelelahan karena menjaganya seharian ini.


“Maafkan aku Mas, aku menyayangimu!” Ucap Rania pelan sambil mencium kening Reno.


----------


Dukung aku dengan Vote, like dan komen kalian ya😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2