Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Bima Adryansyah


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian di sebuah ruangan rumah sakit seorang wanita tengah berteriak menahan rasa sakit saat sesuatu dalam perutnya minta dikeluarkan, sang dokter dengan sabar memberi instruksi kepada sang wanita yang hendak melahirkan itu.


“Tenang Bu tarik napas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan ya bu” Ucap Sang Dokter muda yang bernama Devan.


“Iya Sayang ayo Ran kamu harus kuat!” Ucap Reno dengan setia menemani Rania.


“Diam kamu Mas, ini semua juga gara-gara kamu” Bentak Rania kesal.


Tadi subuh saat dia sedang terlelap tidur, Rania membangunkannya dan mengatakan jika perutnya sakit, Reno yang tidak mengerti langsung memanggil ibunya Kikan yang malah berteriak panik dan mengatakan jika Rania akan lahiran, dia pun menyuruh Reno untuk membawa Rania ke rumah sakit.


“Arrrggghhh” Teriak Reno dan Rania bersamaan saat Rania berjuang mengeluarkan bayi yang masih di dalam perutnya.


Kikan, William dan Alvian tengah menunggu di luar ruangan sambil mendengarkan suara teriakan Reno dan Rania yang tengah berjuang di dalam sana, Kikan menoleh menatap Alvian yang tengah menguap lebar dengan muka masih mengantuk.


“Dasar anak gak guna, kakakmu lagi berjuang di dalam kamu malah enak-enakan nguap disini” Ucap Kikan kesal sambil menempeleng Alvian pelan.


“Aduh Ma apa salah Al coba kan yang lahiran Rania bukan Al, masa nguap aja gak boleh sih” Protes Alvian.


“Gak boleh kamu itu harus ngerti Al, mantu Mama lagi berjuang antara hidup dan mati, harusnya ini jadi pelajaran buat pegangan kamu kalau nanti istrimu mau lahiran” Omel Kikan kesal.


“Pacar aja gak punya apalagi istri Ma” Ucap Alvian sedih.


“Nasibmu Al, ganteng-ganteng gak laku” Sindir William sambil terkekeh pelan.


“Diam kamu Pa siapa yang nyuruh Papa cekikikan gitu, diam kalian semua, awas aja kalau ada yang ngomong Mama lempar kalian” Ancam Kikan membuat Alvian dan William menunduk takut.


“Oeekkk oeekkk oekkkk”


Suara bayi terdengar di dalam ruangan tersebut, Kikan langsung mengintip dibalik jendela, namun pandangannya terhalang oleh para suster dan juga dokter yang sedang menangani Rania.


“Ah sial mereka lagi ngapain sih bikin orang emosi aja Mama kan mau lihat cucu Mama” Ucap Kikan kesal.

__ADS_1


“Sabar Ma tunggu aja sebentar lagi ya sayang” Ucap William menenangkan.


“Gak nanya Pa” Ketus Kikan membuat Alvian terkikik geli melihat ayahnya yang salah tingkah.


Di dalam ruangan Rania dan Reno menatap bayi mungil yang badannya masih merah itu dengan mata berbinar, tanpa sadar mereka berdua meneteskan air mata mereka melihat bayi mungil yang berada dalam gendongan sang dokter itu.


Dokter Devan tersenyum sambil mengusap bayi mungil tersebut, kemudian dia menoleh pada Rania.”Selamat Bu anak anda laki-laki dan keadaanya sehat!” Ucap Dokter Devan dan memberikan bayi tersebut pada Rania.


Rania menatap bayi mungil yang menatapnya dengan mata polos bercahaya, dia melihat bibir dan hidung bayinya yang terlihat seperti Reno, rasa lelahnya langsung lenyap saat melihat bayi dalam gendongannya itu.


Rania merasa bahagia sekaligus terharu karena akhirnya dia bisa menatap wujud dari buah hati yang selama ini dikandungnya, dia menyentuh pipi bayi tersebut yang langsung mengerjapkan matanya membuat Rania tersenyum kecil.


“Lihat Mas bayi kita lucu sekali mirip denganmu Mas” Ucapnya terharu.


Reno mengangguk mengiyakan.”Iya Sayang aku tidak menyangka bayiku akan setampan ini, mirip denganku dan juga kamu Ran” Ucapnya sambil tersenyum pada Rania.


Rambutnya yang acak-acakan dan tangannya yang dipenuhi oleh cakaran dari amukan Rania saat tadi sedang berjuang melahirkan anak mereka, semua itu terbayar sudah dengan kehadiran bayi mungil yang sudah dinantikannya itu,  Reno tidak tahu harus berkata apalagi dia benar-benar bahagia sekarang.


“Kamu adzanin dulu Mas” Ucap Rania mengalihkan perhatian.


Dengan perlahan Rania memberikan bayi mungilnya kepada sang suster yang menaruh bayi tersebut ke dalam kotak yang sudah disediakan, kemudian Reno mulai mengadzani bayi mungil mereka dengan suara merdunya.


Setelah dokter dan suster pergi, Kikan, William dan Alvian pun masuk, mereka langsung menyerbu melihat bayi mungil yang kini tertidur pulas di pangkuan Rania setelah dia memberikan ASI pertamanya pada bayi tersebut.


“Pa cucu Mama Pa ganteng banget kayak Ran” Ucap Kikan dengan mata berbinar bahagia.


“Mirip aku Ma lihat tuh hidung sama bibirnya mirip sama aku” Ucap Reno mengkoreksi.


“Berisik kamu Ren protes mulu, harusnya cucu Mama mirip sama Ran semua biar dia gak punya sifat menyebalkan kayak kamu” Ketus Kikan.


“Kamu capek ya nak, sabar Sayang ini semua memang sudah tugas seorang wanita yang harus berjuang antara hidup dan mati demi anak tersayang” Ucap Kikan mengusap rambut Rania dengan lembut.

__ADS_1


Rania mengangguk lemah“Iya Ma capek sekaligus sakit juga, tapi Ran senang akhirnya anak Ran sama Mas Reno lahir dengan sehat tidak kurang apapun” Ucapnya bersyukur sambil memandang bayi dalam gendongannya.


“Betul itu nak, gak kayak laki yang bisanya bikin terus gak tahu apa kalau lahiran itu sakit, mau enaknya doang!” Ucap Kikan menyindir Reno dan William.


“Tapi kan pas bikin Mama juga suka kan makanya ada Renk sama Al disini” Ucap william mengingatkan membuat semua yang ada di ruangan itu terkikik geli, kecuali Kikan yang menatap William tajam dengan muka bersemu merah.


“Apa sih Pa suka gitu deh, enak gak enak ya dinikmati aja Pa biar gak mubazir” Ucap Kikan membuat mereka semua tertawa beruntung bayi dalam gendongan Rania tidak terbangun karena suara tawa mereka.


“Sini sayang biar Mama yang gendong kamu pasti pegel” Ucap Kikan dengan tangan terulur mencoba mengambil bayi tersebut.


“Kamu bahagia Sayang?” Tanya Reno pada Rania yang sedang menatap Kikan tengah menggendong bayi mereka dengan senang bersama Alvian dan William yang menatap bayi mungil tersebut sambil tersenyum, terlihat sekali kebahagian terpancar di mata mereka.


Rania menoleh menatap Reno sambil memegang tangan suaminya itu dengan lembut.”Tentu saja Mas, aku harap anak kita jadi anak sholeh yang bisa berbakti pada orang tuanya” Ucapnya sambil tersenyum.


Dia kembali menoleh pada mertuanya yang terlihat bahagia itu, sejenak dia teringat pada ayah dan kakaknya yang tidak hadir diantara mereka, hati kecilnya berharap jika Bram akan datang dan melihat cucunya itu, terlebih lagi Natalya belum bisa pulang di Singapura, dia masih harus menjalani pengobatan disana yang tinggal menunggu beberapa bulan saja agar kakaknya itu bisa kembali berjalan dengan normal.


Reno yang melihat aura kesedihan di mata Rania hanya bisa diam, dia tau arti kesedihan di mata istrinya itu tapi apa yang bisa dia lakukan, dia tidak mungkin memaksa Bram untuk datang kemari, dia yakin mertuanya itu pasti merasa malu untuk datang menemui anaknya Rania.


“Sabar Ran, aku yakin semuanya akan baik-baik saja” Ucapnya dalam hati.


“Kak Ren nama anak Kakak siapa Kak?” Tanya Alvian penasaran.


“Iya Ren kamu udah siapin nama buat nama anak kamu kan Ren, atau kamu mau Papa yang ngasih nama?” Tanya William.


“Mama aja yang ngasih nama udah namanya Ronaldo biar bisa jadi pemain bola yang ganteng” Ucap Kikan menyahut.


“Aku sukanya Messi Ma, namanya Messi aja ya” Ucap Alvian membujuk Reno dan Rania.


“Enak aja bagusan Ronaldo biar bisa dipanggil Ronald atau Aldo, coba kalah namanya Messi masa harus dipanggil Mes sih” Protes Kikan tidak terima.


“Udah kamu nikah aja dulu biar bisa punya anak Al, terserah deh kamu mau kasih nama Saepul atau Ujang juga boleh” Ucap Kikan membuat Alvian mengerucutkan bibirnya sebal, sedangkan yang lainnya hanya terkekeh pelan.

__ADS_1


“Sudah anak kita udah ada namanya kok Ma, iyakan Mas” Ucap Rania sambil menoleh menatap Reno.


Reno mengangguk sambil tersenyum.”Iya namanya Bima Adriyansyah” Ucapnya.


__ADS_2