
Di malam hari yang gelap karena kalau terang itu namanya siang, langit terlihat indah dihiasi bintang-bintang yang bersinar terang dan juga bulan sabit yang dengan indahnya membuat kehadiran bintang jadi lebih sempurna.
Dengan mengenakan baju tidur yang cukup tipis, Rania memandang langit malam yang indah itu diatas balkon kamar hotel yang dia isi bersama suaminya Reno.
Rania memperhatikan bintang-bintang dan bulan yang bersinar dilangit sambil tersenyum, secara spontan dia mengacungkan tanganya mencoba menggapai bintang dan bulan tersebut.
Seketika dia tersenyum sendiri sambil terus mencoba menggapai bintang dan bulan yang bersinar dengan indahnya, dia seperti anak kecil yang selalu mencoba menggapai mereka padahal sudah jelas itu tidaklah mungkin.
Rania memeluk badannya merasakan hembusan angin malam yang membuatnya kedinginan, namun itu tak urung membuatnya beranjak pergi, dia masih setia memandangi keindahan langit malam diatas balkon.
"Ma aku ingat sekali Mama dulu suka banget nemenin aku lihat bintang dan bulan!" Gumam Rania pelan dengan pandangan masih keatas memandangi langit.
"Aku juga ingat Mama selalu bilang jika ada bintang jatuh permohonan kita bakal dikabulin!" Gumam Rania lagi sambil tersenyum samar.
Dulu sewaktu kecil dia, Natalya dan juga ibunya Alea suka sekali melihat bintang dan bulan menggunakan teropong, saat itu adalah saat paling indah bagi Rania karena bisa menghabiskan waktu bersama ibu dan kakaknya dengan bahagia.
Dan pada saat bintang jatuh melintas mereka langsung menagajukan permohonan-permohonan mereka sambil berharap itu akan terwujud, meski pun permohonan mereka tak selalu terwujud namun mereka tidak pernah bosan mengucapkan permohonan mereka saat bintang jatuh melintas seolah itu sudah jadi tradisi mereka setiap melihatnya.
"Tapi sayang ya sekarang gak ada bintang jatuh Ma, kalau ada aku mau minta permohonana supaya Mas Reno selalu ada disampinku!" Guman Rania sambil tersenyum.
"Gak perlu bintang jatuh kok sayang buat wujudin permohonan kamu, karena semua itu pasti terwujud dan aku akan selalu nemenin kamu Ran!"
Seketika Rania menoleh memandang Reno yang tengah tersenyum padanya, sedari tadi Rania memang sudah berdiri dibelakang Rania memperhatikan gerak-gerik gadisnya itu dalam diam.
"Mas kamu kok disini, bukannya kamu lagi bahas soal iklan besok sama Iyan dan yang lain?" Tanya Rania bingung karean suaminya itu kini malah ada disini bersamanya.
Mendengar itu Reno tersenyum sambil berjalan menghampiri Rania.
"Sudah selesai sayang aku tidak perlu berlama-lama untuk mengobrol bersama mereka, lagi pula aku sudah merindukanmu Ran!" Ucap Reno sambil memeluk Rania dari belakang membuat pipi gadis itu bersemu merah.
"Kamu gak dingin kah berdiri disini cuma pakai baju tidur yang tipis hmm?" Tanya Reno sambil menaruh dagunya di pundak Rania dan menengadahkan pandangannya memandangi langit malam yang indah.
"Tadi sih dingin Mas tapi sekarang nggak kan udah ada kamu Mas yang meluk aku!" Ucap Rania sambil tersenyum membuat Reno terkekeh pelan.
"Kamu suka sekali ya lihat bintang dan langit?" Tanya Reno.
"Iya Mas aku menyukainya, dulu waktu kecil aku suka lihat mereka bareng Kak Nat dan juga Mama" Ucap Rania sambil tersenyum.
"Benarkah lalu apa saja yang kamu sukai dari mereka Ran?" Tanya Reno lagi sambil melirik Rania yang tengah tersenyum dibalik pundaknya.
"Aku suka semuanya Mas, aku suka pas mereka muncul langit yang gelap jadi terang dan indah dan itu menandakan kalau hari itu akan cerah!" Ucap Rania memberitahu Reno.
"Masa sih kok aku tidak tahu ya Ran, kenapa bisa gitu sayang?" Ucap Reno bingung.
"Ya kan bulan sama bintang munculnya pas lagi gak hujan aja Mas berarti hari itu cerah dong, emang Mas pernah lihat gitu bulan dan bintang pas lagi hujan deras?" Ucap Rania balik bertanya sambil menoleh kearah suaminya.
__ADS_1
"Oh iya ya kamu benar juga sayang, ternyata kamu pintar juga ya Ran!" Ucap Reno membuat Rania tersenyum senang.
"Tapi sayang hari ini gak ada bintang jatuh Mas, kalau ada kan kita bisa buat permohonan!" Ucap Rania dengan pandangan mata sendu.
"Awww Mas kamu mau ngapain?" Tanya Rania sambil memberontak saat Reno membopongnya.
"Lepasin Mas! Ucap Rania dengan tubuh meronta-meronta.
"Diam sayang mending kita kekamar saja yuk Ran, disana ada bintang jatuh juga loh!" Ucap Reno sambil berjalan membawa Rania kedalam kamar mereka.
Sesampainya mereka di dalam kamar, Reno langsung menjatuhkan Rania diatas ranjang membuat gadis itu beringsut mundur hingga mengenai kepala ranjang.
"Mana bintang jatuhnya Mas kok gak ada?" Tanya Rania sambil melihat sekeliling kamar mereka.
"Ada sayang sebentar lagi tapi gak kelihatan Ran itu cuma bisa dirasakan" Ucap Reno sambil tersenyum membuat kening Rania mengkerut karena bingung.
"Kok gitu sih Mas gak seru dong, gak bisa buat permohonan juga dong ya Mas,!" Ucap Rania sedih.
"Bisa kok sayang tapi disitu kamu cuma bisa ngajuin satu hal permohonan saja!" Ucap Reno sambil mendekati Rania dan mengurung gadis itu dengan kedua lengannya yang kekar berotot.
"Permohonan apa Mas, eh tapi emang bintang jatuh bisa dirasain ya?" Tanya Rania bingung.
"Bisa kok sayang dan aku jamin pasti suka dan permohonan kamu yang bisa dikabulin cuma satu yaitu kamu hamil dan melahirkan anak bayi!" Ucap Reno sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rania.
Tanpa aba-aba Reno langsung ******* bibir Rania yang indah dan juga manis, setelah menguasai keterkejutannya Rania membalas ******* Reno sambil tersenyum diantara ciuman mereka.
Dia akhirnya mengerti maksud bulan jatuh yang Reno katakan, dan tentu saja Rania menyukainya karena bintang itu selalu datang saat dia dan Reno melakukan tempur ala orang dewasa yang sudah menikah.
"Mas, bikinnya yang banyak ya biar kalau gak berhasil 1 masih ada yang lain!" Ucap Rania setelah melepaskan pagutan asmara mereka.
"Tentu sayang aku siap berapa ronde pun aku akan melakukannya dengan senang hati, kalau perlu kita bergadang sampai pagi!" Ucap Reno sambil tersenyum dan mematikan lampu kamar mereka.
Dan didalam kamar hoter yang nyaman itu Rania dan Reno melakukan sesuatu hal yang mengasyikan, yang tentu saja itu hanya di perbolehkan oleh sepasang suami istri.
Itulah surga dunia yang sering orang-orang katakan, kadang setelah menjalani runtinitas yang super melelahkan dan membuat tenaga habis pun jika suamimu ditawari hal itu mereka akan kembali kuat dan terlihat segar seakan melupakan kelelelahan mereka sendiri.
Di tempat lain Veyya tengah melihat keatas menggunakan teropong miliknya, disampingnya Nungky dan Gisuwa tengah berdiri menemani gadis yang sedang memantau tersebut.
"Veyy lagi lihatin apa sih, kalau lihat bintang sama bulan kan bisa di balkon juga ngapain harus kesini sih?" Ucap Gisuwa kesal karena saat dia ingin tidur Veyya malah mengajaknya ke halaman hotel bersama Nungky.
"Iya Veyy aku kan mau nyari bang Al, dari tadi aku cariin dia kagak kelihatan coba kemana ya dia?" Gumam Nungky mencari sosok Alvian disekitarnya.
"Mungki dia ngerem diri di kamar Ky takut kamu culik, lagian kenapa kamu manggil kak Al dengan sebutan Bang gak kayak biasanya?" Tanya Gisuwa bingung.
"Iya hehe mulai hari ini aku putuskan buat jadiin bang Al salah 1 kandidat cowok yang bakal aku nikahi kalau nanti aku gak jadi nikah sama bang Awan" Ucap Nungky bangga sambil tersenyum bangga.
__ADS_1
"Ada-ada saja khayalanmu Ky, mana mau kak Al sama gadis licik kayak kamu Ky" Ucap Gisuwa.
"Tenang aku punya 1001 macam cara licik buat dapetin bang Al" Ucap Nungky sambil tersenyum membuat Gisuwa bergidik ngeri membayangkan apa yang akan bocah itu lakukan oada Alvian.
"Sial ngapain sih tuh mereka senyum-senyum gitu, si mba gatel juga ngapain biarin mas tampanku masuk kamar dia,pasti dia tuh yang godain si mas tampan dasar cewek licik" Ucap Veyya kesal sambil tetap melihat kedua orang yang sedari tadi dia pantau menggunakan teropong.
Karena penasaran Gisuwa dan Nungky pun merebut teropong Veyya dan ikut melihat kedua orang yang sedang Veyya pantau yang ternyata adalah Adinda dan Iyan yang sedang mengobrol dibalkon hotel kamar Adinda dan Nungky yang terletak di lantai dua.
"Widih si mba gatel emang hebat ya, siang di godain Si Om ganteng yang juga suami teman kita Ran, malamnya dia malah godain Mas tampan gebetan Veyya" Ucap Gisuwa takjub.
"Iya menang banyak tuh si mba gatel, samperin ah kali aja dapat duit cuci mulut hehe!" Ucap Nungky sambil berlalu meninggalkan Veyya dan Gisuwa.
"Ky aku ikut!" Ucap Gisuwa mencoba mengikuti Nungky namun Veyya langsung menahannya.
"Sudah kamu temenin aku saja Gis, tadi mana ketapel yang aku minta?" Tanya Veyya sambil mengalungkan teropong miliknya.
"Nih Veyy buat apa sih?" Ucap Gisuwa sambil menyerahkan ketapel miliknya.
Tanpa menjawab pertanyaan Gisuwa, Veyya langsung mengarahkan ketapel tersebut kearah Adinda dan juga Iyan, dengan mata menyipit Veyya mulai memfokuskan pusat sasarannya, setelah dirasa yakin Veyya langsung menembakkan ketepel tersebut.
Blassshhh
"Awwwww!" Jerit Adinda sambil memegang sebelah matanya yang sakit.
Ketapel tersebut ternyata mengenai mata kiri Adinda membuat gadis itu mengaduh kesakitan sedangkan Iyan disampingnya menatap Adinda dengan pandangan cemas.
"Kamu gak apa-apa kan Din, woy siapa disana?" Teriak Iyan membuat Veyya dan Gisuwa langsung ngacir berlari meningalkan tempat tersebut.
"Ayo kabur Gis, rasain tuh mba gatel siapa suruh godain Mas Tampanku!" Ucap Veyya tersenyum senang sambil berlari bersama Gisuwa.
"Veyy kalau ketahuan jangan bawa-bawa aku ya, aku gak mau masuk penjara di usia dini" Ucap Gisuwa yang tentu saja diabaikan Veyya.
Diatas balkon Adinda yang tidak tahu apa-apa malah harus kena sial hanya karena Iyan menemuinya untuk membicarakan masalah proyek iklan yang sedang mereka lakukan.
"Ya Allah belum juga sehari aku disini udah ada saja yang mau nyiksa aku, gimana besok coba!" Batin Adinda sedih sambil berjalan bersama Iyan yang memapahnya kedalam kamar.
--------
Holla
jangan lupa like, Vote n tips nya ya yang mau saja 😆😆
Salam Sayang.
Author Galau
__ADS_1