Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Hukuman Untuk Reno.


__ADS_3

flashback off.


Reno memeluk Rania sambil mengusap punggung wanita itu dengan lembut, dia tahu istrinya tengah terpuruk setelah menceritakan masa lalunya tentang Alea dan dirinya dulu, bahu Rania bergetar seiring dengan tangisannya yang tak kunjung berhenti.


"Mas apa aku anak yang tidak berguna?, kenapa aku bisa melupakan semua kejadian tentang Mama yang rela kehilangan nyawanya demi menyelamatkan aku" Ucap Rania sambil mendongak menatap Reno dengan mata sembabnya.


"Bukan Sayang kamu itu anugerah terindah yang pernah ada, mungkin Tuhan sengaja membuat kamu lupa ingatan agar kamu bisa menjadi ibu yang hebat seperti sekarang" Ucap Reno sambil tersenyum namun Rania menatap nya dengan kening berkerut seolah tidak mengerti maksud suaminya itu."Coba pikirkan jika kamu tidak hilang ingatan apakah kamu yakin kamu akan setegar ini Ran?, apalagi kamu sering mendapat perlakuan tidak adil dari Papa Bram, aku tidak yakin jika kamu akan tetap tegar dan bisa seperti sekarang jika kamu mengetahui semuanya dari awal, dengar Ran kamu harus tahu semua itu sudah ada yang mengaturnya, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh dan menyesali masa lalumu, ikhlaskan Ran dan doakan semua orang yang kamu sayangi aku pikir itu lebih baik daripada kamu menangisi sesuatu yang sudah berlalu" Ucap Reno panjang lebar sambil memeluk Rania.


"Maaf Mas aku hanya merasa bersalah atas kematian Mama" Cicit Rania pelan sambil menatap Reno."Tapi aku bahagia sekarang karena sudah memiliki suami terbaik dan juga dengan kehadiran Bima hidupku jadi lengkap, terima kasih dan aku mencintaimu Mas" Ucapnya lagi dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.


"Aku juga mencintaimu Ran" Ucap Reno sambil mengecup kening Rania dengan lembut.


Kemudian mereka saling berciuman di taman yang sepi membuat keduanya tak perlu merasa malu dengan aksi mereka, Rania memeluk Reno sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Reno dengan pipi merona merah.


Reno terkekeh pelan saat Rania menggigit kemejanya dengan gemas."Hey Sayang jangan begitu Ran, aku bisa hilang kendali jika kamu begini" Ucap Reno mengingatkan membuat Rania langsung menghentikan aksinya dengan bibir mengerucut membuat Reno gemas dan mengecup bibir istrinya itu.


"Mas kamu nakal!" Ucap Rania dengan pipi merona merah.


Reno tersenyum dan hendak kembali mencium bibir istrinya itu.


"Hey kalian serahkan uang kalian sebelum kami membunuh kalian!" 


Rania dan Reno saling berpandangan kemudian mereka berdecak kesal sambil menatap dua orang preman yang sudah mengganggu kesenangan mereka berdua, Rania berdiri dan langsung menampar kedua preman tersebut.


Plak


Plak


"Heh kampret beraninya kalian mengganggu kesenangan ku, mau mati hah?" Bentak Rania marah sambil berkacak pinggang menatap ke-dua preman itu dengan tajam.


Salah satu preman tersebut tersenyum sinis menatap Rania."Oh gadis kecil berani juga kamu ya, bunuh katamu? Daripada membunuhku, bagaimana kalau kita bersenang,senang saja sayang?" Ucapnya sambil mencolek dagu Rania.


"Hajar Bos kita bawa ke markas buat senang-senang!" Ucap preman yang lain menatap Rania dengan tatapan mesumnya.


"Jangan sentuh istriku sialan!" Bentak Reno marah sambil memegang baju si preman dengan kasar."Lawan aku jika berani jangan seperti banci yang hanya berani pada perempuan lemah seperti istriku" Tambahnya lagi dengan senyum sinis diwajahnya.


"Apa maksud kamu bilang aku lemah Mas?" Protes Rania sambil melepaskan tangan Reno dari baju preman tersebut.


"Ini urusanku, kamu gak usah ikut campur!" Ucapnya lagi sambil menatap para preman itu dengan tajam.

__ADS_1


"Tidak Ran biar aku saya yang--" 


"Aku bilang biar aku saja Mas, jangan ikut campur!" Potong Rania tegas membuat Reno menunduk takut sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Jadi kalian menantang ku hah?" Rania menatap kedua preman tersebut dengan senyum sinis diwajahnya.


"Tidak Sayang kami hanya ingin mengajak kamu untuk berse--"


Bugh


Bugh


Rania menendang mereka dengan kuat hingga mereka langsung terkapar di tanah, para preman tersebut menatap Rania marah dan langsung beranjak bangun bersiap untuk membalas Rania.


Bugh


Bugh


Sebelum  mereka membalas Rania kembali menyerang mereka tanpa ampun membuat keduanya cukup kaget dan kewalahan menghadapi Rania.


"Dasar preman gak guna, sudah malakin orang dan kalian masih berani untuk melecehkan aku Hah" Bentak Rania marah sambil terus memukuli mereka.


"Ayo Sayang habisin mereka, kalau perlu bikin gigi mereka ompong semua Ran!" Reno menyemangati Rania untuk terus menghajar kedua preman tersebut.


"Astagfirullah Rania" Pekik seorang wanita.


Rania langsung menghentikan aksinya dan menoleh menatap Kikan yang berdiri di dekat nya bersama Alvian yang tengah menggendong Bima."Mama" Ucap Rania pelan sambil beranjak berdiri, merasa ada kesempatan kedua preman tersebut langsung kabur untuk menyelamatkan diri setelah wajah mereka babak belur dengan gigi yang ompong satu.


"Ah sial belum ompong semua giginya udah pada kabur" Ucap Rania kesal sambil menatap kedua preman tersebut yang sudah berada jauh darinya.


"Kamu gak apa-apakan Ran, ada luka gak?" Tanya Kikan khawatir sambil menatap tubuh Rania mencari luka dibadan menantunya itu.


Rania menggeleng sambil tersenyum lembut."Gak ada kok Ma, aku Baik-baik saja" Ucapnya meyakinkan.


"Iya Ma Ran itu kuat kalau ngalahin preman kayak mereka doang mah dia bisa kok" Ucap Reno bangga.


Plak


Kikan menampar Reno dengan kasar membuat Rania meringis melihatnya."Dasar anak lemah, teganya kamu biarin Ran berantem sama preman itu Ren, dasar anak gak punya akhlak kamu" Omel Kikan marah membuat Reno menunduk sedih sambil membenamkan wajahnya di pundak Rania.

__ADS_1


"Cup-cup Mas jangan sedih sayang" Ucap Rania menenangkan, kemudian dia menoleh menatap ibu mertuanya itu."Ini bukan salah Mas Reno Ma, aku sendiri yang mau ngehajar para preman itu sendiri tadi" Ucapnya menjelaskan untuk membela Reno.


"Benarkah?, Tapi tetap saja Reno salah Ran harusnya cowok itu maju di depan bukan biarin istri sendiri berantem" Ucap Kikan menatap Reno sebal."Awas saja kalau kamu kayak gitu lagi Ren, Mama bakal ajak Ran buat tidur sama Mama" Ancam Kikan dengan sadisnya.


Bima tertawa senang seolah menertawakan wajah Reno yang langsung pucat mendengar ancaman Kikan, Alvian terkikik geli melihat kakaknya itu."Kasihan ya Papa kamu Bim, ditindas Mulu sama Nenek Cantik" Ucapnya pada Bima yang hanya tertawa menanggapi ucapan Alvian.


"Ran malam ini kamu tidur sama Mama aja mumpung Papa lagi keluar kota, biar Reno ngerti kalau cewek itu harus dijaga bukan menjaga" Ucap Kikan memberitahu.


"Memangnya Papa keluar kota lagi Ma?" Tanya Rania penasaran.


Kikan mengangguk lesu."Iya tadi sebelum nyusul kalian kesini Papa pulang buat ngasih tau kalau dia keluar kota selama dua hari, sedih deh Ran, Mama jadi kesepian" Ucapnya sedih.


"Ran kamu gak bakal nurutin kemauan Mama kan sayang, masa kamu tega biarin aku tidur sendiri" Ucap Reno menatap Rania dengan wajah sedihnya.


Rania memegang kedua bahu Reno sambil tersenyum."Maaf Mas aku temenin Mama dulu aja ya sayang kasihan kalau Mama tidur sendirian" Ucapnya membuat Reno menunduk sedih."Tapi tenang kamu gak sendirian kok, nanti Bima tidur sama kamu ya Mas biar kamu ada temennya" Ucapnya lagi yang sama sekali tidak membuat Reno senang.


"Papa" Bima memanggil Reno dengan suara lucunya.


Reno tersenyum samar menatap Bima, kemudian dia kembali menoleh menatap Rania."Kamu sama Bima aja gak apa-apa kok sayang, biar aku tidur sendiri saja" Ucapnya yakin, bukan apa-apa Reno hanya tidak mau dia diganggu lagi oleh makhluk kecil bernama Bima yang merupakan anaknya kandungnya sendiri, bagaimana tidak bocah kecil itu selalu mengerjai Reno dengan tingkah usilnya dan jika dia melawan maka Bima akan menangis dan membuat Rania murka padanya.


"Maksud kamu apa Mas, masa sama anak sendiri kamu gak mau tidur bareng?" Rania memandang Reno dengan sedih.


"Bukan gitu Ran aku cu--"


"Sudahlah Mas aku tidak mau mendengar kata-katamu, hukuman nya aku tambah jadi dua hari jagain Bima yang benar, kalau tidak kamu sendiri yang akan dapat akibatnya Mas" Potong Rania kemudian dia menggandeng tangan Kikan."Ayo Ma kita pergi!" Ucapnya lagi mengajak ibu mertuanya itu pergi.


"Sabar Kak, hidup  kadang emang sekejam itu, istri kalau udah punya anak bakal lebih sayang anak daripada suami" Ucap Alvian menghibur Reno."Nih kak jagain Bima ya dia ngompol sama berak barusan tolong gantiin popoknya" Ucapnya lagi sambil memberikan Bima pada Reno dan langsung ngacir menyusul Rania dan Kikan.


"Papa" Ucap Bima sambil tersenyum menatap Reno.


"Iya Bima sayang nanti malam kita bobok bareng ya" Ucapnya sambil mencium pipi Bika gemas membuat bocah itu terkekeh geli, Reno mengendus hidungnya sambil mencium bau Bima."Kamu berak kayak orang dewasa aja Bim ada bau jengkolnya" Ucapnya lagi sambil membawa Bima pergi menyusul yang lain.


_________


Ada yang nungguin gak? maaf ya aku gak bisa up kayak kmrn2 jujur aku juga rindu kalian apalagi komenan kalian yang menjadi penyemangat nulis ku.


Terim kasih untuk semua yang sudah kalian lakukan untuk cerita ini.


Salam Sayang

__ADS_1


Othor Ngenes


__ADS_2