Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Kasih Sayang Seorang Ibu


__ADS_3

Rania sedang sibuk di dandanni oleh Kikan dikamar mertuanya itu, Rania duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Kikan yang terlihat heboh memoleskan berbagai alat rias ke wajahnya.


"Ma jangan terlalu menor ya, yang natural aja Ma aku gak mau yang terlalu berlebihan" Ucap Rania pelan.


"Iya sayang Mama ngerti kok, pokoknya tenang saja serahin semuanya ke Mama, dijamin deh Reno pasti klepek-klepek lihat kamu sayang" Ucap Kikan sambil tersenyum lembut, tangannya tak berhenti memoles wajah cantik Rania.


"Si Al kemana sih lama banget ya nak, awas aja tuh anak!" Gumam Kikan kesal.


"Biarin saja Ma, kan tempatnya jauh pasti dia masih dijalan sekarang Ma!" Ucap Rania.


"Iyasih harusnya tuh anak pergi dari tadi udah tahu jauh masih saja santai-santai, emang susah kalau dibilangin tuh anak bikin Mama kesal saja!" Sungut Kikan kesal.


Rania hanya tersenyum menanggapi omelan Kikan, dia sepertinya tidak sadar jika dia baru menyuruh Alvian beberapa waktu lalu.


Tess


Air mata Rania menetes, dia merasa terharu karena mendapat kasih sayang dari Kikan layaknya seorang ibu kandung pada anaknya, kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan sejak ibunya meninggal.


Rania tersenyum miris dia rindu ibunya itu, ibu yang selalu tersenyum lembut padanya, ibu yang selalu menjaga dan menyayanginya meski dia berbuat salah sekali pun.


"Mama aku kangen sama Mama" Ucap Rania dalam hati sambil terus menangis.


Kikan yang melihat itu tersenyum lembut, dia merengkuh Rania kedalam pelukannya sambil membelau rambut gadis itu dengan sayang, mencoba memberi kehangatan.


Meski pun Rania tidak berkata apa-apa tapi dia mengerti bagaimana perasaan Rania layaknya seoarang ibu yang tahu kapan pun saat anaknya bersedih, meski Kikan suka menindas anak-anaknya sendiri tapi dia menyayangi mereka melebihi nyawanya.


Setega ataupun sekejam-kejamnya seorang ibu, mereka tidak akan membiarkan anak mereka bersedih, apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan anak-anak mereka.


Meski kadang disaat sang anak dewasa dan sudah berkeluarga mereka suka lupa akan jasa seorang ibu yang sudah merawat dan mengajari mereka tentang arti hidup, bahkan ada juga dengan teganya mengusir ibu mereka yabg sudah tua renta layaknya seorang pengganggu.


Miris memang tapi seorang ibu tidak pernah menuntut anaknya harus bagaimana jika besar nanti, mereka hanya melakukan semuanya dengan rasa ikhlas dan bahagia, mereka sudah bahagia hanya dengan melihat anak mereka tersenyum bahagia.


"Kamu kenapa menangis sayang, lihat riasannya luntur lagi tuh!" Ucap Kikan sambil mengelap air mata Rania dengan kedua tangannya.


"Aku kangen Mama kandungku Ma!" Ucap Rania pelan sambil menunduk.


"Hey sayang jangan bersedih begitu disini kan ada Mama, anggap Mama seperti ibu kandungmu sendiri sayang!" Ucap Kikan sambil memegang wajah Rania menatap gadis itu dengan pandangan lembut.

__ADS_1


"Aku tahu Ma, tapi aku juga rindu dengan Mama kandungku, rasanya sepi sejak Mama pergi, aku ingin ketemu Mama!" Ucap Rania sedih.


"Dengar Rania sayang jika kamu rindu Mama kamu, mengajilah doakan ibumu dialan sana, kunjungi dia dengan doa-doamu sayang, itu salah 1 cara untuk anak tetap berbakti kepada orang tua meski mereka sudah meninggal"


Ucap Kikan.


"Kamu tahu ibumu itu sangat baik dan juga periang, wajah dan sifatnya sangat mirip denganmu Ran, kadang Mama merasa seperti melihat Alea sewaktu muda jika melihat kamu disini!" Ucap Kikan lagi sambil tersenyum memandang Rania.


"Mama Kikan kenal sama Mama kandungku?" Tanya Rania sambil menatap ibu mertuanya itu penasaran.


Kikan mengangguk mengiyakan "Tentu saja sayang Mama dan Alea Mama kandungku adalah sahabat, sejak kecil sampai dewasa kami selalu bersama!" Ucap Kikan sambil memandang langit-langit kamar mengingat masa dia waktu muda bersama Alea.


"Bahkan Mama masih ingat saat ibumu Alea dan ayahmu Bram berpacaran, dulu mereka sangat romantis sampai membuat pasangan lain iri" Ucap Kikan sambil tersenyum.


"Benarkah itu, kenapa Mama tidak pernah cerita soal Mama dan ayahku Ma?" Tanya Rania lagi.


"Mama hanya tidak mau kamu bersedih jika Mama mengungkit ibumu Ran, terlebih lagi mengingat kecelakaan yang menewaskan ibumu itu Ran" Ucap Kikan sendu.


"Apa Ma, jadi Mama meninggal karena kecelakaan kata Kak Nat Mama meninggal karena sakit yang benar yang mana Ma?" Tanya Rania bingung.


Seingatnya saat dulu dia masih berumur 5 tahun dia baru mengetahui ibunya sudah meninggal saat dia baru keluar dari Rumah Sakit dan saat dia bertanya kakaknya hanya menjawab jika ibu mereka sakit parah dan meninggal.


"Ah sial kenapa aku keceplosan sih" Ucap Kikan dalam hati merutuki mulutnya yang tidak bisa dijaga.


"Mama kenapa diam Ma, jadi Mamaku meninggal karena apa Ma?" Tanya Rania lagi.


"Tentu saja karena sakit sayang, maaf tadi Mama ngomongnya ngelantur Ran, gara-gara nonton drama korea semalam jadi kebawa ceritanya sampai sekarang" Ucap Kikan sambil tersenyum mencoba menutupi kegugupannya.


"Oh kupikir beneran Ma!" Ucap Rania menunduk dia sepertinya mempercayai omongan Kikan.


Kikan menatap Rania sendu, gadis itu terlihat polos, sulit rasanya membayangkan jika gadis disampingnya itu mengetahui kebenaran yang menimpa ibu kandungnya yang membuat ibunya itu meninggal dunia.


Tidak Kikan tidak akan sanggup mengatakannya terlebih lagi Rania sudah menjadi menantunya yang sangat dia sayangi, biarlah semuanya terkubur rapat-rapat tanpa harus diungkit atau diketahui orang lain.


"Maaf nak, Mama tidak bisa mengatakan yang sebenarnya ini semua demi kebaikan kita semua Ran" Ucap Kikan dalam hati.


"Ma ini bajunya!"

__ADS_1


Alvian datang sambil membawa baju pesanan Kikan membuat Kikan dan Rania langsung menoleh kearahnya, Alvian menatap mereka bingung mata Rania terlihat merah seperto habis menangis sedangkan ibunya itu terlihat diam tidak heboh seperti biasanya.


"Ada apa nih, habis curhat-curhatan teris namgis berjamaah kah?" Gumam Alvian dalam hati.


"Lama banget sih kamu Al, sampai ubanan Mama nungguin kamu, ayo Ran sayang kamu pakai baju ini ya!" Ucap Kikan mengambil baju dari Alvian dan menyerahkan salah 1 baju tersebut kepada Rania.


"Ini buat aku Ma, jangan ah gak enak aku Ma" Ucap Rania merasa segan.


"Sudah pakai saja sayang Mama sengaja nyiapin baju itu buat kamu nak, ini kan ulang tahun ayah kamu jadi sudah seharusnya kamu tampil beda malam ini" Ucap Kikan.


"Sudah cepat pakai bajunya sayang nanti Mama benerin lagi riasannya!" Ucap Kikan menyuruh Rania mengganti bajunya di kamar mandi.


Rania mengangguk sambil berjalan kearah kamar mandi dengan membawa baju yang diberikan Kikan, Kikan menoleh kearah Alvian yang diam mematung ditempatnya.


"Ngapain kamu diam disini Al, sudah sana keluar!" Usir Kikan.


"Loh kata Mama, bantuin dandanin Rania tadi" Ucap Alvino bingung.


"Telat Al, kamu gak lihat Ran sudah cantik kamu mau bantu apa lagi masa bantu dia ganti baju? sudah pergi sana siap-siap kamu ganti baju yang cakep ya Al biar kamu gak kelihatan jomblo gak laku" Ucap Kikan.


"Iya Ma!" Ucap Alvian pasrah sambil keluar kamar Kikan.


"Ma Rania mana Ma, kok lama banget sih dandanya?" Tanya Reno sambil melongokan kepala dipintu kamar Kikan.


Kikan menoleh kearah Reno dengan kesal, ada saja pengganggu dirumah ini, dia tidak mengerti kenapa anaknya itu tidak sabaran sekali.


"Sabar Ran lagi ganti baju, sudah pergi sebelum Mama lempar kamu pakai sisir ini!" Ancam Kikan sambil mengacungkan sisir yang sedang dia pegang.


Reno menatap ibunya ngeri dengan cepat dia menutup pintu kamar Kikan, dia tidak mau sisir itu mendarat dengan mulus dijidatnya, Kikan selalu tepat sasaran dalam hal lempar melempar dan Reno tidak mau jadi sasaran empuk ibunya itu.


"Heran kenapa sih tuh anak gak sabaran banget, turunan dari siapa coba" Gumam Kikan kesal.


------------


Holllaaa


Jangan lupa likenya ya, Vote n tips juga bgi yang mau😚😚😚

__ADS_1


Aku Sayang Kalian


Author Galau


__ADS_2