
Di sebuah bangku taman yang luas terlihat seorang nenek cantik yang mengenakan hijab itu tengah memangku seorang gadis kecil, gadis itu tertawa senang saat Kikan menggelitik perutnya dengan gemas, di sana ada juga Gisuwa yang tengah menyuapi anaknya yang bernama Ayu itu dengan coklat, dia berdecak kesal saat bibir anaknya itu belepotan dengan coklat.
"Aduh Yu Mama kan sudah bilang jangan makan coklat terus, udah belepotan gini nanti kalau papa kamu tahu bisa dimarahin loh ntar!" Ucapnya memperingatkan anaknya itu sambil mengelap bekas coklat di mulut Ayu dengan menggunakan tisu.
Gadis berumur 5 tahun itu menoleh menatap ibunya dengan pandangan mata mengerjap polos, kemudian gadis cantik itu mencebikkan mulutnya dengan wajah yang sudah merah menahan air mata."Jangan diaudin Ma, nanti Ayu gak boleh lagi makan coklat!" Ucapnya merayu Gisuwa dengan sedih."Nih buat Mama aja Ayu gak mau coklat lagi, tapi jangan bilang Papa" Ucapnya lagi sambil menyerahkan sisa coklat yang dipegangnya kepada Gisuwa.
Mendengar itu Gisuwa terkekeh pelan dan menarik Ayu kedalam pelukannya dengan lembut."Iya Ayu sayang, Mama gak bakal bilang ke Papa tapi Ayu jangan makan coklat terus ya kan Ayu udah manis" Ucapnya sambil mencolek hidung anaknya dengan gemas. Ayu mengangguk mengerti kemudian dia mencium pipi ibunya dengan lembut.
"Argggg huaaa!" Pekik Ayu langsung menangis histeris saat Zahra menggigit tangannya.
"Ayu kamu gak apa-apakan Sayang?" Ucap Gisuwa panik sambil meniupi tangan anaknya yang baru saja digigit Zahra, kemudian dia menoleh menatap Zahra dengan kesal."Ra kamu gak boleh gitu ah nak sama temen sendiri gak boleh saling menyakiti!" Ucapnya dengan nada memperingatkan.
kemudian matanya teralih menatap Nungky yang baru saja datang dari kamar mandi."Heh Kampret anakmu tuh kelakuannya aneh banget masa dia gigit tangan Ayu coba!" Bentak Gisuwa kesal saat Nungky mendudukkan pantatnya disamping Gisuwa.
"Iya tuh Ky, kayaknya Zahra lapar deh coba kasih makan gih!" Ucap Kikan ikut bersuara sambil tetap menggendong seorang gadis kecil dipangkuan.
Mendengar itu Nungky menoleh menatap anaknya Zahra dengan mata melotot tajam, namun bukannya takut Zahra hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dan memilih memakan coklat bekas Ayu."Heh anak manja kamu ngapain nyakitin Ayu?" Bentak Nungky mengomeli anaknya Zahra, "Kamu itu ya Ra ada aja kelakuannya turunan siapa coba, padahal dulu Mama sama Papa itu anaknya baik dan kalem, kok malah punya anak bilngsatan kayak gini ya?" Ucapnya lagi dengan nada tak mengerti.
Mendengar itu Gisuwa dan Kikan saling pandang sambil memutar bola mata mereka malas."Kalau bohong pinteran dikit banyak saksi hidup yang tahu kelakuan kamu Ky" Ucap Mereka serempak yang membuat Nungky cengengesan.
"Aku gak salah Ma, aku cuma mau buktiin Ayu itu beneran manis atau nggak, kata Mama GIS Ayu itu manis makannya aku gigit, tahu gak Ma rasanya pahit gak ada manis-manisnya" Ucap Zahra panjang lebar sambil duduk disamping Kikan, gadis mungil itu menatap gadis kecil yang berada dipangkuan nenek cantiknya, dengan kasar dia mendorong gadis cantik itu yang membuatnya langsung terjatuh.
"Vivian!" Pekik semua orang kaget apalagi Veyya yang baru saja datang dan melihat anaknya terjatuh dipangkuan Kikan oleh ulah Zahra anak Nungky, dengan segera ibu muda cantik itu memeluk anaknya, namun Vivian tidak mengindahkan pelukan ibunya dia malah mengajak Ayu untuk menghampiri Zahra yang kini tengah duduk manis dipangkuan Kikan sambil tersenyum senang dengan kepala bersandar didada Kikan.
Bruk
__ADS_1
Dengan kejamnya Vivian dan Ayu menarik rambut panjang Zahra hingga gadis itu terjatuh, belum habis kekagetan mereka ketika gadis mungil itu kini malah saling baku hantam seolah memperebutkan Kikan sang nenek cantik, mereka bertiga bergulingan di rumput sambil saling menjambak satu sama lain, dengan segera ketika ibu muda tersebut langsung menarik anak-anak mereka, ketiganya memberontak di dalam pelukan ibu masing-masing mencoba untuk melepaskan diri namun nihil usaha mereka sia-sia karena pelukan erat dari ketiga ibu muda tersebut.
"Ya Allah ini cucu-cucu nenek kenapa pada gini sih, sudah jangan berantem kalian itu cucu nenek yang paling nenek sayangi kok!" Ucap Kikan mencoba menenangkan ketiga gadis kecil yang berada di pelukan ibu mereka.
"Huaaaa" Ketiganya langsung menangis histeris saat Arleta datang dengan Rania dan dengan santainya gadis mungil itu naik ke pangkuan Kikan membuat ketiga gadis kecil yang lain langsung menangis dibuatnya.
"Ada apa nih kenapa pada nangis nih bocah?" Tanya Rania bingung menatap semua orang.
"Biasa Ran mereka rebutan Mama Kikan, Nih juga Zahra bandel banget sih main dorong Vivi makannya mereka jadi baku hantam" Ucap Veyya sambil melirik Nungky dan Zahra dengan kesal."Cup cup sudah Vi jangan nangis nanti Mama beliin es krim ya" Ucapnya lagi merayu anak semata wayangnya.
"Enak saja pakek nyalahin Zahra dia itu cuma mau dipangku sama neneknya emang salah, lagian Vivi juga kebangetan masa dia terus yang dipangku Mama Kikan" Ucap Nungky membela diri.
"Dari tadi Ayu diam aja loh gak banyak tingkah dia, tapi anak kamu Veyy ngajakin Ayu buat Jambak Zahra makannya dia jadi ikutan baku hantam, Ya Allah Putri Ayu anaknya Mama jadi nangis kan" Ucap Gisuwa sambil mengelap air mata Ayu, anak keturunan bangsawan itu sudah berhenti menangis tapi dia, Zahra, Vivian dan Arleta yang datang terakhir saling berpandangan dengan tajam seolah mengisyaratkan aura permusuhan diantara mereka.
"Sudah anak kalian sama semua nakalnya!" Ucap Rania tegas membuat ketiga temannya langsung terdiam. "Emang ya buah gak jatuh dari pohonnya, dulu emaknya yang suka bikin sekarang anak-anak kita yang kayak gitu, hadeh pusing aku" Ucapnya lagi sambil memijat keningnya yang terasa sakit.
"Tenang saja anakku itu anak baik dan gak suka banyak tingkah, lihat aja bapaknya baik bener" Ucap Nungky sambil cengengesan membanggakan anaknya itu yang kini juga tengah tersenyum bangga seolah menyetujui pernyataan ibunya itu.
Rania, Veyya dan Gisuwa langsung memutar bola mata mereka malas."Bapaknya sih emang baik tapi emaknya itu-loh udah aneh l, suka bikin ulah juga" Ucap Rania mengingatkan.
"Iya Bener Ran, kamu lupa apa Ky kelakuan kamu waktu sekolah kayak gimana, apalagi neneknya Zahra yang liciknya minta ampun, bisa kebayang sih anak kamu yang paling parah kelakuannya" Ucap Veyya dan mendengar itu Rania dan Gisuwa langsung mengangguk-anggukkan kepala mereka secara serempak seolah menyetujui ucapan Rania.
"Kamu ngomong gitu gak lagi nyindir Mama kan Veyy, tapi gak mungkin juga sih Maka kan orangnya baik hati dan tidak Sombong,aja pernah Mama berbuat licik" Ucap Kikan tertawa dengan bangga dengan pemikirannya sendiri.
Keempat ibu muda nan cantik itu hanya tersenyum samar, jika boleh menjawab jujur Kikan merupakan orang paling licik yang pernah mereka kenal, sama seperti Desi ibu Kandung Nungky yang kini sedang berlibur ke luar negeri bersama suaminya yang tentu saja dipasilitasi oleh menantu kesayangan mereka alias suami Nungky yang sangat baik itu.
__ADS_1
"Mama katanya Mama mau bikin perhitungan sama Mama Nungky sama Zahra juga?" Ucap Arleta menatap ibunya dengan wajah polosnya.
Rania pun kembali mengingat tujuannya menghampiri mereka setelah sempat terlupakan oleh tangisan ketiga gadis cilik itu."Heh Ky kurang ngajar ya kamu biarin Zahra nyosor anakku Bima, lihat tuh Bima jadi nangis sekarang!" Omelnya pada Nungky.
"Aduh Ran masa sih Bima nangis padahal tadi aku pikir dia suka loh pas dicium Zahra" Ucap Nungky sambil terkekeh geli."Zahra kamu suka kan sama Abang Bima biar nanti kamu bisa jadi menantu Mama Ran dan jadi Cucu asli Nenek cantik" Ucapnya lagi sambil mencolek Hidung mancung Zahra dengan gemas.
Zahra terlihat berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya, kemudian gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum dengan mata berbinar bahagia."Boleh Ma aku mau kok nikah sama Abang Bima, emang sih pacar aku banyak dan ganteng-ganteng, tapi Abang Bima juga gak jelek-jelek amat kok" Ucapnya sambil turun dari pangkuan Nungky."Abang Bima aku datang!" Pekik gadis kecil itu dengan riang menuju ke dalam rumah.
Rania dan Arleta menggelengkan kepala mereka sambil melihat punggung Zahra yang mulai menghilang."Calon Mantu yang gagah" Ucap Rania pelan.
"Kasihan Abang Bima jodohnya jelek, aku nanti nikahnya sama yang ganteng ya Ma gak jelek kayak Papa sama Om Al" Ucap Gadis kecil itu sambil mendongak menatap ibunya.
"Papa juga gak jelek-jelek amat kok nak dia ganteng loh" Ucap Rania sambil tersenyum lembut tangannya terulur mengusap kepala anaknya itu."Tapi jangan mau nikah sama cowok yang kelakuannya sama Om Al, udah jomblo terus dapat jodoh aja dibantu Mama Kikan" Ucapnya setengah berbisik yang tentu saja bisa di dengar oleh istri Alvian yang hanya memutar bola matanya malas.
"Gak apa-apa yang penting sekarang dapat anak cantik kayak kamu ya nak" Ucap Ibu muda tersebut sambil mencium hidung mancung anaknya dengan gemas.
"Oh iya si Al kemana kok kamu sendirian?" Tanya Rania menatap adik iparnya itu penasaran.
Wanita yang diajak bicara itu menghembuskan napasnya kasar, saat dia hendak membuka mulutnya Alvian sudah datang bersama para pria lain termasuk Reno yang menggendong Bima disampinh ayah Zahra yang juga digendong oleh ayahnya itu.
"Tuh mereka udah muncul!" Ucap Kikan menunjuk rombongan pria tersebut dengan dagunya, kemudian dia beranjak menghampiri William suaminya."Mas jalan-jalan aja yuk Mama berasa jadi yang paling tua disini!" Ucapnya sambil menarik suaminya pergi.
___________
Minta bantu Like ya buat Chat story' temenku judulnya Cinta Pria Dingin.
__ADS_1
Muehehe aku kasih ekstra part nih gimana ketebak gak🤭🤭🤭,.
Mau aku Up cerita tentang Bima sama anak-anak geng Gesrek gak? kalau mau komen ya di kolom komentar 🤭🤭😘😘😘