
Rania terbangun dari tidur panjangnya, dia melirik jam yang menunjukan Pukul 07.00 pagi, dengan gontai dia berjalan ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka disana.
Selesai melakukan rutinitasnya yang tidak penting dan juga bermanfaat bagi yang baca, Rania keluar kamar menuju ke lantai bawah, disana terlihat Kikan, William dan juga Alvian.
"Sudahlah Pa, Mama tidak kuat lagi emang ini sudah nasib Mama, punya anak laki yang udah gak sayang Mama lagi!" Ucap Kikan sambil menangis sesenggukan.
"Sudah Ma, jangan menangis mungkin salah kita sendiri harusnya dulu kita mintanya anak cewek Ma jangan cowok kalau ujung-ujungnya bakal nyakitin kayak gini!" Ucap William sambil menatap Alvian dengan pandangan nanar.
"Ada apa Ma, Pa kenapa Mama nangis?" Tanya Rania bingung sambil menghampiri Kikan dan William yang tengah duduk di kursi ruang tamu.
Dia menatap Alvian yang berdiri sambil memegang sebuah koper, wajah Alvian terlihat gusar dan juga merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Kikan.
"Tanya sama adikmu iparmu Ran, Mama gak kuat ngomongnya!" Ucap Kikan sambil terus menangis di pelukan William suaminya.
"Ada apa Al kamu apain Mama sampai bisa nangis kayak gini?" Tanya Rania sambil menoleh ke arah Alvian.
"Aku gak ngapa-ngapain aku cuma bilang kalau mulai hari ini aku mau pindah dari sini dan tinggal di apartemen" Ucap Alvian.
"Tuh lihat Ran, anak tidak berperasaan itu mau ninggalin Mama sama Papa sendirian disini!" Ucap Kikan sambil melirik keara Alvian dengan tajam.
"Berdua dong Ma kan Papa sama Mama jadinya 2 orang dong bukan sendirian" Ucap William mengkoreksi omongan Kikan.
"Diam Pa, ini Mama lagi nangis nih benerinya nanti aja jangan sekarang!" Bisik Kikan sambil mencubit suaminya pelan.
"Emang kenapa kamu mau pergi Al, kenapa gak disini aja temenin Mama sama Papa?" Ucap Rania.
"Mama juga maunya gitu Ran, tapi si Al anak gak punya hati itu gak mau Ran, sakit hati Mama udah ditinggal Reno sekerang Al juga mau ikut-ikutan, gini banget nasib Mama Ran gak ada yang sayang lagi sama Mama!" Ucap Kikan sedih.
"Jangan ngomong gitu dong Ma, Al sayang kok sama Mama dan Papa" Ucap Alvian.
"Diam kamu anak nakal, sudah sana kalau mau pergi Mama gak perduli biarin Mama disini sendirian kalau sakit gak bakal ada yang tahu!" Ucap Kikan sambil mengelap air matanya yang terus mengalir.
"Sudah Ma ada Papa disini yang bakal jagain Mama, anggap aja kita gak punya anak dari pada punya tapi bisanya nyakitin" Ucap William.
"Tenang Ma ada aku disini aku usahain bakal terus jenguk Mama meskipun aku sama Mas Reno gak tinggal disini!" Ucap Rania mencoba menenangkan Kikan.
Dia sendiri bingung harus berbuat apa, di satu sisi dia bisa mengerti kenapa Alvian ingin pindah rumah, tapi disisi lain dia juga tidak tega melihat Kikan yang terus menangis.
"Mas Reno bantuin aku disini!" Gumam Rania dalam hati.
"Makasih ya sayang kamu memang sudah seperti anak kandung Mama, gak kayak dia yang tega mau ninggalin Mamanya sendiri disini!" Ucap Kikan sambil mendelik ke arah Alvian.
"Baiklah-baik Al gak jadi pergi dari sini, Al bakal temenin Mama sama Papa sampai Al nikah nanti" Ucap Alvian akhirnya menyerah.
Seketika Kikan menghentikan tangisannya, dia melirik Al yang tengah menatapnya sendu, Kikan berdehem mencoba membersihkan tenggorokanya yang kering sehabis menangis.
__ADS_1
"Sudahlah Al, Mama gak mau maksa kamu kalau kamu mau pergi silahkan, biarin Mama merana sendiri disini" Ucap Kikan sambil menunduk sedih.
"Gak kok Ma, Al emang mau tinggal disini nemenin Mama, sudah ya Ma jangan nangis lagi!"Ucap Al sambil menghampiri ibunya Kikan.
"Benarkah itu nak, makasih ya sayang kamu gak jadi ninggalin Mama" Ucap Kikan sambil memeluk Alvian senang.
"Iya Ma sama-sama!" Ucap Alvian sambil membalas pelukan Kikan.
Rania memperhatikan Kikan yang tengah tersenyum puas di balik punggung Alvian, sadar Rania memperhatikannya Kikan mengedipkan sebelah matanya kepada Rania sambil tersenyum.
Gadis itu akhirnya mengerti jika drama tadi semuanya adalah tipu muslihat Kikan untuk menjerat Alvian agar tidak pergi meninggalkan rumah.
"Kayaknya aku juga harus belajar dari Mama Kikan dalam hal tipu menipu" Gumam Rania dalam hati sambil menatap Kikan takjub.
Sore harinya saat Rania tengah asyik duduk sendirian di taman, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan Alvian yang membuatnya memasuki rumah karena penasaran.
"Ampun Ma ampun kenapa Al jadi gini sih Ma" Ucap Alvian saat Rania baru saja masuk.
Dilihatnya Kikan yang tengah asyik memasang wig di kepala Alvian, pria itu kini sedang duduk dikursi meja rias Kikan.
Rania memperhatikan Alvian yang kini tengah memakai baju daster ah dan jangan lupakan juga wajahnya yang kini telah di polesi bedak, lipstik dan alat-alat rias lainnya.
Rania terkikik geli melihat Alvian yang sudah terlihat seperti ibu-ibu berdaster jika dilihat-lihat Alvian terlihat cantik juga, Alvian mencoba menutupi wajahnya dari Rania karena malu.
"Sudah diam Al jangan ditutup gitu mukanya nanti riasannya kehapus lagi" Ucap Kikan.
"Hai sayangku, iniloh teman-teman Mama pada ngadain lomba buat ngerias lakinya jadi cewek eh Papa malah ngilang gak tahu kemana, kebetulan ada Al, yasudah Mama ajak Al saja buat gantiin Papanya" Ucap Kikan sambil terus asyik memoles wajah Alvian.
"Wah seru dong tuh, hadiahnya apa Ma?" Tanya Rania bersemangat sambil berdiri di samping Kikan.
"Lumayanlah nak hadiahnya blender sama duit 500 ribu kan lumayan ya kebetulan blender Mama lagi rusak!" Ucap Kikan.
"kenapa gak beli aj sih Ma, emang kita semiskin itu ya sampai gak mampu beli blender baru?" Ucap Alvian protes.
"Diam coba Al, kamu ini ya gak bisa banget bikin Mama senang!" Ucap Kikan sambil menjitak kepala Alvian kesal.
"Gak asyiklah Al kalau beli baru mending ikutan lomba kayak gini, sekalian Mama mau nunjukin bakat Mama, cowok aja bisa Mama dandanin apalagi cewek iya Kan Nak?" Ucap Kikan lagi sambil menoleh kearah Rania.
"Betul itu Ma, Mama emang yang terbaik kapan-kapan ajarin aku dandan juga ya Ma!" Ucap Rania sambil tersenyum.
"Bisa diatur sayang, nanti Mama bakal dandanin kamu biar Reno tambah cinta sama kamu Ran, dijamin deh bakal bikin dia nurut sama kamu nak" Ucap Kikan.
"Iya Ma makasih ya Ma, ada yang perlu aku bantuin gak Ma?" Tanya Rania menawarkan bantuan.
"Boleh nak, tolong polesin lipstik lagi dong nak, itu lipstiknya kehapus terus Al tadi gak bisa diem tuh anak" Ucap Kikan.
__ADS_1
"Sini Al aku pasangin lipstik lagi!" Ucap Rania sambil bersiap.
"Jangan Ran,Ma sama Mama aja deh ya!" Ucap Alvian memohon pada ibunya.
"Jangan banyak tingkah kamu Al ayo cepat monyongin bibirnya!" Perintah Kikan.
Dengan terpaksa Alvian memonyongkan bibirnya di depan Rania, dengan sigap Rania langsung memoleskan lipstik berwarna merah menyala di bibir Alvian.
"Apa dosa hamba ya Allah kenapa hamba harus mempunyai ibu seperti ini!" Gumam Alvian dalam hati.
"Nah gitukan cantik, Mama kalau jadi cowok juga pasti langsung suka sama kamu Al" Ucap Kikan sambil mencolek Alvian.
"Iya bener banget Ma, Al lebih cocok jadi cewek dari pada cowok kayaknya" Ucap Rania sambil tertawa yang juga diikuti Kikan.
"Kamu benar Ran, haduh kenapa dulu kamu lahirnya sebagai cowok ya Al kalau cewek beneran kan lebih oke!" Ucap Kikan sambil terus tertawa.
Hancur sudah harga diri dan masa depannya bersama Rania sudah terkikis habis, gadis itu mungkin sudah jijik karena melihat dirinya yang nista ini.
"Tidak aku sudah tidak sanggup lagi, sepertinya masa depanku akan benar-benar hancur" Gumam Alvian sambil melirik Rania dan Kikan yang tertawa puas.
"Ayo Ran photoin Al sama Mama ya, yang bagus photonya biar menang!" Ucap Kikan sambil berdiri di samping Alvian.
"Siap Ma!" Ucap Rania.
Dengan senang Rania mengambil photo Al dan Kikan, setelah selesai Kikan langsung membagikan photonya bersama Alvian ke grup wa teman-temannya.
Jika dilihat Alvian sudah seperti tokoh bawang putih dalam legenda yang suka disiksa oleh ibu dan saudaran tirinya yaitu bawang merah.
Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat sekarang sudah malam saja, Rania duduk diam di ranjang kamarnya sambil menatap langit-langit kamar.
Sejenak Rania tersenyum mengingat bagaimana jailnya Kikan kepada Alvian, Rania melirik hpnya yang sedari tadi tidak berbunyi, Rania pun mencoba menelepon seseorang namun panggilannya tak juga mendapat jawaban.
"Mas Reno kemana sih, biasanya jam segini dia telepon aku, apa dia masih sibuk ya?" Gumam Rania pelan.
-------------
Holla aku balik lagi nihπππ
Hayo siapa yang kangen Mas Reno?
Jangan lupa likenya ya guys, Vote n tips bagi yang mau saja, kasih aku smngt disaat readersku yang terus menurun iniπ’π’π’π’.
Makasih buat kamu yang setia baca dan sudah mendukung novel murahanku, aku sayang kalianπππ
Salam Manis
__ADS_1
Author Galau